Fatih (Rindu Yang Belum Usai)

Fatih (Rindu Yang Belum Usai)
Bab 72 Meluruskan kesalah fahaman


__ADS_3

Shofi hanya diam saja membiarkan Fatih merajuk. Shofi tahu Fatih sangat kesal karena dirinya begitu dekat dengan Philip tadi.


Shofi hanya ingin membalas kekesalannya di mobil tadi.


Fatih terus saja diam tak mau bersuara karena tak suka Shofi memeluk laki-laki selain dirinya. Tak ada yang boleh memeluknya selain Fatih seorang.


Siapapun milik Fatih tak boleh di sentuh sama orang.


"Dear,"


Panggil Shofi lembut namun tak membuat Fatih menyahut ataupun menoleh. Fatih tetap menatap kedepan fokus mengendarai mobil.


"Dear, kamu kenapa?"


"Dear!"


"Fatih!"


Cittt ....


Fatih langsung menghentikan mobilnya mendadak membuat Shofi terkejut hampir saja kepalanya terbentur dasboard jika Fatih tak menahannya.


"Aku gak suka kau memeluk atau di peluk orang lain. Kau milikku hanya boleh aku yang melakukannya!"


Tegas Fatih menatap tajam Shofi yang terdiam. Entah terdiam takut atau terdiam menurut entahlah.


"Apa mau protes!"


Ketus Fatih semakin menajamkan tatapannya membuat Shofi hanya bisa mengulum senyum melihat kobaran api cemburu.


Shofi bukannya takut malah merasa lucu dan merasa gemas melihat wajah Fatih yang serius seperti ini.


Cup ...


"Kau!"


Pekik Fatih terkejut dengan apa yang Shofi lakukan.


Fatih pikir Shofi akan takut dan menurut seperti dulu tapi kini Shofi malah menantangnya. Bahkan berani mencium dia di saat di marah.


Cup ...


Shofi kembali mencium Fatih ketika Fatih akan protes lagi.


"Kamu itu dengan gak ak--"


Cup ...


Fatih terdiam mengatupkan kedua bibirnya sangat kesal dengan apa yang Shofi lakukan.


"Sudah jangan marah-marah napa, kita lanjut jalan!"

__ADS_1


Potong Shofi ketika Fatih akan angkat bicara, tanpa bicara lagi Fatih melajukan kembali mobilnya dengan kekesalan yang hampir meledak saja.


Shofi benar-benar ingin tertawa melihat wajah Fatih yang di tekuk. Siapa suruh tadi membuatnya kesal, enak kan di buat kesal orang.


Shofi bergelayut manja sambil menyandarkan kepalanya di pundak Fatih yang sedang fokus menyetir.


Sesekali mengecup pipi Fatih agar Fatih tak merajuk lagi.


Sebenarnya Shofi hanya sedang mengalihkan perasaannya saja. Semakin dekat mobil menuju mansion semakin berdebar pula jantung Shofi. Apa Shofi kuat mendengar cerita semuanya atau belum.


Shofi hanya tak mau kenyataan itu semakin menyakitinya dengan pakta-pakta baru. Namun, Shofi harus melawan itu agar hatinya tenang tak di kuasai amarah terus.


Shofi semakin mengeratkan pelukannya di lengan Fatih ketika mobil mulai memasuki kawasan gerbang Mansion Damaresh.


Gerbang itu terbuka otomatis karena mobil Shofi sudah terhubung server nya dan mobil Shofi sudah di kenali hingga tak membutuhkan persetujuan terlebih dahulu.


Di setiap gerbang di pasang pendeteksi jika ada orang yang masuk membawa benda berbahaya maka akan langsung ketahuan.


Sebegitu canggihnya keamanan keluarga itu bahkan tak sembarangan orang yang masuk kesana sebab semuanya menggunakan sensor mata.


Fatih tahu apa yang di rasakan Shofi namun Fatih diam saja. Fatih ingin Shofi bisa mengendalikan semuanya dengan caranya sendiri.


Fatih menggenggam tangan Shofi lembut agar Shofi tahu dia akan selalu ada untuk Shofi.


"Tenanglah, semua akan baik-baik saja!"


Ucap Fatih sambil mengelus puncak kepala Shofi lembut membuat Shofi tersenyum. Setidaknya Shofi tak terlalu takut karena Fatih berada di sampingnya.


Shofi dan Fatih keluar dari mobil semua bodyguard yang berjaga langsung menunduk hormat.


Fatih menggandeng tangan Shofi masuk kedalam di mana Fatih sudah memberi tahu Davit jika Shofi yang akan menemui Davit bukan Davit yang menemui Shofi.


"Silahkan nona muda, tuan besar sudah menunggu anda di lapang golf?"


Ucap Lucky sang asisten mempersilahkan Fatih dan Shofi menuju lapang golf yang ada di belakang mansion Damaresh.


Shofi menatap hamparan rumput hijau yang tertata rapi. Bayangan dulu Shofi sering menghabiskan waktu bermain golf bersama Davit dan Angel. Kenangan itu terekam indah di ingatan Shofi.


Ingatan kebersamaan mereka buyar ketika Fatih menyadarkan Shofi jika mereka sudah sampai di hadapan Davit.


Shofi menatap datar Davit yang juga menatapnya tak kalah datar.


"Apa kalian butuh privasi!"


"Tidak!"


Jawab Shofi dan Davit serentak membuat Fatih tersenyum tipis.


"Tetaplah di sini, Dear!"


"Ya, kau tetap di sini karena ada yang harus kau tahu!"

__ADS_1


Ucap Davit tegas membuat Fatih terdiam dengan hati bergemuruh.


"Apa mau main?"


"Aku tak mau basa basi kak?"


Tegas Shofi karena tak mau ber-basa basi membuat Davit tersenyum kecut adiknya benar-benar masih marah.


"Lucky!"


Panggil Davit membuat Lucky langsung menghadap dengan sebuah berkas di tangannya.


"Bacalah terlebih dahulu, kakak sungguh tidak bermaksud melukaimu, Dek!"


Ucap Davit lembut sambil menyodorkan sebuah berkas pada Shofi. Dengan ragu Shofi mengambil berkas tersebut. Perlahan Shofi membuka nya entah berkas apa yang Davit maksud Shofi tak mengerti.


Shofi begitu fokus membaca berkas tersebut, ekspresi Shofi berubah-ubah dengan kening mengerut kemudian mata Shofi membulat sempurna ketika membaca lembar terakhir dari berkas tersebut.


"Ba-bagaimana mungkin?"


Ucap Shofi ber-bata menatap sang kakak tak percaya.


"Itulah kebenarannya, Stephen bukan anak kandung dari Daddy. Tapi anak kandung dari Uncle Marsel. Selama ini Daddy menyembunyikan itu semua karena tak mau menyakiti Stephen di mana uncle Marsel dulu tak mau mengakui Stephen sebagai anaknya. Daddy hanya jadi korban keegoisan Uncle Marsel dan Gresela di mana mereka ingin menguasai seluruh kekayaan Damaresh yang di bangun dari nol oleh Daddy!"


"Dan mereka sengaja mencuci otak Stephen agar membenci kamu seolah kamu yang merampas semuanya dari Stephen hingga Stephen terus memburu kamu akan dendam terasingkan ya Gresela oleh mommy dan cemburu akan kasih sayang, jika Daddy lebih menyayangi kamu dari pada Stephen. Dan Stephen lebih membenci kamu lagi ketika tahu Daddy mewariskan seluruh hartanya untuk kamu!"


"Maafkan kakak Dhe, kakak tak bermaksud menyakiti Fatih namun dengan cara itu kakak bisa memancing Stephen keluar dari sarangnya ketika tanpa sadar selama ini aktivitas adek di awasi dan Stephen tahu kelemahan adek adalah Fatih. Soal kecelakaan Philip itu murni ulah anak buah Stephen di mana targetnya adalah kamu. Dan soal Fatih kakak akui kakak salah namun hanya dengan cara itu kakak bisa memancing Fatih agar ingat kembali. Kecelakaan depan hotel itu rencana kakak, kecelakaan di loby rumah sakit itu juga ulah kakak karena dengan membuat Fatih mengalami kejadian sama dia akan mengingat kamu kembali!"


Jelas Davit berharap Shofi akan mengerti jika apa yang ia lakukan semuanya demi Shofi Shofi dan Shofi.


"Kakak sayang kamu dek, kakak tak bisa terus melihat kamu bersedih di sepanjang waktu. Untuk itu kakak mengakhiri semuanya dengan cara ini. Karena cara ini satu-satunya cara agar semuanya selesai"


Shofi menatap Davit tak percaya sungguh Shofi tak menyangka jika Davit akan berbuat sejauh ini. Dan Stephen di bukan saudara tirinya melainkan adik sepupu dia. Pakta apa lagi yang harus Shofi terima ini semua begitu mengejutkan bagi Shofi terutama alasan kenapa Stephen membencinya.


Alasan yang sudah lama Shofi ingin tahu, alasan yang selalu Shofi bertanya-tanya apa salah dia hingga Stephen ingin membunuhnya.


Sekarang Shofi faham apa yang Davit lakukan semuanya hanya untuk melindungi dia walau Shofi akui cara Davit membahayakan beberapa nyawa bahkan nyawa Philip hampir melayang.


"Kakak tahu kakak salah, apa kamu mau memaafkan kakak, dek?"


Ucap Shofi lagi menatap sendu Shofi yang malah terdiam.


Davit tak tahu diamnya Shofi marah atau bukan karena Davit pun sulit untuk menebak bagaimana perasaan Shofi saat ini.


"La-lalu kenapa selama ini kakak menyembunyikan ponselku. Menyembunyikan tentang keadaan Fatih bahkan kakak juga dalang di balik tertutupnya akses informasi dari Indonesia!"


"Tak tahu kak, aku sangat membutuhkan itu, aku sangat merindukan itu hiks ..,"


"Semua itu karena permintaan tuan Farhan Al-biru!"


Deg ....

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ..


__ADS_2