Fatih (Rindu Yang Belum Usai)

Fatih (Rindu Yang Belum Usai)
Bab 58 Keterpurukan Shofi


__ADS_3

Shofi terus berlari mencari keberadaan Fatih, namun Shofi tak menemukannya. Bahkan Shofi sudah mencarinya di loby hasilnya tetap sama.


Padahal mobil Fatih masih ada, tapi kemana Fatih pergi.


Pikiran Shofi semakin berat memikirkan semuanya. Belum juga masalah satu selesai kini muncul masalah lain.


Shofi lupa jika ia ke rumah sakit bersama Fatih dan sekarang Shofi tak tahu di mana Fatih berada bahkan ponsel Fatih pun tak aktif.


Apa Fatih marah padanya karena sudah meninggalkan dia. Sungguh, Shofi tidak bermaksud seperti itu. Shofi hanya sedang panik dan cemas akan keadaan Elsa.


Hiks ...


"Fatih kamu di mana!"


Lilir Shofi sudah tak bisa lagi membendung rasa bersalahnya. Sungguh hari ini pikiran Shofi begitu kacau.


Dengan langkah gontai Shofi berjalan menuju ruang rawat Philip di mana Shofi tadi belum sempat melihat kesana karena harus mencari Fatih terlebih dahulu.


Shofi memejamkan kedua matanya dengan tangan mengepal erat ketika dua bodyguard menghalangi langkahnya.


"Maaf nona muda, tuan besar Davit melarang anda masuk!"


Bugh ...


Satu tinjuan melayang pada bodyguard yang sedang bicara membuat bodyguard itu tersungkur. Darah segar keluar dari sudut bibirnya menandakan pukulan Shofi begitu kuat.


Shofi menatap tajam pada satu bodyguard lagi yang diam di hadapannya antara tetap menahan atau membiarkan nona muda mereka masuk.


Para bodyguard begitu bingung harus melakukan apa. Karena dua-duanya mempunyai resiko besar. Di hajar Davit atau di hajar Shofi.


Mereka tahu bagaimana jika nona muda mereka sudah marah. Maka singa di dalam tubuhnya akan keluar begitu saja bahkan auranya akan melebihi aura Davit.


Anak mafia siapa yang berani melawan. Walau Shofi selalu terlihat tenang namun darah Damaresh mengalir di tubuhnya.


"Aku tak mau menyakiti kalian, minggir!"


Tegas Shofi sudah tak bisa lagi menahan kemarahannya. Kenapa sang kakak lagi-lagi membuat ia marah.


Dan, di saat seperti inilah suasana yang tak bagus bagi para bodyguard karena bisa salah bicara saja maka mereka yang akan mendapat tinju dari Shofi.


"Maafkan kami no--"


Bruk ...


Belum sempat satu bodyguard bicara Shofi sudah menendang bodyguard itu hingga tersungkur.


Seperti ini momen bagus untuk Shofi meluapkan amarahnya. Walau Shofi tak mau tapi para bodyguard itu yang memaksa ia melakukannya.


Hingga terjadilah pertikaian antara Shofi dan beberapa bodyguard yang di tugaskan menjaga di depan pintu kamar rawat Philip.


Untung saja ruangan Philip VIPP di mana jarang ada orang yang melintas ke sana karena ruangan itu sangat khusus.

__ADS_1


Salah satu dokter yang bertugas mengecek keadaan Philip hanya bisa diam mematung dengan tubuh gemetar melihat bagaimana Shofi bisa melumpuhkan orang-orang berbadan besar. Melihatnya saja dokter itu langsung bergidik ngeri.


Cklek ...


Shofi masuk ke dalam ruang rawat Philip di mana sudah berhasil melumpuhkan para bodyguard yang berjaga.


Shofi kembali menutup pintu dengan sangat hati-hati takut membuat Philip terganggu.


Shofi berjalan mendekat, bibir Shofi bergetar melihat keadaan Philip yang tak baik-baik saja. Melihatnya saja membuat Shofi tak kuat.


Lalu bagaimana dengan Elsa!


Elsa pasti jauh lebih sakit di banding Shofi, melihat bagaimana keadaan Philip yang begitu mengenaskan.


Sungguh, Shofi tak menyangka kejadiannya akan berakhir seperti ini.


Andai saja Shofi lusa tak ceroboh mungkin Philip tak akan berada di sini dan Elsa pun tak akan drop.


Shofi memegang tangan kaku Philip dengan hati-hati.


"Philip, maafkan aku!"


Lilir Shofi gemetar tak sanggup melihat ini semua.


"Aku mohon, baik-baik lah. Jangan membuat aku takut terutama Elsa,"


"Tak kasihan kah kamu pada Elsa, berjuanglah untuk bangun Elsa menunggumu!"


"Jangan buat aku semakin bersalah dengan ketidak berdaya an ini. Sungguh aku sudah membuat kalian menderita!"


Shofi terus saja mengajak Philip bicara walau tak ada respon sedikitpun dari Philip bahkan bergerak pun tidak.


Tangan yang selalu melindungi Shofi kini tangan itu hanya bisa diam tanpa mau membalas genggaman Shofi.


"Aku mohon, jangan tinggalkan Elsa. Elsa hanya punya kamu, jangan kamu meninggalkannya sama seperti kedua orang tua Elsa meninggalkan dia!"


Shofi berharap Philip akan sadar dalam komanya.


Ya, Philip memang di nyatakan koma ketika sudah keluar dari masa kritisnya. Entah sampai kapan butuh Philip bangun dari komanya.


Shofi hanya tak sanggup jika harus melihat keadaan Elsa seperti itu.


Elsa pasti shok dengan kejadian ini karena kejadian ini merupakan kejadian yang sangat mengerikan bagi Elsa pertama kalinya menyaksikan Philip terpelanting tertabrak mobil.


"Aku pergi dulu, ada sesuatu yang harus aku urus. Cepat sembuh, Kak!"


Bisik Shofi di telinga Philip dan kali pertama nya Shofi memanggil Philip dengan sebutan kakak.


Karena memang Philip sudah Shofi anggap kakak nya sendiri apalagi mereka tumbuh sendari kecil yang terpisah oleh keadaan dan sudah besar mereka bersama lagi.


Sesudah membisikan sesuatu Shofi langsung keluar dengan wajah yang kembali di buat mengeras.

__ADS_1


Para bodyguard hanya bisa menunduk hormat ketika Shofi melewati mereka. Dan, Shofi pun enggan untuk bicara pada para bodyguard.


Tujuan Shofi saat ini adalah ruangan Elsa. Padahal ini sudah larut malam, seharusnya Shofi istirahat. Tapi, terlihat tak ada rasa kantuk di mata Shofi bahkan Shofi terlihat segar.


Bagaimana bisa Shofi tertidur dalam keadaan seperti ini. Di mana hati dan pikirannya sangat kacau sekali.


Dengan pelan Shofi membuka ruangan rawat Elsa. Cherry langsung berdiri melihat Shofi baru masuk. Terlihat jelas raut wajah Cherry nampak tak baik-baik saja.


Huh ...


Shofi hanya bisa menghela nafas berat lalu duduk di atas shopa. Cherry kembali duduk di samping Shofi.


Shofi menghela nafas lagi melihat kegelisahan di wajah Cherry. Terlihat dari tangan Cherry yang sendari tadi Cherry mainkan ketika gelisah.


"Pulanglah, selesaikan urusan kamu. Biar aku yang menjaga Elsa di sini!"


Cetus Shofi membuat Cherry menatap Shofi, sungguh Cherry tak bermaksud meninggalkan Elsa dan Shofi dalam keadaan seperti ini.


"Aku tahu, kamu bimbang dalam dua pilihan. Saran aku, ikuti kata hati kamu, di sini kamu pasti akan menemukan jawabannya!"


Ucap Shofi lagi sambil menepuk dadanya sendiri.


Tanpa di jelaskan pun Shofi mengerti apa yang di alami Cherry.


"Jika Jarvis memang mencintai kamu. Kamu pasti tahu apa yang harus kamu lakukan untuk menyakinkan hatimu sendiri. Terutama meyakinkan Daddy kamu, tapi aku yakin pilihan kamu atau pilihan Daddy kamu sama-sama baik!"


"Maksudnya!"


Shofi tersenyum melihat Cherry yang terlihat kebingungan.


"Mungkin menurut Daddy kamu, laki-laki pilihannya baik. Tapi, menurut kamu Jarvis adalah yang terbaik. Jawaban ada di hati kamu sendiri!"


"Tapi besok Jarvis akan datang di mana Daddy akan mempertemukan ku dengan laki-laki pilihannya. Apa aku tak kejam membuat Jarvis terluka!"


"Itulah cinta, kalian harus siap berkorban demi sebuah kebahagiaan lain!"


"Atau menyakiti perasaan lain demi kebahagiaan kalian!"


Cherry terdiam mendengar setiap kalimat yang di ucapkan Shofi.


Setidaknya sekarang hati Cherry sedikit tenang.


Ya, benar kata Shofi, jawaban ada di tangan Cherry sendiri karena Cherry yang akan menjalani kehidupan itu.


"Pulanglah, jangan cemaskan aku dan Elsa. Aku tahu Kaka sudah lama menunggu di loby!"


"Maafkan aku!"


Shofi hanya tersenyum saja atas jawaban Cherry. Shofi mengerti bagaimana posisi Cherry saat ini yang sedang di landa dilema akan dua pilihan.


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...



__ADS_2