Fatih (Rindu Yang Belum Usai)

Fatih (Rindu Yang Belum Usai)
Bab 114 Kembali ke Jerman


__ADS_3

Mentari terdiam menatap Shofi dan Fatih bergantian. Entah apa yang sedang Mentari pikirkan.


Lalu mata Mentari turun pada perut Shofi yang terlihat membuncit.


"Apa benar itu adik Mentari?"


Ucap polos Mentari seolah ada ketakutan dari sorot mata bening itu.


"Iya sayang, ini adik Mentari sebentar lagi Mentari akan menjadi seorang kakak,"


"Jadi maukah kakak ikut mommy dan Daddy ke Jerman?"


Bujuk Shofi penuh harap jika Mentari akan ikut dengannya. Melihat tatapan Mentari yang datar sama seperti tatapan Alam membuat Fatih dan Shofi was-was.


Mentari beranjak dari duduknya lalu mengelus perut buncit Shofi.


Tes ...


Setetes air mata jatuh dari pelupuk netra Mentari ketika mengusap perut Shofi. Apakah dulu dirinya juga begitu dalam kandungan sang ibu.


"Bagaimana dengan Oma dan opa?"


Sungguh gadis kecil itu masih memikirkan tentang Oma dan opanya. Bagaimana bisa gadis berusia tujuh tahun ini memikirkan perasaan orang dewasa.


"Oma dan opa mengizinkan!"


Deg ...


Fatih dan Shofi terkejut ketika tiba-tiba Melati masuk. Melati tersenyum pada cucunya sambil berjongkok menghapus lelehan bening yang menodai pipi Mentari.


"Ikutlah bersama mommy dan Daddy, Oma dan opa bisa kapan saja menyusul!"


"Benarkah!"


Mentari tersenyum cerah ketika sang Oma mengizinkan.


Shofi dan Fatih bernafas lega melihat Mentari menyetujui semuanya.


Seperti nya ini awal babak baru untuk mereka menata hidup. Menjadikan Mentari bagian dari darah mereka sampai kapanpun. Tak akan ada yang bisa memutuskannya siapapun itu.


Shofi benar-benar bahagia ternyata Mentari mau ikut bersamanya ke Jerman.


"Tapi Mentari harus janji sama Oma!"


"Apa Oma?"


"Jadi anak yang baik, kakak yang baik jaga mommy, Daddy dan calon adik Mentari, janji!"


"Janji!"


Mentari mengangguk pasti entah mengerti atau tidak dengan anggukannya itu. Mentari hanya gadis kecil dengan kepolosannya.


Sedewasa apapun Mentari tetap bahwa Mentari hanya gadis berumur tujuh tahun yang di paksa dewasa akan semuanya.


Entah kehidupan apa yang akan menanti mereka di sana.


Akankah Mentari bisa melupakan kekosongan hatinya. Berganti dengan kehangatan yang Shofi berikan.


Atau akan tetap sama terbelenggu akan kerinduan yang tak dapat di jelaskan oleh apapun.


Semuanya tak ada yang tahu apa yang di rasakan oleh gadis kecil itu karena Mentari tumbuh dengan sosok pendiam dan sulit mengungkap apapun.


Jek dan Melati hanya biasa diam tak bisa mencegah apapun. Mereka merasa gagal menjadi orang tua dan nenek bagi putri dan cucunya.


Jek dan Melati sungguh sulit keluar dari belenggu penyesalan yang tiada akhir. Entah sampai kapan penyesalan dan rasa bersalah itu hilang.


Apa Mentari akan membencinya jika suatu hari nanti tahu tentang kisah kedua orang tuanya.

__ADS_1


Queen pun tak bisa apa-apa karena semua sudah terjadi.


Mereka tak bisa membendung air matanya melihat kepergian Mentari. Gadis cantik yang selalu diam mencoba mengerti keadaan yang terjadi pada dirinya.


Tangan mungil itu melambaikan tangannya meninggalkan kesedihan yang bersarang di semua orang yang melepas kepergian nya.


Tiba-tiba Mentari melepaskan genggaman tangan Shofi dan berlari pada Melati. Tangan mungil itu mengusap air mata sang Oma.


"Oma jangan menangis ya, ibu di atas sana pasti tak menyukainya!"


Celetuk Mentari membuat Melati semakin tak bisa membendung air matanya memeluk erat cucunya.


Sungguh Melati sangat berat melepaskan Mentari namun ia harus apa ia juga tak sanggup jika cucu tumbuh dengan kesepian.


"Pergilah sayang!"


"Oma janji gak akan nangis lagi!"


Melati mengangguk lalu mengecup kening Mentari cukup lama.


"Mentari sayang Oma!"


Cup ...


Mentari mengecup pipi Melati singkat lalu berlari kembali meraih tangan Shofi dan Fatih.


Kali ini Mentari benar-benar tak kembali Shofi dan Fatih menghilang di balik ruang check-in.


Genggaman lembut membuat Mentari terasa nyaman. Mentari tak lekas terus menatap Shofi yang menggandeng tangannya. Sesekali menatap Fatih juga yang sama sedang menggandeng tangannya.


Mentari tersenyum tipis seolah sedang melihat Amira dan Alam berada di diri Shofi dan Fatih.


Ya, Mentari selalu melihat itu semua seolah jiwa Amira bersemayam di sana membuat Mentari selalu merasa nyaman.


Rasa nyaman yang sulit Mentari ungkapkan, perasaan itu mengalir begitu saja.


Mentari mengangguk memegang erat tangan Shofi ketika pesawat akan lepas.


"Rileks sayang tak apa di sini ada mommy dan Daddy!"


Mentari memeluk tangan Shofi sambil memejamkan kedua matanya. Ini kali pertama Mentari naik pesawat.


Kepala Mentari sangat pusing dan mual Shofi yang menyadari perubahan wajah Mentari langsung siaga begitu juga dengan Fatih.


Huoek ...


Mentari muntah karena tak sanggup lagi menahan gejolak di dalam perutnya. Mentari menunduk merasa takut karena sudah muntah.


"Tak apa sayang keluarkan biar enak!"


Wajah Mentari sangat pucat dengan wajah memerah.


Dengan telaten Shofi membersihkan semuanya tanpa rasa jijik sedikitpun.


"Apa sudah lebih baik?"


Mentari mengangguk kaku merasa lemas sungguh ini sangat memalukan.


Fatih beranjak guna membuang muntahan Mentari tak lama Fatih kembali.


"Sini tidur di pelukan Daddy!"


Ucap Fatih mengangkat Mentari kedalam pelukannya. Karena tak mungkin Shofi memeluk Mentari di saat perutnya sudah besar.


Mentari membenamkan kepalanya di dada bidang Fatih dengan Fatih menepuk-nepuk pantat Mentari.


Papa!

__ADS_1


Jerit Mentari mengeratkan pelukannya sungguh Mentari sangat merindukan ini semua.


Tes ...


Mentari meneteskan air mata merasa rindu akan ini semua bahkan tubuhnya sampai gemetar. Fatih merasakan itu namun Fatih hanya diam saja membiarkan putrinya meluapkan semuanya.


Fatih semakin mengeratkan pelukannya sambil mencium puncak kepala Mentari.


Entah berapa lama Mentari menangis sampai isakan itu tak terdengar lagi nyatanya Mentari tertidur.


Ini sangat nyaman benar-benar nyaman membuat Mentari tak bisa lepas akan hal ini bahkan sampai tertidur di pelukan Fatih.


"Dad!"


"Suttt,"


Fatih mengisyaratkan sang istri tetep diam membuat Shofi langsung mengerti ternyata putri mereka sedang tidur.


"Mendekat lah!"


Bisik Fatih menyuruh sang istri mendekat duduk di tempat Mentari tadi.


Shofi menyandarkan kepalanya di atas pundak sang suami dengan Fatih menyandarkan kepalanya juga di atas kepala sang istri.


Shofi memeluk lengan Fatih sedang lengan Fatih satunya sedang memeluk Mentari.


Sungguh pemandangan yang sangat indah mereka seperti keluarga sesungguhnya.


"Tidurlah mom!"


"Hm,"


Cup ...


Fatih mengecup sekilas puncak kepala Shofi membuat Shofi memejamkan kedua matanya nyaman.


Sungguh Shofi benar-benar sangat bahagia dan juga lega pada akhirnya dia bisa menuntaskan janjinya itu.


Ra, maaf jika aku terlambat!


Aku janji aku akan menjaga Mentari, menyayangi dan mencintainya.


Terimakasih sudah menghadirkan anugrah terindah di hidup ku!


Jerit batin Shofi dengan senyuman manis di bibirnya tenggelam oleh mimpi indah yang nyata.


"Terimakasih, jaga Mentari untukku!"


"Itu pasti, Mentari akan menjadi kakak yang terbaik untuk adiknya!"


"Sekarang aku merasa tenang, aku pergi!"


Shofi melambaikan tangannya dengan senyum yang tak lekas dari bibirnya. Menatap kepergian Amira seolah ini nyata bukan sekedar mimpi.


"Entah mimpi indah apa sayang hingga kamu tersenyum sampai ke permukaan!"


Gumam Fatih gemas melihat istrinya tersenyum manis dalam keadaan tidur.


Fatih benar-benar merasa bahagia memiliki Shofi. Sosok yang tak pernah Fatih duga akan menjadi istri dan ibu penerus dari keponakannya.


Wanita yang dulu ia buli kini Shofi menjadi ratu di hidup Fatih sumber kebahagiaan Fatih nafas dan detak jantungnya.


"Terimakasih mom sudah hadir di hidup Daddy melengkapi perjalanan ini. Terimakasih atas perjuangan mom bertahan dalam sebuah kerinduan!"


Ungkapan yang begitu dalam dan penuh makna tersirat di sorot mata Fatih untuk sang istri.


Selesai ....

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2