Fatih (Rindu Yang Belum Usai)

Fatih (Rindu Yang Belum Usai)
Bab 45 Maafkan aku terlalu egois


__ADS_3

"Sayang, apa kamu baik-baik saja?"


Panik Fatih memeluk Shofi yang baru saja di periksa oleh dokter.


Fatih sangat terkejut ketika Shofi memberi tahu jika dia berada di rumah sakit.


Fatih memeriksa seluruh badan Shofi takut ada sesuatu yang terluka lagi. Melihat tak ada yang luka serius membuat Fatih baru bernafas dengan lega.


"Kenapa bisa sampai seperti ini?"


"Hanya kecelakaan kecil,"


"Selalu saja seperti ini, kamu memang ceroboh!"


Ucap Fatih spontan membuat Shofi terdiam menatap lekat Fatih.


"Kenapa, ayo aku antar pulang?"


Shofi hanya diam saja namun menurut apa yang Fatih ucapkan. Fatih menggandeng tangan Shofi menuju tempat parkir. Lalu membukakan pintu untuk Shofi.


Shofi hanya diam saja enggan untuk bicara. Dan, Fatih pun masuk lalu menjalankan mobilnya menuju apartemen Shofi.


Di sepanjang jalan, mereka hanya diam saja, tak ada yang mau memulai percakapan. Mereka hanya sibuk dengan pikiran masing-masing.


Entah apa juga yang mereka pikirkan sampai mereka tak sadar juga jika sudah sampai. Tepatnya Shofi yang tak sadar jika merek sudah sampai.


Fatih kembali membukakan pintu untuk Shofi.


Tetap tak ada percakapan di antara mereka, Fatih juga tetap diam saja begitu pun dengan Shofi yang memang sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Buka,"


Ucap Fatih membuat Shofi baru tersadar jika ia sudah ada di depan apartemennya. Shofi langsung membuka pintu apartemen setelah menempelkan kartu aksesnya.


Grep ...


"Ku mohon jangan terluka ya!"


Deg ...


Shofi terkejut dengan apa yang Fatih lakukan. Apalagi Fatih begitu erat memeluk dirinya.


"Aku tak tahu dengan diriku, kenapa merasa sakit mendengar kamu terluka. Jadi aku mohon jangan terluka ya?!"


Shofi masih diam membisu karena terlalu Shok dengan apa yang Fatih lakukan. sendari tadi diam dan sekarang Fatih memeluknya erat dengan ungkapan kekhawatiran yang mendalam.


"Fatih,"


"Berjanji lah, ..."


Ucap Fatih semakin mengeratkan pelukannya membuat Shofi merasa aneh dengan tingkah Fatih yang menurut Shofi sangat lah aneh.


"Berjanjilah, .."


"Iya, aku janji!"


Ucap Shofi pada akhirnya karena ingin segera Fatih melepaskannya. Rasanya pelukan Fatih terlalu erat dan itu malah menyakiti dirinya.


Fatih melerai pelukannya lalu menangkup wajah Shofi.


"Terimakasih sayang,"


Cup ...


Fatih mengecup kening Shofi dengan penuh kasih sayang. Lalu tak lupa mengecup kedua netra mata Shofi yang mungkin akan menjadi candu bagi Fatih.

__ADS_1


"Apa kamu sudah mengingatku?"


Deg ...


Fatih terdiam karena ia belum mengingatnya. Fatih juga bingung bagaimana cara menjelaskannya.


Shofi menghela nafas berat melihat Fatih yang hanya diam. Sudah Shofi pastikan jika Fatih belum mengingat apapun.


"Apa kamu kecewa?"


Shofi menggelengkan kepala karena percuma kecewa juga karena rasa kecewa itu sudah terlalu sering Shofi rasakan.


"Bisakah kamu tetap menunggu, please, ..."


"Empat bulan!"


Deg ...


Fatih membulatkan kedua matanya mendengar ucapan Shofi. Bagaimana bisa memberikan waktu empat bulan padanya. Waktu yang sangat singkat, bahkan selama empat tahun saja Fatih sulit mengingatnya.


Shofi melepaskan tangan Fatih dari wajahnya lalu berbalik membelakangi Fatih.


"Empat bulan waktu yang kak Davit beri, jika kamu belum juga mengingatnya maka kak Davit akan menjodohkan ku!"


Krek ....


Fatih mengepalkan kedua tangannya erat, Bagaimana bisa seperti ini. Tak bisakah Shofi meringankan bebannya kenapa harus seperti ini.


"Apa kamu menyerah!"


"Tidak! kamu akan selalu menjadi orang yang aku cintai sepanjang aku bernafas. Tapi, hidup dengan orang yang tak mengingat ku rasanya sakit!"


"Tapi aku mencintaimu, bisakah kamu melupakan ingatan itu!"


"Buat apa, karena itu juga akan menjadi bumerang di kemudian hari. Yang aku cintai Fatih ku yang dulu bukan yang sekarang. Karena bagiku mereka berbeda."


Fatih tak bisa berkata apa-apa lagi, terlalu sulit menjawab ucapan Shofi yang pada akhirnya harus saling menyakiti.


Bisakah mereka tetap bersama walau dengan keadaan baru, menjadi orang baru dalam suasana baru.


Tapi, itu tak cukup bagi Shofi, karena bagi Shofi. Ia seakan hidup dengan orang lain. Mungkin itu raga Fatih tapi perlakuan Fatih begitu berbeda.


Sedang Fatih bingung sendiri bagaimana harus mengingatnya. Bukankah itu bukan suatu yang mudah bagi Fatih lakukan. Fatih sudah berusaha, namun terlalu sulit untuk di ingat.


"Baiklah, jika itu mau kamu. Aku akan berusaha mengingat sebesar apa dulu aku mencintaimu!"


"Sekarang kamu istirahat ya, jangan terlalu banyak pikiran,"


Ucap Fatih lagi mengalihkan pembicaraan. Sambil mengantar Shofi ke kamar shofi sendiri.


Fatih menyelimuti Shofi dengan sayang, lalu mengelus kepala Shofi dengan penuh cinta.


"Tidurlah,"


Ucap Fatih kemudian Fatih beranjak, namun Shofi menahan tangannya agar dia tak pergi.


"Kenapa?"


"Bisakah kamu ambilkan obat untukku!"


"Di mana?"


"Laci,"


Fatih melirik laci yang Shofi tunjuk, kemudian beranjak membukanya. Fatih melihat obat itu, namun Fatih tak faham buat apa obat ini. Bukankah Shofi sudah ada obat dari dokter kenapa meminta ini.

__ADS_1


"Obat apa?"


"Tidur!"


"Sejak kapan?"


"Empat tahun lalu,"


Deg ...


Shofi membulatkan kedua matanya ketika Fatih membuang obat itu ke tong sampah. Bagaimana bisa Fatih membuang obat itu sedang obat itu yang Shofi perlukan.


"Kenapa kau membuangnya, aku perlu obat itu!"


Bentak Shofi tak terima, karena Shofi akan sulit tidur jika tak meminum obat itu. Shofi beranjak dari tidurnya namun dengan cepat Fatih menahannya sampai Shofi terlentang kembali.


Fatih semakin mengeratkan pelukannya ketika Shofi memberontak.


"Kenapa?"


Tanya Fatih penuh penekanan, Fatih ingin tahu kenapa Shofi bisa mengkonsumsi obat itu, tidak tahukah Shofi jika itu ada efek sampingnya yang sewaktu-waktu akan membahayakan Shofi sendiri.


"Kenapa?"


"Karen kamu hiks ..., aku sulit tidur karena merindukanmu. Hiks ..., kamu jahat hiks ..., kamu jahat!!"


"Kenapa rindu ini sangat menyiksaku hiks ..,"


Fatih semakin mengeratkan pelukannya karena terkejut dengan apa yang terjadi pada Shofi. Bagaimana bisa Shofi bisa seperti ini, sungguh Fatih tak bisa membayangkan bagaimana penderitaan Shofi selama ini. Pasti hari-hari yang Shofi lalu sangat lah sulit sampai Shofi seperti ini.


"Maafkan aku sayang, maaf!"


Lilir Fatih sambil mencium puncak kepala Shofi bertubi-tubi berharap Shofi akan tenang.


Tangisan Shofi mulai reda, membuat Fatih sedikit merenggangkan pelukannya. Fatih menghapus sisa air mata Shofi yang masih tergenang di katup matanya.


"Mulai sekarang, aku tak akan membiarkan kamu meminum obat sialan itu. Aku akan menemani kamu, mengobati rasa sakit yang kamu rasakan,"


Ucap Fatih tulus kembali menarik Shofi pada pelukannya. Shofi menelusup kan kepalanya di dada bidang Fatih mencari tempat ternyaman di sana.


Fatih mengecup kepala Shofi sambil mengelus-elus punggung Shofi berharap Shofi akan segera tenang dan nyaman.


"Tidurlah, aku akan menemanimu!"


"Jangan pergi,"


"Aku di sini aku tak akan ke mana-mana!"


"Maafkan aku terlalu egois ..,"


Fatih tak menjawab itu, karena tak mengerti kemana arahnya. Fatih hanya ingin Shofi cepat tidur saja dengan nyaman dan damai.


Fatih terus mengelus-elus punggung Shofi hingga Shofi tertidur. Terasa dari hembusan nafas Shofi yang mulai normal.


Fatih tidak tahu harus berbuat apa lagi, karena Fatih hanya terlalu Shok untuk mengetahui keadaan Shofi yang seperti ini.


"Apa di masala lalu aku menyakitimu, maafkan aku!"


"Aku janji aku akan menebusnya dengan cara apapun. Agar rasa sakit itu hilang!"


"Apa kamu sebegitu mencintaiku hingga bisa seperti ini. Maafkan aku yang sudah melupakanmu. Aku janji aku akan mengingat kamu kembali,"


Gumam Fatih yakin pada dirinya sendiri, Fatih tak salah jika merasa jatuh cinta lagi pada orang yang sama walau dalam keadaan yang berbeda.


Apa perbedaan itu yang akan mempersatukan mereka kembali atau justru sebaliknya.

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2