
Seperti nya kisah mereka harus berakhir seperti ini. Berakhir sangat menyakitkan meninggalkan orang-orang tersayang dengan cara yang begitu pilu.
Sebuah kekuatan cinta yang begitu kuat, seolah mereka tak sanggup lama berpisah hingga pada Akhirnya Amira memilih pergi menyusul sang suami menyisakan kenangan indah yang membuat mereka terpukul.
Takdir yang harus mereka jalani, begitu penuh luka liku kehidupan. Perjuangan cinta yang sangat singkat namun melekat di hati yang mengingat.
Kematian tak akan ada yang tahu, kapan mereka menjemput. Dan pada waktu itu tiba, semuanya harus kuat meletakan kepergian putra dan putri satu-satunya Meraka.
Tak ada yang abadi dalam kehidupan ini. Namun, cinta mereka begitu kuat untuk di kenang begitu hebat untuk sekedar di ceritakan.
Perjalanannya cukup rumit di jalani, cukup kuat bertahan.
Tak ada yang lebih indah dari pada kisah mereka yang pergi namun seolah masih ada di ingatan orang-orang yang mencintainya.
Meninggalkan kenangan manis semanis senyuman mentari pagi yang tersenyum melebarkan kehangatan ke setiap penjuru bumi.
Inikah kisah mereka yang pada akhirnya harus pergi untuk selama-lamanya.
.
Shofi menangis di pelukan Fatih tak sanggup mengantar Amira pada peristirahatan terakhir. Di mana Amira di makamkan tepat di samping Alam.
Baru satu bulan Alam pergi kini semua orang harus merelakan Amira pergi juga.
Hari itu kesedihan terasa jelas bagi keluarga Al-biru dan Prayoga. Semuanya bagai hantaman besar bagi mereka. Bahkan kepergian Amira dan Alam langsung tranding di sosial media dan stasiun tv.
Seorang anak pengusaha besar telah berpulang ke Rahmatullah. Sungguh ujian yang sangat menyakitkan bertubi-tubi datang menghantam keluarga besar Al-biru dan Prayoga.
Para sahabat semua datang bahkan ada juga teman-teman Amira yang dari London.
Sungguh suasana terasa sunyi seolah waktu berhenti berputar.
Tepat jam empat sore Amira selesai di kebumikan semua keluarga sudah pulang hanya tinggal Shofi dan Bunga yang berada di pemakaman dengan Raja, Fatih, Rangga dan Moreo berdiri tak jauh dari mereka.
Tak jauh dari mereka Amelia juga ada di sana dengan seorang anak kecil di sampingnya.
Shofi dan Bunga saling peluk menatap sendu batu nisan yang terukir nama Amira Putri Jacob.
Pertemuan mereka begitu singkat setelah lima tahun berpisah dan kini mereka harus berpisah untuk selama-lamanya.
Ra, yang tenang di sana aku berjanji akan merawat putri mu semampu yang aku bisa. Aku akan menjaga dia seperti anak ku sendiri.
Ra, kamu jangan khawatir aku pastikan putri kita tak akan pernah kekurangan kasih sayang.
Aku akan menjaga ia sepenuh hati dan merawat dia penuh cinta. Baik-baik di sana semoga kamu berada di tempat terindah bersama om Alam di sisi Tuhan.
Jerit batin Shofi sambil mengelus papan nisan makam Amira.
Amira, kenapa terlalu cepat kau pergi. Rasanya baru kemaren kita sama-sama berjuang belajar di negri orang. Ku tahu segala keluh kesah mu dari awal. Inikah akhir dari kisahmu, kisah yang sangat memilukan namun kau mampus mengobrak-abrik perasaan semua orang.
Yang tenang di sana, terimakasih sudah memberikan Sekar seorang adik yang sangat cantik.
Kamu tahu Ra, Sekar sangat menyayangimu dia terus mencari-cari kamu. Lalu sekarang apa yang harus aku katakan pada putri kita.
__ADS_1
Jerit Bunga sungguh tak sanggup kehilangan sahabat sejatinya.
Kenapa kisah mereka harus seperti ini, pergi untuk selama-lamanya. Tak bisakah mereka kembali.
Raja dan Fatih berjalan menghampiri Shofi dan Bunga.
"Philo, sudah mau magrib kita pulang ya!"
Bujuk Fatih lembut begitu pun dengan Raja berusaha membujuk sang istri. Apalagi barusan sang ayah memberi tahu jika Sekar terus menangis mencari Bunga terus.
Shofi dan Bunga berpisah di pemakaman tinggal menyisakan Shofi dan Fatih berdua di sana.
"Pulang ya!"
Shofi mengangguk lemah membuat Fatih dengan sigap menahan tubuh Shofi agar tidak jatuh.
Shofi sekali lagi menengok kebelakang menatap sendu makam Amira.
Baru saja mereka bertemu namun pertemuan itu begitu singkat.
Shofi tak menyangka jika Amira akan pergi untuk selama-lamanya.
"Aku tak tahu disini, harusnya aku yang kamu hibur!"
"Dear ,,,"
Lilir Shofi tak suka dengan candaan Fatih walau apa yang Fatih ucapkan memang benar.
"Pertemuan ini begitu singkat, kini Amira pergi!"
"Kasihan sekali baby itu, terlahir tanpa di lihat kedua orang tuanya!"
Lilir Shofi emosional seolah merasakan rasa sakit yang baby Amira tinggalkan.
Ya, Amira pergi meninggalkan seorang baby mungil yang begitu cantik.
Shofi faham betul bagaimana berada di posisi kehilangan sesuatu yang berharga. Apalagi Baby mungil itu tak tahu siapa ayah ibunya. Sungguh malang sekali nasib baby itu, namun Shofi sudah berjanji akan merawat baby itu sampai dewasa.
"Kita sama-sama merasa kehilangan, namun aku juga tahu kamu lebih hebat merasakan rasa sakit kehilangan itu sendiri!"
Ucap Fatih sambil memegang tangan Shofi lembut. Fatih tahu Shofi sangat terpukul jauh dari sara terpukul dia walau Fatih sebagai saudara Amira sendiri.
Namun, bagi orang yang sudah merasakan kehilangan rasanya akan jauh berbeda. Bahkan rasa itu jauh lebih besar dari yang lain.
Seolah nasib mereka sama persis. Jika Shofi kehilangan kedua orang tua karena pembantaian di usinya menginjak delapan tahun. Berbeda dengan baby mungil itu yang harus kehilangan di saat dia lahir keduanya bahkan kedua orang tuanya sendiri belum sempat melihat dia.
Sama-sama kehilangan, sama-sama sakit walau berbeda keadaan.
"Aku ingin merawat baby itu, Dear!"
Deg ...
Fatih menghentikan mobilnya mendengar permintaan Shofi. Fatih melirik kearah Shofi yang terlihat serius.
__ADS_1
"Aku tahu ini tak mungkin, namun sebelum Amira pergi dia menyuruhku untuk menjaga baby itu!"
"Aku tahu apa yang kamu katakan adalah kebenaran. Tapi, aku yakin keluarga besar tak akan membiarkan itu. Mereka pasti akan berebut hak asuh dari baby. Om Jek, Tante Melati, nenek dan kakek mereka pasti berebut ingin merawat baby!"
"Tapi--"
"Kita lihat saja dulu, ada waktunya kita yang merawat baby jika tak ada yang mampu merawatnya!"
Shofi terdiam lupa siapa dia, ya Shofi bukan siapa-siapa dari keluarga itu. Shofi hanya orang asing yang tanpa sengaja masuk kedalam keluarga mereka.
"Maaf!"
"Jangan minta maaf, kamu gak salah!"
"Mending kita buat anak sendiri!"
Plak ...
Shofi memukul lengan Fatih dengan mata melotot sempurna. Di saat seperti ini kenapa Fatih malah ngelawak.
Fatih terkekeh melihat bagaimana reaksi Shofi seolah akan memakan ia hidup-hidup.
Fatih menarik Shofi kedalam pelukannya sambil menghujani Shofi sebuah kecupan di puncak kepalanya.
"Jangan sedih lagi ya!"
"Hm,"
"Kita pulang!"
Fatih kembali melajukan mobilnya menuju apartemen.
Ya, selama di Indonesia Shofi tinggal di salah satu Apartemen yang ada di Jakarta. Tak mungkin Shofi tinggal di rumah Amira juga walau Melati dan Jek menyuruhnya tinggal di sana.
Shofi bukan tak mau namun Shofi tak enak apalagi situasi sedang seperti ini.
"Jangan banyak pikiran, langsung tidur ya!"
"Iya!"
"Aku pulang!"
Cup ...
Fatih mengecup kening Shofi sebelum benar-benar tidur.
Indonesia bukan negara Jerman yang bebas dengan pergaulan. Fatih juga tak mungkin menemani Shofi tidur Fatih harus pulang dan menyelesaikan urusannya.
"Hati-hati, kalau sudah sampai kabarin!"
"Siap!"
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...