
Sudah hampir tujuh tahun usia pernikahan Fatih dan Shofi namun belum ada tanda-tanda Shofi hamil.
Berbagai cara sudah mereka lakukan namun hasilnya lagi-lagi nihil. Padahal ketika di periksa keduanya sama-sama normal namun kenapa sampai sekarang Shofi belum di karunia malaikat kecil oleh Tuhan.
Membuat Shofi selalu bulak-balik Jerman-Indonesia guna melihat keponakan kecilnya yang sekarang sudah tumbuh menjadi gadis pintar.
Ada rasa sedih di hari Shofi karena belum bisa memberikan keturunan pada keluarga Al-biru dan Damaresh.
Bahkan Shofi sering melamun dan menyendiri sambil menatap photo-photo Mentari dari mulai usia balita sampai enam tahun. Bahkan kebersamaan mereka selalu Shofi abadikan di sebuah album keluarga seolah mereka keluarga utuh.
Padahal Cherry saja sudah mempunyai dua anak begitupun dengan Elsa yang baru dua tahun menikah Elsa langsung hamil. Tapi sampai saat ini Shofi belum di percaya membuat Shofi semenjak itu tak lagi datang ke kantor. Shofi memilih bekerja di rumah saja sisanya Shofi serahkan pada Philip.
Padahal Farhan dan Queen tak merasa keberatan Shofi belum hamil atau bahkan tak punya anak juga. Bagi mereka anak bukan sebuah patokan keutuhan dan kebahagiaan rumah tangga.
Pernah Shofi meminta sang suami mengurus Alana putri kedua Davit dan Angel tapi Fatih melarangnya padahal Davit dan Angel tak keberatan.
Membuat Shofi tak bisa apa-apa karena sang suami melarangnya. Shofi ingin mengutarakan keinginannya membawa Mentari apalagi amanah dari Amira tapi Shofi tak punya keberanian jika meminta Mentari.
Shofi takut malah menjadi salah faham dan membuat suasana tegang.
Shofi hanya bisa mengurung dirinya di ruang kerja bahkan akhir-akhir ini semakin sulit untuk makan.
Fatih menatap sendu sang istri yang selalu mengurung dirinya di ruang kerja bahkan jarang makan.
Entah apa yang harus Fatih lakukan agar sang istri kembali ceria seperti dulu.
Sudah dua tahun Shofi seperti itu padahal pada awal-awal biasa saja bahkan Shofi pun tak mengeluhkan apapun.
Fatih yakin sang istri masih bisa hamil Fatih akan berusaha melakukan apa saja agar istrinya hamil.
Enam tahun Fatih menyembunyikan sebuah pakta yang sangat menyakitkan ketika mereka sedang di periksa kesuburan.
Dua-duanya memang subur namun ada gangguan pada rahim sang istri karena efek samping dulu ketika sang istri mengkonsumsi obat tidur. Itu yang membuat Shofi sulit punya anak. Fatih menyembunyikan fakta itu dari sang istri tapi tidak dengan keluarganya. Karena Fatih ingin keluarganya bisa memahami keadaan Shofi apalagi Shofi seperti itu karena Farhan dan Davit juga.
Perlahan Fatih masuk kedalam ruang kerja sang istri. Fatih mengelus lembut pipi sang istri yang terlihat nampak tirus.
Perlahan mata Shofi terbuka bibirnya tersenyum ketika melihat sang suami ternyata sudah pulang.
"Kata bodyguard sayang belum makan dari siang, kenapa?"
Tanya Fatih lembut berusaha menahan kesedihannya.
Shofi hanya menggeleng pelan karena memang tak napsu makan. Bagaimana Shofi bisa makan sedang pikirannya sangat kacau.
Apa kata orang jika ia belum hamil-hamil orang-orang pasti mencemoohnya. Pikiran-pikiran negatif terus bermunculan membuat Shofi sangat malu untuk sekedar menampakkan wajahnya.
Apalagi saat kejadian beberapa Minggu lalu ketika Shofi berkunjung ke perusahaan Fatih semua karyawan di sana mencibir dan menatapnya sinis jika ia tak pantas mendampingi Fatih. Apalagi ada yang mengatainya mandul. Kata itu yang membuat Shofi isecuere sampai saat ini.
"Makan ya, aku suapin,"
__ADS_1
Shofi hanya diam saja karena merasa kepalanya sangat berat.
Fatih yang melihat istrinya hanya diam, langsung menggendong sang istri. Fatih menahan air matanya agar tak keluar bahkan badan sang istri terasa ringan. Mungkin karena terlalu banyak pikiran dan jarang makan membuat berat badan Shofi berkurang.
Fatih mendudukkan sang istri di atas kursi Fatih duduk di sampingnya.
"Buka mulutnya sayang!"
Pinta Fatih karena Shofi terus merapatkan mulutnya.
"Sayang!"
Perlahan Shofi membuka mulutnya menerima suapan dari Fatih. Dengan sangat sulit Shofi menelannya dengan wajah aneh.
Satu suap dua suap Shofi masih memaksanya masuk namun di suapan ke tiga Shofi tak bisa menahannya lagi. Wajah Shofi memerah dengan cepat Shofi berlari kearah wastafel.
Hoekkk ...
Shofi memuntahkan isi perutnya, baru saja memasukan nasi sudah keluar lagi.
Fatih terkejut melihat keadaan sang istri yang muntah-muntah. Dengan cepat Fatih menepuk-nepuk pundak Shofi agar semuanya keluar.
"Sayang kamu sakit?"
Lagi-lagi Shofi menggeleng dengan air mata yang keluar.
"Dear!"
Lilir Shofi memegang tangan Fatih erat, Shofi tak mau berobat.
"Mau tidur!"
"Tap--"
"Please!"
Mohon Shofi karena kepalanya mulai berdenyut kembali. Karena tak mau berdebat Fatih langsung menggendong sang istri menuju kamar mereka di lantai dua.
Fatih menidurkan sang istri hati-hati lalu menyelimutinya. Shofi menahan tangan sang suami yang akan beranjak.
"Kenapa sayang,"
"Peluk!"
Fatih membaringkan dirinya di samping sang istri. Shofi langsung memeluknya, mencium wangi badan Fatih membuat Shofi merasa nyaman. Bahkan sampai Shofi mengendusnya membuat Fatih kegelian.
"Sayang,"
"Hm,"
__ADS_1
"Geli!"
Cicit Fatih namun tak di dengarkan oleh Shofi. Shofi terus saja merapatkan tubuhnya pada tubuh Fatih mencari rasa nyaman.
Tak lama Shofi tertidur di ketiak Fatih membuat Fatih hanya bisa menahan nafas. Fatih merasa heran dengan tingkah istrinya kenapa seperti ini. Tak biasanya Shofi tidur di ketiaknya biasanya Shofi akan menempelkan kepalanya tepat di dada Fatih.
"Sayang,"
Panggil Fatih memastikan sang istri tidur pulas atau belum. Merasa Shofi benar-benar sudah tidur Fatih perlahan menggeser tapi tiba-tiba Shofi malah menggeliat memeluk kembali tubuhnya.
Fatih menghela nafas berat karena merasa tak nyaman dengan pakaian nya. Padahal Fatih ingin mengganti baju karena merasa tak enak tidur memakai baju kantor. Namun melihat wajah pucat sang istri mau tak mau membuat Fatih diam saja.
Entah sampai jam berapa Fatih masih berjaga karena merasa tak enak dengan pakaian nya apalagi belum mandi.
Sampai-sampai Fatih benar-benar merasa kantuk dan baru bisa tidur tepat di jam dua dini hari.
.
Perlahan mata Fatih membuka ketika merasa tak ada sang istri di sampingnya.
"Sayang,"
Panggil Fatih namun tak ada sahutan sama sekali. Fatih melihat meja rias terlihat sesuatu yang berbeda seperti sang istri sudah mandi.
Apalagi handuk Shofi terasa basah berarti Shofi benar-benar sudah bangun dari tadi. Fatih merasa lega akan hal itu lalu Fatih memilih membersihkan diri karena benar-benar merasa tak enak.
Sudah mandi Fatih langsung bersiap dengan baju kantornya. Fatih tersenyum melihat sang istri sudah selesai menyiapkan sarapan.
Cup ...
Fatih mengecup pipi Shofi membuat Shofi terkejut.
"Sudah tak mual dan pusing lagi sayang?"
"Tidak, hanya masih sedikit pusing saja tapi tak apa!"
"Apa aku tak ke kantor saja, kita ke rumah sakit!"
"Tak apa dear, nanti kalau ada apa-apa aku kabarin, ada bodyguard jaga kan,"
"Sudah sekarang sarapan,"
Potong Shofi ketika Fatih akan bicara lagi. Mau tak mau Fatih diam walau di hati Fatih terlihat cemas dan khawatir apalagi wajah Shofi masih terlihat pucat.
Mereka berdua sarapan dengan keheningan, Shofi berusaha memasukan makanannya kedalam perut karena takut Fatih curiga.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1