Fatih (Rindu Yang Belum Usai)

Fatih (Rindu Yang Belum Usai)
Bab 112 F2 (RYT) Sebuah surat


__ADS_3

Indonesia ....


Seorang anak kecil menatap sendu dengan bola mata beningnya.


Matanya yang berkaca-kaca membuat siapa saja yang melihat merasa tersentuh.


Seorang anak yang selalu bungkam akan kisah kedua orang tuanya. Selalu menahan keingintahuan tentang ibu dan papa nya.


"Cinta ibu dan papa begitu besar. Mereka sangat menyayangi Mentari. Perjuangan mereka tak bisa di gambarkan oleh kata."


"Benarkah seperti itu Oma, lalu kenapa mereka meninggalkan Mentari?"


Melati terdiam dan pada akhirnya kata itu akan keluar seiring dengan pertumbuhan Mentari. Melati tersenyum sambil mengelus kepala Mentari dengan lembut.


Melati menerawang jauh pada beberapa tahun lalu dimana Amira dan Alam masih ada. Kekuatan cinta mereka begitu hebat sulit untuk di jabarkan dengan kata.


Cinta mereka terlalu hebat, sampai hembusan nafas akhir mereka.


Perjuangan yang tak bisa di gambarkan. Bahkan jika Melati mengingat bagaimana perjuangan putrinya bahkan hampir sekarat sampai argumen Melati dan Jek kalah dengan kekuatan cinta mereka.


Dua-duanya sekarat namun kekuatan cinta mereka yang membuat mereka bertahan sampai hadirnya Mentari di antara mereka.


"Ibu sama papa tidak pernah meninggalkan Mentari. Mereka selalu ada di sini!"


Ucap Melati sambil menepuk dada Mentari pelan.


"Di sini ibu dan papa tak akan pernah meninggalkan Mentari. Mereka sangat menyayangi Mentari bahkan sampai berjuang keras agar Mentari ada di sini menemani Oma. Perjuangan ibu dan papa sangat besar, kalau Mentari sudah besar Mentari akan mengerti!"


Gadis kecil imut itu menatap sang oma yang berkaca-kaca seolah mata itu memancarkan sebuah kesedihan, kerinduan dan penyesalan yang mendalam.


"Oma sedih, apa Mentari membuat Oma sedih!"


Melati menghapus air matanya tak kuat. Karena jika mengingat sang putri membuat Melati merasa bahwa ia jadi ibu yang gagal tak bisa menjaga Amira.


"Tidak sayang, oma hanya teringat ibu kamu. Dia ibu yang sangat ceria dan manja. Selalu tersenyum dalam hal apapun sama seperti Mentari!"


Jelas Oma Melati sambil memeluk cucu tercintanya. Mentari bak obat rindu bagi Oma Melati. Apalagi wajah Mentari begitu mirip dengan Amira. Walau mata, hidung dan alis mirip dengan Alam. Perpaduan wajah yang sangat per pack dan indah di pandang.


Wajah imut dengan tatapan tegasnya membuat Mentari terlihat manis.


"Apa Mentari ingin melihat sesuatu?"


"Apa Oma?"


"Yuk, ikut Oma. akan Oma tunjukan pada Mentari bagaimana kisah ibu dan papa!"


Mentari begitu antusias dengan senyum cerahnya.


Melati menggandeng tangan kecil Mentari menuju mobil di mana Melati akan membawa Mentari ke apartemen Alam. Di sana banyak kenangan manis mereka berdua. Bahkan setiap momen mereka abadikan bersama.


Mentari tersenyum ketika semilir angin menerpa wajahnya karena Mentari sengaja menurunkan kaca mobilnya.


Gadis itu tumbuh dengan sangat baik apalagi di bawah pengawasan Fandi, Dinda, Jek dan Melati. Begitupun dengan Queen dan Farhan bahkan Fatih juga dan Shofi ikut adil dalam mengurus Mentari. Kasih sayang dari semuanya Mentari dapatkan.

__ADS_1


Walau tiga tahun lalu tepat di usia Mentari empat tahun Eyang Dinda dan Fandi meninggal.


Dan, kini Mentari tinggal di rumah Jek dan Melati.


Hidup yang serba kecukupan membuat Mentari tak pernah lepas dari rasa rindu. Rindu sosok ibu dan papa, karena sejatinya anak memang seperti itu.


Namun, Mentari sama seperti Alam dan Amira yang hanya diam tak berani mengungkapkan perasaannya. Tapi, kini Mentari sudah tumbuh menjadi gadis yang mengerti berharap sang Oma mau memberi tahunya.


Mentari tak akan menuntut apa-apa, ia hanya ingin tahu saja kenapa ibu dan papanya pergi meninggalkan dia. Karena sampai saat ini tak ada satupun yang membicarakan hal itu.


"Ini tempat apa Oma?"


Tanya Mentari polos menatap bangunan tinggi di depannya. Karena baru hari ini Mentari di bawa ketempat seperti itu.


"Nanti juga Mentari akan tahu, yuk masuk sayang!"


Melati menggandeng tangan mungil Mentari masuk kedalam lift. Di mana Melati akan membawa Mentari ke unit apartemen Alam. Yang memang sengaja apartemen itu tidak di jual karena terlalu banyak kenangan manis di sana.


Cklek ....


Happy birthday!!!!


Sorak semua orang sambil meniup peluit hingga kertas-kertas berhamburan.


Mentari tersenyum cerah melihat sebuah pesta kecil yang di siapkan untuk dirinya.


"Happy birthday my princess!"


Ucap Aksara memberikan buket bunga pada Mentari. Mentari dengan senang hati menerimanya.


Mentari nampak bahagia dengan perayaan ulang tahun dirinya yang ke tujuh ini. Semuanya berkumpul di sini.


"Hallo sayang, selamat ulang tahun!"


"Mom, Dad!"


Pekik Mentari girang melihat Shofi dan Fatih yang baru datang. Mentari berhambur memeluk Shofi dan Fatih karena memang mereka menyuruh Mentari memanggil mereka seperti itu.


Fatih menggendong Mentari lalu membawa kembali ke tempat semula.


Di mana acara ulang tahun sudah di mulai. Nyanyian ulang tahun begitu nyaring terdengar dengan kebahagiaan yang terpancar jelas di wajah-wajah mereka.


Kebahagiaan yang sempurna mempunyai keluarga yang begitu menyayangi. Walaupun begitu, Mentari tetaplah anak kecil yang membutuhkan sosok ibu dan papa. Namun, Mentari tak pernah mendapatkan itu.


Bahkan ketika Mentari memanggil kata ibu untuk pertama kalinya ketika Mentari sedang sakit di usia tiga tahun.


Walau mendapatkan semuanya, Mentari tetaplah membutuhkan sosok Amira dan Alam. Namun, semuanya hanya fatamorgana saja. Mentari hanya bisa memendam perasaan itu agar tak membuat semua orang bersedih.


Mentari gadis yang peka akan sesuatu, ketika Mentari menanyakan tentang ibu dan papa, yang sedih bukan Mentari malah semua orang seolah mereka tak sanggup untuk sekedar menceritakannya. Dan, di saat itu Mentari jarang menanyakan lagi.


Karena seperti nya mereka tak bisa menceritakannya.


Sesudah memotong kue, Melati membawa mentari masuk ke sebuah kamar. Di mana kamar tersebut merupakan kamar Alam dan Amira.

__ADS_1


"Sayang, di sini kamu akan mendapatkan jawaban yang kamu mau!"


Ucap Melati membuat Mentari terdiam. Gadis pintar itu menatap ke setiap penjuru kamar di mana ada banyak sekali Poto Amira dan Alam.


"Itu Poto ibu dan papa Mentari!"


Tes ....


Setetes air mata keluar membasahi pipi Mentari. Dengan tangan gemetar Mentari mengambilnya.


Bagaimana Mentari tidak menangis, jika hari ini hari di mana ia bisa melihat wajah kedua orang tuanya. Wajah yang selama ini Mentari rindukan. Karena memang semua keluarga sudah sepakat tak boleh ada satu orangpun yang menunjukan Poto Amira dan Alam pada Mentari sebelum waktu itu tiba.


Dan, bagi mereka sekarang waktu yang tepat bagi Mentari tahu semuanya. Di usia yang ke tujuh tahun, Mentari sudah bisa faham akan situasi nya.


"Ini ada surat dari ibu dan papa,"


Melati memberikan selembar kertas pada Mentari. Melati memilih keluar membiarkan Mentari di dalam sendirian. Melati tahu, mungkin Mentari butuh ruang dan waktu.


"Ibu, papa!"


Lilir Mentari dengan mata memerahnya melihat Amira dan Alam yang tersenyum.


"Apa benar ibu dan papa mencintai Mentari. Mentari kangen kalian hiks ...,"


Mentari mencium Poto Amira dan Alam dengan perasaan hancur. Karena baru kali ini melihat dengan jelas poto kedua orang tuanya yang terlihat cantik dan tampan.


Mentari mengangkat tangannya yang memegang surat. Mentari duduk di atas ranjang lalu membuka surat tersebut.


...Apa kabar hari ini nak, semoga kamu sehat selalu....


...Selamat ulang tahun yang ke tujuh ya!...


...Ibu dan papa sayang kamu!...


...Ibu sengaja memberikan surat ini sekarang karena ibu tahu kamu sudah jadi anak pintar. Bisa membaca dan mengerti jika ibu dan papa pergi bukan untuk meninggalkan kamu....


...Ibu sayang sama kamu, maafkan ibu dan papa ya yang tak bisa menemani kamu....


...Cinta ibu dan papa akan selalu untuk kamu, jangan marah ya sama ibu dan papa. Tetap lah tersenyum karena dalam senyuman itu ibu dan papa ada....


...Jika kangen, pejamkan mata kamu dan bayangkan jika ibu dan papa ada di samping kamu....


...Ibu dan papa sayang kamu ......


...We love you honey 🥰...


Hiks ...


Mentari menangis sambil memeluk surat tersebut. Surat pertama yang Mentari baca surat yang Amira tulis di sisa kehidupannya.


Mentari sayang ibu dan papa hiks ...


Bersambung ....

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih


__ADS_2