Fatih (Rindu Yang Belum Usai)

Fatih (Rindu Yang Belum Usai)
Bab 39 Dia sudah berbeda


__ADS_3

Keringat dingin terus bercucuran membasahi pelipis Cherry. Bahkan tangannya sudah bergetar dengan mata berkaca-kaca.


Ingin sekali Cherry menangis dan menjerit memakai orang di hadapannya. Tapi, Cherry tak seberani itu.


Bagaimana Cherry tidak ingin menangis jika sendari tadi ia terus di bentak dan di salahkan karena salah sasaran membidik atau salah cara memegang pistol.


"Dada lemah, Bagaimana kau bisa jika memegangnya saja bergetar seperti itu!"


"Tegakan badanmu, pegangnya seperti ini. Lurus dan tatap pada satu objek yang kamu tembak!"


Bentak Fatih sambil membenarkan posisi Cherry dan cara memegang pistolnya.


"Matamu lurus ke depan pada objek itu, tahan nafas ketika kau membidik. Karena jika kau tak menahannya maka bidikan mu akan meleset!"


"Tembak!"


Dorr ...


Cherry langsung memejamkan kedua matanya dengan tangan yang langsung lemas.


"Dasar lemah, kapan bisanya jika kau masih lemah!"


Bentak Fatih lagi membuat Cherry ingin sekali menangis. Dari tadi Fatih terus menyebutnya lemah dan lemah. Cherry paling benci kata itu.


Bagaimana bisa Shofi menyuruh dia berlatih dengan Fatih. Ternyata Fatih lebih menyeramkan dari pada Philip. Bahkan ucapan Fatih lebih pedas dari pada sambal.


Cherry benar-benar kesal, marah dan sedih bercampur jadi satu.


Hanya dia sendiri yang terus di bentak dan di salahkan. Tak bisakah Fatih mengajarkan dia dengan sedikit kelembutan. Seperti Philip mengajarkan Elsa memanah. Terlihat sabar dan telaten sekali. Tapi, Fatih sungguh Cherry ingin sekali mencincangnya tapi tak berani.


Sedang Shofi hanya diam saja sambil memerhatikan cara Fatih mengajar Cherry. Shofi sedikit aneh melihat wajah Fatih yang memerah seolah sedang menahan sesuatu.


Sedangkan melihat Cherry membuat Shofi ingat pada dirinya sendiri ketika Fatih memperlakukan Shofi seperti itu.


Bukan tanpa alasan Shofi meminta Fatih mengajarkan Cherry cara menembak. Shofi hanya ingin mengingatkan Fatih saja akan kelakukan Fatih dulu seperti apa. Berharap, Fatih akan ingat dengan sendirinya.


Tapi, melihat Fatih yang biasa saja membuat Shofi menghela nafas. Masih ada banyak waktu Shofi, sabar. Batin Shofi menyemangati dirinya sendiri.


"Kita istirahat, besok kita lanjutkan. Jangan sampai telat jika kau tak ingin di hukum!"


Tegas Fatih berjalan menghampiri Shofi sedang Cherry mengepalkan tangannya kuat sangat kesal dengan apa yang Fatih lakukan.


Melihat Philip begitu baik mengajarkan Elsa membuat Cherry ingin belajar dengan Philip saja dari pada dengan Fatih yang bermulut pedas.


"Terimakasih, sayang!"


Ucap Fatih sambil tersenyum ketika Shofi memberikan ia minum. Shofi hanya mengangguk saja sebagai balasan. Shofi mengelap keringat yang bercucuran di pelipis dan rahang Fatih.


"Kenapa temanmu lemah sekali. Segitu saja cengeng. Dasar lemah!"


Gerutu Fatih membuat Shofi hanya tersenyum saja. Shofi menautkan kedua alisnya ketika Fatih malah terdiam. Entah ada apa dengan Fatih kenapa jadi terdiam mendadak. Bukankah barusan masih menggerutu.


Fatih terdiam ketika kata-kata lemah itu terus terucap di bibirnya. Seolah Fatih pernah bicara seperti itu, tapi pada siapa Fatih tak ingat.


"Fatih,"


Panggil Shofi sambil menepuk lengan Fatih.


"Hm,"


"Ada apa, apa ada sesuatu yang terjadi!"

__ADS_1


"Gak, tapi ... aku merasa .. , pusing!"


Ucap Fatih bohong, sebenarnya Fatih mengingat sekelebat bayangan gadis yang mengepel memakai baju seragam sekolah. Dan, Fatih terus menjahili gadis itu tapi wajah gadis itu terlalu blur untuk Fatih mengingat.


DASAR LEMAH!


Kata itu seperti Fatih pernah mengatakannya tapi pada siapa.


"Kita makan dulu saja, kata kamu kamu belum makan. Mungkin pusing karena perut kamu kosong!"


Fatih hanya mengangguk saja membuat Shofi tersenyum tipis.


"Elsa, Philip!"


Panggil Shofi membuat keduanya berbalik.


"Antarkan Cherry nanti,"


"Siap!"


"Kamu mau kemana?"


"Mau makan, kalau kamu mau bareng aku juga gak apa,"


Ucap Shofi membuat Cherry langsung menggelengkan kepala kuat. Jika satu mobil sama Fatih mana mungkin karena Cherry masih sangat kesal dan marah. Lebih baik sama Elsa saja.


"Ya sudah, aku berangkat lebih dulu!"


Ucap Shofi membuat Cherry mengangguk cepat karena ingin Fatih segera pergi dari hadapannya.


Elsa dan Philip hanya tersenyum tipis saja melihat tingkah Cherry yang ketakutan. Biasanya Cherry akan takut pada Philip dan sekarang Cherry takut pada Fatih.


"Akhhh ... Kesal-kesal kesal!!!"


Karena menghirup udara bersama Fatih ternyata lebih menyesakan dari pada Philip.


.


"Sayang kenapa dengan Cherry?"


Tanya Fatih ketika sudah di dalam mobil bersiap untuk cari makan.


"Gak tahu!"


Jawab Shofi enteng membuat Fatih terdiam kembali. Fatih tidak mau ambil pusing dengan tingkah Cherry yang sangat aneh.


Cittt ...


Fatih menghentikan mobilnya mendadak membuat Shofi terkejut. Hampir saja kepalanya terbentur dasboard kalau saja Shofi tak memakai sambuk pengaman.


"Ada apa, kenapa berhenti?"


Tanya Shofi pada Fatih yang hanya diam dengan kening mengerut seolah sedang memikirkan sesuatu.


"Ada apa?"


Fatih menatap Shofi intens membuat Shofi mengerutkan kening bingung.


"Apa dulu kamu pernah aku buli?"


Tanya Fatih serius membuat Shofi berbinar. Karena tak biasanya Fatih bertanya seperti itu. Kecuali Fatih sudah mengingatnya.

__ADS_1


"Iya!"


"Apa kamu sudah mengingatku?!"


"Tidak!"


Seketika binar di mata Shofi menghilang bak di telan bumi. Shofi pikir Fatih bertanya seperti itu karena Fatih sudah mengingatnya nyatanya Shofi salah besar.


Fatih kembali melajukan mobilnya lagi dengan pikiran entah kemana. Fatih tak sadar sudah membuat Shofi bersedih kembali.


Sampai di mana Fatih menghentikan mobilnya di salah satu restoran. Fatih turun duluan guna ingin membukakan pintu untuk Shofi tapi nyatanya Shofi sudah membuka pintu.


Brak ...


Shofi menutup pintu dengan kencang membuat Fatih terkejut. Bahkan yang lebih terkejut lagi Shofi malah meninggalkannya.


Fatih berlari kecil menyusul Shofi lalu menggandeng tangan Shofi membuat Shofi melirik sejenak. Lalu fokus jalan ke depan dengan perasaan tak menentu.


Sedang Fatih cuek juga tak bertanya kenapa Shofi terlihat kesal.


Dua pasangan itu memang sedikit aneh dengan tingkah mereka masing-masing.


Fatih menarik kursi untuk Shofi duduk lalu Fatih duduk setelah Shofi duduk.


"Mau pesan apa?"


Tanya Fatih pada Shofi yang diam saja tapi Fatih juga tak peduli.


"Samain saja!"


"Ok!"


Fatih memesan makanan kesukaan dia saja dengan minum favorit nya. Membuat Shofi melotot tak percaya kenapa Fatih malah membeli satu. Kenapa bertanya jika ujung-ujungnya malah dia memesan untuk dirinya sendiri.


Shofi semakin di buat kesal dengan apa yang Fatih lakukan. Fatih nya dulu tak seperti itu, bahkan Fatih lebih suka memakan makanannya dari pada makanan dia sendiri.


Ternyata memang dia sudah berbeda, semakin membuatku jengkel ...


Geram Shofi tertahan, ingin sekali memakai namun tak berani.


Pada akhirnya Shofi hanya memilih diam saja tak mau bicara jika ujungnya akan berdebat.


Pesanan yang Fatih pesan sudah datang dengan jus favorit nya.


Fatih memotong-motong stik sampai menjadi potongan kecil.


Aaaa ...


Shofi terdiam ketika Fatih menyuapinya, entah ini benar atau hanya sekedar mempermainkan perasaan sama seperti tadi.


"Apa kamu tak kasihan pada tanganku yang sudah pegal!"


Ucap Fatih karena Shofi tak mau menerima suapannya. Mendengar ucapan Fatih membuat Shofi sedikit ragu menerima suapan itu.


"Enak?"


Tanya Fatih ketika Shofi menerima suapan darinya. Fatih terus menyapu Shofi dengan sangat telaten membuat wajah Shofi kembali cerah.


Dia masih sama, tapi tak ingat!


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2