Fatih (Rindu Yang Belum Usai)

Fatih (Rindu Yang Belum Usai)
Bab 42 Kekesalan Cherry


__ADS_3

Cherry terdiam kaku ketika Jarvis memeluknya. Bahkan pelukan ini nampak berbeda dari pelukan yang Cherry rasakan sebelumnya.


Pelukan yang nampak berbeda Jarvis berikan membuat Cherry merasa tak nyaman.


"Lepas,"


"Tidak, sebelum kamu memaafkan Ku?"


"Kau ini kenapa, kamu tak pernah ada salah, kenapa harus minta maaf dan memaafkan mu?!"


"Jika kamu merasa bersalah karena pergi tak memberi tahu ku. Aku tak masalah, karena kita tak sedekat itu!"


"Bukan itu yang aku maksud!"


Kini Cherry menautkan kedua alisnya bingung. Sebenarnya apa yang di maksud Jarvis.


"Lalu?"


"Sudah terlambat menyadari perasaan ku!"


Deg ...


Reflek Cherry langsung mendorong Jarvis membuat pelukan Jarvis terlepas. Jarvis menatap sendu Cherry, apa Cherry marah padanya.


"Ap-apa yang sebenarnya kamu maksud?!"


"Aku mencintaimu!"


Duarr ...


Cherry membulatkan kedua matanya mendengar pengakuan Jarvis. Rasanya ini seperti mimpi buruk bagi Cherry.


Cherry tersenyum kecut menatap Jarvis, Cherry bukan wanita untuk tempat pelampiasan sakit hati orang lain. Cherry masih punya harga diri yang harus ia jaga walaupun sekuat apa cinta yang Cherry miliki untuk Jarvis.


Cherry boleh lemot, bar-bar dan selalu terlihat bodoh. Namun, masalah hati Cherry masih bukan orang bodoh yang akan terus mengabdi akan kata cinta.


"Jangan membual, itu terlalu basi!"


Ketus Cherry melepaskan genggaman tangan Jarvis di tangannya.


Cherry langsung mengambil tas dia lalu beranjak pergi. Namun, lagi-lagi Jarvis menahannya.


Jarvis tahu, tak mudah bagi Cherry untuk mempercayai dirinya. Untuk itu Jarvis akan memperjuangkannya.


Selama satu bulan Jarvis pergi ternyata tak membuat Jarvis tenang. Apa yang Shofi katakan padanya, jika Cherry menyukainya membuat Jarvis berpikir tentang hati sesungguhnya.


Dan, satu bulan penuh hanya bayangan Cherry yang masuk ke dalam otaknya bukan Shofi. Di sana baru Jarvis sadar jika dia juga mencintai Cherry namun obsesi untuk mendapatkan Shofi membuat Jarvis buta akan cinta tulus di sekitarnya.


"Tolong, beri aku akhir dari kesempatan untuk membuktikannya. Jika aku memang mencintaimu!"


Mohon Jarvis menatap Cherry sendu berharap Cherry percaya jika yang ia katakan memang tulus.


"Kenapa memilih akhir bukan awal?"

__ADS_1


Tanya Cherry karena merasa aneh dengan permintaan Jarvis. Bukankah setiap orang melakukan kesalahan pasti akan meminta satu kesempatan kedua. Kenapa Jarvis memilih Akhir dari kesempatan.


Jarvis menggenggam tangan Cherry erat dengan tatapan tajamnya menatap wajah Cherry yang terlihat imut. Kenapa baru sekarang Jarvis merasakannya, kenapa tidak sendari dulu.


"Karena aku tahu, kesempatan awal, kedua dan ketiga ku sudah habis ku sia-sia kan. Aku hanya memohon berikan akhir dari kesempatan ku untuk membuktikan jika kini hatiku tidak keliru. Jangan anggap bahwa aku datang hanya sebatas pelampiasan saja, itu tidak benar. Percayalah. Please ..,"


Mohon Jarvis dengan tatapan seriusnya membuat Cherry terdiam. Antara memberikan kesempatan itu atau tidak. Cherry ragu, karena terlalu takut hatinya patah kembali.


Cherry melepaskan tangannya dari genggaman Jarvis membuat Jarvis terdiam.


"Jangan buat keputusan terburu-buru, yakinkan pada hatimu jika kamu memang tulus!"


Jervis terdiam mendengar ucapan Cherry, apa maksud dari ucapan Cherry Jarvis tak mengerti.


"Apa maksudnya, aku tak mengerti!"


Cherry menghela nafas pelan, kenapa jadi Jarvis yang sangat lemot.


"Tanya pada hatimu, apa aku benar-benar ada di hatimu atau tidak, sudah tahu jawabannya. Kamu pasti akan mengerti kemana kamu harus mencari ku!"


Ucap Cherry sambil meninggalkan Jarvis begitu saja.


Seketika senyum di bibir Jarvis mengembang seolah mengerti apa yang Cherry maksud.


Jarvis berbalik, ternyata Cherry sudah tidak ada lagi di ruang latihan. Jarvis berlari mengejar Cherry namun Jarvis tak menemukan Cherry. Entah kemana perginya Cherry kenapa cepat sekali. Padahal, ada sesuatu yang ingin Jarvis katakan lagi.


"Hey, siapa kalian. Lepaskan aku!"


Teriak Cherry karena tiba-tiba tubuhnya di tarik kedalam mobil. Entah siapa yang berani membawanya.


"Apa!"


Pekik Cherry tak percaya, bagaimana bisa sang Daddy menyuruh dia pulang dengan cara seperti ini. Sungguh, Cherry sangat kesal sekali.


Kenapa tiba-tiba seperti ini, dan membawa dia seperti seorang penculik saja. Tak bisakah memberi tahu ia terlebih dahulu.


"Turunkan aku, aku bisa pulang sendiri!"


"Maafkan kami nona, ini perintah tuan besar!"


"Kau melawanku, cepat hentikan mobilnya!"


Berontak Cherry sangat kesal karena tak menurut perintahnya. Membuat Cherry terus memberontak walau di cekal oleh dua pengawal.


"Diam!"


Bentak Kaka membuat Cherry langsung terdiam sambil membulatkan kedua matanya karena terkejut di dalam mobil ada Kaka juga. Cherry pikir di depan hanya bodyguard saja.


"Cherry diam,"


"Tapi, KA aku tak mau pulang,"


"Terlambat!"

__ADS_1


"Tak ada yang terlambat, cepat turunkan aku!"


"Kita sudah sampai!"


Duarr ...


Tubuh Cherry langsung lemas seketika ketika melihat keluar ternyata Cherry memang sudah sampai di mansion.


Dengan kesal Cherry turun dari mobil mengikuti Kaka yang sudah masuk kedalam duluan. Jika sudah seperti ini mana bisa Cherry kabur lagi dengan puluhan penjaga selain memilih masuk saja.


.


Sedang di tempat lain Elsa dan Shofi sedang duduk santai di taman. Mereka sengaja meninggalkan Cherry dan Jarvis menyelesaikan masalah mereka sendiri. Karena Shofi tak mau ikut campur, Shofi hanya memberikan jalan saja pada Jarvis agar Jarvis tak akan pernah menyesal di kemudian hari.


Sebenarnya Shofi sudah tahu kepulangan Jarvis karena memang Jarvis menemuinya terlebih dahulu.


Untuk itu, Shofi merencanakan semua ini agar Jarvis bisa bicara berdua dengan Cherry.


Shofi senang jika Jarvis sadar akan kesalahannya. Shofi berharap Jarvis bisa menjaga Cherry suatu hari nanti.


"Menurut kamu, apa Jarvis tulus mencintai Cherry?"


Tanya Elsa karena Elsa tak mau Jarvis menyakiti sahabatnya lagi. Apalagi Cherry terlalu polos bagi Jarvis.


"Aku tidak tahu, tapi aku pastikan Jarvis tak akan menyakiti Cherry. Jika itu sampai terjadi maka kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan!"


Ucap Shofi menyeringai membuat Elsa bergidik ngeri jika seperti itu. Elsa tahu apa yang harus Elsa lakukan jika sampai Jarvis mempermainkan hati Cherry yang polos nan lembut.


"Nona!"


Panggil Philip membuat Shofi dan Elsa menengok. Elsa dan Shofi beranjak dari duduknya menghampiri Philip.


Philip langsung membukakan mobil untuk Shofi lalu menutup nya kembali ketika Shofi sudah masuk. Begitupun dengan Elsa, sesudah dua wanita itu masuk Philip langsung menyalakan mobilnya.


"Tuan muda sedang sakit!"


Ucap Philip memberi tahu Shofi membuat Shofi mengangguk saja tanpa menjawab ucapan Philip. Karena Philip juga sudah mengerti kemana mereka harus pergi.


Tujuan mereka mansion utama tentunya, karena Shofi tak akan pernah mengabaikan keponakannya.


Di samping tak mau bertemu Davit dan Angel dulu, tapi Shofi tetap harus pulang ke sana.


Hanya demi keponakannya saja tidak ada yang lain. Apalagi Shofi tak mau mendengar sang kakak bicara tentang pernikahan.


Shofi baru memulai dan Shofi tak mau perjalanan nya terhambat apa lagi Fatih belum ingat apapun tentang nya.


Bagaimana mungkin Shofi membicarakan hal ini pada Fatih, apa Fatih akan mengerti atau tidak.


Kenapa juga sang kakak seolah selalu memperumit keadaannya. Tak bisakah Shofi tenang sejenak untuk melakukan apa yang Shofi mau.


Apa lagi yang kamu lakukan Kak?


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2