Fatih (Rindu Yang Belum Usai)

Fatih (Rindu Yang Belum Usai)
Bab 6 Apa kabar?


__ADS_3

Shofi mengerucutkan bibirnya bak Tutut, ketika sudah sampai di rumah. Bahkan Shofi berjalan melewati Davit dan Angel. Bahkan Shofi tak menghiraukan keponakannya yang memanggil.


Karena masih kesal dengan sang kakak, bahkan ia harus pulang ke rumahnya bukan ke apartemen.


Angel melongo melihat tingkah Shofi yang tak biasanya bahkan sampai menghiraukan keponakannya sendiri. Tak biasanya Shofi bersikap begitu bahkan ini sama keponakannya yang tak pernah sebelumnya Shofi bersikap cuek begitu.


"Sayang!"


Panggil Angel menatap tajam suaminya, Angel tahu pasti ini ulah suaminya yang membuat mood adik tercintanya rusak.


"Kenapa lihatin aku kaya gitu!"


"Kamu kan yang membuat adik kecilku marah!"


"Tidak sayang!"


Angel semakin menatap Davit tajam bahkan membuat Davit salah tingkah sendiri.


"Baiklah kalau gak mau ngaku, malam ini libur bikin adik Richard!"


Deg ...


Davit membulatkan kedua matanya gelagapan tak percaya dengan apa yang sang istri katakan. Mana bisa libur seperti itu, mereka sudah perjanjian akan bikin adik untuk Richard.


"Sayang kok gitu sih, mana boleh begitu!"


"Ya sudah, katakan. Apa yang kamu lakukan. Kenapa adikku bete seperti itu!"


"Aku hanya menyuruh dia balik sayang, di sana sudah tak aman!"


"Pasti mendadak!"


Davit hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Karena memang ia memberi tahunya mendadak.


"Kamu ini kebiasaan, pantas saja adikku marah. Pick, malam ini libur buat adik untuk Richard nya!"


Kesal Angel meninggalkan Davit di ruang keluarga.


"Sayang, mana bisa begitu. Aku lupa jadi baru ngasih tahu tadi!"


Angel benar-benar semakin kesal dengan kebiasaan suaminya. Jika Angel berada di posisi Shofi tentu Angel juga akan marah.


Angel terus saja berjalan menuju kamar putranya. Memilih tidur bersama Richard. Apalagi jam delapan waktunya Richard tidur.


Krek ...


Angel mengunci pintu putranya dari dalam membuat Davit cemberut sambil mengacak-acak rambutnya.


Richard yang baru berusia lima tahun hanya bisa tersenyum melihat Daddy dan mommy nya seperti itu. Bukan satu atau dua kali Richard melihat tingkah kedua orang tuanya yang menurut Richard seperti anak kecil. Marahan, tiba-tiba baikan lagi, Richard sudah faham betul bagaimana karakter kedua orang tuanya.


Walau Richard baru berusia lima tahu. namun Richard tumbuh menjadi bocah pintar. Bahkan Richard cepat tanggap dalam hal apapun.

__ADS_1


Dan, mudah mengerti dan faham akan situasi kedua orang tuanya seperti saat ini.


"Mom, mommy yakin tidur sama kakak. Biasanya mommy gak bisa tidur jika tak di peluk Daddy!"


Goda Richard membuat Angel mengerucutkan bibirnya.


"Sudah, jangan banyak tanya. Kakak tidur, sini mommy peluk!"


Dengan senang hati Richard masuk kedalam pelukan sang mommy. Walau sebenarnya Richard sudah biasa tidur sendiri sejak usia dua tahun.


Tapi, jika sang mommy ingin menemani ia tidur maka Richard gak akan menolak.


Malah Richard sangat senang, dan mudah tidur jika sang mommy memeluknya.


"Nanti kakak mau adiknya cewe ya Mom,"


"Kenapa cewe, gak mau cowo?"


"Gak!"


"Kenapa?"


"Nanti saingan kakak nambah!"


Angel terkekeh dengan jawaban putranya yang sangat menggemaskan. Richard memang anak yang tak mau di bandingan ketampanan walau itu sama Davit sendiri. Bahkan Richard yang harus paling tampan di mata mommy nya.


"Ya .. ya .., tak ada yang ngalahin ketampanan kakak kok, Daddy juga kalah!"


Richard mengangguk saja mempererat pelukannya. Dengan senang hati Angel membalas pelukan sang putra.


Davit yang berada di luar hanya bisa pasrah ketika istrinya tak membuka pintu sama sekali. Entah harus sampai kapan Davit menunggu, rasanya Davit sudah kantuk.


.


Berbeda dengan Shofi yang tak bisa memejamkan mata sama sekali. Pikirannya menerawang jauh entah kemana.


Dengan mata yang tak lepas memandang Poto di layar ponselnya.


Photo Fatih yang sedang minum. Ya, anak baru yang sedang teman-teman bicarakan adalah King Fatih Al-biru. Masa lalu Shofi, orang yang begitu Shofi rindukan kehadirannya.


Entah sejak kapan Shofi mengganti wallpaper ponsel nya dengan Poto Fatih yang Shofi ambil dari grup.


Bagaimana bisa Fatih kuliah di sana, sejak kapan. Apa sejak Shofi pergi ke London, jika iya apa sang kakak memang sengaja mengirimnya ke London agar dia tidak bertemu Fatih.


"Fatih!"


Menyebut namanya saja membuat hati Shofi berdebar. Entah bagaimana reaksi Shofi besok. Jika bertemu dengan Fatih.


Apa Fatih masih mengenal dia atau tidak, apa rindu ini sama atau sudah berbeda. Masih adakah cinta di antara mereka atau tidak.


Sungguh rasanya Shofi tidak sabar untuk bertemu Fatih.

__ADS_1


Berharap hari malam ini cepat berlalu, Shofi tidak sabar menanti kehadiran itu. Empat tahun lebih Shofi memendam semuanya berharap besok adalah hari di mana Shofi bisa mengubahnya kembali.


Mengubah takdir yang dulu memisahkan mereka. Akankah takdir kali ini mempersatukan mereka atau masih tetap sama.


"Apa kabar? apa kamu baik-baik saja?"


Tanya Shofi pada Poto Fatih yang berada di layar ponselnya. Sebuah wajah yang banyak berubah. Walaupun begitu tapi Shofi tetap mengenal wajah ini, wajah yang selalu terbayang di pandangan matanya sampai Shofi selama ini tak bisa tidur. Harus ada obat tidur dulu jika Shofi ingin memejamkan mata. Rindu itu begitu menyiksa, bahkan Shofi sangat sekarat akan hal itu. Berharap pertemuan mereka membuat Shofi berubah.


"Aku rindu, apa kamu juga merindukan aku?"


Tanya Shofi lagi seolah yang Shofi ajak bicara adalah Fatih sendiri.


"Maaf atas keegoisan ku, menyuruh kamu tak menunggu. Aku berharap kamu mau memaafkan ku. Aku berharap cinta itu masih ada!"


"Kini aku tak akan melepaskan kamu, tak akan apapun yang terjadi!"


Ucap Shofi penuh gebuan cinta yang mendalam. Sungguh cinta ini semakin tumbuh besar dengan sara rindu yang membelenggu.


Tak ada satu orangpun yang tahu bagaimana perjuangan Shofi mengatasi rasa cemas dirinya sendiri. Sebuah rasa yang sangat menyiksa hingga Shofi sulit memejamkan mata.


Shofi tahu, mengkonsumsi obat tidur itu tidak baik pada kesehatan tubuhnya. Tapi, mau bagaimana mana lagi. Shofi terpaksa akan hal itu.


Fatih yang selalu jadi alasan semuanya, Shofi berharap Fatih bisa menyembuhkan luka itu. Shofi berharap Fatih akan tetap sama seperti Fatih yang dulu.


Yang selalu mengejarnya dengan kata cinta, selalu mendekatnya dengan kata rindu. Selalu memandangnya dengan pandangan kasih sayang. Memeluknya dengan penuh kenyamanan.


Shofi kangen semua yang ada pada diri Fatih, terutama kedewasaannya.


Sosok yang selalu mengerti akan dirinya tanpa memaksakan apapun. Terdiam dengan perhatiannya tanpa bertanya. Mengucap kata sayang walau tak mengemis balasan. Mengecup dia tanpa izin, dan sialnya Shofi menyukai itu. Apalagi ketika Fatih mengecup kedua matanya dan mengelus rambut dia.


Kamu seperti Aurora!


Dan, kata itu yang selalu Fatih ucapkan ketika dia selesai mengusap rambutnya. Tepatnya mengacak-acak rambutnya.


Tak ada sosok yang seperti itu di dunia Shofi sekarang, tak ada. Hanya Fatih seorang.


Sendari dulu, sekarang, nanti dan seterusnya, hanya King Fatih Al-biru. Yang sudah berhasil mencuri hati Shofi secara diam-diam dengan dalil mem buli.


Namun, mengajarkan apa arti kuat sesungguhnya. Apa arti berjuang dan tangguh berdiri sendiri.


Walau terkesan kejam namun Shofi menyukai itu, apalagi ketika Fatih perhatian.


Lihatlah, bagaimana Shofi memuja sosok Fatih hingga ia sampai lupa kalau Shofi belum tidur. Bahkan ini sudah pagi kembali. Shofi masih sama, duduk terdiam dengan mata memandang satu objek yang begitu indah.


Fatih!


Bersambung ...


Jangan lupa Like Hadiah komen dan Vote Terimakasih ...


__ADS_1


__ADS_2