
"Kemarin kenapa tak masuk kampus?"
Tanya Cherry kepo membuat Elsa langsung menyenggol lengan Cherry. Apalagi Cherry bertanya dengan keadaan Shofi yang seperti itu.
"Ada urusan mendadak,"
Jawab singkat Shofi langsung berjalan begitu saja meninggalkan kedua temannya. Cherry dan Elsa langsung mengikuti Shofi menuju kelas.
Cherry terus menyenggol Elsa karena ingin tahu kemana Shofi pergi. Namun, Elsa hanya diam saja karena memang tak tahu kenapa Shofi kemaren tak masuk kampus.
Jika masalah kantor mungkin Shofi akan memberi tahunya. Seperti nya ini masalah pribadi, Elsa bisa menebak itu. Entah apa yang terjadi Elsa tak tahu dan tak mau ikut campur karena Elsa bukan Cherry yang selalu update masalah orang.
Shofi duduk di tempat duduknya begitu pun dengan Cherry dan Elsa.
Shofi hanya diam saja seperti biasa sambil mengeluarkan buku catatan nya.
Cherry melirik Fatih yang terlihat biasa saja tak menunjukan apa-apa membuat Cherry mengerucutkan bibir.
Jika selalu kepo masalah orang akan seperti itu jadinya. Kecewa jika tak mendapatkan hasil.
"Lakukanlah hal yang bermanfaat, jangan usik orang Mulu!"
Ketus Shofi sambil memberikan buku paket pada Cherry yang begitu tebal.
"Aistt, aku tak suka sejarah!"
Keluh Cherry karena otaknya gak kuat jika harus membaca sejarah setebal itu. Sejarah agama berbau politik yang begitu pelik.
"Kamu mau pekerjaan?"
"Mau .. mau ... Apa?"
Jika seperti itu Cherry semangat banget membuat Elsa mengerucutkan bibirnya kesal.
"Nanti akan ku kasih tahu apa yang harus kamu kerjakan!"
Ucap Shofi membuat Cherry cemberut kenapa gak sekarang saja sih.
"Sudah jangan protes ada dosen!"
Ucap Shofi lagi sambil mengulum senyum. Ada hiburan tersendiri melihat tingkah Cherry yang seperti itu.
Cherry selalu saja bertingkah polos padahal Cherry sangat jago sekali dalam bidang IT. Namun, itulah Cherry yang selalu tampil apa adanya dan tak suka memperlihatkan kelebihannya.
Hal nya Elsa yang terlihat masa bodo dengan orang lain namun Elsa orang yang peduli dan paling peka.
Sedang Shofi sendir orang yang dingin dan cuek namun selalu membantu orang dan mementingkan kebahagiaan orang lain dari pada kebahagiaan dirinya sendiri.
Ketiga gadis itu sibuk dengan pikirannya masing-masing entah siapa yang paling fokus mendengarkan ucapan dosen.
Seperti nya ketiganya cukup serius sampai dosen tak meminta mereka menjelaskan.
Sampai di mana masa belajar mereka selesai.
Shofi membawa ketiga temannya pergi menuju atap gedung.
Di setiap jalan Cherry terus melirik kebelakang karena aneh kenapa Fatih tak menguntit Shofi berbeda dengan Jarvis yang selalu menguntit keman pun Shofi pergi.
"Cari siapa?"
__ADS_1
Tanya Elsa pada Cherry, Cherry hanya menggelengkan kepala saja karena tak mungkin memberi tahu Elsa di depan Shofi.
Sedang Shofi hanya tersenyum tipis saja melihat tingkah Cherry. Shofi tahu siapa yang Cherry cari.
Sesampai di atap gedung, Shofi langsung mengeluarkan ponsel dan laptop yang dia bawa di dalam tasnya.
"Apa kamu membawa chip yang aku minta?"
"Bawa dong, ini dia!"
Ucap Cherry sambil tersenyum, Elsa hanya menggelengkan kepala saja sambil membuka laptop yang dia bawa juga atas perintah Shofi.
Sungguh, Shofi sangat cerdik sekali mengerjakan sesuatu di kampus agar tak mencolok dan tak di curigai orang.
"Beberapa hari lalu aku di serang, ta--"
"Apa!!!"
Pekik Cherry terkejut membuat Shofi dan Elsa terdiam melihat reaksi Cherry yang berlebihan.
"Diam, dan dengarkan!"
Tegas Elsa menarik tangan Cherry agar duduk kembali.
"Aku merancang peluruh yang ada pelacak dan penyadap. Kamu periksa kemana mereka pergi!"
Ucap Shofi membuat Cherry menelan ludahnya kasar. Sungguh kedua temannya ini sangat-sangat aneh. Pekerjaan mereka selalu kekerasan, apa tak ada pekerjaan yang lembut saja.
"Elsa siap!"
Elsa langsung mengangguk saja siap dengan posisinya. Karena semuanya akan menyambung ke laptop Elsa dan ponsel Shofi ketika Cherry sudah mulai bekerja.
Walaupun begitu Cherry sangat menyukai pekerjaan ini. Sangat menantang dan membuat Cherry fokus pada dunianya sendiri.
Karena Cherry memang menyukai bidang IT, bukan bidang ekonomi dan bisnis yang sang ayah inginkan.
Ketiga wanita itu fokus dengan pekerjaannya sendiri.
Shofi menautkan kedua alisnya ketika Cherry sudah berhasil masuk dalam perangkatnya.
Sebuah tanda mengarah ke kota terpencil di salah satu kota Bonn Jerman. Shofi tahu tempat itu, tempat di mana jarang orang melintas ke sana. Karena Shofi pernah beroperasi k kota tersebut ketika Shofi masih menjadi anggota intelejen rahasia.
"Elsa perjelas satelit nya dan Cherry buka penyadapannya!"
Titah Shofi menatap layar ponsel canggihnya dengan seksama.
Shofi ingin tahu apa yang kakak tirinya rencanakan.
Shofi dan Elsa langsung memasang earphone guna mendengar jelas bahasa apa yang mereka gunakan.
Ketiganya sangat serius sekali dengan bagian mereka masing-masing.
Seketika Shofi mengepalkan kedua tangannya dengan rahang mengeras. Bagaimana mungkin kakak tirinya menyangka jika dia yang merampas semuanya.
Pasti ada alasan di balik itu semua seperti nya Shofi harus mencari lebih detail lagi kisah kedua orang tuanya dulu.
Serempak ketiganya melepas earphone lalu mereka saling tatap satu sama lain.
"Dia ingin menggangu tuan muda!"
__ADS_1
Ucap Elsa menatap Shofi, namun Shofi hanya menggelengkan kepala membuat Elsa menautkan kedua alisnya bingung.
"Itu hanya pengecualian. Target nya hanya aku. Kali ini kakak ku sangat cerdik!"
Ucap Shofi tersenyum seringai membuat Cherry bergidik ngeri jika melihat Shofi tersenyum seperti itu. Lebih menyeramkan dari pada Cherry menatap Philip.
Sedangkan Elsa hanya diam saja mengerti kemana arah yang Shofi maksud. Karena Elsa sudah bisa bekerja dengan cara Shofi yang selalu beroperasi dengan kode tertentu yang di mengerti oleh orang tertentu juga.
Cherry hanya diam saja karena tak mengerti dengan bahasa yang Shofi gunakan dan sialnya Elsa juga ikut-ikutan. Seperti nya Cherry harus menggunakan bahasa yang mereka gunakan agar ia juga mengerti.
"Bolehkan aku ikut misi kalian?"
Ucap Cherry penuh harap menatap Shofi dan Elsa bergantian dengan wajah memelas nya.
"Boleh, dengan satu syarat!"
"Apa!"
Girang Cherry langsung berdiri menghampiri Shofi.
"Kamu harus berlatih menembak!"
"What!!"
Pekik Cherry membulatkan kedua matanya bahkan hampir saja keluar.
Latihan menembak, oh my good yang benar saja. Membayangkannya saja membuat Cherry bergidik ngeri.
"Kalau tidak mau kau tak ikut!"
Ucap Shofi santai tak peduli dengan apa yang Cherry rasakan. Shofi tahu, Cherry paling tak menyukai berbaur senjata. Untuk itu Shofi memberikan syarat itu agar Cherry keluar dari Jona takutnya.
"Bagaimana!"
Pancing Shofi membuat Cherry memerah sambil mengepalkan tangannya kuat.
"Ok, aku bersedia. Siapa yang akan mengajariku?"
Ucap Cherry percaya diri menatap Shofi dan Elsa serius.
"Bukan aku ataupun Elsa!"
"What! terus siapa?"
Pekik Cherry jadi kesal sendiri seolah Shofi sedang mempermainkannya.
Shofi tersenyum tipis melihat reaksi Cherry yang seperti itu. Lalu Shofi menunjuk ke belakang di mana pintu masuk berada.
"Dia!"
Cherry langsung mengikuti arah telunjuk Shofi dengan perasaan was-was siapa yang akan mengajarinya.
Deg ...
Cherry membulatkan kedua matanya melihat siapa yang membuka pintu. Melihatnya saja membuat Cherry ingin pingsan saja. Bagaimana bisa Shofi setega itu menyuruh dia berlatih dengan orang yang Cherry tak suka.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1