Fatih (Rindu Yang Belum Usai)

Fatih (Rindu Yang Belum Usai)
Bab 55 Kita sama-sama saling menyakiti


__ADS_3

Dengan setia Shofi terus menemani Fatih yang masih pingsan. Sudah dua jam lebih Fatih pingsan dan sekarang belum ada tanda-tanda Fatih akan siuman.


Raut wajah cemas tak bisa lagi Shofi sembunyikan. Apalagi dokter menjelaskan bahwa Fatih jangan terlalu berat di paksa untuk mengingat.


Shofi jadi merasa bersalah akan hal itu. Mungkin Fatih seperti ini karena dirinya yang terlalu memaksa Fatih untuk segera mengingat.


Jika kejadiannya seperti ini, Shofi tak akan pernah melakukannya.


"Maafkan aku, aku yang membuat kamu begini. Maafkan atas keegoisan ku. Aku janji, aku tak akan memaksa kamu lagi. Tolong bangunlah ..,"


Lilir Shofi sambil memegang erat tangan Fatih yang lemah.


Untung saja tadi ada beberapa orang yang membantu mengangkat Fatih kembali ke apartemen. Apalagi lokasi kejadian tepat di depan apartemen membuat orang-orang dengan mudah membawa Fatih.


.


Perlahan mata Fatih terbuka dengan kening yang mengerut sempurna.


Kepala Fatih terasa sakit dengan tangan sulit sekali di gerakan. Fatih mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Fatih hapal betul di mana ia berada yang tak lain yang tak bukan kamar Shofi. Karena Fatih pernah masuk ke kamar ini.


Jika Fatih berada di kamar Shofi lantas Shofi di mana.


Fatih berusaha bangun, merasa tangannya terlalu berat membuat Fatih perlahan melirik ke arah tangannya.


Deg ...


Pantas saja lengannya terasa kaku dan berat, karena Shofi memegang tangan itu. Dengan susah payah Fatih melepaskan lengannya dari genggaman tangan Shofi dengan sangat hati-hati.


Kening Fatih mengerut tetkala melihat lengan kanan Shofi di perban ketika Fatih sudah berhasil bangun. Belum sampai di situ, Fatih di buat terkejut lagi tetkala sikut Shofi juga terdapat perban.


Fatih mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi. Kenapa Shofi bisa mendapatkan luka.


Seketika potongan-potongan fazel berputar di ingatan Fatih sampai Fatih mengingat kejadian kecelakaan yang terjadi di depan matanya. Setelah itu Fatih tak mengingat apa-apa lagi.


Fatih menelisik setiap inchi wajah cantik Shofi yang terlelap damai. Terlihat jelas jika mata Shofi bengkak pertanda Shofi terlalu banyak menangis.


Perlahan tangan Fatih bergerak menyingkirkan helaian rambut yang menutupi sebagian wajah cantik Shofi.


Akh ...


Fatih meringis tertahan ketika kepalanya berdenyut sakit. Sangat sakit bahkan membuat Fatih berkaca-kaca.


Sekuat tenaga Fatih menahannya agar tak menggangu tidur Shofi.


Bagaimana bisa Fatih berada di kamar Shofi, kenapa Shofi juga malah membawa Fatih ke kamarnya.


Jawabannya karena Shofi tak tahu kode akses apartemen Fatih. Dan, mau tak mau Shofi membawanya ke apartemen dirinya.


"Apa kamu akan meninggalkan aku lagi!"


Lilir Fatih bergetar tak sanggup menatap wajah Shofi. Wajah yang kemaren lusa membuat pertengkaran di antara mereka. Dan Fatih tak tahu setelahnya apa yang terjadi dan kapan Shofi mendapatkan luka.


"Apa kamu akan memilih Philip, kenapa berbohong. Sudah tak ada kah namaku di hatimu!"

__ADS_1


Sungguh dada Fatih terasa sakit dan sesak mengingat perkataan Davit tempo hari. Jika Shofi akan menikahi Philip dan akan meninggalkan ia lagi.


Bahkan Davit juga berkata jika Shofi sudah melupakannya dan akan memulai hidup baru. Shofi terlalu menderita jika bersama Fatih dan itu membuat pukulan besar bagi Fatih.


Masih teringat jelas ucapan Davit yang begitu menohok hatinya.


Apa kau pernah mendengar Shofi mengatakan sayang?


Tidak!


Karena Shofi tak mencintaimu, dia mendekatimu hanya pura-pura.


Jangan berharap lebih terhadap adikku, kamu hanya masa lalu yang kau sendiri melupakannya.


Aku tak akan pernah membiarkan adikku bersama mu. Bagaimana jadinya Shofi hidup dengan orang yang sudah melupakannya.


Apa kau tak berpikir ke sana, Adikku pasti kesakitan setiap harinya.


Lihatlah, selama ini adikku menderita gara-gara kamu. Kau yang memintanya bertahan dalam rindu yang tak kunjung usai.


Rindu yang membuat adikku menderita. Lalu apa yang kau lakukan, apa kau sudah berusaha mengingat adikku yang malang itu.


Cih, bahkan sampai sekarang kau belum mengingatnya.


Kata-kata itu masih terekam jelas di ingatan Fatih.


Fatih menatap lekat wajah Shofi yang sedikit pucat dan lelah. Seperti nya begitu banyak kejadian yang membuat Shofi berpikir keras.


Gumam Fatih gemetar sambil membelai wajah Shofi yang tak terusik sedikitpun.


"Tapi aku tak lera ..,"


Siapa yang rela jika orang yang kita cintai akan menikah dengan orang lain.


Sampai kapanpun Fatih tak akan pernah melepaskan Shofi.


"Fatih,"


"Maafkan aku ..,"


Deg ...


Fatih terkejut mendengar Shofi mengigau, Fatih pikir Shofi sudah bangun dari tidurnya nyatanya belum.


Karena merasa kasih melihat Shofi harus tidur menyandar. Perlahan Fatih beranjak dari ranjang lalu mengangkat tubuh Shofi dengan hati-hati.


Fatih membaringkan Shofi di tempat tadi dia tidur.


Fatih terpaku ketika Shofi malah membuka kedua matanya. Hingga mata mereka saling tatap satu sama lain.


"Aku hanya memindahkan kamu tidur,"


"Aku tahu!"

__ADS_1


Ucap Shofi serak khas orang bangun tidur. Shofi tersenyum simpul bahagia melihat Fatih sudah sadarkan diri.


"Maaf sudah membuat kamu terluka!"


Shofi menggeleng kuat, itu bukan salah Fatih tapi salah dirinya sendiri yang terlalu egois.


Dan Shofi belum jujur akan semuanya pada Fatih hingga membuat Fatih salah faham.


"Apa kamu akan membenciku jika aku menceritakan semuanya apa yang terjadi pada kita dulu!"


Fatih menggeleng mantap, dia sudah siap mendengar kejujuran Shofi. Apa yang selama ini Shofi sembunyikan pada dia.


.


Kini Fatih juga membaringkan tubuhnya hingga mereka saling berhadapan satu sama lain. Memandang kedalam bola mata masing-masing.


Shofi tersenyum simpul, seperti nya ini waktu yang pas ia menceritakan kisah mereka dulu agar Fatih faham akan apa yang terjadi walau masih belum mengingatnya.


Shofi mengelus rahang tegas Fatih dengan sangat lembut membuat Fatih memejamkan kedua matanya.


"Dulu aku orang yang kamu benci!"


Ucap Shofi seketika membuat Fatih membuka kedua matanya kembali.


"Karena aku lemah, kamu selalu membenci orang-orang lemah dan salah satunya aku. Dulu, mungkin kita saling benci tapi entah sejak kapan kamu mengusik hatiku. Aku selalu menahannya agar tak lepas kendali karena aku tahu pertemuan dan kebersamaan kita hanya sementara. Tapi, kamu selalu memaksa aku untuk mencintaimu dengan caramu sendiri walau terkesan memaksa tapi aku suka. Sampai--"


Shofi menjeda ucapannya sambil tersenyum mengingat pas waktu pertama kali Fatih mencium matanya.


"Aku tak bisa lagi menyangkal akan perasaan ini. Kamu sudah berhasil membuat aku jatuh cinta padamu. Dan, di sana ketakutan ku mulai terjadi di mana aku harus pergi meninggalkanmu!"


"Apa dulu aku menahannya pergi?"


Potong Fatih membuat Shofi lagi-lagi tersenyum.


"Tidak! kamu tidak menahan ku karena aku yang melarang mu melakukan itu!"


Fatih menautkan kedua alisnya bingung, bagaimana bisa ia tak melarangnya ini sangat aneh.


"Sendari dulu aku yang egois meminta kamu jangan menunggu ku, sampai aku pergi meninggalkan kamu dan Indonesia hingga sampai sekarang. Empat tahun aku tak tahu kabar tentang kamu, Amira, Bunga dan semuanya. Bukan aku ingin melupakanmu tapi waktu itu ponselku hilang entah kemana sampai aku tak bisa mengakses kalian lagi,"


"Dan, sekarang kita di pertemukan kembali dalam keadaan kamu yang melupakanku. Namun, lagi-lagi aku egois memaksa kamu untuk mengingatku lagi!"


Shofi menundukkan kepala dengan air mata yang menetes membasahi pipinya.


"Maafkan aku, cinta ini terlalu besar ku miliki hingga menyakiti kamu,"


"Kita sama-sama saling menyakiti!"


Deg ...


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih....

__ADS_1


__ADS_2