
Fatih terdiam melihat kegirangan sang adik bertemu dengan Shofi bahkan sendari tadi terus memeluk Shofi tak melepaskan Shofi sama sekali.
Shofi begitu senang melihat reaksi Aurora yang masih menerimanya bahkan sikap hangat Aurora membuat Shofi tak canggung lagi.
Shofi menatap intens Aurora yang terlihat feminim tak se-tomboy dulu.
"Kakak cantik!"
"Oh ayolah, kamu sudah sebesar ini masa masih memanggil kakak begitu!"
"Tapi itu yang Rora ingat dari kecil,"
"Ya .. ya .., tapi lihatlah tubuh kamu bahkan lebih besar dari tubuh kakak!"
"Habis di sana makanannya enak-enak!"
Shofi dan Aurora terkekeh dengan obrolan mereka tanpa mempedulikan Fatih yang cemberut .
Apa setiap wanita seperti itu jika sudah mengobrol pasti akan lupa sama sekitarnya serasa dunia milik mereka.
Bahkan entah berapa lama mereka bertemu kangen sampai-sampai tak menyadari bahwa Fatih sendari tadi menguap sampai ketiduran.
Jam terus saja berjalan sampai menunjukan jam dua belas malam membuat Shofi menyudahi perbincangannya.
" Rora kangen banget,"
"Kakak juga sama, maafkan kakak di masa lalu!"
"Jangan saling menyalahkan, yang terjadi itu takdir!"
Shofi tersenyum mendengar ucapan bijak Aurora.
"Seperti nya kita harus segera tidur, apalagi kakak besok harus berangkat kerja!"
"Baiklah,"
Aurora memilih tidur di apartemen sang kakak saja dari pada apartemen Shofi. Karena memang apartemen Shofi cuma mempunyai satu kamar. Jika ia tidur bagaimana dengan Fatih.
"Aku mengerti!"
Ucap Aurora melihat wajah tak enak Shofi jika Fatih yang harus tidur di apartemen walau Shofi juga tak masalah.
Shofi kembali menutup pintu apartemen ketika Aurora sudah benar-benar masuk ke apartemen Fatih.
Terlalu panjang cerita yang mereka ceritakan dari lima tahun lalu dan bagaimana perjalanan kisah mereka.
Sampai-sampai menghabiskan waktu berjam-jam bercerita walau cerita itu belum usai. Namun, Shofi dan Aurora harus mengakhiri nya karena sudah larut malam.
Shofi berdiri di hadapan Fatih menatap lekat wajah Fatih dengan tatapan tajam namun meneduhkan.
"Perjalanan mu ternyata tak kalah hebat dari perjalanan ku!"
Gumam Shofi tersenyum tipis ketika mendengar cerita dari Aurora tadi. Bagaimana Fatih berjuang untuk mengingat siapa keluarga nya dan dirinya juga. Bahkan Fatih harus menghabiskan waktu dua tahun untuk bisa mengingat siapa Farhan, Queen, Aurora dan Aksara.
Kini Shofi mengerti dan faham apa yang Farhan dan Queen lakukan. Mereka tidak egois begitupun Davit. Semuanya memang untuk dirinya dan Fatih.
__ADS_1
Tak ada kesakitan yang paling hebat Shofi rasakan di banding kesakitan seorang ibu yang terlupakan oleh putranya.
Tak terasa setetes air mata keluar dari pelupuk mata Shofi.
Membayangkan bagaimana perasaan tante Queen membuat Shofi tiba-tiba sesak dan sakit. Ya, disini ternyata bukan Shofi yang merasa kesakitan tapi sakit yang tante Queen alami jauh lebih dari sekarat.
"Om benar, Fatih tak perlu tahu yang sebenarnya!"
"Ada kalanya kebenaran harus di kubur agar tak mengorek luka lama!"
Gumam Shofi sambil mengelus pipi Fatih, wajah yang begitu berharga di keluarga Al-biru dan juga hatinya.
Shofi sudah putuskan bahwa tak akan menjelaskan sebenarnya pada Fatih. Shofi akan menuruti permintaan om Farhan. Yang paling penting Fatih sudah cukup mengerti dengan keadaan ini cukup menerima dengan semua yang terjadi.
Biarlah mereka menjalani ini semua dengan perasaan baru. Sudah lelah mereka merasakan tekanan hati sudah saatnya bagi mereka meraih kebahagiaan mereka tanpa ada halangan lagi.
Sofi menghapus air mata dengan pelan sambil tersenyum.
Shofi beranjak guna mengambil selimut untuk menutupi tubuh Fatih.
Dengan pelan Shofi menyelimuti tubuh Fatih karena takut mengganggu tidurnya.
"Mau kemana?"
Tanya Fatih dengan suara beratnya membuat Shofi menahan diri untuk beranjak karena tangannya di tahan.
"Maaf!"
"Temenin tidur,"
Ucap Fatih sambil menarik Shofi berbaring di sampingnya. Untung saja shopa milik Shofi cukup besar jadi cukup untuk mereka berdua.
"Nyaman!"
Shofi hanya tersenyum saja mendengar ocehan Fatih bahkan dengan mata masih tertutup.
Shofi menaruh tangannya di dada bidang Fatih lalu membalas pelukan Fatih. Mereka berdua tidur kembali untuk memulai hari baru babak baru yang akan mengubah semuanya.
.
Pagi-pagi sekali Shofi sudah terbangun begitupun dengan Fatih mereka sarapan pagi bersama dengan Aurora yang berada di antara mereka.
"Dek, maafkan kakak ya hari ini belum bisa ngajak jalan-jalan!"
Sesal Shofi karena tak bisa mengajak Aurora jalan-jalan mengelilingi tempat-tempat indah di Jerman.
Ada pertemuan yang harus Shofi hadiri karena memang pertemuan itu kehadiran Shofi di pentingkan.
"Tidak apa kak, lain kali kan kakak pasti bisa!"
Shofi terkekeh mendengarnya lalu pamit berangkat ke kantor karena Philip sudah menjemputnya.
Shofi juga tak mungkin meminta Fatih mengantarnya karena Shofi tahu Fatih pasti lebih di butuhkan Aurora dari pada dirinya mengingat Aurora baru pertama kali ke Jerman.
"Apa kabar?"
__ADS_1
Tanya Shofi ketika sudah masuk ke dalam mobil di mana Philip sudah menjalankannya.
"Baik nona!"
"Syukurlah!"
Ucap Shofi bernafas lega melihat keadaan Philip benar-benar sudah pulih. Elsa seperti nya mengurus Fatih dengan baik.
"Bagaimana tentang perusahaan B.B grup menurut kamu?"
"Saya rasa nona sudah tahu potensi perusahaan itu, saya yakin kerja sama kali ini sangat-sangat menakjubkan!"
Shofi memangut-mangut mendengar ucapan Philip sambil melihat kembali kontrak kerja sama dengan perusahaan B.B grup.
Memang tak ada yang aneh dengan isi kontrak itu apalagi memang Philip sudah menjelaskan latar belakang perusahaan itu.
Prestasi juga bagus bahkan mampu bersaing dengan perusahaan-perusahaan besar lain bidang kecantikan dan desainer dalam kurun waktu lima tahun terakhir ini bahkan memasuki klasemen no dua terkenal dan terbesar di Jerman.
"Terus bagaimana dengan dokter itu!"
"Beliau sudah sampai kemaren siang, beliau juga menginap di hotel kita!"
"El tak memberitahu ku!"
"Elsa sudah berusaha memberitahu nona, namun kemaren sepertinya nona sedang banyak pikiran!"
Shofi terdiam karena memang benar, kemaren memang Elsa ingin menyampaikan sesuatu namun Shofi mencegahnya.
Sudahlah ini kelalaian Shofi yang sedang gusar kemaren.
"Baiklah, berikan pelayanan terbaik untuk beliau!"
Tegas Shofi sambil kembali fokus pada berkas yang ia pegang.
Philip kembali fokus juga menyetir membawa nona muda dengan selamat.
Melihat nona mudanya yang serius membuat Philip urung memberikan informasi tentang Stephen yang ingin bertemu dengan Shofi.
Philip tak mau merusak mood nona mudanya karena membahas Stephen.
Apalagi memang Shofi tak mau mendengar nama itu di sebut di hadapan dia.
Mungkin Shofi sedang berusaha berdamai dulu dengan hatinya untuk menerima semua perbuatan Stephen terhadap kedua orang tuanya.
Para karyawan menunduk hormat ketika melihat Shofi memasuki perusahaan.
Shofi membalas sapaannya para karyawan dengan senyum tipisnya lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Shofi memang terkenal dingin dan cuek sebagai bos bahkan senyum pun jarang dan tak banyak omong dengan orang lain.
Tapi kali ini Shofi terlihat berbeda auranya tatapannya tak sedingin dulu ada kehangatan di dalamnya menatap para karyawan membuat para karyawan senang.
Pasalnya mereka tahu bosnya jarang memberikan senyum sapaannya. Hanya dengan anggukan kepala saja lalu pergi.
Walau pun begitu Shofi tetap bos yang paling di hormati, di segani dan di patuhi.
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan, Vote Terimakasih ...