
Part 10.
Novia dengan lahap menyantap masakan ibunya, sedangkan Pak Wahyu dan bu Ratih memandang iba anak mereka dia terlihat begitu lelah entah apa masalah yang dihadapinya.
" Hmm masakan mama memang yang terenak " ucap Novia
" Iya habiskan makannya, mama senang melihat mskanmu lahap begitu " jawab bu Ratih.
" Hehehe😁 " Novia hanya terkekeh, ini senyum pertama Novia sejak tahu kejadian suaminya selingkuh.
Selesai makan, Novia meletakkan piringnya diatas meja.
" Mah pah aku sudah cuti, boleh kan Novia nginap disini menunggu persalinan ?" tanya Novia.
" Iya boleh, biar setiap saat mama tahu keadaanmu " jawab bu Ratih.
" Mau temani mama masak ?" tanya bu bu Ratih
" Iya mah mau " Novia terlihat bersemangat
"Ayo ke dapur, kebetulan di kulkas masih ada bahan makanan, barang-barangmu biar papa yang urus,ya kan pah ?" ucap bu Ratih sambil melirik suaminya.
" Hmm," pak Wahyu mengangguk
Mereka pun masuk kedapur dan mangacak-acak bahan makanan yang akan di masak sambil terus mengobrol banyak hal diselingi canda tawa, sejenak Novia seakan lupa masalah hidupnya.
Dan pak Wahyu mengangkat tas Novia lalu memasukkan ke dalam kamar Novia.
Setelah beberapa saat mereka sibuk dengan urusan masak memasak.
" Aauuhh sssshhhh " Novia meringis dan memegang perutnya.
Bu Ratih yang melihat itu langsung mendekat kearah Novia dan menuntun Novia kearah kursi.
" Duduk dulu, sakit yaa ?" bu Ratih terlihat khawatir.
" Iya mah, perutku rasanya tegang " jawabnya.
" Pah, kesini sebentar " panggil bu Ratih.
"I ya mah ada apa ?" Pak Wahyu datang menghampiri istrinya.
" Perut Novia sakit, sebentar sore kita antar Novia ke dokter periksa kandungan."
" Vi, kapan terakhir kamu ke dokter ?" tanya bu Ratih.
" Aku lupa mah, mungkin tiga bulan yang lalu," jawabnya.
" Ya Allah nak mestinya kamu rutin setiap bulan periksa kandungan " ucap bu Ratih sedikit kesal.
" Selama di rumah mertuamu kamu tak pernah diantar ke dokter Vi ?" tanya bu Ratih.
Novia hanya diam tak bisa menjawab.
__ADS_1
" Huuffh terlaluu " gerutu bu Ratih.
" Sudah mah, ini anakmu lagi sakit malah ditanya-tanya " pak Wahyu menghentikan omelan istrinya takut melebar kemana-mana.
" Ayo Vi kamu istirahat dikamar biar mama yang selesaikan ini " titah bu Ratih.
" Iya mah " Novia pun beranjak dan masuk ke kamarnya untuk beristirahat.
Setelah ditinggal Novia kekamar bu Ratih langsung tancap gas menumpahkan semua yang ada dihati dan pikirannya kepada suaminya.
" Irwan dan orang tuanya sudah keterlaluan pah, bisa-bisanya selama disana Novia tidak pernah diantar perikasa kandungan."
Pak Wahyu memilih menjadi pendengar setia.
" Sekarang papa tahu kan kenapa dulu mama mati-matian menolak hubungan mereka ? karena keluarga itu kurang baik pah " lanjut bu Ratih lagi.
" Awas saja ya kalau mama ketemu Irwan biar mama omeli habis-habisan anak itu, mau nikahi anak orang tapi ogah bertanggung jawab."
"Jangan keras-keras mah nanti Novia dengar, kasian dia bagaimana pun Irwan itu suaminya..kita lihat saja dulu perkembangannya" jawab Pak Wahyu.
Sebagai seorang ayah tentu pak Wahyu tak bisa terima anaknya diperlakukan tidak baik,tapi dia juga masih menjaga perasaan anaknya itulah Pak Wahyu masih bersikap tenang.
Sore harinya tepat jam 15.30 setelah shalat ashar, seperti rencana sebelumnya mereka pun mengantar Novia ke dokter.
Tiba di klinik Pak Wahyu mendaftarkan Novia lalu mengambil nomor antrian.
Pak Wahyu adalah sosok suami setia dan bertanggung jawab, selalu siaga melindungi istri dan anak-anaknya. Karena itu Novia begitu mengagumi dan menghormati ayahnya.
" Permisi dok " sapa bu Ratih.
" Oh iya silahkan duduk bu " Dokter Ruth mempersilahkan mereka duduk.
" Apa kabar, lama tidak kesini " ucap dokter Ruth
" Baik dok " jawab Novia
"Apa keluhannya sekarang ?"
" Tadi pagi tiba-tiba perutku menegang dan sakit dok " jawab Novia.
" Hmm apa selama ini sudah ada cairan yang keluar ?"
Novia mengernyit " cairan apa Dok ?"
" Seperti cairan ken**ng tapi keluar dengan sendiri "
" Oh belum Dok."
" Oke coba kita cek dulu ya " ucap dokter sambil menyiapkan peralatan USG
" Silahkan naik ke atas ranjang dan berbaring, bajunya diangkat ya " titah dokter.
Novia pun mengangguk.
__ADS_1
Setelah Novia berbaring, dokter pun mengoles perut Novia dengan gel lalu mengeser alat yang terhubung ke monitor.
" Nah coba dilihat, pertumbuhannya sudah sempurna yaa berat badannya juga seimbang,dan aktif pula " ucap Dokter
" Lihat bu cucunya " kali ini dokter menyuruh bu Ratih melihat kearah monitor.
Bu Ratih tersenyum bahagia melihat penampakan bayi lucu yang aktif bergerak.
" Ini usianya sudah 36 minggu ya, diperkirakan dua minggu lagi kelahirannya " ucap dokter membereskan kembali peralatannya setelah selesai melakukan pemeriksaan.
Novia kembali ketempat duduknya untuk mendengar penjelasan dokter.
" Sakit perut yang bu Novia alami tadi pagi itu kontraksi palsu, bayi sudah mulai aktif mencari jalan lahirnya " Dokter memberi penjelasan tentang keluhan Novia.
" Tapi itu normal kan dok ?" tanya Novia sebab ini kehamilan pertamanya tentu dia masih sangat awam.
" Iya itu biasa diusia kandungan menjelang kelahiran " jawab dokter
" Sekarang saya cuma kasih vitamin, dan jangan lupa istirahat" kata dokter.
" Baiklah, terima kasih dok kami permisi dulu " jawab Novia dan bu Ratih bersamaan.
Diruang tunggu pak Wahyu melihat istri dan anaknya berjalan menuju kearahnya.
" Pah, ini ada resep yang ditebus diapotek " bu Ratih menyerahkan kertas resep kepada suaminya.
" Iya biar papa yang antrian disana, kalian tunggu disini " jawab pak Wahyu lalu beranjak menuju apotek.
Setelah beberapa saat menunggu obatnya sudah ditebus dan merekapun kembali ke rumah.
Tiba dirumah hari sudah menjelang maghrib,Pak Wahyu dan bu Ratih segera bersiap untuk shalat, Novia memilih shalat dikamar.
Mendengar penjelasan dokter dan perkiraan waktu persalinan, bu Ratih meminta ijin suaminya untuk menemani Novia tidur dikamar malam hari dan pak Wahyu setuju.
Setelah semua aktifitas mereka malam ini selesai, bu Ratih masuk ke kamar Novia.
"Vi, mulai malam ini mama nginap dikamar kamu temani kamu tidur " ucap bu Ratih.
" Iya mah " jawab Novia tak lagi banyak protes.
Novia mulai merasakan sakit lagi di perutnya, tapi dia menahannya karena takut tidur ibunya terganggu.
Di rasa sakitnya mulai Novia pun terlelap disamping ibunya.
Pagi hari selesai shalat subuh Novia keluar rumah berjalan-jalan disekitar rumahnya sekedar ingin meregangkan otot kakinya yang mulai membengkak.
Bu Ratih, seperti biasa akan menyiapkan sarapan untuk suami dan anaknya, sedangkan Pak Wahyu duduk diteras rumah asyik dengan bacaannya.
Dirasa cukup berkeliling Novia kembali ke rumah dan menemani ayahnya duduk diteras berbincang ringan tentang rencana Novia setelah bayinya lahir nanti.
" Sarapannya sudah siap, ayo kita sarapan dulu" ajak bu Ratih.
" Iya mah " jawab pak Wahyu dan Novia. Mereka pun sarapan diselingi canda tawa seperti dulu.
__ADS_1