Fitnah Berbuah Karma

Fitnah Berbuah Karma
Dukunganmu Jadi Semangatku


__ADS_3

Part 69


Tiba di rumah, pasangan itu disambut kedua anak mereka yang belum tidur.


"Mah, dedek Diba rewel dia ngantuk," adu Camillah.


Novia merentangkan tangan menyambut Adiba berlari ke dalam pelukannya, bocah itu mengoceh meminta susu membuat Novia terkekeh geli.


"Wan, aku masuk duluan ya." Novia masuk ke dalam sambil menggendong anak keduanya menyusul Camillah di belakang.


Saat memasuki ruang tamu, Novia melewati ayahnya berbaring di sofa langkahnya terhenti, "papa kenapa?" seraya menghampiri ayahnya.


"Papa tidak enak badan, beberapa hari ini kurang istirahat," jawab Pak Wahyu.


Novia merasa bersalah ketika mendengar ucapan ayahnya, sejak mereka kembali ke rumah orang tuanya setiap hari Novia menitipkan Adiba dan Emir pada orang tuanya.


"Maafkan aku pah, setiap hari mengasuh anak-anakku papa dan mama jadi kecapean," ujarnya lalu duduk di sofa kosong dekat ayahnya berbaring.


"Kamu terlalu berlebihan, papa cuma lelah dan butuh istirahat." Pak Wahyu bangun membetulkan posisinya duduk bersandar pada sandaran sofa.


"Papa masih rutin cek up kan pah?" tanya Novia.


"Sudah dua hari papa tidak minum obat, besok papa akan ke rumah sakit stok obat papa kosong," balas Pak Wahyu.


Irwan muncul di pintu, berjalan mendekati istri dan ayah mertuanya, "papa kenapa Vi?"


"Cuma capek, obat papa sudah habis besok cek up lagi," ujar Novia.


"Oh, kalau begitu besok aku di rumah jaga anak-anak, kamu temani papa ke rumah sakit." Irwan menawarkan solusi pada Novia.


"Baiklah, besok aku temani papa ke rumah sakit dan kamu di rumah bersama anak-anak."


"Wan, tolong bawa anak-anak masuk ke kamar," pinta Novia pada suaminya dan di balas anggukan Irwan.


"Ayo pah, aku temani ke kamar." Novia memapah ayahnya masuk, Bu Ratih keluar dari kamar Novia setelah menemani Emir sampai tertidur.


"Emir baru saja tidur, kamu masuk saja biar mama yang temani papa ke kamar." Bu Ratih memegang tangan suaminya masuk ke kamar mereka demikian juga dengan Novia, melangkah masuk ke kamarnya untuk beristirahat.


Keesokan hari ....


Sesuai rencana semalam, Novia mengantar ayahnya berobat dan Irwan tinggal di rumah mengasuh kedua anaknya.


Novia menemani ayahnya cek up di poly jantung, setelah mengambil nomor antrian mereka duduk di ruang tunggu.


"Hari ini pasien ramai ya pa," kata Novia.


"Iya, mungkin pasien rujukan dari rumah sakit lain," jawab Pak Wahyu.

__ADS_1


Biasanya poly jantung tidak ramai, tapi ini berbeda semua kursi tunggu terisi penuh. Untungnya Pak Wahyu mendapat nomor antrian delapan jadi tidak harus menunggu lama mengantri.


Saat mereka berbincang, terdengar suara memanggil nomor antrian Pak Wahyu Novia menoleh, "papa dipanggil."


"Iya, kamu tunggu di sini papa ke dalam ya." Pak Wahyu beranjak masuk ke ruang pemeriksaan sementara Novia menunggu ayahnya di situ.


Beberapa menit kemudian, Pak Wahyu keluar memegang selembar kertas di tangannya lalu menghampiri Novia.


"Ini resep dari dokter, kamu ambil obatnya di apotek," ucap Pa Wahyu sembari menyerahkan kertas tersebut.


Novia mengambil dari tangan ayahnya dan beranjak, "papa tunggu di sini, apotek pasti ramai dan banyak yang mengantri."


Novia berlalu, melangkah meninggalkan ayahnya menuju apotek yang tidak jauh dari tempat mereka.


Hampir dua jam Pak Wahyu menunggu, akhirnya Novia muncul membawa tas kantong plastik berisi obat-obatan dan dia langsung menghampiri ayahnya.


"Maaf, papa lama menunggu antriannya panjang pah," kata Novia kemudian memasukkan kanton plastik ke dalam tasnya.


"Kita pulang sekarang, papa sudah lapar," ucap Pak Wahyu mengusap perutnya.


"Ayo, pah." Novia memegang tangan ayahnya keluar, keduanya berjalan menuju parkiran.


Pak Wahyu naik ke dalam mobil lalu duduk di belakang kemudi, menyusul Novia duduk di samping ayahnya.


Mesin mobil menyala dan melaju meninggalkan area rumah sakit lalu kembali menuju rumah mereka.


"Kamu duluan saja, lihat anak-anakmu sudah menunggu," ucap Pak Wahyu karen Novia masih berdiri di samping mobil menunggu ayahnya turun.


Noviapun berbalik dan melangkah cepat menghampiri anak dan suaminya.


"Halo, Anak-anakku sini peluk mama." Kedua anak perempuan Novia berlari dan memeluknya, kemudian dia meraih Emir dalam gendongan Irwan.


Bu Ratih muncul dari dalam, menyambut suaminya pulang, "kenapa lama?" tanya Bu Ratih.


"Pasien ramai mah, mama masak apa? Papa lapar," ujar Pak Wahyu mengusap perutnya.


"Mama masak makanan kesukaan papa, ayo, kita masuk sekarang." Bu Ratih menuntun suaminya masuk ke ruang makan dia sudah menyiapkan makanan di atas meja.


Novia menoleh saat melihat kedua orang tuanya masuk, "ayo Wan kita masuk, aku lapar."


Mereka masuk dan menyusul ke ruang makan, sejak di rumah sakit Novia sudah menahan rasa laparnya.


Sampai di ruang makan, keluarga itu berkumpul dan bersama dengan lahap sembari berbincang.


"Obat papa sama kamu kan Vi?" tanya Pak Wahyu.


"Iya, ada dalam tasku," sahutnya sambil mengangkat tasnya.

__ADS_1


Selesai makan, Novia merogoh tasnya mengambil kantong plastik berisi obat dan menyerahkan pada ayahnya.


"Ini obatnya pah, di dalam ada aturan minumnya," ucap Novia sembari menyerahkan kantong tersebut.


Irwan membawa anak-anaknya masuk ke kamar, "kami ke kamar dulu, sepertinya Emir sudah ngantuk."


Setelah membereskan meja makan dan mencuci piring kotor, Novia menyusul suaminya masuknke kamar. Pak Wahyu dan istrinya memilih beristirahat di kebun belakang.


Novia sudah ada di kamar, tampak Irwan berbaring di antara ke dua anak perempuannya sedangkan putranya Emir tidur di ranjang kecil sebelahnya.


Menyadari kehadiran istrinya, Irwan bangun dan beranjak turun dari ranjang lalu mendekat pada istrinya.


Pasangan itu duduk di lantai bersandar pada dinding, Irwan memejamkan matanya seperti menyimpan banyak beban.


"Apa yang kamu pikirkan hmm?"


"Vi, aku masih mengingat kejadian semalam dan terus mengganggu pikiranku." Irwan membuka mata dan menatap lurus ke depan.


"Seharusnya mama bersikap adil, aku juga tahu diri Vi, tidak mengharap lebih tapi setidaknya aku juga punya hak dari hasil penjualan mobil itu."


Novia membiarkan suaminya meluapkan segala kekecewaan di hati, saat ini Irwan butuh seorang pendengar begitu pikirnya.


"Mobil itu kan milikmu Vi, aku hanya menjadi sopir seharusnya mama memahami posisiku," ucap Irwan panjang lebar.


Akhirnya Novia angkat bicara, "memang benar mobil itu milikku, tapi kamu kan suamiku Wan sudah seharusnya kita berjuang bersama."


"Kamu juga punya andil yang besar pada mobil itu, aku berinisiatif membelinya karena mengingat pekerjaanmu," sambung Novia.


"Saat ini waktunya kamu membuktikan pada mereka, bahwa kamu juga bisa hidup tanpa uang warisan." Novia meyakinkan suaminya sekaligus memberinya semangat.


"Berapa setoranku sehari?" tanya Irwan sambil tersenyum miring.


"Kamu kan tahu Wan, sekarang gajiku sebagiannya sudah di potong untuk membayar angsuran kredit."


"Aku cuma meminta kamu bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari kita, susu, dan uang jajan Camillah ke sekolah," ujar Novia.


"Baiklah, aku akan menyetor pada kamu sama seperti setoranku ke mama apa kamu setuju?" tanya Irwan.


"Aku tidak mematok berapapun, asalkan bisa memenuhi kebutuhan kita dan aku juga bisa sedikit membantu uang belanja papa." Tentunya Novia juga harus tahu diri karena mereka masih tinggal bersama orang tua.


"Aku akan sisihkan sebagian uang untuk papa, agar uang belanjamu tidak berkurang."


"Maksudnya kamu juga menyetor sama papa?" Novia mengerutkan alisnya heran.


"Iya, aku titip pada papa sebagai tabungan dan uang belanja aku setor untukmu." Irwan menjelaskan maksudnya agar istrinya paham.


Setelah mendengar penjelasan suaminya, barulah Novia paham dan menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Perbincangan siang itu, mereka sepakati bersama dan akhirnya Irwan bisa kembali tenang.


__ADS_2