
Part 78
Malam hari, setelah shalat isya dan makan malam mereka berkumpul di ruang keluarga tidak seperti biasa, Novia lebih banyak diam tentu saja sikapnya itu mengundang perhatian orang tuanya.
Bu Ratih dan suaminya saling pandang, sebagai seorang ibu, Bu Ratih sangat mudah membaca perubahan yang terjadi pada anaknya terlebih jika anaknya menyimpan masalah.
"Vi, kamu sakit?" pancing Bu Ratih
Novia menggeleng ....
"Tidak mah, hanya merasa capek," jawab Novia singkat.
"Ya, sudah, sana ajak Adiba dan Emir masuk istirahat," ucap Bu Ratih.
"Nanti saja mah, biarkan mereka main dulu sebentar kalau sudah ngantuk baru kami masuk." Novia melihat anaknya masih nyaman bermain dan juga dia masih enggan masuk ke kamar.
Pak Wahyu beranjak melangkah untuk memeriksa semua pintu dan jendela, kemudian dia masuk ke kamar menyusul Bu Ratih dan Camillah.
"Ayo, Millah kita masuk ina sudah ngantuk."
Kini tinggal Novia dan kedua anaknya yang masih berdiam diri di ruang keluarga sambil menonton acara TV, Novia belum berniat masuk dan sepertinya malam ini dia akan tidur di situ.
Puas bermain dan menonton, kedua anak Novia tertidur dia melirik jam di dinding tepat pukul sepuluh rumah sudah sepi hanya dia satu-satunya yang belum tidur.
Baru saja Novia merebahkan tubuhnya, terdengar deru mobil di luar artinya Irwan sudah pulang.
Tok ... tok ... tok
suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Novia, Novia bangkit dengan langkah malas berjalan ke arah pintu dan membukanya.
Novia membalikkan tubuh setelah membukakan pintu untuk suaminya, kemudian dia kembali berjalan ke ruang keluarga menghampiri anak-anaknya.
Irwan menyusul istrinya masuk setelah mengunci kembali pintu, keningnya berkerut saat melihat kedua anaknya tidur di ruang keluarga.
"Kenapa kalian tidur di sini? nanti anak-anak masuk angin," ujar Irwan menatap istrinya.
"Lebih nyaman di sini," balas Novia sekenanya
"Ayo, pindah ke kamar biar aku gendong anak-anak," ajak Irwan kemudian memegang Adiba dan akan menggendongnya namun, Novia menepis tangan Irwan.
Irwan terkejut dengan reaksi istrinya, "ada apa Vi? kenapa melarangku hmm?"
Novia diam dan membelakangi suaminya, Irwan semakin penasaran dan menarik bahu istrinya agar bisa berhadapan dengannya.
__ADS_1
"Kenapa Vi kamu marah?"
"Tidak, masuk dan tidurlah di kamar."
"Bagaimana dengan kalian?" tanya Irwan lagi.
"Anak-anak sudah tidur nyenyak, kami tidur di sini saja," jawab Novia dengan posisi masih membelakangi suaminya.
"Baiklah, aku masuk." Irwan beranjak masuk ke kamar meninggalkan anak dan istrinya.
Di dalam kamar, Irwan melepas pakaian dan membersihkan tubuhnya terlebih dahulu kemudian naik ke atas ranjang dan berbaring.
"Ada apa lagi dengan Novia? kelihatannya dia marah padaku. Biasanya dia menyambutku dengan hangat tapi malam ini dia cuek dan dingin."
Irwan bergumam sambil menatap langit-langit kamar, perubahan sikap Novia membuatnya berpikir. Tapi tidak berlangsung lama karena Irwan akhirnya terlelap dan berkelana dalam mimpinya.
Sementara itu, Novia juga belum bisa tidur tubuhnya terus bergerak kiri dan kanan.
"Jangan berpikir aku wanita bodoh, selama ini aku sangat menghargaimu tapi balasan darimu membuatku jadi begini jadi jangan pernah menyalahkan sikapku."
Menjelang subuh, barulah Novia bisa memejamkan mata bahkan dia melewatkan ibadah shalat subuh.
Bu Ratih keluar dari kamarnya setelah shalat subuh, saat di ruang keluarga dia melihat Novia dan kedua cucunya masih terlelap.
"Vi, bangun nak kamu sudah melewatkan shalat subuh, matahari sudah muncul," ucap Bu Ratih sambil menepuk tubuh Novia beberapa kali.
Novia mengucek matanya, "jam berapa sekarang?"
"Hampir jam enam."
"Uh, aku kesiangan semalam aku diare mah," jawab Novia berbohong.
"Suamimu tidak pulang?" tanya Bu Ratih lagi.
"Ada di kamar mah, aku malas pindah lagi ke kamar anak-anak juga sudah tidur nyenyak," jawab Novia.
"Mah, aku bisa minta tolong papa mengantar Camillah ke sekolah? hari ini aku mau istirahat," ucap Novia.
"Iya, nanti mama sampaikan sama papa." Bu Ratih kemudian masuk kembali ke kamarnya meninggalkan Novia yang masih berbaring di ruang keluarga.
Novia bangkit, memaksakan diri bangun walaupun tubuhnya terasa nyeri tanggung jawabnya sebagai ibu harus dia lakukan untuk mngurus Camillah ke sekolah.
"Millah, pagi ini tata yang antar Millah ke sekolah mama lagi tidak enak badan," ucapnya sambil merapikan seragam Camillah.
__ADS_1
"Iya, pulang dijemput tata juga mah?"
"Iya," sahut Novia.
Tak lama, Pak Wahyu keluar dari kamarnya dan mengajak Camillah.
"Ayo, kita berangkat," ucap Pak Wahyu sambil berjalan keluar menyusul Camillah di belakang.
Novia kembali berbaring, hari ini dia benar-benar kehilangan semangat. Perlahan dan pasti Novia mulai kehilangan jati dirinya tapi Irwan belum menyadarinya.
Irwan bangun dan tidak melihat istrinya di dalam kamar, kemudian beranjak ke kamar mandi membersihkan diri.
"Novia sudah berangkat kerja? tumben dia mengabaikanku dan tidak membangunkan aku," batin Irwan saat berada di kamar mandi.
Setelah mandi dan berpakaian, Irwan keluar kamar dia melihat sosok istrinya yang masih berbaring di ruang keluarga. Kemudian dia mendekat.
"Vi, aku berangkat ya," pamit Irwan berharap istrinya menjawab namun, Novia tak bergeming dan tetap pada posisinya walaupun sebenarnya dia mendengar ucapan suaminya itu.
Karena tak ada jawaban dari Novia, Irwan memutuskan berangkat kerja tanpa sarapan karena Novia mengabaikannya.
Seharian Novia hanya berbaring, tak satupun aktifitas yang dia lakukan termasuk mengurus dua anaknya. Beruntungnya dia memiliki orang tua yang sangat peduli pada dirinya.
Pak Wahyu dan istrinya sedang berada di kebun belakang bersama kedua cucu mereka, pasangan lanjut usia itu berbincang mengenai kondisi Novia.
"Mah, kenapa anakmu itu? seharian dia hanya berbaring tidak makan dan juga mandi," tanya Pak Wahyu.
"Sepertinya dia sakit pah, semalam katanya diare makanya dia tidak masuk kerja," jawab Bu Ratih.
"Kalau sakit, kenapa tidak berobat ke puskesmas?" sahut Pak Wahyu lagi.
"Mama juga tidak tahu pak, anakmu itu memang suka memendam sesuatu sendiri. Sejak gadis dia kalau sakit pasti mengurung diri," balas Bu Ratih mengenang masa remaja Novia.
Pak Wahyu hanya menghela napasnya, ingatannya kembali pada masa kecil Novia yang lucu dan cerdas.
"Anak itu memang berbeda dari kakak-kakaknya, terlihat manja tapi sesungguhnya dialah yang paling kuat dan tangguh," ucap Pak Wahyu.
"Karena itu dia diberi ujian dan cobaan yang lebih dari anak kita yang lain." Mata Bu Ratih berkaca-kaca membayangkan nasib Novia kelak jika mereka sudah tidak lagi ada di dunia.
"Mah, jangan menangis nanti cucumu juga ikut sedih," hibur Pak Wahyu.
"Iya, Novia salah memilih pasangan."
Air mata Bu Ratih akhirnya tumpah, secepatnya dia menghapus agar tidak dilihat Adiba dan Emir yang duduk bersama mereka.
__ADS_1