Fitnah Berbuah Karma

Fitnah Berbuah Karma
Ada Apa Denganmu?


__ADS_3

Part 101


Pelayat sudah kembali ke rumah masing-masing, begitu juga keluarga jauh dan para tetangga. Hanya saudara-saudara Novia yang tetap tinggal.


Irwan selalu mendampingi Novia, sebab kali ini Novia tampak berbeda dengan kematian ayahnya dulu.


Novia tidak lagi terlihat menangis ataupun bersedih, tapi tatapan matanya justru terlihat kosong hal itulah yang membuat Irwan menjadi khawatir.


"Maaf kak, aku ingin bicara sebentar." Irwan berbisik pada Riska.


Riska berbalik, menatap curiga pada adik iparnya karena tidak biasanya Irwan berani mengajaknya bicara.


"Iya, ada apa?" tanya Riska.


"Kita bicara di luar kak," ajak Irwan sambil melirik Novia.


Riska akhirnya paham, sepertinya Irwan ingin membicarakan sesuatu tentang Novia sehingga mengajaknya keluar.


Irwan lebih dulu keluar menuju teras, beberapa menit kemudian Riska menyusul dan menemui Irwan.


Riska sudah ada di dekat Irwan lalu berucap,"ada apa Wan? Sepertinya ada sesuatu yang penting."


"Emm, anu kak, aku ingin membahas tentang Novia. Kakak tidak melihat perubahan pada Novia?"


"Perubahan apa maksudmu?" Riska bingung dengan pertanyaan Irwan.


"Tatapan Novia sangat berbeda kak, aku takut ada apa-apa dengannya." Irwan menjelaskan perubahan yang dia lihat pada diri istrinya yang belum disadari oleh Riska


"Kakak belum melihat jelas apa yang kamu maksud Wan, tapi kakak berharap Novia tetap baik-baik saja," ujar Riska lagi


"Novia seperti sedang menyimpan kemarahan, entah pada apa dan siapa aku juga belum tahu kak."


Irwan mencoba menebak, tetapi dia belum bisa menemukan jawabannya sebab Novia tak mau membahas apapun pada suaminya.


"Wan, kakak titip Novia padamu. Jangan pernah melukai jiwa dan raganya, kalau sampai itu terjadi aku orang pertama yang akan menuntutmu."


Akhir kalimat Riska berhasil membuat Irwan bergidik, nada tegas serta ancaman Riska ucapkan seakan menjadi sinyal bahwa Riska tidak main-main dengan perkataannya


"Iya kak, aku janji akan menjaga Novia dan anak-anakku dengan baik," balas Irwan


"Baguslah, kalau kamu paham maksudku," sahut Riska


Mereka kembali masuk ke dalam setelah berbincang di luar, Irwan menghampiri Novia dan ketiga anaknya sedangkan Riska masuk ke dalam kamar ibunya untuk beristirahat.

__ADS_1


"Vi, kamu baik-baik saja kan?" hati-hati Irwan bertanya.


"Ya," jawab Novia singkat tanpa menoleh pada suaminya.


"Vi, kalau ada sesuatu yang mengganjal di hatimu sampaikan padaku jangan disimpan sendiri," lanjut Irwan lagi


"Sudah kubilang, aku baik-baik sajaa!" bentak Novia


Irwan terdiam dan tertegun, semarah-marahnya Novia selama ini dia tak pernah membentak Irwan. Bahkan lebih memilih diam atau menghindar ketika mereka sedang menghadapi masalah.


"Ada apa denganmu Vi, jangan membuatku takut. Apa yang membuatmu jadi berubah begini?" batin Irwan.


"Ya, sudah, aku minta maaf," ucap Irwan pelan.


Irwan akhirnya mengajak ketiga anaknya masuk ke kamar untuk beristirahat, hal itu sengaja dia lakukan untuk memberi ruang kenyamanan pada istrinya.


Saudara-saudara Novia sudah kembali ke rumah mereka, hanya keluarga kecil Novia yang tinggal dan menetap di rumah mendiang Pak Wahyu dan Bu Ratih.


Sudah berhari-hari Novia mengalami perubahan, meskipun begitu dia tetap melakukan aktifitas seperti biasa, bekerja, mengurus anak dan suaminya, membereskan rumah layaknya tidak terjadi apa-apa seperti yang dia katakan pada Irwan.


Melihat kondisi Novia yang tetap beraktifitas secara normal, sehingga membuatnya merasa bahwa Novia memang sudah kembali membaik seperti semula.


Pagi ini ....


Tiba di sekolah, ketika masuk ke ruang guru dia disambut wajah bengis Diana yang sejak lama bersikap sinis padanya.


Novia melewati Diana dan mengabaikannya, baginya Diana bukanlah siapa-siapa yang harus ditanggapi dan hanya membuang waktu percuma jika melayaninya.


Putra muncul mengagetkan Novia yang sedang duduk termenung, sebelum bel masuk berbunyi Novia memilih duduk di ruang guru sambil beristirahat sejenak.


"Huuus, masih pagi sudah melamun," sapa Putra


"Eh, Putra, hari ini jam pertama jadwalmu di kelasku kan?" tanya Novia.


"Iya, setelah kelasmu baru ke kelas Si Penyihir," jawab Putra asal


Novia tak menanggapi ucapan Putra seperti biasanya, wanita itu malah memainkan polpen di tangannya sambil menunduk.


Putra menarik sebuah kursi lalu duduk di depan meja Novia, mereka duduk berhadapan terhalang meja.


"Vi, kamu baik-baik saja kan? Kalau sakit sebaiknya kamu pulang saja." Putra menyarankan Novia untuk pulang


"Aku baik-baik saja, apa kamu juga sudah gila? menyuruhku pulang padahal aku baru sampai disini."

__ADS_1


Bu Ratna masuk dan memencet bel, membuat perbincangan Novia dan Putra terputus karena Putra harus masuk ke dalam kelas.


"Aku masuk dulu, nanti kita lanjut lagi," ucap Putra lalu bergegas pergi meninggalkan Novia.


Karena jadwal Putra hari ini begitu padat, sehingga dia tidak bisa melanjutkan perbincangan dengan Novia. Padahal dia begitu penasaran ingin tahu apa yang terjadi pada sahabatnya itu.


Bel pulang berbunyi, Novia mengajak Camillah pulang. Namun, Novia melupakan sesuatu yang sangat penting yaitu menjemput kedua anaknya di sekolah.


ketika sampai di rumah Novia, tampak Adiba dan Emir duduk di teras bersama seorang wanita yang tak lain adalah guru mereka.


Novia menghampiri mereka dengan langkah cepat, setelah melihat kedua anaknya barulah dia menyadari ternyata dia lupa menjemput mereka.


"Astaga nak, maaf mama lupa menjemput kalian," ucap Novia


Lalu pandangannya beralih pada wanita yang bersama kedua anaknya tersebut, Novia melempar senyum dan berkata,"terima kasih bu, sudah mau mengantar dan menemani mereka."


"Iya bu, ini sudah kewajiban saya sebagai guru mereka, kalau begitu saya permisi pulang bu karena ibu juga sudah datang," pamitnya lalu pergi meninggalkan Novia dan ketiga anaknya.


Novia mengajak ketiga anaknya masuk, menyuruh mereka mengganti seragam lalu makan siang dilanjutkan beristirahat tidur siang.


Sungguh melelahkan, meskipun sudah berbagi tugas dengan suaminya Novia masih kewalahan mengurus banyak hal termasuk masalah pekerjaannya di sekolah.


Menghadapi tekanan teman, kadang membuat Novia ingin pindah bahkan ingin berhenti.


Sore hari, Novia dan ketiga anaknya sudah selesai mandi. Mereka bercengkerama di ruang keluarga sambil menikmati tayangan kartun di televisi.


Tak lama seru mesin mobil Irwan terdengar masuk, ketiga anak Novia berhambur keluar menyambut kedatangan ayah mereka.


Irwan masuk sambil menggendong Adiba dan Emir, sedangkan Camillah mengikuti di belakang.


"Vi, kalian sudah mandi?" sapa Irwan ketika melihat istrinya yang sedang nonton


Novia menoleh kemudian mengangguk, sedetik kemudian pandangannya kembali tertuju pada tayangan televisi di depannya.


"Ayo, kita jalan-jalan," ajak Irwan


"Kemana?" tanya Novia


"Hmm, ke pantai. Sore begini disana selalu ramai," ucap Irwan lagi.


"Baiklah, kita berangkat sekarang."


Novia bangkit dari kursinya, kemudian mematikan televisi dan melangkah keluar melewati suami dan anaknya.

__ADS_1


__ADS_2