Fitnah Berbuah Karma

Fitnah Berbuah Karma
Ikuti Permainan


__ADS_3

Part 107


Irwan termenung, bingung cara menyampaikan maksudnya pada Novia sebab istrinya seperti sudah membentengi diri terlebih dahulu dan bisa membaca arah pembicaraan.


Novia bukanlah wanita bodoh, akan sangat mudah baginya menangkap maksud lawan bicaranya.


"Maaf Wan, aku tidak bisa membantu. Kamu tahu kan apa alasannya?"


Irwan mengangguk lemah, hanya menunggu keajaiban kemurahan hati Novia atau istrinya berubah pikiran.


Untuk beberapa saat, keduanya saling diam berkelana dengan pikiran masing-masing. Novia menatap lurus ke depan sambil merenung.


Sifat yang diwariskan orang tuanya melekat kental dalam dirinya, naluri menolong selalu tergerak dengan sendirinya sehingga dia harus berperang dengan hati dan logikanya.


Setelah berpikir panjang, Novia akhirnya memutuskan memberi jalan pada suaminya.


"Aku tidak bisa membantu secara materi, karena sudah kapok berurusan dengan mamamu tentang itu. Tapi, hanya bisa meminjamkan motorku pada adikmu untuk dia pakai beberapa hari."


Irwan menghela napas lega. Namun, masih menyimak penjelasan lebih detail dari Novia mengenai tujuan istrinya itu.


"Romi bisa memakai motor itu untuk sementara, besok setelah aku pulang kerja suruh dia datang ke sini mengambilnya," ujar Novia.


"Aku beri waktu seminggu padanya, dengan motor itu dia bisa mencari uang untuk biaya perceraiannya," sambung Novia lagi


"Serius Vi?" tanya Irwan penuh harap


"Iya, ingat! hanya seminggu tidak lebih!" tekan Novia


"Baik, terima kasih Vi, aku akan sampaikan padanya besok pagi," sahut Irwan tersenyum tipis.


Tak lama kemudian, ketiga anak mereka datang dengan tawa ceria. Camillah memegangi tangan kedua adiknya dan berjalan cepat mendekati otang tuanya.


"Mah, tadi dek Diba nyanyi di sana," ucap Adiba tersenyum sumringah


"Iya, mah. Diba dapat hadiah amplop!" seru Camillah sambil menunjukkan sebuah amplop di tangannya.


"Waah, anak mama hebat!" balas Novia tak kalah girangnya


Sejak dini, Novia memang sudah mengajarkan ketiga anaknya untuk bisa mandiri, dan percaya diri dalam situasi apapun sehingga kelak mereka akan menjadi anak-anak yang tangguh.


Ibu tiga anak itu banyak belajar dari pengalaman hidup, mengambil pelajaran dari dua keluarga sekaligus. Ayah dan ibunya sebagai panutan dan dari keluarga suaminya pun dia mengambil beberapa contoh yang tidak patut untuk di tiru.


Novia menerapkan didikan yang tegas pada anaknya, karena dia tidak ingin mereka memiliki perilaku yang buruk dan menjadi anak-anak yang manja.


"Sudah maghrib, ayo, kita masuk," ajak Novia


Pasangan itu pun masuk bersama ketiga anak mereka, Novia bersiap menunaikan shalat maghrib tak lupa juga mengajak anak-anaknya.

__ADS_1


Keesokkan harinya, setelah pulang kerja Novia menunggu kedatangan adik suaminya.


Tak lama, Romi datang bersama seorang teman yang mengantarnya. Romi turun dari motor dan temannya memutar motornya kemudian berlalu pergi.


Romi berdiri di pintu lalu mengucap salam, terdengar suara sahutan dari dalam dan tak lama Novia muncul menemui iparnya.


"Masuk Rom," ucap Novia


Romi melangkah masuk dan duduk di sofa, Novia mengambil posisi berhadapan dengan saudara iparnya tersebut.


"Kak, aku ke sini disuruh kak Irwan," ujar Romi


"Hmm, giliran kalian butuh baru bicara dengan kata-kata manis padaku. Dasar munafik!" batin Novia


Novia tersenyum tipis, menatap tajam wajah Romi dengan wajah datar.


"Kakakmu sudah bilang, kalau aku meminjamkan motor ini hanya satu minggu?" tanya Novia


"Iya, kak. Kalau urusanku sudah selesai aku akan kembalikan lagi ke sini," jawab Romi


"Hmm, baiklah. Kamu tunggu sebentar aku ambil kuncinya."


Novia beranjak dari kursinya lalu melangkah masuk ke dalam kamar, tak lama kemudian dia muncul kembali dengan membawa sebuah kunci di tangannya.


Sebelum menyerahkan kunci motor, Novia mengingatkan kembali saudara iparnya itu.


"Iya, kak," sahut Romi


Novia menyerahkan kunci tersebut kepada Romi, dengan tangan yang sedikit bergetar Romi meraih kunci di tangan Novia.


"Motornya ada di garasi, kamu ambil saja. Maaf aku tidak bisa mengantarmu ke depan," ujar Novia datar.


Romi berpamitan dan Novia membalas dengan anggukkan, Romi pun pulang ke rumah mengendarai motor milik Novia.


Sore harinya, Irwan pulang lalu segera memarkir mobilnya dan bergegas masuk untuk menemui istrinya.


"Vi, kamu dimana?" panggilnya


Novia muncul dari kamar, kemudian bertanya,"ada apa memanggilku?"


"Romi sudah datang ke sini?" tanya Irwan


"Iya, dia sudah," sahut Novia singkat.


"Surat-suratnya Romi bawa?"


"Aku tahan, untuk menjaga kemungkinan yang terjadi."

__ADS_1


Jawaban Novia membuat Irwan terdiam, sikap waspada ternyata sangat tinggi bahkan kepada saudara iparnya sendiri.


Setelah berbincang sesaat dengan istrinya, Irwan masuk ke kamar untuk membersihkan diri dan beristirahat.


Sedangkan Novia, memilih bergabung bersama ketiga anaknya yang sedang menonton televisi di ruang keluarga.


Satu minggu kemudian ....


Novia menunggu Romi memenuhi janjinya. Tapi, sampai sore orang yang dia tunggu tak juga muncul.


Novia mulai gelisah, segala macam pertanyaan terlintas di benak wanita itu, serta kecurigaan muncul memenuhi isi kepalanya.


"Romi, jangan main-main denganku. Kamu belum mengenal sifat asliku seperti apa!" gumam Novia


Sampai Irwan pulang kerja dan tiba di rumah, Romi belum menampakkan batang hidungnya. Novia tak mau beranjak sedikit pun dari tempatnya dan masih menunggu kemunculan Romi.


Ketika Irwan masuk, Novia menahannya di pintu dan menanyakan perihal Romi pada suaminya.


"Wan, kemana adikmu? Bukankah hari ini janjinya akan mengembalikan motorku," tanya Novia kesal


"Astagaa Romi, kamu benar-benar membuatku dalam masalah kalau begini," gumam Irwan dalam hati


"Irwan! apa kamu tidak mendengar pertanyaanku!? Suara Novia meninggi.


"Eeh, eem iiiya, aku mendengarnya." Irwan tergagap karena bingung harus menjawab apa.


"Sialaan kamu Romi! menyusahkan saja kelakuanmu!" umpat Irwan dalam hati.


"Tenang Vi, sehabis mandi aku akan ke rumah mama dan mencari Romi," ucap Irwan berusaha menenangkan istrinya.


Novia tak lagi menyahuti perkataan suaminya, wanita itu memutar tubuhnya kasar melewati Irwan yang berdiri mematung.


Setelah mandi, Irwan bergegas pergi menuju rumah ibunya dan mencari keberadaan adik lelakinya itu.


Sampai di rumah ibunya, tanpa mengucap salam Irwan langsung menyerbu ibunya dengan pertanyaan.


"Mana Romi? Kenapa belum mengembalikkan motor istriku!" bentak Irwan


Bu Mini panik, wajahnya seketika berubah dan terlihat bingung.


"Ada apa mah, apa yang mama sembunyikan?" tanya Irwan dengan wajah memerah.


"Duduk Wan, jangan emosi dulu. Biar mama jelaskan."


Irwan menautkan kedua alisnya, jawaban ibunya begitu ambigu dan tak bisa ditebak. Hal ini membuat Irwan semakin curiga jika ibunya sedang menyembunyikan sesuatu.


"Bilang padaku mah, apa yang sudah Romi lakukan sampai mama gelisah begitu?" cecar Irwan.

__ADS_1


Bu Mini gelagapan, kesalahan yang Romi lakukan benar-benar fatal dan bisa berdampak buruk pada Irwan nantinya.


__ADS_2