Fitnah Berbuah Karma

Fitnah Berbuah Karma
Butuh Sandaran


__ADS_3

Part 102


Irwan membawa anak dan istrinya menikmati senja di pinggir pantai, tempat yang selalu ingin Novia kunjungi dan akhirnya bisa terwujud.


"Kamu senang aku ajak kesini?" tanya Irwan ketika mereka duduk di bangku menghadap ke arah pantai.


"Hmm," sahut Novia


"Tidak ada komentar lain selain hmm?"


"Aku suka, setelah bertahun-tahun akhirnya bisa kesini lagi," jawab Novia datar


Menjelang maghrib mereka memutuskan untuk pulang, selama dalam perjalanan Novia hanya diam sedangkan Irwan tetap fokus pada kemudi namun, sesekali dia melirik istrinya.


"Vi, kita beli makanan dibawa pulang," ucap Irwan dan menepikan mobilnya di depan sebuah rumah makan.


"Terserah," jawab Novia


Irwan turun dari mobil lalu masuk ke dalam warung, tak lama kemudian dia kembali membawa bungkusan berisi makanan yang dibelinya.


Irwan naik ke dalam mobil kemudian menyalakan mesin dan melaju di jalanan menuju rumah mereka.


Tiba di rumah, Novia mengambil bungkusan makanan yang dibeli suaminya. Kemudian menyuguhkan pada suami dan ketiga anaknya.


"Kamu tidak makan?" tanya Irwan mengerutkan keningnya


"Nanti saja, aku belum lapar."


Novia duduk menemani anak dan suaminya makan, sesekali dia menyuapi Emir anak bungsunya.


Setelah makan, mereka menghabiskan waktu di ruang keluarga sambil menonton. Tak ada yang tahu gejolak hati Novia saat ini yang dipendamnya sendiri.


"Ayo, Vi, kita masuk ke kamar. Anak-anak sudah ngantuk," ajak Irwan


"Millah tidur di kamar ina," celetuk Camillah saat mereka semua bersiap masuk ke dalam kamar.


Novia tertegun, Irwan menatap anak dan istrinya bergantian. Tapi, Irwan belum berkomentar apapun dan menunggu jawaban dari istrinya.

__ADS_1


Novia akhirnya berucap,"malam ini Millah tidur sama mama dulu ya, besok kita bersihkan kamar ina baru kamu tidur disana."


Camillah mengangguk dan menuruti ucapan ibunya, Novia membawa masuk ketiga anaknya sedangkan Irwan mengunci semua pintu dan jendela lalu memadamkan lampu.


Tengah malam, saat semua penghuni rumah sudah terlelap. Novia melangkah keluar dan berjalan masuk ke kamar ibunya.


Novia berdiri di depan ranjang, tangannya mengusap lembut kasur ibunya seolah-olah ibunya saat itu masih berbaring di atas ranjangnya.


"Mah, aku kesepian. Tak ada yang bisa memahami perasaanku aku rindu sama mama dan papa," ucapnya lirih


"Di tempat kerja aku seperti orang yang terbuang, anak-anak mama yang lain juga sudah sibuk dengan urusan mereka. Bisakah mama menemaniku sebentar untuk bercerita?"


Tanpa Novia sadari, Irwan sudah ada di belakangnya. Berdiri mematung dengan tatapan sendu melihat tingkah istrinya.


Novia masih saja mengoceh, membuat Irwan tak tahan lagi kemudian berkata,"Vi, kalau ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu bilang padaku."


Novia terperanjat kaget, suara Irwan mengusiknya.


"Sejak kapan kamu disini?" tanya Novia dengan nada tak suka.


"Sejak kamu mengajak bantal dan kasur bicara, bahkan karena asyiknya kamu tidak menyadari kehadiranku," balas Irwan.


"Vi, jangan seperti ini. Kendalikan pikiranmu," bujuk Irwan


Novia diam dalam dekapan suaminya, jarang sekali adegan seperti ini mereka lakukan hingga untuk sekian detik Novia begitu menikmatinya.


"Kamu sudah merasa lebih tenang, hmm? Kita kembali ke kamar," ajak Irwan sambil membalik tubuh Novia menghadap kepadanya.


Irwan lalu merangkul istrinya, keduanya keluar dari kamar mertuanya dan masuk kembali ke kamar mereka.


Irwan menarik tubuh istrinya dalam pelukannya, membelai lembut rambut Novia hingga akhirnya bisa terlelap dalam dekapannya.


Novia ternyata hanya butuh pelukan dan bahu untuk bersandar, hatinya begitu terguncang ditinggal kedua orang tuanya hanya dalam waktu dua tahun.


Keesokan paginya, Novia bangun dan membersihkan diri kemudian keluar kamar menuju dapur untuk menyiapkan sarapan dan bekal untuk anak-anaknya.


Aktifitas rutin yang Novia lakukan setiap hari. Tapi, sejak kematian ibunya suasana rumah menjadi semakin berbeda, tak ada lagi makanan kesukaan orang tuanya yang dia suguhkan setiap pagi.

__ADS_1


Setelah sarapan dan bekal siap, Novia kembali ke kamar membangunkan ketiga anaknya dan menyuruh mereka mandi lalu memakaikan seragam untuk Diba dan Emir.


Irwan mendapat giliran yang paling akhir, karena harus bergantian dengan ketiga anaknya untuk mandi.


"Kalau sudah selesai semuanya, mama tunggu di meja makan," ucap Novia sambil berlalu menuju dapur.


Selesai berpakaian, Irwan menyusul anak dan istrinya ke dapur untuk sarapan. Seperti biasa dia mendapat tugas mengantar dua anaknya yang kecil ke sekolah giliran Novia nanti yang akan menjemput mereka.


Mereka semua sudah meninggalkan rumah, melakukan aktifitas masing-masing dan akan berkumpul kembali siang hari. Sedangkan Irwan pulang sore bahkan terkadang malam hari baru dia bisa bersama keluarganya.


Sampai di sekolah, Novia langsung menuju ke kelasnya. Ruang kelas menjadi tempat ternyaman buatnya ketika berada di sekolah.


Novia lebih banyak menghabiskan waktunya di kelas, semua itu demi menghindar dari Diana yang semakin hari semakin menunjukkan kebenciannya pada Novia


Parahnya lagi, teman-teman Novia yang lain sepertinya sudah termakan hasutan Diana dan mulai menjauhi Novia. Hanya Putra satu-satunya yang masih bertahan dan tetap bersikap baik padanya.


Hal ini tentu saja membuat Novia menjadi kehilangan kepercayaan diri, ditambah lagi sejak kedatangan Wahida, Novia benar-benar usah tersingkirkan.


"Vi, bulannya Wahida itu dulu sahabat dekatmu? Kenapa sekarang jadi ikut-ikutan Diana?" tanya Putra saat menemani Novia di kelasnya.


"Aku juga tidak tahu kenapa, yang pasti aku tidak pernah membenci mereka," jawab Novia


"Aneh juga persahabatan kalian, awalnya baik ujung-ujungnya saling membenci satu sama lain," ujar Putra lagi.


"Putra, sekarang kamulah satu-satunya sahabatku yang paling baik. Kuharap kamu tidak berubah dan tetap seperti ini."


Mata Novia berkaca-kaca, ternyata waktu bisa merubah perasaan seseorang bahkan terhadap sahabat sendiri.


"Sudahlah Vi, lebih baik kita fokus kerja. Kalau sudah tiba waktunya pulang ya kita pulang dan tinggalkan sekolah," ucap Putra memberi semangat pada Novia.


Bel pulang berbunyi, Novia membereskan kembali kelasnya. Adiba dan Emir sekarang ada bersama Novia, setiap hari dia menjemput anaknya dan membawanya ikut bersamanya.


Novia sudah selesai membereskan kelas dan bersiap untuk pulang, tiba-tiba Putra muncul lagi di depan pintu memanggilnya.


"Vi, kita dipanggil ke ruang guru. Katanya ada rapat mendadak," ucap Putra.


"Iya, kamu duluan saja, nanti aku mneyusul kesana," balas Novia sembari memasukkan barang-barang ke dalam tasnya.

__ADS_1


"Millah, temani adik-adikmu main di parkiran, mama mau ke ruang guru dulu sebentar."


Camillah mengangguk dan mengajak kedua adiknya berjalan menuju parkiran di depan gedung, letak parkiran tepat di depan ruang guru jadi, Novia bisa melihat anaknya dari kaca jendela.


__ADS_2