
Part 90
Tiba di rumah sakit, Bu Ratih melakukan pemeriksaan menyeluruh dari rekam jantung dan pengambilan sampel darah bahkan ditangani langsung oleh Dokter Spesialis.
Jantung Novia berdebar menunggu hasilnya, Irwan melirik istrinya yang berdiri sambil memainkan jarinya.
"Duduk Vi, kalau kamu gelisah, anak-anak juga ikut gelisah," ujar Irwan
Novia berbalik lalu berjalan mendekat ke tempat suami dan ketiga anaknya duduk, kemudian dia duduk menuturuti ucapan suaminya.
"Aku khawatir Wan, sudah hampir satu jam mama di dalam."
"Sabar, mama ditangani dokter handal mereka tidak mungkin gegabah melakukan tugasnya kita tunggu saja di sini," balas Irwan agar Novia sedikit tenang.
Sepuluh menit kemudian, seorang dokter keluar. Novia bergegas menghampirinya
"Bagaimana keadaan ibu saya dok?" tanya Novia
"Ibunya harus di rawat dulu, sebab hasil pemeriksaan beliau mengidap penyakit diabetes," jawab dokter tersebut.
"Penyebabnya apa dok?"
"Pola makan yang tidak sehat, bisa juga karena stres yang menyebabkan gula darah naik."
Dokter tersebut menjelaskan secara detail, Novia mendengarkan penjelasan dari dokter dengan seksama agar nantinya dia bisa paham cara mengurus dan merawat ibunya.
"Apa penyakitnya berbahaya dok?"
"Selagi gula darahnya normal, Insyaa Allah aman. Asalkan jaga pola makan dan selalu berpikir positif usahakan juga jangan sampai ibunya mengalami stres."
Novia mengangguk tanda mengerti.
"Terima kasih dok atas penjelasannya," ujar Novia sambil mengatupkan kedua tangannya.
"Iya, sama-sama. Mohon bersabar sebentar lagi beliau akan dipindahkan ke ruang perawatan."
Dokter tersebut berbalik lalu masuk kembali ke dalam ruangan, sedangkan Novia melangkah ke tempatnya semula di kursi ruang tunggu bersama anak dan suaminya.
"Wan, mama mengidap diabetes," ucap Novia
"Penyakit apa itu? Aku baru mendengarnya," sahut Irwan
"Kandungan gula dalam darah berlebih, akibat dari pola makan dan stres," jelas Novia
"Mungkin mama telalu banyak pikiran akhir-akhir ini." ujar Irwan
__ADS_1
"Bisa Jadi seperti itu, karena selama puluhan tahun mama hidup bergantung sama papa dan pastinya akan merasa sangat kehilangan."
"Hanya saja, mama begitu pandai menyimpan perasaannya dan berimbas pada kesehatan mama."
Saat pasangan suami istri itu sedang mengobrol, dua orang perawat keluar sambil mendorong Bu Ratih di kursi roda.
Novia setengah berlari menyambut ibunya, menyusul Irwan dan ketiga anaknya di belakang.
Sambil berjalan di samping kursi roda, Novia bertanya pada perawat yang mengantar ibunya.
"Ruangannya sesuai permintaan saya kan sus?"
"Iya, kebetulan masih ada yang kosong," jawab perawat tersebut.
Novia sengaja memesan ruang VIP agar keluarganya leluasa berkunjung dan ibunya merasa nyaman.
Bu Ratih sudah ada di dalam ruangannya, berbaring di atas ranjang. Novia meminta Irwan mengambil tas yang masih tertinggal di dalam mobil.
Ruang inap Bu Ratih cukup luas, tersedia sebuah kasur untuk penjaga dan juga sofa untuk pengunjung.
Novia memeriksa kondisi ruangan, mulai kamar mandi, kulkas, televisi, dan lemari pakaian mini di samping ranjang ibunya.
"Cukup bagus, fasilitasnya juga memadai," gumam Novia
Tak lama Irwan muncul membawa tas pakaian dan juga tas milik Novia, Novia meraih tas miliknya dari tangan Irwan kemudian memasukkan ke dalam lemari pakaian.
Untungnya mereka juga membawa karpet, sehingga anak-anak bisa duduk dengan nyaman sambil menonton televisi.
Novia menghampiri suaminya di sofa, wanita itu menyodorkan sebotol air mineral untuk suaminya. Irwan mengambil botol dari tangan istrinya kemudian meneguk sampai setengah air di dalam botol.
"Sudah malam, anak-anak belum makan." Novia melirik arloji di tangannya.
"Kalian tunggu di sini, aku keluar sebentar membeli makanan," ucap Irwan langsung beranjak dari tempat duduknya.
"Oh, ya, mama makan apa?"
"Sudah ada jatah dari rumah sakit," sahut Novia
Satu jam kemudian, Irwan muncul membawa lima bungkus makanan.
Saat mereka makan, Novia memgatakan pada Irwan kalau malam ini mereka bisa tidur di rumah sakit sebab kamar ibunya cukup untuk mereka berlima.
"Wan, malam ini kalian tidur di sini, besok pagi baru kalian pulang karena Millah harus sekolah," ucap Novia.
"Apa boleh kami tidur di sini? nanti ditegur sama pihak rumah sakit karena ada anak-anak," balas Irwan.
__ADS_1
"Hanya malam ini, aku akan meminta ijin pada petugas yang piket malam ini," jawab Novia
"Hmm, baiklah, asalkan kamu bisa mengatasinya." Irwan menyahuti ucapan Novia sambil mengunyah makanannya.
Selesai makan, Novia membereskan semua sampah bekas makanan kemudian keluar kamar menemui perawat untuk meminta ijin anak dan suaminya menginap di kamar ibunya.
"Permisi sus, boleh saya bicara?" sapa Novia
"Iya, ada yang bisa kami bantu bu?" sahut perawat.
"Saya ingin meminta ijin sus, bolehkah anak dan suamiku malam ini nginap di kamar ibu?"
"Maaf bu, aturan di sini tidak membolehkan anak kecil menginap." Perawat tersebut menolak permintaan Novia.
Novia diam sejenak, mencari cara membujuk perawat agar anak dan suaminya bisa menginap di kamar ibunya.
"Sus, rumah kami jauh dari sini, sekarang juga sudah larut malam. Hanya malam ini saja sus saya janji," bujuk Novia dengan wajah memelas.
"Baiklah bu, tapi saya minta besok pagi sebelum dokter datang mereka sudah harus pulang dan usahakan kamar dalam kondisi steril."
"Yess, Alhamdulillah." Novia bersorak dalam hati karena permintaannya dikabulkan.
"Terima kasih sus, saya janji sebelum dokter datang mereka sudah meninggalkan kamar," jawab Novia.
Wanita itu bergegas kembali ke kamar ibunya, mengabari suaminya bahwa permintaannya dipenuhi.
"Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Irwan saat melihat istrinya masuk dengan senyum sumringah.
"Permintaanku dikabulkan, perawatnya memberi ijin kalian menginap di sini malam ini."
"Tapi besok pagi, kalian sudah harus pulang," jawab Novia.
"Hmm, syukurlah. Malam ini aku bisa sedikit beristirahat." Irwan membaringkan tubuhnya di atas karpet.
Kedua anak Novia sudah tertidur di ranjang, sedangkan Camillah tertidur di samping Irwan.
Novia bangkit mendekati ranjang ibunya, memeriksa cairan infus memastikan cairannya bisa bertahan sampai pagi.
Malam ini Bu Ratih tertidur pulas, efek obat penenang yang di campurkan pada cairan infusnya membuat Bu Ratih bisa tidur dengan tenang tidak gelisah seperti malam-malam sebelumnya.
Novia kembali berbaring di atas karpet, pikiranya menerawang lalu teringat pada saudara-saudaranya.
"Oh, ya ampun, aku belum mengabari kak Riska dan kak Randi, besok aku minta Irwan mampir ke rumah mereka."
Karena terlalu sibuk, Novia melupakan saudara-saudaranya dan mengabari kalau ibu mereka sedang di rawat di rumah sakit.
__ADS_1
Keadaan memaksa Novia menjadi dewasa dari usianya, mengurus banyak hal bahkan mengambil alih peran kakak-kakaknya.
Lelah, itu yang Novia rasakan hingga dia tertidur sambil memeluk Camillah di sampingnya.