Fitnah Berbuah Karma

Fitnah Berbuah Karma
Love You Mom


__ADS_3

Part 99


"Bagaimana jika orang yang kusayangi ini lebih dicintai Allah? Haruskah aku meminta atau merebutnya kembali?"


Saat Novia berusaha berdialog dengan ibunya lewat sentuhan, setetes bulir bening menetes di pipi Bu Ratih. Meski raganya tak berdaya namun jiwanya bisa merasakan kehadiran Novia.


Seketika Novia membeku, begitu menyadari respon tubuh ibunya


"Mah, jangan sedih, aku janji tidak akan pergi meninggalkan mama sendirian. Mama harus kuat melewati ini," ucap Novia


"Kalau mama capek, tidur dan istirahatlah," sambungnya.


Novia merenung sembari mengusap lembut kepala ibunya, wanita tersebut lalu teringat sesuatu. Dalam tasnya ada Mushaf yang dibawanya dari rumah.


"Lebih baik aku ngaji, mungkin mama akan teang mendengarnya," ucap Novia


Novia beranjak dari kursi dan melangkah keluar untuk mengambil tas yang dia titipkan pada Randi, ketika di luar bersama Randi, Novia baru menyadari bahwa Riska sedari tadi tidak ada disitu.


"Kak, kak Riska kemana?" tanya Novia.


"Sejak Kakak disini, Riska belum datang," jawab Randi.


"Oh," sahut Novia singkat


"Oh, Iya, mana tasku kak? Di dalam ada Mushaf yang aku bawa dari rumah."


"Ini." Randi menyodorkan tas pada adiknya dan disambut oleh Novia.


"Aku masuk lagi kak, nanti kita gantian," ucap Novia dan berlalu masuk kembali ke dalam ruangan


Novia masuk lagi ke ruangan dan kembali ke posisinya semula, duduk di samping ibunya sambil membaca ayat-ayat suci Alquran hingga tak terasa air matanya menetes.


Novia menemukan kedamaian saat melantunkan doa-doa untuk kesembuhan ibunya, satu-satunya cara yang bisa dia lakukan saat ini.


Semalaman Novia tak dapat memejamkan mata, sampai terdengar suara adzan subuh baru dia beranjak lalu bersiap melakukan ibadah.


Novia keluar, membangunkan Randi yang tidur di kursi tunggu depan ruang ICU dan memintanya masuk menemani ibunya.


"Kak, bangun, aku mau ke mushollah. Kakak masuk dulu temani mama di dalam," ujar Novia


Randi terbangun, mengucek matanya dan mengumpulkan kesadaran. Kemudian dia masuk ke dalam ruangan ibunya di rawat.


Selesai shalat, Novia berjalan di sekitar rumah sakit mencari penjual makanan untuk sarapan.


Setelah mendapatkan apa yang dia cari, Novia kembali ke ruangan ibunya dan menyuruh kakaknya sarapan.


"Vi, dari semalam kamu belum tidur, sebaiknya kamu pulang dan istirahat di rumah biar kakak di sini menemani mama. Riska juga sebentar lagi akan datang," ujar Randi saat keduanya sedang menikmati makanan.


"Iya, pagi ini aku pulang dulu, siang aku kesini lagi gantian sama kakak," balas Novia.


Novia segera menghabiskan makanannya, kemudian masuk untuk berpamitan pada ibunya.

__ADS_1


Meskipun Bu Ratih belum sadarkan diri, Novia selalu saja mengajak ibunya berkomunikasi.


"Mah, pagi ini aku mau pulang untuk mengurus anak-anak di rumah, siang aku kesini lagi," ucap Novia sembari mengelus kaki ibunya.


Novia merasakan pergerakan kecil, sejenak dia tertegun dan mengamati dengan seksama tubuh ibunya lalu sedetik kemudian senyum Novia mengembang ketika tahu ibunya mulai bangun dari komanya.


"Mah, mama bisa mendengarku?" ucap Novia penuh semangat


Bu Ratih perlahan membuka matanya dan berucap,"mama ada dimana?"


"Alhamdulillah!" sorak Novia.


"Mama di rumah sakit, dua hari mama tidak sadarkan diri,"


Novia bergegas menemui suster penjaga, memberitahu keadaan ibunya yang telah sadar.


"Sus, ibuku sudah sadar dari koma!" serunya


"Apa iya, bu?" tanya perawat meyakinkan


"Iya, baru saja. Ayo, sus lihat ibuku," ucap Novia sambil berjalan cepat menuju ranjang ibunya


"Oh, iya, kak Randi!"


Novia bergegas lagi keluar, dengan tergesa-gesa Novia membuka pintu ruangan dan berjalan cepat menghampiri kakaknya


"Kak, mama sudah siuman!" serunya


"Alhamdulillah," ucap Randi langsung berdiri menyambut adiknya


"Ayo, kak, kita masuk ke dalam!"


Novia menarik tangan kakaknya masuk, keduanya segera mendekat pada ibunya yang sedang menjalani pemeriksaan


"Bagaimana sus?" Irwan bertanya pada perawat yang sedang menangani ibunya


"Syukurlah, beliau sudah melewati masa kritis dan untuk sementara masih dalam pantauan kami," jawab perawat


Satu jam kemudian, Novia berpamitan pada ibunya untuk pulang karena ada tanggung jawab lain yang juga harus dia kerjakan.


"Mah, aku pulang dulu ya, siang aku datang lagi mama baik-baik di sini ada kak Randi yang akan menemani mama," pamitnya dan diangguki Bu Ratih.


Seharian ini, Novia begitu kelelahan karena beberapa kali datang ke rumah sakit dan balik lagi ke rumah.


Riska sudah ada di rumah sakit, menggantikan Randi yang juga harus pulang untuk beristirahat.


"Vi, kamu pulang saja, biar kakak di sini menunggu kak Randi datang," ujar Riska


"Tapi kak ...."


Riska langsung memotong ucapan Novia dan dengan tegas berkata,"matamu sudah nampak sayu, kamu harus istirahat jangan membantah!"

__ADS_1


Novia akhirnya pasrah dan menuruti perintah kakaknya, malam ini dia harus balik ke rumah dan beristirahat.


Hampir jam sepuluh malam Novia tiba di rumah, anak-anaknya sudah terlelap hanya Irwan yang masih terjaga dan duduk di teras menikmati rokok serta secangkir kopi.


Novia datang menghampiri suaminya, duduk lalu bersandar di kursi kosong sebelah Irwan.


"Sudah larut begini, kamu masih nekad pulang Vi."


"Kak Riska yang menyuruhku, katanya mataku sudah nampak sayu dan lelah, apa iya?" Novia menoleh pada Irwan menunjukkan wajahnya


"Iya, benar kata kak Riska, matamu sudah sayu wajahmu juga terlihat pucat karena kurang tidur."


Irwan membenarkan ucapan saudara iparnya, wajah Novia memang sudah terlihat pucat dan tampak lelah sehingga harus beristirahat.


Keduanya masuk, Irwan mengunci pintu dan jendela lalu menyusul istrinya ke dalam kamar.


Novia membersihkan diri, mengganti bajunya kemudian berbaring di atas ranjang. Baru saja dia akan memejamkan mata pintu depan di ketuk dengan keras.


Novia dan Irwan terperanjat, keduanya saling pandang hingga mendengar ketukan berikutnya barulah Irwan bangkit.


"Siapa yang datang malam-malam begini?" sungut Irwan sambil berjalan keluar.


Saat membuka pintu Irwan terkejut melihat Randi berdiri di depannya, lelaki tersebut mengarahkan pandangannya ke dalam rumah seolah mencari sesuatu.


"Mana Novia?"


"Di kamar kak, ada apa?" Irwan bertanya balik


"Ayo, kita ke rumah sakit sekarang mama kritis lagi!"


Tanpa menunggu lama Irwan bergegas masuk ke dalam kamar, Novia yang penasaran langsung menghampiri suaminya


"Siapa di luar?"


"Sudah, jangan banyak bertanya Vi, kita ke rumah sakit," ujar Irwan yang langsung menggendong Adiba.


"Kenapa Wan? Jangan membuatku panik!" seru Novia masih dengan kebingungannya


"Bangunkan Camillah dan gendong Emir, nanti aku cerita di mobil."


Dengan sigap Irwan membawa putrinya masuk ke dalam mobil, kemudian mengambil Emir dari gendongan Novia lalu menidurkannya pula di dekat Adiba.


"Naik Vi, aku akan mengunci pintu rumah."


Novia naik ke dalam mobi, sesaat kemudian barulah dia menyadari situasi yang sedang terjadi.


"Astaghfirullah mamaah," gumamnya sembari menutup mulutnya dengan tangan yang bergetar.


Irwan naik ke dalam mobil, duduk di belakang kemudia lalu menyalakan mesin. Mobilpun melesat kencang memecah jalanan menuju rumah sakit.


*** Happy Mother's Day ***

__ADS_1


Selamat Hari Ibu, untuk Ibu-ibu hebat di seluruh dunia. Semoga tetap menjadi inspirasi dan cahaya kebaikan untuk sesama.


Tetaplah menjadi Hebat🥰🥰


__ADS_2