
Part 83
Genap seminggu Irwan di rumah ibunya, ada keinginan untuk pulang dan kembali bersama istri dan anak-anaknya tapi dia masih ragu apakah Novia akan menerimanya kembali?
Saat duduk termenung, tiba-tiba muncul ide di kepalanya.
"Ah iya, papa tua solusinya aku akan memintanya mengantarku pulang."
Irwan bergegas bangkit, berjalan keluar melewati ibunya yang sedang nonton.
"Mau kemana kamu?" tanya Bu Mini
"Ke rumah papa tua, ada urusan penting," jawabnya singkat kemudian berlalu pergi.
"Hmm apa lagi yang akan dilakukan anak itu?" gumam Bu Mini sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sepuluh menit kemudian Irwan sudah sampai di rumah kakeknya, seperti biasa orang tua tersebut pasti bisa menebak cucunya pasti dalam masalah makanya datang berkunjung.
Irwan menghampiri kakeknya ....
"Pasti kamu ada masalah makanya datang kesini," sapa sang kakek.
Irwan hanya cengengesan sambil menggaruk tengkuknya tang tidak gatal, kemudian dia merangkul kakeknya.
"Hehe ..., papa tua memang ahli," pujinya sambil terkekeh.
"Hmm kebiasaanmu belum hilang juga, kenapa lagi?" tanya sang kakek.
"Aku lagi ada masalah dengan istriku, tolong antar aku pulang," ucap Irwan tanpa basa-basi.
"Kelakuanmu tidak pernah berubah, masalahnya apa? papa tua harus tahu dulu."
Ragu-ragu Irwan mengatakan, tapi dia harus menceritakan masalahnya sebab kakeknya pasti menolak jika dia menyembunyikannya.
"Kami bertengkar, temanku mengadukan pada Novia perbuatanku selama di luar rumah," jawab Irwan.
"Wan, sebenarnya papa tua malu pada orang tua Novia. Mereka itu orang baik bahkan dulunya hubungan kami bisa dibilang dekat."
Kakek Irwan mengenang masa lalunya, hubungannya dengan orang tua Novia memang akrab namun, setelah Irwan menikahi Novia dan perilaku anaknya Mini pada Novia membuatnya menjadi canggung pada Pak Wahyu dan istrinya.
Orang tua itu diam dan berpikir sejenak, banyak pertimbangan yang muncul demi menjaga hubungan baik kedua keluarga dia harus mengubur rasa malunya.
"Baiklah, papa tua akan mengantarmu kembali ke rumah mertuamu. Tapi, kamu harus berjanji dulu," ucapnya.
Mata Irwan langsung berbinar, senyumnya mengembang dan langsung memeluk tubuh kakeknya.
"Berjanjilah, kamu tidak akan mempermalukan keluarga dan jangan membuat ulah lagi sebab ini terakhir kali papa tua membantumu!" ucapan sang kakek tegas memberi peringatan.
"Iya, aku janji," sahut Irwan.
"Ya, sudah, kamu tunggu disini papa tua mau mandi dulu."
Irwan mengangguk, ternyata bukan hal yang sulit membujuk kakeknya dan akhirnya dia bisa kembali bertemu istrinya.
Hati Irwan bersorak, wajahnya tak bisa menyembunyikan kegembiraannya.
__ADS_1
Tak lama sang kakek muncul, menghampiri Irwan dan mengajaknya pergi.
"Ayo, kita berangkat sekarang, pakaianmu ada di mana?"
"Aku tidak membawa pakaian, selama ini aku hanya memakai baju Romi," balas Irwan.
"Mamamu sudah tahu rencanamu? apa tanggapan mamamu selama ini?" tanya si kakek beruntun
"Mama belum tahu rencanaku, sepertinya juga tidak mau tahu. Selama ini mama tidak pernah peduli apapun yang akan terjadi dengan rumah tanggaku," jawab Irwan.
"Hmmm ..., baiklah kita langsung saja kesana."
Keduanya naik ke dalam mobil, Irwan menyalakan mesin dan mobilpun bergerak menuju rumah Pak Wahyu.
Saat mobil sudah mendekat, hati Irwan berdebar kencang terbayang kejadian saat Novia menolaknya.
"Semoga Novia mau menerimaku kembali dan memaafkanku," batinnya.
Irwan menghentikan mobilnya di depan pintu gerbang, sebelum turun Irwan menarik napas dalam-dalam untuk menguatkan dirinya.
"Berdoalah sebanyak mungkin, semoga mertuamu masih mau menerimamu." ucap si kakek.
"Astagaa, tua jangan bicara seperti itu bikin nyaliku ciut," balas Irwan kesal.
Si kakek hanya tersenyum mengejek, sengaja membuat cucunya kesal dengan candaannya.
Keduanya turun dari mobil lalu melangkah menuju rumah, suasana tampak sepi karena penghuni rumah sedang berada di kebun belakang.
Irwan memberanikan diri mengetuk pintu, tangannya bergetar menahan rasa gugup.
"Eh ada tamu, silahkan masuk," sapanya lalu mempersilahkan menantunya masuk.
Irwan tersenyum kikuk, dua orang itu pun melangkah masuk.
"Silahkan duduk."
"Mereka ada di belakang, sebentar saya panggil dulu." Bu Ratih berjalan masuk untuk memanggil suami dan anaknya.
"Mau apa lagi datang kesini, hanya membuat luka batin untuk Novia," umpatnya dalam hati.
Sampai di depan suaminya, Bu Ratih hanya diam dan berdiri enggan mengatakan siapa yang datang
"Siapa di luar mah?" tanya Pak Wahyu karena istrinya tak kunjung berbicara.
"Eh, anu, Irwan dan kakeknya," jawabnya
Novia Menoleh dan menatap ibunya, belum yakin dengan ucapan ibunya.
"Iya, ada Irwan dan kakeknya di luar," ujar Bu Ratih mengulangi kata-katanya tadi.
Novia bergegas bangkit dan hendak melangkah, tapi ditahan oleh ayahnya.
"Mau kemana Vi?"
"Ke rumah kak Riska."
__ADS_1
"Tetap disini, temui mereka dan jangan lari dari masalah kami akan mendampingimu," ucap Pak Wahyu.
Novia mengurungkan langkahnya, tatapannya beralih pada ketiga anaknya yang sedang asyik bermain.
"Ayo, kita keluar sekarang. Tidak baik membuat tamu menunggu lama," ucap Pak Wahyu lalu melangkah keluar disusul Bu Ratihdi belakangnya.
Novia tak bergeming, masih tetap berdiri ditempatnya Bu Ratih menengok ke belakang lalu memanggil Novia.
"Ayo sini, masuk jangan berdiri di situ," panggil Bu Ratih.
Dengan langkah berat Novia menuruti ajakan orang tuanya, seandainya saja lebih dulu dia tahu kedatangan Irwan dia sudah bersembunyi.
Mereka sudah ada di ruang tamu, Irwan menatap sendu ketiga anaknya yang memeluk Novia.
Rasa sedih menyeruak dalam batin Irwan, ingin rasanya berlari menghambur memeluk anak dan istrinya. Tapi sebisa mungkin dia menahannya karena sadar pada situasi yang canggung saat itu.
Pak Wahyu duduk pada salah satu kursi yang kosong di depan kakek Irwan, sedangkan Novia dan ibunya duduk di kursi panjang dekat dengan ayahnya.
Sebelum mulai menyapa, Pak Wahyu menarik napasnya untuk menenangkan diri.
Hening ....
"Apa kabar pak? lama baru jumpa," sapa Pak Wahyu
"Alhamdulillah baik, seperti yang Pak Wahyu lihat sekarang," balas kakek Irwan dengan tenang.
"Sebelum Pak Wahyu bertanya, saya akan menyampaikan maksud kedatangan saya kesini," ucap sang kakek
Pak Wahyu tersenyum dan mengangguk
"Saya kesini mengantarkan cucu saya Irwan, sekaligus mewakili keluarga untuk menyampaikan permintaan maaf," lanjutnya
Pak Wahyu dan istrinya masih menyimak, memberi kesempatan pada kakek Irwan berbicara.
Selama pembicaraan berlangsung, Novia hanya menyibukkan diri menanggapi ocehan-ocehan anaknya Sesekali Irwan melirik kearah istri dan anaknya namun, enggan untuk menyapa
"Baiklah, kami sudah mendengar tujuan bapak kesini. Semuanya kami serahkan pada Novia sebab dia yang akan menjalani," ucap Pak Wahyu bijak
"Meskipun sebagai orang tua, kami sangant kecewa dengan sikap Irwan yang seakan lari dari tanggung jawab," sambung Pak Wahyu
"Iya, itu sebabnya saya datang mengantar Irwan kesini sekaligus ingin menasihati dia di depan bapak dan ibu juga istrinya," balas si kakek
Sang kakek berbalik menatap Irwan, rasa malu yang tertoreh akibat perbuatan cucunya tak bisa dia tahan.
"Wan, kamu dengar sendiri kan? mertuamu kecewa padamu dan kamu sudah membuat malu keluarga."
"Sebagai orang tua, pasti menginginkan kebahagiaan untuk anaknya dan kamu sudah menyakiti anak dan istrimu," ucap sang kakek lagi.
Irwan menunduk dan memainkan jarinya, tak da kata-kata yang bisa dia ucapkan hanya berharap Novia mau menerimanya kembali.
Giliran Pak Wahyu yang menatap anaknya dan bertanya pada Novia.
"Vi, sekarang kami serahkan padamu untuk memutuskan," ucap Pak Wahyu
Novia masih diam seribu bahasa ....
__ADS_1