Fitnah Berbuah Karma

Fitnah Berbuah Karma
Hutang Bu Mini


__ADS_3

Part 67


Malam ini keluarga pak Wahyu berkumpul di ruang keluarga, aktifitas mereka setelah makan malam menghabiskan waktu menonton televisi sambil berbincang.


" Mah, pah, tadi pagi kami sudah membayar mobil neneknya Millah dan sekarang mobil itu sudah menjadi milik kami." Novia memulai perbincangan dan membahas mengenai mobil.


" Alhamdulillah, kami senang mendengarnya dan mama dan papa berharap kalian bisa memanfaatkan sebaik-baiknya," ucap bu Ratih dan pak Wahyu hanya tersenyum tipis.


" Iya mah, sekarang Irwan bisa fokus mengurus mobil itu dan bisa menabung dari penghasilannya," jawab Novia.


Novia sengaja merahasiakan keadaan yang sebenarnya tentang mobil tersebut yang masih di bayar setengah karena ibu mertuanya belum melunasi tunggakan hutangnya.


Mereka mengakhiri perbincangan lalu masuk ke kamar masing-masing, Novia membaringkan tubuh di samping anak-anaknya melepas lelah hingga akhirnya ikut terlelap.


Pagi hari, Irwan dan istrinya kembali beraktifitas seprti biasa, Novia berangkat ke sekolah dan Irwan bekerja mencari penumpang sesuai profesinya sebagai seorang sopir.


Sebelum melanjutkan perjalanan, Irwan mampir ke rumah ibunya, saat tiba di rumah dia mendapati ibunya berpakaian rapi berbeda dari biasanya. Kening Irwan berkerut heran melihat penampilan ibunya.


" Mama mau kemana pagi begini sudah rapi?" tanya Irwan.


" Wan, tolong antar mama ke alamat ini." Bu Ratih menyodorkan secarik kertas bertuliskan alamat tujuan ibunya.


Irwan mengambil kertas dari tangan ibunya, dia membacanya sekilas lalu memasukkan ke dalam saku celananya.


Irwan mengajak ibunya, "ayo ma aku antar sekarang." Kemudian dia melangkah keluar menuju mobil disusul Bu Mini berjalan di belakangnya.


Mereka naik ke dalam mobil, Bu Mini duduk di samping Irwan yang mengemudikan mobil. Selama perjalanan keduanya hanya diam, Irwan fokus dengan kemudinya sedangkan Bu Mini asyik dengan pikirannya sendiri.


"Mah, kita hampir sampai aku tunggu di parkiran," ucap Irwan.


"Kamu harus ikut ke dalam temani mama," pinta Bu Mini.


"Ya, sudah aku ikut mama masuk." Irwanpun mengarahkan mobilnya ke area parkiran gedung lalu berhenti kemudian mereka turun.


Irwan mengikuti langkah ibunya masuk ke dalam gedung, di depan pintu mereka di sambut seorang penjaga yang menyapa, "ada yang bisa saya bantu bu ?" Bu Mini menyebutkan nama orang yang akan mereka temui.


"Silahkan masuk bu, orang ada di dalam ruangan itu," tunjuknya pada salah satu ruangan.


"Terima kasih, kami permisi," sahut Bu Mini kemudian berlalu pergi bersama Irwan yang terus setia mengikuti ibunya dari belakang.

__ADS_1


Tiba di depan pintu Bu Mini berhenti lalu menoleh pada Irwan di belakangnya, Irwan mengangguk kemudian Bu Mini mengetuk pintu ruangan tersebut.


Tok ... Tok ... Tok


"Ya, silahkan masuk!" sahut seseorang dari dalam.


Irwan membuka pintu, tampak seorang pria duduk di balik meja yang mendongakkan kepala. Pria itu tersenyum saat melihat Bu Mini berdiri di pintu.


"Oh, silahkan masuk bu."


Bu Mini dan Irwan masuk dan berdiri menghadap meja, "silahkan duduk," ucap pria tersebut. Irwan menarik kursi untuk ibunya kemudian diapun duduk di kursi kosong sebelah ibunya.


"Selamat pagi bu, ada yang bisa saya bantu?" tanya pria itu memulai perbincangan mereka.


"Selamat pagi juga, saya ke sini mau membayar tunggakan sekalian melunasi sisa hutang saya," jawab Bu Mini.


"Oh, ya, tunggu sebentar bu saya akan menghitungnya dulu boleh saya minta kartu identitasnya bu?"


Bu Mini merogoh tasnya, lalu mengambil kartu dari dalam dompet dan menyerahkannya, pria itu mengambil kartu yang di serahkan Bu Mini kemudian dia menghitung total jumlah hutang Bu Mini.


"Total keseluruhan tunggakan dan sisa yang di lunasi Rp. 13.000.000.00,- bu," ujarnya. Mata Bu Mini membelalak terkejut mendengar jumlah hutang yang harus dia lunasi.


"Ibu kan sudah menunggak tujuh bulan, dan itu sudah terhitung dengan bunga dan pelunasan." Pria tersebut menjelaskan kembali pada bu Mini dan menunjukkan bukti dari layar komputer di depannya.


Irwan menepuk lembut tangan ibunya, "sudahlah mah, uang yang mama bawa kan lebih dari itu sebaiknya lunasi saja."


"Tapi kan mama juga punya kebutuhan lain Wan, kalau jumlahnya sebanyak itu mana cukup untuk mama?" bisiknya.


"Mah, sisa uang mama masih Novia simpan bisa mama pakai nanti untuk kebutuhan lainnya," balas Irwan sambil berbisik.


Bu Ratih mengeluarkan uang dari tasnya lalu menghitung kemudian menyerahkan uang tersebut pada pria di depannya sesuai jumlah pelunasannya.


"Saya akan melunasi hutang itu," ucap Bu Mini.


"Baiklah, kami akan mengurus administrasinya ibu tunggu di sini sebentar." Pria itu beranjak dari kursinya lalu keluar sambil membawa uang menemui pegawai yang lain untuk meminta bantuan.


Berapa menit kemudian, pria itu masuk kembali membawa lembaran kertas berisi bukti-bukti catatan pelunasan hutang Bu Mini.


"Tolong ibu tanda tangan di sini," pintanya pada Bu Mini.

__ADS_1


Setelah menanda tangani kertas tersebut, Bu Mini menyodorkan kembali kertas pada pria di depannya.


"Baiklah, hutang ibu sudah lunas terima kasih atas kerja samanya," ucap pria itu sambil tersenyum.


Bu Mini balas tersenyum, "Iya, sama-sama pak, kalau begitu kami permisi."


Bu Mini dan Irwan bangkit, kemudian menyalami pria itu lalu mereka keluar dan berjalan ke area parkiran. Keduanya naik ke dalam mobil meninggalkan gedung tersebut dan kembali ke rumah.


Sepanjang perjalanan pulang, Bu Mini terus saja tersenyum sebab satu masalah sudah terselesaikan dan tinggal menunggu sisa uang dari menantunya.


Melihat ibunya menampakkan senyum, hati Irwan ikut bahagia ada kebanggaan terselip dalam hati karena bisa membuat ibunya kembali tersenyum.


Sampai di rumah, Irwan menghentikan mobilnya. Sebelum turun Bu Mini menoleh pada Irwan, "kamu tidak mau turun dulu?


"Tidak mah, aku mau langsung jalan masih ada waktu berapa jam lagi untuk kerja," balasnya


"Ya, sudah hati-hati."


"Nanti malam kami akan datang melunasi sisa uangnya," sahut Irwan sebelum ibunya berjalan masuk. Bu Mini hanya mengangguk lalu berbalik meninggalkan Irwan.


Irwan menatap punggung ibunya yang berjalan sampai menghilang di balik pintu, barulah dia meyalakan mesin mobil dan berlalu memacu mobil meninggalkan rumah ibunya.


Sore hari, Irwan pulang ke rumah karena rencananya dia akan mengajak istrinya ke rumah ibunya untuk menyerahkan sisa uang pembayaran mobil.


Melihat mobil suaminya masuk, Novia berdiri dan menyambut suaminya. Irwan turun menghampiri istrinya.


"Vi, sebentar malam kita ke rumah mama," ucapnya sambil berjalan masuk dan Novia mengikuti langkah suaminya.


Mereka masuk ke dalam kamar, Irwan melepas baju kaos yang menempel di tubuhnya kemudian memasukkan ke dalam keranjang pakaian kotor.


"Memangnya mama sudah melunasi tunggakan di lising?" tanya Novia.


"Iya, tadi pagi aku antar mama dan sudah melunasi hutang di sana," sahut Irwan sembari naik ke atas ranjang berbaring di sebelah Emir yang terlelap.


"Diba dan Millah mana tidak kelihatan?" tanya Irwan saat menyadari dua anak perempuannya tidak ada di kamar.


"Di belakang sama mama dan papa, sebentar lagi pasti masuk ke sini," balas Novia.


Mereka berbincang banyak hal, mungkin karena lelah akhirnya Irwan tertidur. Menyadari suaminya sudah terlelap Novia memutuskan untuk mandi.

__ADS_1


__ADS_2