
Part 79
Sudah dua hari Novia tidak masuk kerja, Irwan sampai bingung karena Novia terus saja mendiamkannya dan akhirnya dia bertanya pada istrinya.
"Vi, ada apa denganmu? kalau ada masalah sebaiknya katakan jangan diam dan membuatku bingung."
"Tanya pada dirimu sendiri, jangan bertanya pada orang lain," jawab Novia ketus
"Sumpah, aku tidak mengerti apa maksudmu," balas Irwan
"Lebih baik kamu berangkat sekarang, jangan merusak suasana hatiku." Novia beranjak dan hendak melangkah pergi namun, Irwan mencekal tangannya.
"Jangan pergi, jawab dulu pertanyaanku," ucap Irwan sambil memegang kuat tangan istrinya.
Novia meronta dan menatap tajam wajah Irwan, "lepaskan tanganku."
Irwan melepaskan tangan istrinya, hatinya sedikit ciut ketika melihat tatapan Novia yang berbeda dari biasanya.
"Baiklah, kumohon katakan padaku apa yang membuatmu marah? aku bukan cenayang yang bisa menebak isi hatimu," ujar Irwan lembut membujuk istrinya.
"Kamu yang lebih tahu apa yang kamu lakukan di luar sana, jangan bertanya padaku."
Irwan mulai paham, sepertinya Novia mmengetahui sesuatu kemudian dia mendekat pada istrinya.
"Vi, jangan dengar perkataan orang di luar, bisa saja mereka iri melihatmu,"
"Aku tidak pernah melakukan hal-hal yang aneh di luar sana, percayalah Vi."
Ingin rasanya Novia menjerit, muak mendengar bujuk rayu suaminya yang penuh kebohongan.
Irwan meraih tangan Novia, tapi dengan cepat Novia menepisnya.
"Jangan menyentuhku!!"
Irwan meremas rambutnya dengan kasar, kecewa dengan penolakan Novia lalu dia mundur selangkah.
"Novia, apa yang harus aku lakukan? kamu sudah membuatku emosi dan memancing kesabaranku!" bentak Irwan.
"kamu yang membuatku kehilangan kesabaran!"
Novia tak mau kalah, balas membentak dan menunjuk wajah suaminya.
"Aku sudah berkata jujur padamu Novia, terserah kamu percaya atau tidak itu urusanmu!"
Irwan berbalik lalu meninggalkan Novia di dalam kamar, wajahnya merah padam menahan emosi.
"Dasar pembohong!! lihat saja nanti akan kubongkar semua kelakuanmu," umpat Novia
Terdengar suara mobil Irwan menjauh, Novia terduduk di lantai kamarnya dengan lesu. Tubuhnya mendadak lemas.
__ADS_1
"Harusnya tadi kucakar wajahmu."
Tenaga Novia seperti terkuras sehabis bertengkar, perlahan dia naik ke atas ranjang dan berbaring tapi pikirannya tertuju pada Fahrul.
"Aku harus menemui Fahrul, mungkin ada informasi baru dari dia," batin Novia.
Sementara itu, sepanjang perjalanan Irwan terus mengumpat.
"Sepertinya ada yang mencoba bermain-main denganku, siapa yang telah menghasut Novia?"
Irwan memacu mobilnya dengan penuh emosi menuju rumah ibunya, Bu Mini terkejut mendengar suara decit ban mobil yang direm mendadak oleh Irwan saat masuk ke halaman.
Bu Mini keluar dan berdiri di teras menunggu Irwan turun dari mobil, penasaran apa yang terjadi dia bergegas menghampiri Irwan.
"Apa-apaan kamu Wan, merem mendadak begitu," ucap Bu Mini.
Irwan tidak menanggapi ucapan ibunya, turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah melewati ibunya yang masih melongo heran.
Belum mendapat jawaban, Bu Mini menyusul Irwan masuk lalu menepuk bahu anaknya yang tengah duduk di kursi ruang tamu.
"Kenapa lagi Wan? mama lihat kamu begitu marah," tanya Bu Mini pelan.
"Mah, ada orang yang menghasut istriku entah apa yang dia katakan pada Novia aku akan mencari tahu," ucap Irwan berapi-api.
"Menghasut bagaimana maksudmu?"
"Novia marah padaku mah dan menuduhku berbuat macam-macam di luar." Irwan menjelaskan pada ibunya masalah yang dia hadapi.
"Itulah kenapa mama kurang suka sama istrimu, suka membuat kesimpulan sendiri."
Bukannya memberi ketenangan pada anaknya, Bu Mini justru mengompori Irwan dengan kebenciannya.
"Aku akan mencari tahu siapa yang menghasut Novia, aku permisi mah."
Irwan bangkit dari kursi kemudian berjalan keluar menuju mobilnya, Bu Mini masih setia menemani anaknya dan berjalan di belakang Irwan.
Irwan naik ke dalam mobil, menyalakan mesin dan mobil perlahan bergerak meninggalkan rumah Bu Mini.
"Kamu memang bodoh Wan, mau saja percaya pada istrimu dan sekarang kamu datang pada mama karena bermasalah dengan dia," gumam Bu Mini.
Tempat pertama yang akan Irwan datangi adalah kantin kampus, sebab Novia dulu pernah datang kesana mungkin dia bisa sedikit mendapat informasi dari ibu kantin.
Tiba di kantin, Irwan turun dan langsung menghampiri penjaga kantin lalu merogoh sebuah foto dari dalam dompetnya.
"Mbak, pernah lihat perempuan ini datang kesini?" tanya Irwan pelan.
Wanita itu mengamati wajah dalam foto, kemudian dia menatap Irwan.
"Bukannya wanita ini pernah datang bersamamu Wan?" Bu kantin balik bertanya.
__ADS_1
Ckkk ..., Irwan berdecak kesal
"Iya, mbak dia istriku. Makanya aku tanya apa dia pernah kesini sendirian atau dengan seseorang yang mbak kenal?"
Bu Kantin menggeleng ....
"Mbak cuma lihat sekali, waktu datang kesini bersamamu. Memangnya ada apa?"
"Hmm, tidak ada apa-apa mbak aku cuma bertanya," jawab Irwan kemudian berlalu pergi.
Saat keluar, Irwan berpapasan dengan Fahrul dan menghentikan langkahnya.
"Rul, boleh aku bertanya sesuatu padamu?"
Jantung Fahrul berdegup kencang, firasatnya berkata Irwan curiga padanya.
"Waduh, ini bahaya kalau sampai Irwan tahu istrinya menemuiku." batin Fahrul
"Iya, Wan mau tanya apa?" balas Fahrul namun, tetap berusaha besikap tenang.
"Rul, kamu kan sudah mengenal istriku apa dia pernah kesini beberapa hari ini?" selidik Irwan.
Fahrul menetralkan degup jantungnya, kemudian mengajak Irwan duduk di bangku depan kantin.
"Kita duduk dulu Wan, ada masalah apa sebenarnya?" tanya Fahrul memancing Irwan.
"Tadi pagi kami bertengkar, ada yang menghasutnya dan mengadukan sesuatu pada Novia."
"Mengadukan apa? kamu tahu siapa orangnya?"
Fahrul berpura-pura penasaran, padahal dia sudah tahu pasti Irwan dan istrinya bertengkar karena Novia mendapat informasi darinya.
"Novia marah besar, menuduhku berbuat macam-macam di luar." Irwan mengepalkan tangannya.
"Aku harus menemukan, siapa orangnya yang sudah mencuci otak istriku," ucap Irwan
"Bicarakan baik-baik dengan istrimu, jangan dulu kamu menuduh orang lain," ujar Fahrul lagi.
"Tapi ini sudah keterlaluan Rul, Novia sampai berani membentakku."
"Wan, jangan terbawa emosi tanyakan baik-baik pada Novia dari mana dia mendapatkan informasi."
"Sebagai suami, seharusnya kita introspeksi diri kenapa sampai istri kita marah."
Fahrul mencoba memberi saran dan nasihat pada sahabatnya, secara usia Fahrul memang jauh lebih tua dari Irwan itu sebabnya Fahrul lebih bisa menguasai diri.
"Aku sudah bertanya, tapi Novia tidak mau memberi tahu bahkan dia mendiamkan aku Rul," ucap Irwan layaknya seorang adik yang mengadu pada kakaknya.
"Sebaiknya kamu pulang, cari solusi terbaik dan jangan bersikap kasar pada istrimu. Mungkin saja dia membuntutimu atau ada dari pihak kelurganya yang melihatmu di luar."
__ADS_1
Irwan sepertinya mulai menyadari sesuatu, ucapan Fahrul membuatnya mengingat perbuatannya bersama teman-temannya.
"Novia mungkin memata-mataiku, Fahrul benar aku harus membujuknya dan mengambil kembali hatinya," gumamnya dalam hati.