
Part 9.
Di perjalanan menuju rumah Pak Ahmad, Novia terus diam membisu perasaannya berkecamuk.
Tak berapa lama mereka pun tiba lalu turun dari mobil dan masuk ke rumah
Sementara itu didalam rumah Irwan tampak gelisah, dia bingung harus menjawab apa jika istrinya bertanya.
Setelah masuk pak Ahmad dan bu Mini langsung ke kamar sengaja memberi kesempatan kepada Novia dan Irwan untuk berbicara.
Novia duduk mematung dihadapan Irwan ada rasa canggung, marah, kecewa terhadap suaminya.
Irwan pun melakukan hal yang sama diam tak ada kata yang terucap, sampai akhirnya Novia yang memulai.
" Ada apa denganmu?" tanya Novia
" Tolong jelaskan semuanya tanpa ada yang disembunyikan, sebab aku sudah tahu semuanya tapi ingin mendengar langsung dari mulutmu " ucap Novia lagi.
Irwan menggerutu," gosip darimana yang kamu dengar" bukannya menjawab Irwan malah balik bertanya.
" Tolong dijawab Wan, selama seminggu ini apa yang kamu lakukan, siapa perempuan ituu ?" nada suara Novia mulai bergetar menahan tangis.
" Perempuan yang manaa ?"
" Kamu jangan pura-pura lupa Wan, aku sudah tahu semuanya, kamu ditahan di akntor polisi bersama perempuan " Novia mulai emosi.
" Oh yang itu " dengan santainya Irwan menjawab.
" Dia pacarku, dia kekasihku sebelum mengenalmu."
Bagai disambar petir Novia mendengar jawaban enteng Irwan seolah tanpa dosa.
" Siapa diaa, siapaa namanyaa ?" suara Novia mulai meninggi dia merasa harga dirinya sudah di injak-injak oleh suaminya sendiri.
" Serius kamu ingin tahu?"
" Hanifah puass kamu !! " Jawab Irwan tanpa dosa.
Kali ini Novia lebih terkejut lagi setelah tahu siapa wanita itu.
Dia langsung histeris" kenapaa, kenapaa harus diaa ? kamu tahu kan dia siapaa Waan ??"
" Tapi dia kekasihku sebelum kamu Vi apa salah ?"
"Jadi selama ini kalian berhubungan dibelakangku ? lalu kenapa kamu menikahiku Waaann jawaabb." Novia terus mendesak dan
jawaban Irwan sungguh membuat Novia tak bisa menahan diri, tiba-tiba pandangan Novia gelap kesadarannya hilang dan tubuhnya ambruk tak sanggup menerima kenyataan.
Irwan panik dan berteriak memanggil ibunya " maah Novia pingsan !"
Mendengar itu bu Mini dan pak Ahmad langsung berlari keluar mendekat kearah Novia.
__ADS_1
Plaakkk...plaaaakkk dua tamparan keras mendarat di wajah Irwan dari pak Ahmad.
" Apa yang kamu lakukan Waan !? kamu mau bunuh anak orang haaah " bu Menjerit histeris melihat tingkah anaknya.
" Sadaarr kamu, istrimu sedang hamil "
" Dia yang terus memaksa memintaku bicara mah" Irwan membela diri.
" Apapun pembelaanmu kamu tetap salah Wan " ucap Pak Ahmad penuh emosi.
" Kami yang menjemput istrimu kesini, maka kami harus bertanggung jawab atas hidupnya " ucap pak Ahmad lagi.
Sementara itu bu Mini berusaha menyadarkan Novia dengan membaluri seluruh tubuh Novia dengan minyak kayi putih.
Beberapa saat kemudian Novia tersadar tubuhnya begitu lemah, matanya menatap kosong kearah Irwan dan tanpa aba-aba dia menangis tersedu-sedu tangisan yang sangat pilu.
" Bawa masuk istrimu ke kamar " titah bu Mini.
Setelah masuk ke kamar, bu Mini memanggil Irwan.
" Untuk sementara kalian disini, dan kamu berhenti kerja biar papa yang gantikan kamu " ucap bu Mini tak ingin dibantah.
Irwan hanya terdiam. Tak ada yang tahu apa yang ada dalam pikirannya.
Keesokan harinya, tubuh Novia masih lemah tapi dia paksakan bangun untuk shalat subuh, selesai shalat Novia memilih berbaring kembali dan baru menyadari rupanya suaminya tidur diluar.
Pengakuan suaminya semalam masih terus terngiang-ngiang di ingatannya " kenapa harus dia, kenapa harus Hanifah dia temanku sejak di SMA " Novia terus menggumam.
Air mata Novia kembali tumpah masih tak percaya dengan kenyataan yang terjadi.
Selama ini Novia selalu bersikap baik dan menanggap Hanifah sahabat ternyata semua hanya sandiwara.
" Novia sudah bangun ?" bu Mini masuk kekamar dan menghampiri menantunya.
Novia hanya mengangguk, dia masih enggan berbicara.
" Nanti kalau sudah tenang kamu sarapan ya didapur " ucap Bu Mini lagi.
Lagi Novia hanya mengangguk " kamu istirahat dulu jangan banyak pikiran " bu Mini keluar kamar dan melanjutkan aktifitasnya.
Setelah pengakuan Irwan itu, hubungan mereka menjadi dingin Novia masih mendiamkan Irwan, sementara Irwan tak pernah peduli dia malah berusaha mencari cara untuk bisa terus bertemu dengan Hanifah.
Waktu terus berlalu, Irwan sudah kembali bekerja dan Novia melanjutkan kuliahnya dan sesekali dia tetap berkunjung ke rumah orang tuanya untuk meminta biaya kuliah ke orang tuanya.
Sejak saat itu hubungan Novia dan Irwan terasa hambar, pengkhianatan itu terlalu sakit dan membekas bagi Novia.
Dia memilih fokus pada pendidikannya dan tak mau peduli dengan hubungan Irwan dan Hanifah.
Usia kandungan Novia sudah memasuki bulan ke sembilan, dan seperti rencana sebelumnya Novia akan mengambil cuti.
Malam harinya, Novia mencoba berbicara pada mertuanya tentang rencananya dia ingin pulang dulu ke rumah oarang tuanya menunggu waktu lahiran.
__ADS_1
" Mah, aku ingin ngobrol sebentar " ucapnya.
" Oh iya boleh " jawab bu Mini.
" Aku ingin pulang dulu ke rumah orang tuaku sambil menunggu waktu persalinan ".
" Kebetulan juga aku sudah mengambil cuti kuliah " ucapnya lagi
" Kamu sudah bicara sama suamimu ?" tanya bu Mini.
" Belum, rencananya sebentar dia pulang kerja " jawab Novia.
" Aku masuk dulu mah mau tidur sudah ngantuk " pamitnya
" Iya " jawab bu Mini. Novia pun beranjak masuk ke kamar.
" Keesokan harinya, sebelum Irwan berangkat kerja.
" Hari ini aku mau pulang dulu ke rumah orang tuaku, mungkin lahiran disana dan kamu tak perlu mengantarku " ucap Novia. Tanpa menunggu jawaban dari Irwan Novia pun berlalu meninggalkan Irwan masuk kekamar membereskan barang-barangnya.
Setelah semuanya siap, Novia pun berpamitan kepada Pak Ahmad dan bu Mini lalu bergegas keluar menunggu angkutan umum yang lewat.
Irwan hanya menatap kepergian istrinya tanpa bisa berkata-kata.
Pengkhianatan itu sungguh merubah kepribadian seorang Novia, dari sosok gadis manis yang lugu berubah menjadi seseorang yang dingin dan cuek.
15 menit kemudian Novia sampai di rumah orang tuanya, ada perasaan lega dalam hatinya akhirnya bisa berkumpul kembali bersama kedua orang tuanya.
" Assalamualaikum "
" Waalaikumussalam " jawab bu Ratih dari dalam.
" Pah, itu suara Novia " bu Ratih bergegas keluar diikuti pak Wahyu dibelakang.
Novia langsung menghambur kepelukan ibunya, tangisnya pecah.
" Maah, aku rindu " ucapnya sambil terisak.
Bu Ratih membalas pelukan anaknya sambil mengelus rambutnya. Dia tahu anaknya sedang punya masalah tapi bu Ratih memilih diam tak ingin bertanya hanya menunggu anaknya sendiri yang menceritakan.
" Ayo duduk dulu nak "
Novia hanya mengangguk.
" Sudah sarapan ?" tanya bu Ratih.
" Belum, mau makan masakan mama" jawab Novia.
Sungguh bu Ratih merindukan sifat manja anak perempuannya yang satu ini.
" Kamu tunggu disini, mama ambil dulu makanannya ya " ucap bu Ratih.
__ADS_1