Fitnah Berbuah Karma

Fitnah Berbuah Karma
Cari Perhatian


__ADS_3

Part 25


Sore hari, Novia terbangun mendengar bunyi klakson mobil.


" Tumben Irwan pulang lebih cepat " gumamnya


Dia beranjak dari tempat tidur meninggalkan Camillah yang masih terlelap.


Di sibaknya tirai jendela lalu mengintip keluar untuk meyakinkan apakah benar suaminya sudah pulang.


Dan benar saja, di luar Irwan sedang membersihkan mobilnya.


Dia ingin keluar dan menghampiri suaminya, tapi langsung mengurungkan niatnya ketika melihat ibu Mini yang sedang berbincang dengan Pak Ahmad di teras sambil mengawasi Irwan.


Akhirnya Novia memutuskan mandi dari pada berdiri memandangi suaminya dari balik tirai.


Irwan menyelesaikan pekerjaannya dan menghampiri orang tuanya.


" Setoranku hari ini " Irwan menyerahkan beberapa lembar uang pada ayahnya. Lalu pak menghitung lembaran uang itu dan tangannya terhenti menatap lurus ke arah Irwan.


" Kenapa kurang ?" wajah pak Ahmad terlihat marah ketika tahu jumlah uang yang di serahkan Irwan.


" Hari ini cuma dapat segitu pah, penumpang lagi sepi."


" Wan, apa kamu lupa kalau kita ini sedang butuh banyak uang " suara pak Ahmad mulai meninggi.


" Pah, jangan lupa juga aku ini punya keluarga yang harus di nafkahi."


" Tapi bukan berarti kamu semena - mena memotong uang setoran sampai setengahnya Wan !!"


" Pah aku juga capek butuh istirahat,setiap hari tenaga di kuras tapi hasilnya nol."


" Mobil ini sudah lunas, lalu kenapa di gadai lagi surat - suratnya dengan alasan butuh uang."


Perdebatan antara ayah dan anak terus berlanjut.


" Mah, pah, uang selama ini terkumpul habis kemana ? Adik - adik ku juga putus sekolah lalu alasan apa mama dan papa harus menggadaikan surat mobil."

__ADS_1


Seketika Pak Ahmad terdiam mendengar semua ucapan Irwan.


Irwan tahu betul sepak terjang ayahnya seperti apa, dia curiga kalau selama ini ayahnya sedang bermain api di luar.


Tak ingin pertengkaran itu semakin panas, Irwan beranjak meninggalkan kedua orang tuanya dan berjalan menuju rumahnya.


Samar - samar Novia mendengar pertengkaran Irwan dan orang tuanya, tapi dia tak ingin ikut campur dan memilih diam menunggu suaminya menceritakan apa yang terjadi.


Novia sangat terkejut ketika tiba - tiba Irwan langsung masuk tanpa mengucap salam tampak wajahnya begitu kesal menahan amarah lalu duduk di sampingnya. Novia tak berani menyapa apalagi bertanya, pilihan terbaik adalah mengusap lembut pundak Irwan agar emosinya mereda.


Lalu Novia bangkit dan berjalan masuk menyiapkan handuk dan pakaian bersih untuk suaminya, kemudian membangunkan Camillah dan memandikkannya.


Bukan tak peduli, Novia hanya tak ingin dia dan anaknya menjadi pelampiasan kemarahan Irwan, karena itu dia mencari kesibukkan lain dan membiarkan Irwan menenangkan diri.


Beberapa menit kemudian, Novia melihat Irwan sudah tertidur di kursi dengan posisi duduk bersandar tapi dia tak mau mengganggunya.


" Milla sini main sama mama " Novia mengajak Camillah bermain agar tak mengganggu tidur Irwan yang begitu lelap.


" Kita main acak huruf ya " Novia memang membuatkan kartu huruf dari kertas warna - warni untuk Camillah agar terlihat menarik dan Camillah mudah mengingatnya.


Tak terasa adzan maghrib sudah terdengar, Novia menyudahi permainan lalu merapikan kembali kertas dan kartu huruf milik Camillah, dan mengajaknya shalat maghrib.


Selesai shalat isya Novia dan Camillah makan malam, sementara Irwan masih tak bergeming Novia pun tak berniat membangunkannya malah mengajak Camillah tidur setelah mereka makan.


Tengah malam, Novia bangun karena lapar kehamilan keduanya ini Novia lebih sering merasa lapar. Dia melirik jam di atas nakas dan melihat kearah kursi tetapi Irwan tak ada di sana.


" Jam dua pagi, kemana dia ?" gerutunya.


Dia pun melangkah keluar mencari keberadaan suaminya tapi tak juga ada tanda - tanda keberadaan Irwan.


Novia masuk ke dapur berharap Irwan ada di sana tapi hasilnya sama, akhirnya dia mengambil makanan kemudian makan sambil terus menggerutu.


Selesai makan Novia keluar lagi ke ruang tamu dan sengaja mematikan lampu lalu duduk dalam gelap. Lama menunggu Irwan tak kunjung pulang mata Novia tak bisa di ajak kompromi dia pun masuk ke kamar dan kembali terlelap.


Paginya Novia bangun, dia belum juga menemukan Irwan.


" Kenapa lagi dengan dia,kemana perginya sejak semalam sampai pagi ini belum pulang " Novia berjalan mondar - mandir tak ubahnya setrika.

__ADS_1


Lelah berputar tak tahu arah Novia memutuskan berwudhu dan shalat subuh lalu menyiapkan sarapan dan bekal Camillah.


Kemudian dia membangunkan Camillah, memandikkan ,dan memakaikan seragam sekolah.


" Millah duduk di sini ya, mama mau mandi dulu sebentar " titahnya.


Dengan tergesa - gesa Novia mandi lalu berganti pakaian dan bersiap mengantar Camillah ke sekolah.


" Ayo nak, kita berangkat " Novia menenteng tas Camillah lalu membuka pintu, alangkah terkejutnya Novia mendapati Irwan yang tertidur di depan pintu dan mencium aroma alkohol yang menyengat.


Novia terpaku, memejamkan mata dan sejenak mengumpulkan kesadarannya lalu menarik napas panjang dan perlahan menghembuskannya.


" Ayo nak, di gandengnya tangan Camillah lalu melewati Irwan yang tertidur dalam keadaan mabuk. Novia tak mau merusak paginya dengan mengurusi kelakuan suaminya.


Sedangkan Camillah yang polos tak tahu apa yang terjadi dengan ayahnya lalu bertanya, " mah kenapa papa tidurnya di teras ?"


Dengan tenang Novia menjawab " di dalam panas, papa cari udara dingin ."


Mereka terus berjalan ke arah gerbang tanpa menoleh hingga tak menyadari kehadiran bu Mini yang terus menatap ke arah mereka.


" Lihat pah menantumu, sombong sekali tak mau menoleh kesini jangan - jangan dia yang menyuruh Irwan memotong uang setoran " Bu Mini sengaja memprofokasi suaminya.


Pak Ahmad tak menanggapi ocehan istrinya, dia diam lalu meneguk kopi hangat yang di suguhkan istrinya.


Sementara Novia dan Camillah sudah sampai di sekolah, Novia lalu menitipkan Camillah pada gurunya kemudian dia pamit berangkat kerja.


Beda hal yang terjadi di rumah, " mah coba kamu panggil Irwan sekarang sudah jam berapa dia belum muncul juga " titah pak Ahmad pada istrinya.


Bu Mini beranjak melangkah menuju rumah Irwan, sama halnya dengan Novia, bu Mini pun tak kalah terkejutnya mendapati Irwan yang tertidur di lantai tak beralaskan apa - apa ditambah lagi aroma alkohol yang begitu menyengat.


" Astagaa Wan kelakuanmuu " bu Mini tak bisa mengendalikan dirinya, di raihnya sapu lidi memukulkan ke seluruh tubuh Irwan.


Irwan yang kaget dan bangun karena serangan mendadak yang membabi buta dari ibunya segera bangkit dan berlari masuk ke dalam rumah lalu mengunci pintu.


" Bukaa, bukaa pintunya Wan " bu Mini terus berteriak meminta pintu di buka tapi Irwan malah menutup rapat telinganya dengan bantal.


Emosi bu Mini semakin memuncak dia berbalik lalu berjalan menuju rumahnya mengadukan semua pada suaminya.

__ADS_1


Mendengar itu pak Ahmad tiba - tiba merasakan sesak di dadanya karena menahan amarah lalu detik berikutnya ambruk tak sadarkan diri.


__ADS_2