Fitnah Berbuah Karma

Fitnah Berbuah Karma
Adiba Alesha


__ADS_3

Part 34


Malam harinya, Irwan dan keluarga kecilnya berkumpul menyambut anggota baru dalam keluarga mereka, setelah seharian sibuk dengan banyaknya pekerjaan.


" Mah, nama dedek bayi siapa ?"


Novia yang sedang menyusui bayinya langsung teringat kalau bayinya belum di beri nama.


" Kamu sudah menyiapkan nama untuk anakmu Vi ?" tanya Irwan yang berbaring di samping Novia.


" Sudah, Adiba Alesha artinya anak perempuan yang cerdas. Kamu suka ?"


" Hmm nama yang bagus aku suka."


Novia kemudian menatap Camillah yang sedari tadi menyimak percakapan kedua orang tuanya padahal dia belum mengerti apa yang di perbincangkan.


"Millah sini dekat mama " sambil menepuk ruang kosong di sebelahnya. Anak kecil itupun beranjak dan menghampiri ibunya lalu duduk.


" Mama sudah memberi nama dedek bayi, namanya Adiba Millah suka namanya ?" dia mengelus lembut rambut Camillah.


" Iya Millah suka mah, nanti kakak panggil dia dedek Diba "


Novia mengangguk dan tersenyum, lalu memasukkan bayinya ke dalam ayunan.


Sedangkan Irwan yang tadinya menjadi pendengar percakapan anak dan istrinya kini tertidur.


Novia lagi-lagi tersenyum geli melihat tingkah suaminya. Kemudian dia mengatur posisi Camillah berbaring di samping Irwan lalu dia juga ikut berbaring dan terlelap.


Esok harinya, Novia bangun pagi menyiapkan air hangat untuk bayinya mandi kemudian menyiapkan sarapan lalu mencuci beberapa lembar popok yang terkena kotoran bayi.


Sementara Irwan dan Camillah masih tertidur nyenyak. Pelan Novia mengangkat bayinya dari ayunan lalu memandikannya.


Setelah beres dengan urusan bayinya, dia meletakkan kembali bayinya ke dalam ayunan kemudian dia bergegas mandi.


Selasai mandi, Novia keluar duduk di teras menjemur bayinya.


" Bukannya ini mobil papa ?" gumamnya saat melihat mobil ayahnya masuk ke halaman rumah.


Mobil pak Wahyu masuk ke halaman, setelah terparkir tampak pak Wahyu dan bu Ratih turun dan berjalan ke arah Novia.


" Assalamualaikum."


" Waalaikumussalam, masuk mah pah " Novia beranjak berjalan masuk di ikuti ayah dan ibunya.


Mereka duduk lalu Novia pun ikut duduk sambil menggendong bayinya.


Pak Wahyu menatap dalam Novia yang duduk di depannya.


" Vi, kenapa tidak bilang mau lahiran papa kan sebelumnya dari sini " bu Ratih memulai pembicaraan.

__ADS_1


" Maaf mah, memang malam itu aku belum merasakan apa-apa waktu papa disini."


" Harusnya begitu anakmu lahir, atau kamu sudah merasakan tandanya suamimu kabari mama dan papa, ini malah orang lain yang mengabari kami."


Novia terdiam tak punya jawaban, karena faktanya saat itu pun Irwan sendiri hampir terlambat datang.


Novia sengaja menyerahkan bayi Adiba pada ibunya agar kekesalan mereka redah, dia menyadari memang sedikit keliru tapi tidak mungkin mengatakan pada orang tuanya keadaan yang sebenarnya.


Lama mereka berbincang, bayi di pangkuan bu Ratih mulai menggeliat.


" Bayimu haus Vi, susui dulu."


" Iya, mungkin juga popoknya basah mah" sahut Novia sembari mengambil bayinya di pangkuan ibunya.


Setelah mengganti popok, dia menyusui bayinya. Lain halnya dengan Irwan, mendengar suara mertuanya di luar dia bergegas bangun lalu membangunkan Camillah.


" Millah bangunn, ada tata dan ina di luar " Irwan menepuk pipi anaknya. Camillah membuka matanya.


" Itu suara tata dan ina pah " sambil mengucek matanya.


" Iya ada di luar, makanya bangun kita mandi sekarang " dengan gerakan cepat Irwan mengangkat Camillah dan menggendongnya ke kamar mandi.


Selesai mandi dan memakai pakaian bersih, Irwan keluar dari kamar di susul Camillah di belakang yang bersorak gembora melihat kakek dan neneknya, kemudian dia menghampiri mertua dan istrinya.


" Sudah lama mah pah ?"


" Lumayan, kira-kira satu jam yang lalu kami datang."


" Lain kali jangan lagi seperti ini, sampai lupa mengabari kami."


" Iya pah maaf " sahut Irwan tertunduk.


Sedangkan Camillah langsung naik dan duduk di pangkuan kakeknya.


" Tata, Millah sudah punya dedek bayi namanya Adiba " menunjuk bayi di gendongan Novia.


"Iya, oh namanya Adiba ?" bu Ratih berpura-pura kaget mendengar jawaban Camillah.


" Iya, namanya Adiba inaa Millah sudah punya teman bermain."


" Di jaga baik-baik ya dedeknya jangan sampai nangis."


Camillah spontan mengangkat jempolnya sebagai tanda suka dan di sambut tawa kakek, nenek, dan kedua orang tuanya.


" Baiklah kami pamit pulang " pak Wahyu menutup perbincangan hangat mereka lalu bangkit berdiri di ikuti bu Ratih.


Mereka berjalan keluar, Irwan mengantar mertuanya sampai ke halaman tempat mobil di parkir.


Pak Wahyu dan istrinya naik ke dalam mobil, menyalakan mesin keluar dari halaman dan melaju meninggalkan Irwan yang melambaikan tangan pada mertuanya.

__ADS_1


Baru saja Irwan berbalik, tiba-tiba bu Mini muncul dari pintu rumahnya berjalan keluar dan mendekati Irwan yang berdiri.


" Hari ini kamu tidak kerja ? Jangan terlalu lama libur, papamu butuh biaya untuk berobat " ocehnya.


Irwan mendengus " Besok mah, Novia juga belum pulih total baru kemarin lahiran masa langsung di tinggal."


" Dasar manja " gerutunya lalu berbalik pergi meninggalkan Irwan.


Irwan hanya menggelengkan kepala " mama ini makin aneh bikin bingung saja " gumamnya lalu berjalan masuk ke dalam rumahnya.


Hari berikutnya...


Sesuai janji pada ibunya Irwan memutuskan mulai bekerja. Memang sedikit lebih repot karena harus mengantar Camillah sekolah dan membantu Novia mencuci pakaian dan piring kotor.


Seperti pengalaman sebelumnya ketika persalinan pertama Novia aktifitas yang dilakukan Irwan pun tentu sama.


Novia yang di tinggal sendirian di rumah menghabiskan waktunya mengurus bayi kecilnya dan melakukan pekerjaan ringan lainnya.


" Tolong...tolong " terdengar teriakan di luar...


" Ada apa di luar, siapa yang meminta tolong ?"


Novia bergegas keluar, tampak orang berkerumun dan adik iparnya membopong bu Mini ke teras rumah.


Dengan langkah cepat Novia menyusul orang-orang yang membopong mertuanya.


" Mama, mah " Novia menepuk-nepuk wajah mertuanya yang masih diam tak bergerak, dia berbalik.


" Nanda, apa yang terjadi mama kenapa ?" Novia yang panik meraba sekujur tubuh mertuanya.


Tapi di luar dugaan reaksi Nanda malah membuat Novia terkejut, dia menepis kasar tangan Novia.


" Jauhkan tanganmu !! semua ini gara-gara kamu mama jadi seperti ini ." Nanda menatap tajam dan penuh kemarahan ke arah Novia.


" Eh apa maksudnya ini Nanda ?" Novia yang di serang mendadak kebingungan. Dia mundur dan menjauh saat orang-orang memandangnya dengan tatapan sinis.


" Pergi !" lagi Nanda mengusirnya.


Tak ingin terjadi keributan yang lebih besar, Novia memilih pergi meninggalkan kerumunan orang dan masuk ke dalam rumahnya dengan perasaan sedih dan bingung.


" Apa yang terjadi, kenapa Nanda menyerangku dan menuduhku menjadi penyebab mama pingsan, aahh fitnahan macam ini." gumamnya yang masih bertanya-tanya dalam hati.


Saat Novia dalam kebingungan, dia mendengar suara tangis bayinya dalam kamar lalu dia masuk dan menggendong bayinya kemudian menyusuinya.


Tak lama, terdengar suara mobil masuk dan Irwan bergegas turun lalu masuk dalam kerumunan. Tampak ibunya yang duduk lemas bersandar di kursi, dia menghampiri ibunya lalu meraih tangan ibunya kemudian menatap adiknya meminta jawaban.


Dengan langkah seribu Irwan berjalan ke rumahnya, Irwan membanting pintu.


" Apa yang kamu lakukan pada mama ?!" Sorot mata Irwan tajam menatap Novia yang masih menyusui anaknya. Terlihat kemarahan yang begitu besar.

__ADS_1


Novia terkejut mendengar suara Irwan sejenak mengumpulkan kesadarannya, dia diam mematung tak bisa berkata-kata tubuhnya meremang tak menyangka menerima bentakan suaminya.


Makin bertambah luka hatinya...


__ADS_2