Fitnah Berbuah Karma

Fitnah Berbuah Karma
Rahasia


__ADS_3

Part 53


" Wan, kita pulang sekarang kasihan Diba dia ngantuk dan Camillah juga harus di jemput."


" Baiklah, aku urus administrasinya dulu kalian tunggu di disini."


Irwan meninggalkan istri dan anaknya di ruang perawatan, mengurus administrasi sekaligus mengambil obat di apotek.


" Semuanya sudah beres ayo kita pulang, Diba sini papa gendong."


Mereka berjalan keluar menuju parkiran, Novia masih sedikit pusing tapi dia tidak mau menunjukkan pada suaminya.


Dalam perjalanan pulang, Novia meminta suaminya merahasiakan kehamilannya pada orang tuanya, karena dia takut ibunya pasti marah sebab usia Adiba belum genap dua tahun.


Tiba di rumah, bu Ratih yang duduk di teras bersama suaminya terkejut melihat Novia turun dari mobil dengan wajahnya pucat.


Bu Ratih bergegas menghampiri Novia lalu memapahnya masuk, Irwan menyusul masuk sembari memegang kedua anaknya.


Mereka sudah ada di kamar, Novia naik ke atas ranjang kemudian berbaring dan bu Ratih menutup sebagian tubuh Novia dengan selimut.


" Apa yang terjadi Wan, bukannya tadi pagi Novia baik-baik saja ?"


" Tadi di perjalanan Novia tiba-tiba merasa tidak enak badan, aku mengantarnya pulang ke rumah tapi begitu sampai di rumah dia malah muntah-muntah."


" Karena bingung, aku putuskan membawa dia ke puskesmas untuk memeriksa kesehatannya." Lanjut Irwan.


" Lalu apa hasil pemeriksaannya ?"


" Novia cuma masuk angin dan sedikit punya masalah lambung mah." Jawab Irwan.


" Maaf mah, anakmu yang memintaku berbohong dan merahasiakan kehamilannya." Gumam Irwan dalam hati.


" Ya sudah biarkan Novia istirahat, Millah kita keluar nak." Bu Ratih meraih tangan Camillah dan mengajaknya keluar.


Tinggal lah Irwan dan Novia serta Adiba di dalam kamar, dia membaringkan anaknya di sebelah Novia kemudian pun berbaring di lantai beralaskan karpet.


Sore hari Irwan bangun, dia melihat ke ranjang tempat istri dan anaknya kosong rupanya Novia sudah bangun dan keluar dari kamar.


Irwan bangkit dan melangkah masuk ke kamar mandi membersihkan diri, setelah memakai pakaian bersih dia keluar menyusul istrinya.


" Kamu sudah selesai mandi ya ?"


Sapa Novia saat suaminya muncul di dekatnya, Irwan pun duduk di sebelah Novia.


" Iya, bagaimana perasaanmu sekarang masih pusing ?"


" Sudah mulai membaik, oh ya rahasianya jangan sampai bocor."

__ADS_1


" Hmm, kamu ini aneh Vi apa bisa di rahasiakan sementara perutmu nanti akan membesar hahaha."


Irwan tergelak, rasanya lucu membayangkan tingkah istrinya.


Bibir Novia cemberut, tangannya spontan mencubit paha Irwan yang duduk di sampingnya.


" Aduuh...duuhh sakiitt Vi." Sambil berusaha menepis tangan istrinya.


" Makanya, kamu memang susah di ajak kerja sama egois !" sembari membuang muka.


" Eh maraah ? Iyaa maaf habisnya kamu lucu hahaha." Lagi-lagi Irwan berbahak-bahak tak bisa menahan tawanya.


Novia hendak berdiri namun Irwan menahannya, dia kesal melihat tingkah suaminya yang hanya menertawai permintaannya.


" Mau kemanaa ? Tega ya kamu meninggalkan suami sendirian."


" Malas dekat-dekat sama kamu." Jawab Novia ketus.


" Ciee...cieee yang lagi merajuk." Bukannya marah Irwan malah mencandai istrinya, dan Novia semakin kesal.


" Ini urus anakmu, dia belum mandi." Lalu berjalan masuk namun dengan cepat Irwan pun menyusul sambil menggendong Adiba.


Dua minggu kemudian...


Waktu pemberangkatan jamaah haji tinggal menghitunga hari, keluarga pak Wahyu menyiapkan segala sesuatu. Pakaian dan kebutuhan selama melakukan ibadah, tak ketinggalan dokumen penting pun sudah di persiapkan.


Dan hari yang di tunggu pun tiba, pak Wahyu mengumpulkan keluarganya, kelima orang anak juga cucunya semua hadir.


" Siang ini mama akan berangkat, kita doakan semoga perjalanan mama lancar di beri kesehatan dan keselamatan sampai ke tujuan."


" Aamiin." Secara serentak anak-anak pak Wahyu mengamini doanya, lalu dia berbalik menghadap istrinya.


" Mah, doakan kami di sana papa dan anak-anak terutama cucu-cucumu."


Suasana seketika berubah, mereka yang ada di dalam ruangan tertunduk haru. Sayup terdengar suara isak Novia, entah kenapa dia begitu merasakan kesedihan yang mendalam.


Semua mata sontak tertuju pada Novia, namun dia tetap terisak tak peduli orang di sekitarnya dia menumpahkan kesedihan yang dia sendiri tidak tahu penyebabnya apa.


Irwan bangkit lalu menghampiri istrinya, dia mengusap punggung Novia sambil berbisik.


" Sudah Vi, mama kan perginya cuma sebulan untuk ibadah sebaiknya doakan bukan malah menangis terus begini."


" Ta..tapii."


" Stttttsst." Belum sempat Novia melanjutkan ucapannya, Irwan langsung meletakkan jarinya di bibir Novia dan akhirnya Novia diam.


Bu Ratih pun menyalami dan memeluk suaminya sambil berpamitan, begitupun dengan anak dan cucunya dia menyalami dan memeluknya satu persatu.

__ADS_1


Tangisan haru keluarga mengiringi keberangkatan Bu Ratih, mereka mengantar sampai ke Wisma tempat penampungan para jamaah sebelum esok hari berangkat menuju ke tanah suci Mekkah.


Pulang dari mengantar bu Ratih, rumah terasa sepi keluarga yang lain sudah kembali ke rumah masing-masing. Sama halnya dengan ke empat kakak Novia.


Di rumah hanya ada pak Wahyu dan keluarga kecil Novia, pak Wahyu terlihat murung karena baru kali ini dia berpisah jauh dari istrinya dan jangka waktu yang agak lama.


" Millah, sana temani tata nonton."


Novia sengaja menyuruh anaknya menemani ayahnya di ruang keluarga.


" Dedek Diba juga mah."


" Iya, ajak adikmu mama mandi dulu ya gerah."


Camillah pun memegang tangan adiknya berjalan menghampiri kakeknya yang sedang menonton TV.


"Tata..."


Pak Wahyu menoleh dan langsung tersenyum oada kedua cucunya, dia rentangkan tangannya untuk memeluk cucunya yang berjalan kearahnya.


" Sini cucu tata."


Kedua anak tersebut menghambur masuk ke dalam pelukan kakeknya.


" Mana mama ?"


" Lagi mandi, papa di luar." Sahut Camillah sambil memainkan rambut kakeknya.


" Millah sama dedek sudah mandi ?"


" Sudah tata, ini sudah wangi." Sambil menyodorkan kepalanya dan rambutnya masih basah.


" Oh iya wangi bau sampo, cucu tata pintar ya."


Kedua anak itu pun tertawa girang mendapat pujian dari kakek mereka, seperti itulah pak Wahyu memperlakukan cucunya begitu hangat dan lembut.


Dari sekian cucunya, anak-anak Novia lah yang paling dekat dan akrab dengan Pak Wahyu dan istrinya, kedekatan batin itu mungkin terbangun karena mereka tinggal serumah.


Malam harinya seperti biasa, Novia menyiapkan makan malam lalu mereka makan bersama.


" Pah, makan yang banyak nanti papa sakit."


Pak Wahyu terlihat lesu, dia terbiasa di layani istrinya namun kali ini Novia yang melayaninya.


" Sebenarnya papa masih kenyang, tapi kamu memaksa."


" Ya sudah, jangan di paksa pah."

__ADS_1


" Tapi sayng juga nasinya kalau tersisa."


" Hehe, sini biar aku yang habiskan." Kekeh Novia lalu memindahkan piring ayahnya kedepannya dan menghabiskan sisa makanan ayahnya.


__ADS_2