Fitnah Berbuah Karma

Fitnah Berbuah Karma
Ingkar janji 1


__ADS_3

Part 55


Kembali dari puskesmas sekaligus menjemput Camillah di sekolah, Irwan tetap berangkat kerja


setengah hari lumayan lah penghasilannya di setor pada ibunya.


" Aku berangkat ya, walau pun hanya beberapa jam kerja yang penting bisa mengumpulkan uang."


" Hmm, hati-hati."


Novia mengekori suaminya yang berjalan menuju garasi, Irwan naik dan menyalakan mesin mobilnya lalu perlahan bergerak meninggalkan rumah.


" Ayo nak kita masuk." Novia menarik tangan anaknya mereka melangkah masuk ke dalam rumah.


Novia membuka pintu kamarnya, di dalam pak Wahyu berbaring di ranjang menunggui Adiba yang tidur si sampingnya.


Camillah hendak melangkah masuk, namun di cegah Novia dia memegang tangan anaknya dan berjalan pelan.


" Sssst, jangan berisik nanti dedek Diba bangun pelan-pelan ya."


Camillah mengangguk mengerti, dia meletakkan tas dan melepas bajunya sedangkan Novia mengambil bajunya dan masuk ke kamar mandi.


Karena tak mau mengganggu tidur ayahnya, Novia memilih beristirahat di ruang keluarga bersama Camillah tak lama keduanya pun terlelap.


Satu minggu berlalu...


Pak Wahyu bersama keluarga menyiapkan acara penyambutan kepulangan bu Ratih dari Mekkah, mereka akan mengadakan acara syukuran dan mengundang tetangga dan keluarga dekat.


Hari minggu pagi Novia membersihkan rumah, dia membereskan barang yang berantakan dalam rumah dia memilah-milah barang dan pakaian bekas yang tidak di pakai lalu memasukkan ke dalam kardus kemudian menyimpannya di dalam gudang.


Pak Wahyu datang menghampiri Novia, dia melihat Novia yang tampak kelelahan.


" Vi, istirahat dulu nak nanti papa dan suamimu yang mengangkat kardus-kardus itu."


" Iya pah, sebagian sudah aku pindahkan ke gudang yang tersisa ini kardus besar." Jawabnya sembari mengeringkan keringatnya yang bercucuran.


" Kak Riska sudah menghubungi pihak cathering pah ?"


" Sudah, malah papa sudah melunasi pembayarannya."


" Oh syukur lah kalau begitu besok kita tinggal menyiapkan tempat untuk tamu yang datang."


" Biar kakak-kakakmu yang mengurusnya, besok pagi kita akan menjemput mama di bandara."


" Besok pah ?"


" Iya jadwalnya di rubah lebih cepat."


" Bagaimana dengan tamu undangannya pah ?"


" Sudah beres semuanya, mama mengabari papa dua hari yang lalu dan kakakmu Riska sudah mengurus semuanya."


Novia menoleh saat mendengar suara tawa kedua anaknya yang berlarian kesana-kemari, dia bangkit dan menghampiri anaknya.

__ADS_1


" Millah, hati-hati jatuh nak kasihan dedek Diba terus mengejar di belakangmu."


" Hihi..." Camillah hanya tertawa cekikikan sambil terus berlari.


Riska datang membawa banyak belanjaan, berbagai macam buah dan camilan yang juga ikut di hidangkan nanti.


Novia mengambil tas belanjaan kecil dari tangan kakaknya lalu membawanya masuk ke dapur, Riska menyusul di belakang kemudian mereka menata buah-buahan ke dalam keranjang dan memasukkan camilan ke dalam toples yang sudah di siapkan.


Besok paginya...


Rombongan keluarga Pak Wahyu pun ke bandara menjemput kedatangan bu Ratih, Novia dan anak-anaknya memilih naik mobil suaminya sementara yang lain ikut bersama pak Wahyu.


Suasana di bandara begitu ramai, banyak keluarga jamaah haji yang juga datang menjemput.


" Wan, gendong Diba Camillah biar sama aku."


" Ayo kita ke depan pintu keluar, disini terlalu ramai."


Novia mencari-cari keberadaan ayahnya, kepalanya berputar hingga matanya menangkap penampakkan sosok ayahnya yang berdiri di depan pintu keluar.


" Itu papa, kita kesana." Sambil menunjuk ke arah ayahnya.


" Hati-hati Vi, pegang kuat tangan Camillah."


" Iya."


Mereka berjalan di antara kerumunan orang terus mendesak masuk dan akhirnya sampai di tempat pak Wahyu.


" Di parkiran pah, Diba tadi rewel."


Setelah beberapa saat menunggu, satu persatu jamaah keluar bu Ratih melambaikan tangan ketika melihat anggota keluarganya pak Wahyu pun membalas lambaian istrinya.


Bu Ratih bergegas keluar, dia berjalan dengan langkah cepat menghampiri keluarganya.


Tak sabar menunggu, Novia langsung menghambur memeluk ibunya sambil terisak.


" Hiks..hiks Alhamdulillah mama tiba dengan selamat."


" Iya nak, mana cucu-cucu mama ?"


Novia menoleh " Mereka semuanya datang mah."


Penampilan bu Ratih sangat anggun dengan jubah putihnya, pak Wahyu dan anak-anaknya yang lain pun mendekat lalu mereka berpelukan.


" Alhamdulillah akhirnya kita berkumpul kembali."


Pak Wahyu mengusap punggung istrinya, rasa syukur dan bahagia yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata.


" Kita pulang sekarang, banyak yang menunggu mama di rumah."


Pak Wahyu pun merangkul istrinya dan menuntun istrinya berjalan menuju parkiran.


Dua mobil beriringan datang dan berhenti di depan rumah pak Wahyu, tetangga dan saudara yang sudah lama menunggu di rumah berhamburan menyambut bu Ratih yang turun dari mobil

__ADS_1


Tangis haru dan bahagia orang hadir di situ, bu Ratih masuk ke dalam rumah Novia dan saudara-saudaranya di bantu pelayan cathering menyiapkan hidangan.


Sore harinya, tamu sudah sepi dan pulang ke rumah masing-masing, yang tinggal hanya Anak-anak dan cucu pak Wahyu.


" Kalian nginap di sini ya mama masih rindu."


" Iya mah, besok baru kami pulang." Balas Riska


" Dan juga, ada kejutan untuk mama hehe." Lanjutnya lagi sambil terkekeh dan melirik Novia.


" Iih apa-apaan kak Riska, mulai lagi."


Novia menggerutu dalam hati, dia sudah bisa menebak kejutan apa yang di maksud kakaknya itu.


" Kejutan apa nak ?"


" Hehe mama akan punya cucu baru."


" Hah apa iya ?"


" Iya, Millah mau punya adik lagi itu mah."


Bu Ratih langsung menatap Novia.


" Iya Vi, sudah berapa bulan ?


" Tiga bulan mah." Jawab Novia malu-malu.


" Eh mama kan cuma empat puluh hari di sana."


" Sebelum mama berangkat." Sahut Irwan


" Oh jadi waktu Novia sakit itu dia sudah positif hamil ya."


" Hehe iya mah, tapi Novia minta di rahasiakan dulu."


Bu Ratih diam dan tersenyum tipis, dia tak mau berkomentar mengenai kehamilan Novia biarlah itu menjadi urusan mereka pikirnya.


Saat ini dia hanya ingin menikmati masa kebersamaan dengan keluarganya setelah hampir dua bukan berpisah.


Waktu berlalu...


kehamilan Novia semakin membesar uang yang di janjikan mertuanya belum di kembalikan padahal sudah lebih dari enam bulan, dia juga sungkan bertanya pada suaminya karena takut Irwan tersinggung.


" Sudah hampir tujuh bulan, tapi belum ada kabar dari mama padahal aku juga butuh persiapan untuk kelahiran anakku, Irwan juga sepertinya tak peduli apa sebaiknya aku tanyakan saja ya ?"


Novia terus berpikir sambil menimbang-nimbang apakah dia tetap diam menunggu atau bertanya pada suaminya, awalnya uang itu akan di gunakan untuk membangun rumah tapi karena keadaan Novia merubah rencananya.


Dia melirik jam di atas nakas, sudah jam sepuluh tapi matanya belum juga bisa terpejam sedangkan suami dan kedua anaknya sudah terlelap.


Sepanjang malam Novia hanya memikirkan bagaimana caranya, lama berpikirnya akhirnya dia memutuskan besok pagi dia akan membicarakan masalah tersebut pada suaminya.


" Baiklah, dari pada di pendam sendirian besok aku akan menanyakan Irwan perihal uang itu."

__ADS_1


__ADS_2