
Part 59
Paginya Irwan bersiap berangkat kerja dan mengantar Camillah ke sekolah, sedangkan Novia dia memilih izin karena harus mengurus putranya yang sakit.
" Kalau panasnya belum turun juga sampai siang nanti, kita bawa ke rumah sakit." Ucap Novia sembari menenteng tas Camillah.
" Iya." Sahut Irwan berjalan di samping istrinya, mereka beriringan keluar dari kamar.
Sampai di luar Irwan berpamitan pada mertuanya kebetulan pagi ini juga berkumpul di teras.
" Aku berangkat dulu, mungkin hari ini aku akan pulang lebih cepat."
" Iya." Balas Novia mengikuti langkah anak dan suaminya, sedangkan pak Wahyu dan istrinya hanya mengangguk saat menantunya pamit.
Irwan dan Camillah masuk ke dalam mobil, kemudian dia menyalakan mesin dan mobil pun bergerak menjauh meninggalkan rumah.
Novia berbalik, saat melewati orang tuanya pak Wahyu menanyakan keadaan Emir cucunya.
" Bagaimana keadaan Emir ?"
" Masih panas pah, kalau panasnya belum juga turun sampai siang nanti kami akan membawanya ke rumah sakit."
" Iya, memang seharusnya begitu."
Kemudian Novia berlalu, masuk kembali ke dalam kamar menemani anaknya yang sakit.
Emir Al Ayubi...
Nama pemberian pak Wahyu untuk putra Novia, bahkan dia sengaja memyematkan nama belakangnya pada nama Emir sebagai bentuk rasa kecewanya pada orang tua Irwan.
Baru kali ini pak Wahyu menunjukkan protesnya, mungkin sudah terlalu geram melihat sikap mertua Novia yang dia anggap keterlaluan.
Siangnya Novia menemui orang tuanya di belakang rumah, dia sudah memutuskan untuk membawa anaknya ke rumah sakit karena panasnya belum juga turun.
" Mah pah, kami akan membawanya sekarang aku titip Millah dan Diba nanti Irwan juga sesekali pulang kesini menemani mereka tidur."
" Sudah, tak usah memikirkan yang lain biar kami yang mengurus mereka berdua, kamu fokus saja pada Emir."
Bu Ratih masuk dan membantu Novia menyiapkan kebutuhan anak dan cucunya nanti di rumah sakit.
" Vi, suamimu mana, siapa yang mengantar kalian ?"
" Masih dalam perjalanan pulang mah."
Tak lama, terdengar deru mesin mobil Irwan di luar.
" Itu mobilnya datang mah."
Novia berjalan keluar menyambut suaminya, baru berapa langkah Novia berhenti dan mematung begitu pun Bu Ratih yang berada tepat di belakang Novia.
Seperti mimpi di siang hari, dia melihat sosok ayah mertuanya berdiri di depan pintu ruang tamu bersama suaminya.
" Ya Allah mimpi aku semalam, atau jangan ini halusinasiku."
Bu Ratih menyenggol anaknya, Novia langsung tersadar dari lamunannya dan melangkah maju.
" Masuk pah."
__ADS_1
" Iya." Pak Ahmad melangkah masuk lalu duduk, wajahnya masih tampak pucat.
" Mana si bungsu, katanya sakit ?"
" Emm di dalam pah." Sahut Novia, tapi tatapannya mengarah pada suaminya yang juga duduk di sebelah pak Ahmad.
" Coba bawa kesini papa mau gendong cucu papa."
Novia seperti belum percaya dengan kalimat yang baru saja di dengarnya, namun Irwan langsung menimpali.
" Vi, bawa Emir kesini papa mau lihat cucunya."
Novia dan ibunya bangkit lalu berjalan masuk, Novia masuk ke kamarnya sedangkan bu Ratih menemui suaminya di kamar.
" Pah, ada pak Ahmad di luar."
" Hah mama bercanda ya ?" Pak Wahyu melepas buku yang di pegangnya lalu bangkit.
" Mama serius, dia kesini mau menengok cucu katanya."
Saat keluar kamar, pak Wahyu dan istrinya berpapasan dengan Novia yang menggendong Anaknya. Mereka saling pandang namun Novia memgedikkan bahunya dan berjalan ke ruang tamu dan orang tuanya mengikuti di belakang.
Mereka sudah ada di ruang tamu, Pak Wahyu menghamiri pak Ahmad dan menyapanya.
" Apa kabar pak ?"
" Alhamdulillah baik, maaf baru datang berkunjung."
" Oh tidak apa-apa pak, kami juga memaklumi kalau pak Ahmad sakit."
Pak Ahmad tersenyum dan mendongak ke arah Novia yang menggendong bayinya.
Novia menyodorkan bayinya dan di sambut pak Ahmad, bayi itu tampak tenang bersandar di bahu kakeknya. Seakan dia mengerti kerinduan pak Ahmad.
Semua yang hadir di ruangan itu tak bisa berkata-kata, mereka seperti terhipnotis melihat pemandangan di depan mereka.
Selama ini pak Ahmad tidak pernah sekalipun menengok cucu-cucunya, bahkan ketika dia masih sehat. Ini seperti kejadian langka tiba-tiba pak Ahmad datang dan meminta mengendong cucunya.
Tak ada yang berbicara, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Sedangkan pak Ahmad begitu menikmati pelukan cucunya, dia berjalan berputar sambil terus menciumi Emir.
Irwan berdiri dan mendekati ayahnya yang mulai terlihat kelelahan, dia mengambil Emir dari gendongan ayahnya.
" Pah, istirahat lah duduk dulu."
" Hmm."
Irwan menoleh ke arah istrinya.
" Vi, sudah siap ? Kita berangkat sekarang."
" Iya." Novia masuk ke dalam mengambil dua tas tenteng berisi pakaian dan kebutuhan di rumah sakit.
" Papa ikut juga ?" Bisiknya pada Irwan
" Tidak, aku akan mengantar papa pulang sekarang."
Irwan mengajak ayahnya pulang, Pak Ahmad berpamitan pulang dan meninggalkan kediaman pak Wahyu.
__ADS_1
Setelah pak Ahmad pergi, bu Ratih mendekati suaminya.
" Pah, apa papa tidak merasa aneh dengan tingkah pak Ahmad ?"
" Biasa saja mah, memang seharusnya seperti itu saat cucu sakit tidak ada yang aneh menurut papa."
" Hmm entahlah, mungkin hanya perasaan mama saja." Balasnya kemudian bangkit dan berjalan masuk.
Tak lama Irwan datang, Novia sudah siap dan menunggu sambil menggendong Emir yang tampak lemas.
Sebelum Irwan mengangkat tas dan memasukkan ke dalam mobil, pak Wahyu mengajak kedua cucunya keluar mengendarai mobilnya agar keduanya tak meminta ikut bersama Novia.
" Ayo nak Millah dan Diba ikut tata, kita ke mini market beli mainan."
Kedua bocah itu pun tertawa girang dan masuk ke dalam mobil kakeknya kemudian mobil berlalu pergi.
" Ayo Vi naik kita berangkat sekarang, barang-barangnya nanti aku yang bawa."
" Mah kami pamit."
" Iya hati-hati, besok kami akan kesana."
Irwan naik dan duduk di belakang kemudi, kemudian menyalakan mesin dan mobil bergerak perlahan meninggalkan bu Ratih.
Sudah dua hari Emir di rawat, pagi ini Novia meminta Irwan menemani anaknya di kamar karena dia harus ke apotek untuk menebus resep.
Saat di depan apotek, orang berkerumun menunggu antrian Novia memilih duduk di kursi tunggu sambil mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.
Namun matanya menangkap sosok yang tidak asing di antara orang-orang.
" Itu kan mama, kenapa ada di sini ? Oh mungkin mengambil obat untuk papa." Gumamnya
Karena rasa penasaran, Novia menghampiri ibu mertuanya lalu menyentuh bahu Bu Mini.
Bu Mini terperanjat saat bahunya di sentuh seseorang, dia menoleh dan terkejut dan tersenyum masam.
" Mama, sedang apa di sini ?"
" Menebus resep."
" Bodoh, sudah tahu di apotek pastinya menebus resep dan masih juga di tanya."
Novia menggaruk keningnya yang tidak gatal menyadari kebodohannya.
" Papa ada di mana ?" biasanya pak Ahmad ikut untuk melakukan cek up.
" Di ruangan."
" Maksudnya ?"
" Iya di ruangan papa di rawat di sini juga."
Novia terkejut, suaminya tak mengatakan apa-apa atau mungkin Irwan sendiri belum tahu kalau ayahnya juga di rawat di rumah sakit yang sama.
Setelah memdapatkan obat, bu Mini pamit dan berlalu meninggalkan Novia yang masih terheran-heran.
" Aku harus beritahu Irwan, kalau papa di rawat di sini."
__ADS_1
Dia tak sabar menunggu antrian dan kembali ke kamar untuk memberitahu suaminya kalau dia bertemu dengan ibu mertuanya di apotek.