
Part 51
Pagi-pagi sekali Irwan berangkat kerja, tujuan utamanya mengabari ibunya tentang solusi dari Novia.
Irwan sudah tiba di rumah orang tuanya, rumah tampak sepi bu Mini masih menemani suaminya di kamar.
" Asslamualaikum."
Tanpa menunggu jawaban Irwan masuk ke dalam, bu Mini keluar dan mereka berpapasan di depan pintu kamar.
" Mah, kita bicara sebentar ada hal penting yang akan aku sampaikan."
Bu Mini menoleh pada suaminya yang terlelap, kemudian dia menarik tangan Irwan ke ruang tamu.
" Kita bicara di sini duduklah, apa yang mau kamu sampaikan ?"
" Mah, semalam aku bicara sama Novia mengenai keadaan papa dan dia mau meminjamkan uang tabungannya untuk biaya perawatan papa di rumah sakit."
" Uang itu rencananya akan di pakai untuk membangun rumah, jadi katanya kalau mama sudah punya rizki lebih baru di ganti."
" Berapa uang tabungan istrimu ?"
" Sekitar Rp.3.000.000.00- mah,"
Bu Mini berpikir sejenak, ini kesempatan baik buatnya mendapat pinjaman uang dari menantunya di saat membutuhkan biaya pengobatan.
" Hmm, baiklah mama terima tapi beri waktu enam bulan kami menggantinya."
" Iya, nanti aku sampaikan pada Novia dan aku harap mama menggantinya tepat waktu sesuai perjanjian."
" Kamu pikir mama penipu ? Tentu saja kami akan menggantinya." Nada suara bu Mini berubah ketus.
" Bukan begitu mah, kasian kan Novia sudah punya rencana jangan sampai tertunda dia juga sudah mau membantu kita."
" Wan, kamu kalau setengah hati sebaiknya batalkan saja bantuan itu."
" Jangan tersinggung mah, maksud aku baik bukan menuduh mama sebagai penipu ya sudah aku minta maaf."
" Baiklah aku berangkat, nanti aku kabari lagi kalau uangnya sudah ada."
Irwan mengakhiri percakapan mereka, suasana hati ibunya mungkin sedang kacau jadi mudah tersinggung.
Irwan meninggalkan rumah orang tuanya, hari ini perasaannya sedikit lega sebab satu masalah sudah teratasi.
Sementara di rumah pak Wahyu...
" Ayo nak, sudah jam tujuh lebih nanti kita terlambat." Novia bergegas keluar dari rumah diikuti Camillah yang berlari kecil menyesuaikan langkah ibunya.
" Vi, Diba titip saja sama kami di sini kasihan dia."
Bu Ratih meminta Novia menitipkan Adiba pada mereka, saat melihat Novia menggendong Adiba sambil memegang tangan Camillah.
" Mah, Diba ini rewelnya minta ampun apa mama dan papa sanggup mengatasinya ?"
" Insyaa Allah bisa, dari pada dia harus ikut kamu ke tempat kerja nanti malah merepotkan kamu di sana."
Akhirnya Novia pun menitipkan Adiba pada orang tuanya di rumah, tentu penuh drama dan butuh waktu untuk membujuk balita itu.
Tiba di sekolah, Novia langsung masuk ke kelasnya, dia terlambat sepuluh menit dan untungnya Putra mau mengisi kekosongan di kelasnya menunggu Novia datang.
__ADS_1
" Assalamualaikum."
" Waalaikumussalam."
" Maaf aku terlambat, maklumlah punya balita pagi hari pasti kerepotan."
Novia sedikit memberi penjelasan pada Putra penyebab dia terlambat datang.
" Santailah Vi, di maklumi dan di maafkan tapi jangan lupa traktir pisang gorang ya."
" Huuft selalu ada imbalannya, kebiasaan." Gerutu Novia sambil mendorong tubuh Putra keluar dari kelas sedangkan Putra hanya tergelak dan berlalu pergi.
Anak-anak kelas satu berhamburan keluar kelas, Camillah mendatangi ibunya dan menunggu di sana.
Novia melirik jam di tangannya " sudah jam sebelas, aku izin pulang lebih cepat."
Rencananya dia akan mengambil uang tabungannya yang akan di pinjamkan untuk mertuanya.
Setelah muridnya pulang, Novia membereskan kelasnya, memasukkan kembali buku-buku ke dalam rak begitulah aktifitasnya sehari-hari di kelas sebelum pulang.
" Ayo nak kita pulang." Dia mengajak Camillah pulang dan mereka berjalan menuju ruang guru.
" Mama izin dulu sama kepala sekolah, Millah tunggu di sini." Camillah menunggu di dekat parkiran sedangkan Novia masuk ke ruang guru.
" Assalamualaikum, pak kepala sekolah ada di dalam ?" Novia menunjuk ruangan Pak Rizal.
" Iya ada, masuklah." Sahut Diana tanpa menoleh kearah Novia.
Novia mengetuk pintu...
" Ya silahkan masuk."
Dia membuka pintu dan melangkah masuk, Novia berdiri di depan meja kerja pak Rizal.
" Ada yang bisa di bantu bu Novia ?"
" Hmm, eh saya pamit pulang pak karena ada urusan penting yang akan di selesaikan."
" Muridnya sudah pulang ?"
" Iya pak."
" Oh iya, silahkan sampai jumpa besok bu."
" Iya, terima kasih pak saya permisi."
Novia berbalik dan melangkah ke luar ruangan, Diana menyambut Novia yang baru keluar dengan wajah datar.
" Sepertinya kamu sering masuk ke ruangan pak Rizal ada apa ya ?"
" Tidak juga, hanya kalau ada sesuatu yang penting untuk di sampaikan baru aku masuk ke dalam menemui beliau."
" Hari ini ada yang penting juga ?" selidik Diana.
" Aku cuma izin pulang duluan karena ada urusan penting."
" Oh begitu, enak ya jadi kamu bisa pulang sesuka hati." Balas Diana ketus.
" Diana kenapa ya ? Aneh, padahal dia sendiri juga sering izin pulang." Gumam Novia dalam hati.
__ADS_1
Tak mau berlama-lama di situ dan juga tak mau menanggapi sikap Diana yang menurutnya aneh, Novia pamit dan meninggalkan Diana berjalan ke parkiran karena Camillah sudah menunggu.
" Ayo nak kita berangkat sekarang."
Novia naik ke atas motornya dan perlahan bergerak meninggalkan parkiran sekolah.
" Kita mau kemana mah, ini kan bukan jalan ke rumah ?"
" Mama ada urusan, Millah kalau ngantuk bilang ya sama mama."
Camillah hanya mengangguk, lalu memeluk erat ibunya dari belakang.
Setelah urusannya selesai, Novia bergegas pulang. Dia sudah tiba di rumah dan langsung masuk ke kamar di susul Camillah yang juga ikut masuk.
" Ganti seragamnya nak, taruh di keranjang pakaian kotor." Camillah mengangguk.
" Mah, dedek Diba dimana ?" Camillah mencari adiknya, karena sejak tiba di rumah dia melihat adiknya.
" Mungkin di belakang, kita kesana."
Dan benar saja, mereka ada di kebun belakang tempat ternyaman untuk pak Wahyu dan istrinya beristirahat ketika siang hari.
Mereka duduk di sebuah gazebo yang sengaja di bangun di situ, tampak Adiba terlelap di samping bu Ratih suasana memang sangat mendukung angin sepoi-sepoi dan berbagai macam tanaman menambah kesejukkan.
Siang itu mereka menghabiskan waktu berbincang di kebun belakang, hingga tak terasa waktu sudah hampir sore.
" Mah, sudah waktunya ashar, shalat dulu." Pak Wahyu mengingatkan istrinya.
Mereka pun masuk, Novia menggendong Adiba kedalam lalu memandikan kedua anaknya.
Tak lama suara mobil Irwan terdengar di luar, Camillah berlari menyambut ayahnya pulang.
" Tumben cepat, biasanya pulang malam" gumam Novia, Dia kemudian menyusul Camillah keluar sambil menggendong Adiba.
Irwan turun, menutup pintu mobil dan berjalan menghampiri anak dan istrinya yang berdiri di teras, wajahnya tampak lelah.
" Assalamualaikum."
" Waalaikumussalam."
" Tumben, biasanya pulang malam ?"
" Penumpang sepi, keliling mencari penumpang malah bahan bakar yang habis." Jawab Irwan lalu mengambil Adiba dari gendongan Novia.
Mereka berempat masuk ke kamar, Irwan melepas bajunya dan hanya memakai kaos singlet kemudian bercengkerama dengan kedua anaknya.
" Wan, uangnya sudah aku ambil tadi siang kapan di kasih ke mama dan papa ?"
" Besok pagi, kamu temani aku kesana dan menyerahkan langsung uangnya pada mama."
" Bagaimana kalau kamu saja yang menyerahkan ? Besok aku kan harus ngajar."
" Jangan Vi, itu kan uang tabunganmu, jadi sebaiknya kamu sendiri yang menyerahkan pada mama."
" Hmm baiklah, ya sudah kamu mandi sana bau."
Novia bangkit, mengambil handuk dan diberikan pada suaminya.
Di dalam kamar mandi, Irwan memikirkan bagaimana reaksi ibunya besok bertemu Novia. Selama ini Novia dan ibunya tidak pernah lagi bertemu.
__ADS_1
" Mudah-mudahan besok mama jangan berkata yang aneh-aneh dan membuat Novia tersinggung."
Dia mengusap wajahnya kasar, merasa gagal karena tak bisa membuat ibu dan istrinya akur.