Fitnah Berbuah Karma

Fitnah Berbuah Karma
Kutahu Maksudmu


__ADS_3

Part 106


Irwan melangkah masuk ke dalam rumah, melewati Novia yang duduk di dekat pintu. Lelaki itu tak berani menyapa apalagi bertanya saat melihat ekspresi istrinya.


"Mama kenapa?" tanya Irwan pada anak sulungnya


"Tidak tahu pah," sahut Camillah


"Apa mama marah pada kalian?" tanya Irwan lagi masih penasaran


Camillah menggeleng, sebab dia sendiri juga tidak tahu apa yang terjadi dan bingung dengan pertanyaan ayahnya karena menurutnya ibunya baik-baik saja.


"Ya, sudah. Papa mau mandi dulu, sana temani mama di luar," ujar Irwan lalu masuk ke dalam kamar


Anak perempuan itu kembali menemui ibunya di luar. Tapi, Novia sepertinya tidak menyadari kehadiran Camillah, dia justru asyik dengan lamunannya dan mengabaikan anak perempuannya tersebut.


Camillah menatap dalam wajah Novia, anak itu menyentuh pundak ibunya sambil berkata,"mama sakit?"


Sentuhan Camillah menyadarkan Novia dari lamunannya, kemudian menoleh dan melempar senyum pada anaknya.


"Millah mau apa?" bukannya menjawab pertanyaan anaknya, Novia malah balik bertanya seakan tak mendengar ucapan Camillah sebelumnya.


Camillah melongo, makin bingung dengan pertanyaan ibunya. Anak itu menggelengkan kepalanya sebagai jawaban lalu dia masuk kembali ke dalam rumah dan memilih menyetel televisi di ruang keluarga.


Irwan sudah selesai mandi, lelaki itu keluar dari kamar untuk menemui Novia di teras. Sebelumnya dia berhenti dulu ketika melihat Camillah di ruang keluarga.


"Mama masih di luar?" tanya Irwan


Camillah mengangguk namun, pandangannya masih lurus ke depan menatap layar televisi.


Irwan berbalik dan melanjutkan langkahnya keluar, sementara itu Novia masih tetap pada posisinya dan belum mau beranjak.


Ayah tiga anak itu berdiri di depan istrinya, Novia mengangkat wajah lalu berkata,"kenapa berdiri di situ? ada kursi yang kosong. Duduklah!"


Irwan menarik kursi dan duduk di sebelah istrinya, untuk beberapa saat keduanya diam tak bicara dan hanya memandang lurus ke depan.


"Vi, aku ingin bicara, kamu mau mendengar?"


"Selama ini, aku selalu menjadi pendengar yang baik, jadi bilang saja apa yang ingin kamu bicarakan," balas Novia


"Tadi pagi, sebelum berangkat kerja aku singgah dulu ke rumah mama dan menanyakan kabar Romi."


"Ternyata dia sudah kembali, sudah menikah siri pula dengan wanita yang kabur bersamanya itu," ujar Irwan.

__ADS_1


Novia menoleh, sepertinya dia sedikit tertarik mendengar kelanjutan cerita Irwan.


"Bagaimana nasib wanita yang dia hamili sebelumnya?" tanya Novia


"Mereka sudah menikah Vi. Tapi, mama tidak mengabari kita dan sekarang Romi memiliki dua istri sekaligus."


"Waah, hebat adikmu! kamu tidak berniat mengikuti jejaknya?" ejek Novia


"Astagaa Vi, menghidupi kalian saja aku harus pontang-panting bahkan sampai pulang malam. Jangan berpikir yang aneh-aneh," jawab Irwan sembari menyapu wajahnya.


"Aku hanya bertanya, tidak usah terlalu sensitif. Lantas masalahnya dengan kita apa kalau Romi punya dua istri?" Nada suara Novia terdengar sinis.


Irwan diam sejenak, reaksi Novia membuatnya enggan melanjutkan pembicaraan karena dia sadar sebenarnya Novia tidak menyukai sikap dan perilaku keluarganya.


"Maafkan aku Vi, bukan bermaksud ingin membebanimu dengan masalah keluargaku, aku hanya bingung mau bicara pada siapa lagi kalau bukan pada istriku," ujar Irwan


"Tidak perlu minta maaf, yang berbuat kan Romi bukan kamu," balas Novia


"Hmm, benar katamu. Tapi, aku heran dengan sikap mama yang seakan tak mau peduli dengan iatri pertama Romi dan lebih memihak pada istri kedua."


"Kenapa harus heran? Seandainya kamu juga melakukan hal yang sama, aku sudah bisa pastikan mamamu akan berpihak pada selingkuhanmu," sindir Novia


Sindiran Novia bagaikan pedang yang menancap ke ulu hati, Irwan tak bisa berkata-kata lagi.


Pasangan itu pun beranjak dari tempatnya, tanpa berbicara lalu melangkah masuk ke dalam rumah.


Novia menyiapkan diri untuk melakukan ibadah shalat maghrib, tak lupa dia mengajak ketiga anaknya untuk ikut bersamanya.


Berbeda dengan dulu. kini, Novia tak lagi mengajak suaminya bahkan untuk menyuruhnya shalat pun Novia seakan enggan dan terkesan tak mau peduli lagi.


Perubahan yang cukup nyata, hanya saja Irwan kurang begitu peka untuk menyadarinya.


Keesokkan harinya, Novia kembali masuk kerja seperti biasa. Tak ada yang istimewa semua berjalan lancar sampai jam pulang tiba dan dia kembali pulang ke rumahnya bersama ketiga anaknya.


Sebelum waktu ashar tiba, suara mobil Irwan sudah terdengar masuk ke garasi. Yang artinya Irwan pulang lebih cepat hari ini.


"Tumben cepat pulang?" ujar Novia yang datang menyambut suaminya.


"Aku capek, mau istirahat makanya pulang cepat hehe," kekeh Irwan.


Tapi, ada yang aneh. Irwan memiringkan kepalanya menatap Novia. Merasa heran karena istrinya datang menyambutnya pulang, sesuatu yang sudah lama Novia tidak lakukan.


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Novia

__ADS_1


"Aku cuma heran, tumben juga kamu menyambutku," balas Irwan.


"Hehe, jangan senang dulu. Kebetulan aku memang mau keluar waktu mobilmu masuk," elak Novia.


"Hmmm, oke. Baiklah kalau begitu," sahut Irwan kecewa.


Irwan melangkah masuk diikuti Novia di belakangnya, sampai di depan kamar Irwan berhenti dan memutar tubuhnya.


"Kemana anak-anak?"


"Menghadiri undangan ulang tahun anak tetangga, Camillah yang menemani Diba dan Emir," jawab Novia.


"Kenapa bukan kamu yang menemani mereka? Millah itu masih kecil Vi, bagaimana jika adik-adiknya butuh sesuatu?"


Irwan sepertinya tak suka, jika Novia terlalu memaksakan Camillah melakukan sesuatu yang bukan menjadi tanggung jawabnya.


"Tadinya, aku mau mengantar mereka. Tapi, Camillah menolak dia bilang bisa mengurus kedua adiknya."


"Katanya, kalau mama yang mengantar aku tidak bisa ikut ke sana."


Novia mengulangi ucapan Camillah, karena sebelumnya memang Novia yang akan mengantar. Tapi, Camillah memohon supaya dia yang menggantikan ibunya dan bisa menghadiri acara tersebut.


Irwan akhirnya diam dan masuk ke kamar, mengambil handuk lalu mandi karena tubuhnya terasa penat.


Tak lama kemudian, Irwan keluar kamar dengan pakaian yang sudah rapi lalu mendekat pada istrinya yang sedang nonton.


"Vi ...,"


Irwan belum melanjutkan kalimatnya, akan tetapi menatap wajah istrinya terlebih dahulu untuk memastikan ekspresi Novia.


"Kamu mau bilang apa?" tanya Novia penasaran


"Mama tadi memanggilku ke rumah, membahas mengenai Romi dan kedua istrinya."


"Kebetulan Romi juga hadir di sana, untuk mencari solusi dan cara agar masalahnya cepat selesai," lanjut Irwan.


"Hmm, lantas apa solusinya?" tanya Novia


"Romi ingin menceraikan istri tuanya. Tapi, masalahnya dia harus bolak-balik mengurus surat dan administrasinya."


Tiba-tiba saja perasaan Novia jadi tidak enak, mulai paham arah pembicaraan Irwan padanya.


"Oh, tidak bisa, Kali ini aku tidak bisa kalian tipu. Memangnya aku ini mesin ATM kalian hah," gerutu Novia dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2