Fitnah Berbuah Karma

Fitnah Berbuah Karma
Tulus


__ADS_3

Part 50.


Satu tahun berlalu...


Sejak kejadian perselingkuhan Irwan dan Sukma, Novia memutuskan tinggal bersama orang tuanya, dia tak lagi mau kembali ke rumah yang mereka tempati.


Bukan karena rumah itu tak layak di huni, tapi Novia merasa kurang nyaman terlebih lingkungannya juga kurang mendukung untuk tumbuh kembang anak-anaknya.


Mengingat ibunya juga sudah sakit-sakitan Novia tidak tega meninggalkan orang tuanya dan berniat merawat kedua orang tuanya di usia senja.


Irwan pun tak keberatan dengan keputusan Novia, karena tahu anak-anaknya nyaman tinggal bersama kakek dan neneknya, orang tua Novia.


Tahun ini, bu Ratih mendapat panggilan untuk berangkat haji, tentu merupakan kabar gembira bagi keluarga mereka terutama pak Wahyu yang sudah lama mendaftarkan istrinya.


Pagi ini...


Seperti biasa, Novia berangkat kerja bersama anak sulungnya karena tahun ini Camillah sudah masuk Sekolah Dasar di usianya yang genap enam tahun. Dia juga membawa serta Adiba karena usianya sudah hampir dua tahun.


Irwan pun sudah lebih dulu berangkat kerja, sejauh ini sikap dan perilaku Irwan mulai berubah dan hal itu cukup membawa pengaruh pada hubungannya dengan Novia dan juga mertuanya.


" Mah, kapan jadwal manasik ?" obrolan pak Wahyu dan istrinya setelah anak dan menantunya pergi.


" Minggu depan pah, dokumen-dokumen penting mama juga sudah siap."


" Perbanyak ibadah dan sering-sering istighfar mah siapkan diri dan hati mulai sekarang." Pesan pak Wahyu pada istrinya.


" Besok hari minggu, kita panggil anak-anak berkumpul membicarakan keberangkatan mama."


" Iya, Riska dan Randi belum tahu mama akan berangkat haji, kalau Novia mama sudah memberitahu dia kemarin."


" Sore, papa akan ke rumah Riska dan Randi."


Sesuai rencana, keesokan harinya mereka semua berkumpul. Dan pak Wahyu membuka perbincangan.


" Kalian tahu kenapa papa meminta kalian datang ?"


Mereka semua menggeleng, tentu saja penasaran kenapa tiba-tiba saja mereka di panggil untuk datang.


" Tahun ini mama akan berangkat haji, sebagai orang tua tentu kami harus memberitahu kalian dan memohon doa dari kalian semua." Lanjut pak Wahyu.


Mendengar kabar itu, refleks Riska membuang muka raut mukanya seperti tak suka. Sementara anak-anak yang lain tampak tersenyum senang demikian juga Novia.


" Maaf pah, bukannya aku tidak setuju mungkin sebaiknya di tunda dulu keinginan mama."


Riska akhirnya buka suara, dan mereka yang hadir di situ terkejut mendengar pernyataan Riska yang terkesan aneh.


" Alasannya apa harus menunda rencana itu ?"


Selidik pak Wahyu, menurutnya cukup aneh jika Riska mencegah niat baik orang tuanya untuk beribadah.


" Anak papa dan mama kan masih ada yang hidupnya belum layak, jadi alangkah baiknya biaya haji itu dibagi saja ke anak-anak papa.


" Astaghfirullah hal adziim kak Riska, ada apa dwnganmu ?" gumamnya dalam hati.


Novia tak habis pikir mendengar alasan kakaknya yang tak bisa di terima akal sehatnya, tapi dia tetap diam hanya sebagai pendengar mengingat posisinya sebagai anak bungsu dan menghargai kakak-kakaknya.


" Riska, panggilan haji itu tidak ada hubungannya dengan kehidupan kalian anak-anak kami, ini murni ibadah kepada Allah menyempurnakan rukun Islam."

__ADS_1


" Sebagai orang tua, tentu kami juga tidak melepas tanggung jawab pada kalian meskipun kalian sekarang semuanya sudah berumah tangga."


" Tanpa kalian minta, kami sebagai orang tua sudah pasti tidak akan tega melihat jika ada salah satu di antara kalian mengalami kesusahan tentu kami akan membantu semampunya."


Panjang lebar pak Wahyu berbicara, ucapan Riska sedikit membuatnya tersinggung.


Hening...


Tak ada satu pun yang berani bersuara, semua diam dengan pikiran masing-masing.


Tangisan Adiba memecah keheningan, Novia bergegas bangkit menghampiri anaknya dia menggendong anaknya menjauh agar suara tangisannya tidak mengganggu.


" Papa rasa cukup perbincangan kita, minggu depan mama sudah harus ikut manasik dan dokumen penting lainnya juga sudah siap."


Pak Wahyu bangkit lalu berjalan masuk ke dalam kamar meninggalkan anak-anaknya, bu Ratih pun menyusul suaminya.


" Pah, sepertinya Riska kurang setuju mama berangkat haji ?"


" Sudah mah, fokus saja ibadah dan banyak berdoa jangan memikirkan hal tidak penting."


" Anak itu memang berbeda dari saudara-saudaranya yang lain, dia selalu iri jika kita membantu saudaranya."


" Mungkin ini ujian untuk kita pah."


" Sudah, jangan di pikirkan nanti malah jadi penyakit." Balas pak Wahyu.


Sore harinya, anak-anak pak Wahyu berpamitan pulang ke rumah masing-masing.


Novia membereskan piring kotor dan juga rumah yang berantakan, sementara pak Wahyu menemani kedua cucunya bermain.


" Ya Allah tubuhku rasanya remuk, begitu banyak piring dan peralatan masak yang kotor."


Jika anak-anak pak Wahyu berkumpul, kondisi rumah pasti akan berantakan karena cucu mereka yang banyak dan usianya tak jauh beda dari anak Novia.


Hari mulai malam, setelah shalat isya mereka makan malam.


" Suamimu belum pulang ?"


" Belum mah, mungkin dia mampir dulu ke rumah orang tuanya."


" Bagaimana kabar mertuamu sekarang ?"


Novia menggeleng " aku tidak tahu mah, Irwan juga jarang membicarakan tentang orang tuanya."


" Hmm."


Mereka menyudahi pembicaraan karena sudah selesai makan, Novia membereskan meja makan sedangkan pak Wahyu dan istrinya masuk ke kamar untuk beristirahat.


" Ayo nak kita masuk ke kamar."


Novia mengajak kedua putrinya masuk ke kamar dan menunggu suaminya pulang.


Satu jam kemudian, terdengar suara deru mobil di luar, Camillah melonjak kegirangan si kecil Adiba pun ikut tertawa menampakkan giginya.


" Papa pulang !"


" Huusst jangan berisik nanti ina dan tata bangun."

__ADS_1


Novia menyuruh Camillah membuka pintu, lalu dia menuntun si kecil Adiba mereka bertiga keluar dari kamar untuk menyambut suaminya.


Baru saja Irwan mau mengetuk pintu, tiba-tiba tubuh mungil Adiba muncul di balik pintu sontak Irwan mundur beberapa langkah karena terkejut.


Dia memegang dadanya sembari menahan tawa.


" Astagaa, papa kira tuyul yang muncul dibalik pintu haha."


Irwan tergelak, menghampiri Adiba dan menggendongnya Novia dan Camillah pun ikut tertawa geli melihat kelucuan Adiba.


Mereka beriringan masuk ke kamar, Irwan menurunkan Adiba dari gendongannya.


" Sudah makan ?"


" Sudah di rumah mama." Sahut Irwan.


Irwan melepas bajunya lalu mengambil handuk.


" Ada yang mau bicarakan, tapi aku mandi dulu biar segar." Kemudian Irwan melangkah masuk ke kamar mandi.


Sedangkan kedua anak Novia sudah terlelap.


" Ya Allah nak, kalian kalau sudah capek pasti modelnya seperti ini."


Novia merapikan posisi kedua anaknya yang tidur dengan berlawanan arah, tingkah mereka kadang lucu dan menghibur.


Irwan keluar dari kamar mandi, pandangannya langsung tertuju ke arah ranjang.


" Vi, bukannya tadi mereka masih main ? Sekarang sudah terlelap."


" Hehe beginilah kelakuan mereka kalau lagi capek." Novia terkekeh lalu menoleh pada anaknya.


" Oh iya tadi katanya mau bicara ?"


" Iya, aku pakai baju dulu."


Irwan mengambil pakaian bersih dari dalam lemari, kemudian memakainya. Setelah itu dia duduk di sebelah istrinya.


" Vi, akhir-akhir ini penyakit papa semakin parah, mungkin aku lebih sering pulang malam."


" Parah bagaimana maksudnya ?"


" Tadi siang papa kambuh, banyak memuntahkan darah." Pandangan Irwan berubah sendu.


" Oh jadi papa di rawat di rumah sakit sekarang ?"


" Tidak, kamu tahu sendiri kan biaya rumah sakit mahal Vi."


" Bagaimana bisa, dalam kondisi seperti itu kalian malah menahannya di rumah dan tidak membawanya ke rumah sakit."


" Vi, biaya perawatan rumah sakit mahal."


" Wan, aku punya sedikit tabungan kamu pakailah dulu. Setidaknya bisa membantu, tapi uang itu aku simpan untuk membangun rumah."


" Aku bicarakan dulu pada mama, semoga mama setuju."


" Iya, nanti kamu bisa menggantinya dengar cara mengangsur jadi lebih ringan."

__ADS_1


Irwan diam, saran dari Novia ada benarnya. Dia harus menyampaikan pada ibunya dan semoga ibunya mau menerima bantuan Novia.


__ADS_2