
Part 96
Novia tiba di rumah, Irwan menyusul istrinya setelah memarkir mobilnya.
"Rumah ini suasananya jadi berbeda, apalagi mama sekarang di rumah kak Riska," ucap Novia tertunduk lesu
"Sudah, jangan bersedih doakan saja semoga mama sehat seperti sedia kala," balas Irwan sambil membelai rambut istrinya.
"Lebih baik kita membereskan rumah, sudah berhari-hari kita tinggalkan," ajak Irwan.
Keduanya berbagi tugas, Novia membereskan seluruh ruangan dalam rumah sedangkan Irwan membersihkan halaman depan dan kebun belakang.
Seharian mereka membersihkan rumah, Novia meminta suaminya membeli makanan untuk mereka karena dia tak sempat memasak.
Sore harinya, mereka beristirahat di ruang keluarga menikmati tayangan kartun kesukaan Emir dan Adiba.
"Wan, hatiku rasanya hampa," ucap Novia
"Besok kita tengok mama." Irwan seperti memahami perasaan istrinya dan mengajak Novia menengok Ibu Mertuanya esok hari.
"Sebenarnya, aku malas ke rumah kak Riska aku kurang nyaman dengan suaminya," jawab Novia.
"Kita kesana untuk mama, bukan yang lainnya."
Rumah besar Pak Wahyu kini hanya di huni keluarga kecil Novia, tadinya rumah itu tak pernah sepi tapi sekarang tinggal mereka berlima.
Besok paginya sesuai rencana mereka, Novia menyiapkan diri dan anak-anaknya untuk mengunjungi ibunya.
"Wan, sebelum kesana kita mampir dulu ke pasar, aku mau membeli sesuatu," ujar Novia pada suaminya.
"Mau beli apa?"
"Makanan, tidak enak kalau kita datang tanpa buah tangan," jawab Novia
"Iya, jangan lupa beli camilan untuk anakmu." Irwan mengingatkan Novia agar membeli makanan untuk anak-anaknya
Novia sudah ada di rumah Riska, sebelum masuk dia memastikan kembali bawaannya jangan sampai ada yang tertinggal di dalam mobil karena Irwan hanya mengantar mereka dan menjemput kembali setelah pulang kerja.
Rumah Riska tampak sepi, Novia memgetuk pintu dan mengucap salam, terdengar sahutan dari dalam kemudian pintu terbuka.
"Eh kalian, ayo, masuk," ucap Riska mengajak adik dan ponakannya masuk.
"Iya, mama ada di mana kak?" tanya Novia sembari berjalan mengikuti langkah kakaknya masuk.
"Ada, di kamar belakang," jawab Riska.
"Ini kamar mama, masuklah." Riska meninggalkan Novia dan ponakannya di depan pintu kamar
Sebelum masuk, Novia mewanti-wanti ketiga anaknya supaya tidak berisik agar tidak mengganggu penghuni rumah yang lain.
__ADS_1
Novia berdiri di ambang pintu, sementara Bu Ratih belum menyadari kehadiran anak bungsunya.
"Mah," sapa Novia
Bu Ratih menoleh, matanya berkaca-kaca menatap kearah Novia.
Novia melangkah masuk dan menghambur memeluk ibunya, keduanya saling berpelukan melepas rindu padahal baru sehari mereka berpisah.
"Mama mau pulang Vi," ujar Bu Ratih memelas.
"Mah, kalau mama pulang sekarang nanti kak Riska tersinggung dan mengira aku yang mengajak mama," ucap Novia pelan.
"Mama tidak betah di sini, tidak ada yang menemani mama tidur."
Novia terdiam dan tertegun, pantas saja ibunya meminta pulang pasti karena merasa kesepian.
"Sabar mah, nanti aku sering-sering kesini menemani mama," bujuk Novia.
Jauh di dasar hati Novia, sungguh iba melihat keadaan ibunya yang ternyata merasa tidak nyaman berada di rumah kakaknya.
Bu Ratih selalu menolak jika Art yang datang membawa makanan, Riska lebih mempercayakan orang lain yang mengurus ibunya dengan alasan banyak kesibukan yang harus di selesaikan.
"Mama tidak mau orang lain yang mengurus dan merawat mama, lebih baik mama pulang." Bu Ratih memohon pada Novia agar permintaannya dikabulkan.
"Aku bicarakan dulu dengan kak Randi, jangan sampai aku dianggap lancang mah," balas Novia
"Janji?"
"Iya, aku janji," sahut Novia
Bu Ratih akhirnya tenang kembali, di rumah Riska semuanya terpenuhi tapi sayangnya Riska tidak bisa sepenuhnya mengurus ibunya, hanya sesekali dia masuk ke kamar ibunya dan bertanya apa yang ibunya butuhkan.
Tentu saja hal itu membuat Bu Ratih kurang nyaman, karena dia terbiasa di rawat dengan baik oleh Novia bahkan setiap saat Novia selalu berada di dekatnya.
Seperti janjinya, Novia menemani dan mengurus ibunya sepanjang hari, sampai suaminya datang menjemput mereka pulang.
"Mah, Irwan sudah datang menjemput, kami harus pulang," pamit Novia.
Wajah Bu Ratih berubah, senyumnya langsung menghilang ketika Novia meminta ijin pulang.
"Mama ikut," pinta Bu Ratih
"Jangan mah, besok siang aku kesini lagi," bujuk Novia
Bu Ratih tidak membalas ucapan Novia, justru dia membuang muka tak mau menatap anak bungsunya.
Novia berlutut di depan ibunya, tangannya membelai lembut rambut ibunya sambil berkata,"aku tahu mama ingin pulang ke rumah mama, tapi aku tidak bisa mengambil keputusan sendiri."
"Tolong mengerti posisiku mah, aku tidak mau ribut dengan saudara sendiri," ucap Novia lagi.
__ADS_1
Cukup sulit Novia membujuk ibunya, pada akhirnya Bu Ratih mengalah dan mengijinkan Novia pulang.
Dengan berat hati Novia meninggalkan ibunya, matanya berkaca-kaca ketika naik ke dalam mobil dan tentu saja menimbulkan pertanyaan bagi Irwan.
"Kenapa bersedih?" tanya Irwan saat sudah di perjalanan pulang.
"Mama ingin ikut, katanya tidak betah di rumah kak Riska," jawab Novia
"Alasannya?"
"Ternyata selama di Rumah Kak Riska, hanya orang lain yang mengurus mama bukan kak Riska."
Irwan bingung, harus berkata apa karena dia juga sadar posisinya hanya seorang menantu di keluarga istrinya.
"Maaf Vi, kali ini aku tidak bisa banyak membantu. Hanya menyarankan sebaiknya kalian bicarakan baik-baik," usul Irwan.
"Iya, rencananya aku akan bilang pada Kak Randi dan bertanya solusi padanya," sahut Novia
Keesokkan hari, karena terlalu sibuk dengan tugasnya di sekolah Novia belum bisa memenuhi janjinya untuk mengunjungi ibunya
Bu Ratih gelisah menunggu kedatangan Novia, tak henti-hentinya dia bertanya pada Art yang biasa ditugaskan merawatnya.
Malam hari, Novia duduk di teras rumah bersama ketiga anaknya menunggu suaminya pulang. Sesaat kemudian mobil Irwan masuk ke halaman, anehnya Irwan belum juga turun meski mobil sudah terparkir.
Karena rasa penasaran, Novia menghampiri mobil suaminya, alangkah terkejutnya dia saat membuka pintu mobil bagian depan. Ternyata ibunya duduk bersama suaminya di dalam.
"Astaghfirullah, mamaa!" Novia menutup mulutnya sambil menatap ke arah suaminya meminta penjelasan.
Irwan hanya tersenyum tipis, kemudian berkata pada Novia,"seharian mama menunggu, tapi kamu tidak datang."
"Ah, iya, maafkan aku mah, tadi banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan," ucap Novia penuh sesal.
"Tadi aku mampir ke rumah kak Riska, karena mengira kalian ada di sana. Tapi ternyata tidak ada."
"Aku lihat mama sedih, makanya aku ajak berkeliling kota dan sekalian kesini," ujar Irwan.
"Oh, ya? mama nginap di sini kan?" tanya Novia tersenyum girang.
Bu Ratih hanya diam, pandangannya lurus ke depan tak mau melihat ke arah Novia.
"Ayo, turun mah, lihat rumah mama," ucap Novia semangat.
Akan tetapi, ucapan yang keluar dari mulut Bu Ratih membuat Novia terdiam.
"Mama di sini saja, tidak mau turun dan juga mama tidak akan melihat rumah mama," ucap Bu Ratih datar.
"Wan?"
Novia menatap suaminya, hatinya merasa aneh mendengar ucapan ibunya. Irwan mengangkat kedua bahunya sebagai tanda bahwa dia juga tidak mengerti apa maksud perkataan Ibu Mertuanya.
__ADS_1