Fitnah Berbuah Karma

Fitnah Berbuah Karma
Naluri Ibu


__ADS_3

Part 36


Barang-barang Novia sudah terkemas, tak lupa dia membereskan rumah karena dia tak mau meninggalkan rumah dalam keadaan berantakan.


Irwan masih pada posisi yang sama tidur dilantai tanpa alas, Novia dan tak mau mengusiknya.


" Lakukan sesukamu, aku tak mau membuang waktu mengurusi semua kegilaanmu" gumamnya ketika melewati Irwan yang masih belum sadar dari mabuknya.


" Kenapa papa tidur sini mah ?" tanya Camillah yang terus mengekori ibunya.


" Di kamar panas gerah, makanya papa tidur di sini."


Novia duduk di kursi mengatur napasnya yang terengah-engah, " capek juga beberes rumah yang berantakan."


Tiba-tiba terlintas di pikirannya apa dia harus pamit pada mertuanya.


" Huuft merepotkan sekali, tapi kalau aku pergi tanpa pamit pasti di tuduh yang aneh-aneh lagi" batinnya terus berperang hingga akhirnya dia memutuskan harus berpamitan dulu sebelum pergi.


" Millah, kamu tunggu di sini sebentar mama mau pamitan dulu sama nenek."


" Iya, mama jangan lama-lama nanti dedek bayi bangun " balasnya.


Novia sudah ada di teras rumahnya, kakinya terasa berat untuk melangkah. Dia melirik ke rumah mertuanya, di sana tampak bu Mini dan keluarganya sedang berkumpul di teras.


" Eh rame, Ya Allah kuatkan hambamu ini Bismillah " perlahan dia berjalan menuju teras rumah mertuanya.


Semua mata langsung tertuju pada Novia, terlebih bu Mini sorot matanya begitu tajam wajahnya terlihat masam saat menatap Novia.


" Hiih tatapan itu sungguh menakutkan ya Allah." Novia merinding, tapi tetap melangkah maju.


Ketika sampai di depan rumah, Novia langsng menghampiri mereka dan duduk.


" Mah aku pamit, mau pulang dulu ke rumah orang tuaku sudah lama aku tidak kesana " tanpa basa-basi Novia menyampaikan maksudnya karena bicara panjang lebarpun akan percuma begitu pikirnya.


" Hmmm " jawaban singkat bu Mini yang sulit di pahami maksudnya.


Tak mau menunggu lama, Novia bangkit dan berdiri " baiklah, aku permisi " kemudian dia berbalik lalu melangkah meninggalkan rumah mertuanya.


Tiba di rumahnya Novia masuk ke kamar, mengangkat satu per satu tasnya dan membawa keluar.


Kemudian dia memakaikan tas punggung Camillah yang berisi peralatan sekolah.


" Millah bawa tas ini ya, isinya buku, pensil dan alat-alat sekolah punya Millah."


" Kenapa tasnya banyak mama."

__ADS_1


" Cuma tiga nak, isinya pakaian mama, dedek bayi, dan juga pakaianmu."


Novia menggendong bayinya, lalu tangannya yang satu menggandeng Camillah.


" Ayo kita ke depan tunggu angkutan umum lewat ."


Baru saja Novia melangkah, Irwan langsung bangun dan duduk berusaha mengumpulkan kesadarannya.


" Eh mau kemana kalian, tasnya banyak kamu mau minggat Vi ?"


Langkah Novia terhenti, menoleh kearah suaminya yang terlihat kebingungan.


" Aku mau pulang ke rumah orang tuaku, cuma ingin menenangkan diri untuk beberapa waktu batinku terlalu lelah, kalau kamu sayang sama anak-anakmu kamu bisa menyusul."


" Baik kami pamit, jaga diri baik-baik disini " lalu Novia berjalan keluar menuju pintu gerbang sambil menggendong bayi dan tangannya menggandeng Camillah.


Tak lama sebuah angkutan umum mendekat, Novia menahan mobil tersebut dan meminta tolong sopirnya untuk mengambil barang-barang Novia.


Irwan yang diam terpaku pikirannya masih memaknai kalimat Novia langsung tersadar saat si sopir mengangkat tas Novia.


Dia melompat dan berlari menuju mobil yang akan di naiki Novia.


" Vi, berhenti !! Jangan naik dulu biar aku yang mengantar kalian " mencoba mencegah Novia.


Sementara bu Mini dan keluarganya yang duduk di teras hanya memandangi Novia dan anak-anaknya tanpa berniat mengantarnya.


Melihat reaksi mertuanya, Novia semakin yakin pada keputusannya. Setelah mereka naik mobil pun perlahan bergerak meninggalkan Irwan yang berdiri mematung menatap kosong kearah mobil.


Lima belas menit kemudian Novia tiba di rumahnya, dia meminta sopir menurunkan barang-barangnya tak lupa dia membayar sewanya.


Rumah terlihat sepi, Novia berjalan sambil menggandeng Camillah.


" Assalamualaikum "...


Tak ada jawaban, " Ayo nak kita masuk."


Dia masuk ke dalam menyusuri semua ruangan mencari kedua orang tuanya.


" Oh ternyata di sini " ucap Novia mengagetkan kedua orang tuanya.


Bu Ratih dan pak Wahyu segera berbalik mendenggar suara Novia, karena posisi mereka membelakangi Novia.


Dan bu Ratih refleks berdiri, " eh cucu-cucuku " kemudian meraih bayi Adiba di gendongan Novia. Sedangkan pak Wahyu menarik Camillah ke dalam pelukannya.


" Iih mama, anak sendiri di cuek " ucap Novia dengan wajah cemberut.

__ADS_1


Pak Wahyu tergelak mendengar Novia " Kamu sudah tua Vi, masa harus di gendong juga " celetuk bu Ratih.


" Ayo kita kedalam, di sini panas " Pak Wahyu berdiri dan menggendong Camillah masuk lalu di susul Novia dan ibunya.


Mereka sampai di ruang tengah lalu duduk di karpet. Mata bu Ratih seperti mencari sesuatu kemudian menatap Novia.


" Mana suamimu ?" pertanyaan yang tidak di harapkan Novia terucap.


" Mobil rusak mah, jadi kami kesini naik angkutan umum "


" Bayi yang baru seminggu ini kamu bawa naik angkutan umum Vi ?" Wajah bu Ratih berubah kesal.


" Sudah mah, yang penting mereka tiba dengan selamat " Pak Wahyu menengahi agar istrinya tidak mengoceh lebih panjang lagi.


Novia bangkit berjalan ke luar mengambil tasnya yang masih ada di luar, kemudian dia membawa masuk ke kamarnya lalu kembali bergabung dengan orang tuanya di ruang tengah.


Mereka berbincang tentang banyak hal, saling menanyakan kabar.


" Mah, Diba ini anaknya rewel beda sama Millah."


" Ya setiap anak memang berbeda kita sebagai orang tua harus sabar menghadapinya " sedikit wejangan dari bu Ratih mampu membuat hati Novia tenang di saat galau.


" Rencananya dalam waktu dekat aku mau mengadakan acara aqiqah untuk Diba."


" Kamu sudah punya persiapan ? Suamimu sudah tahu rencanamu ?" pertanyaan beruntun dari pak Wahyu.


" Sudah pah, semuanya sudah siap tinggal menentukan hari yang tepat " balas Novia.


" Alhamdulillah, semoga semuanya berjalan lancar sesuai rencana." Pak Wahyu tersenyum tipis. Anaknya sekarang sudah mulai dewasa dalam mengambil sikap.


" Ya sudah, kamu istirahat dulu di kamar biar Camillah main sama mama dan papa, kami masih rindu." Bu Ratih menyuruh Novia istirahat.


" Enaknya di rumah orang tua, selalu di sayang dan di manja" batin Novia berucap.


Setelah Novia masuk ke kamar " Pah, apa papa yakin Novia baik-baik saja ? Sepertinya dia ada masalah." Naluri seorang ibu mulai bekerja.


" Kita tunggu saja mah, selama Novia diam tak mau menceritakan pada kita ya kita harus hargai keputusannya."


" Iya, tapi mama tahu betul seperti apa keluarga suaminya itu pah "


" Sudahlah mah jangan berpikir negatif terus, mungkin Novia memang punya rencana membuat acaranya di sini."


" Hmm semoga apa yang mama pikirkan salah " jawab bu Ratih yang kecewa dengan respon suaminya.


Sebagai seorang ibu, tentu lebih peka ketika sesuatu terjadi pada anak-anaknya.

__ADS_1


__ADS_2