Fitnah Berbuah Karma

Fitnah Berbuah Karma
Kelahiran Buah Hati


__ADS_3

Part 11.


Semakin hari kontraksi palsu yang dirasakan Novia semakin sering. Bahkan hari ini rasa sakitnya lebih lama dari biasanya.


Di dalam kamarnya Novia menahan rasa sakit,dia belum mau memberi tahu ibunya karena berpikir mungkin akan menghilang dengan sendirinya,tapi dugaan Novia salah sakitnya malah semakin menjadi.


Perlahan Novia melangkah keluar kamar...


"Mah, mamaa" teriak Novia


Mendengar teriakan Novia bu Ratih tergopoh-gopoh menghampirinya.


"Ada apa Vi, sakit lagi ?" tanya bu Ratih.


Novia hanya mengangguk sambil memegangi perutnya.


Bu Ratih segera menuntun Novia ke ruang tamu lalu menyuruhnya duduk.


"Sepertinya kamu akan lahiran nak" kata bu Ratih.


"Sebentar, mama panggil papa dulu dibelakang yaa."


"Pah, papa kesini pa" panggil bu Ratih.


Pak Wahyu mendekat "ada apa ?"


"Sepertinya Novia sudah mau lahiran pah" ucap bu Ratih sedikit panik.


"Ayo kita ke rumah sakit sekarang" pak Wahyu langsung mengambil kunci mobil tapi di tahan bu Ratih.


"Pah, pakaian bayi dan perlengkapannya Novia belum punya pa" terdengar nada sedih dari suara bu Ratih.


"Kasian nasibmu nak" mata bu Ratih mulai berkaca-kaca.


"Aduh mah bukan waktunya sekarang,ayo buruan kita antar Novia ! pakaian bayi dan yang lainnya itu urusannya nanti".


"Ah iya" bu Ratih tersentak dia buru-buru menghampiri Novia.


"Vi, kita ke rumah sakit sekarang" ucap bu Ratih langsung menuntun Novia keluar menuju mobil.


"Iya mah" jawab Novia.


Mereka pun berangkat menuju rumah sakit, sesampainya disana Novia langsung diarahkan ke ruang pemeriksaan.


"Apa sudah ada tanda ?" tanya dokter yang bertugas di IGD


"Jarak kontraksi sudah semakin sering dok"bu Ratih yang menjawab.


"Di periksa dulu ya" ucap dokter.


"Pembukaannya hampir sempurna bu,untungnya cepat diantar kesini".


Novia langsung dipindahkan ke ruang bersalin dan ditangani dokter kandungan.


Didalam ruang bersalin "Dok, boleh ibu saya ikut masuk ke sini" tanya Novia.


"Tentu boleh" jawabnya.


Lalu dokter pun keluar "pasien minta didampingi ibunya" kata Dokter.


Bu Ratih langsung berdiri dan bergegas masuk dan mendekat kearah Novia yang terbaring.


"Mah sakiitt"


"Iya nak, kamu pasti kuat mama disini temani kamu".


"Mah, Irwan sudah dikabari ?"


"Biar papa yang kesana, kamu jangan dulu berpikir macam-macam yaa".


Tiba-tiba Novia menjerit kesakitan, dokter pun langsung sigap menangani.


"Ayo bu pembukaannya sudah sempurna tarik napas"

__ADS_1


Novia menarik napas lalu mengejan sambil memegang erat tangan ibunya.


Tak lama kemudian tangis bayi pun terdengar memenuhi ruangan bahkan terdengar sampai ke luar tempat Pak Wahyu menunggu.


"Alhamdulillah bayinya lahir dengan selamat, jenis kelaminnya perempuan" ucap dokter.


Bu Ratih langsung mencium seluruh wajah Novia tangis haru dan bahagia pun tak dapat di tahan, keduanya berpelukan.


Kemudian dokter membersihkan bayinya lalu di timbang berat badan dan panjang bayi.


"Beratnya 3,5 kg dan panjang 48, kulitnya putih bersih seperti ibunya yaa".


"Tadi lahirnya tepat pukul 09.00 yaa" lanjut dokter


Novia hanya tersenyum, tubuhnya masih lemah dan menunggu perawat membersihkan tubuhnya.


Setelah selesai semua dibersihkan, bu Ratih memanggil Pak wahyu kedalam untuk mengadzani bayi Novia.


Tiba-tiba bu Ratih tersadar, "pah bayinya belum punya baju" katanya mengingatkan suaminya.


Mendengar percakapan mereka dokter langsung memberi tahu bahwa rumah sakit ini menyiapkan perlengkapan bayi.


"Di sini menjual pakaian dan perlengkapan bayi bu, ada disamping kiri ruangan ini" kata Dokter.


"Oh iya terima kasih informasinya dok"jawab bu Ratih.


Mereka pun langsung menuju ke tempat yang ditunjuk dokter dan membeli semua kebutuhan Novia dan bayinya.


"Pah tadi Novia tanya, apa Irwan sudah dikabari ?"


"Trus mama jawab apa ?"


"Ya mama bilang papa yang kesana".


"Hmm baiklah papa kesana sekarang".


Setelah menemani bu Ratih membawa perlengkapan bayi dan Novia pak Wahyu berpamitan.


"Vi, papa mau ke rumah Irwan dulu ya mau mengabari mereka".


"Ya sudah papa berangkat dulu, mah tolong jaga Novia ya".


"Iya hati-hati pah".


Pak Wahyu pun berangkat menuju rumah Irwan, 30 menit kemudian diapun tiba disana.


Pak Wahyu memarkirka mobilnya lalu turun, sementara pak Ahmad, Irwan dan bu Mini Sedang duduk diteras rumah entah apa yang mereka bicarakan.


"Assalamu'alaikum".


"Wa'alaikumussalam" jawab mereka.


"Eh Pak Wahyu mari, silahkan duduk" bu Mini mempersilahkan tamunya duduk.


Irwan langsung gugup berhadapan langsung dengan mertuanya yang selama ini tak pernah lagi ditemuainya.


Dalam hati Irwan "pasti papanya Novia datang kesini mau marah-marah".


Sementara itu Pak Wahyu diam sejenak lalu tanpa basa basi langsung bicara.


"Novia sekarang di rumah sakit, dia sudah lahiran bayinya perempuan" ucap pak Wahyu


Tanpa menunggu jawaban pak Wahyu pun berpamitan.


"Baiklah saya permisi mau pulang" ucapnya


Sementara pak Ahmad, bu Mini dan Irwan hanya terdiam dan mengangguk.


Pak Wahyu pun langsung beranjak melangkah kearah mobilnya lalu pergi meninggalkan rumah Pak Ahmad.


Setelah kepergian Pak Wahyu, pak Ahmad dan Istrinya saling menatap.


Akhirnya bu Mini pun mendehem memecah kesunyian diantara mereka bertiga.

__ADS_1


"Ehmmm, bagaimanapun situasinya sekarang kita harus ke rumah sakit, dan kamu Irwan harus ikut, mama tidak terima alasan apapun" ucap Bu Mini tegas.


"Iya mah, aku mau mandi dan bersiap-siap dulu baru kita kesana" jawab Irwan.


Setelah semuanya siap, mereka pun berangkat menuju rumah sakit tempat Novia bersalin.


Selama diperjalanan tak ada satu orang pun yang berbicara, hanya diam dengan pikiran masing-masing.


30 Menit kemudian mereka tiba dan langsung menanyakan ruangan tempat Novia di rawat.


Sementara bayinya masih dikamar bayi bersama bayi lainnya.


Tok...tok...pintu ruangan di ketuk.


Bu Ratih menoleh kearah pintu dan melihat Irwan dan orang tuanya.


"Mari, silahkan masuk" ucap bu Ratih.


Mereka pun masuk, dan Irwan duduk disamping tempat tidur pasien sementara yang lain duduk di sofa khusus tamu.


Bu Ratih berinisiatif mengajak besannya melihat bayi Novia di kamar bayi.


"Bayinya ada di ruangan sebelah, mari saya antar kesana"ucap bu Ratih.


Mereka lalu keluar dan berjalan menuju kamar bayi yang letaknya bersebelahan dengan kamar Novia.


Sementara itu didalam kamar, suasana tiba-tiba terasa canggung, Novia memalingkan wajahnya tak mau menatap kearah Irwan ada luka yang tergores dihatinya.


Irwan langsung meraih tangan Novia.


"Vi, aku minta maaf semua memang salahku" ucapnya sambil membelai lembut tangan Novia.


Novia tak bergeming tetap diam.


"Vi, kamu kalau mau marah sama aku, marahlah memang aku pantas menerimanya tapi tolong maafkan aku"


"Vi, jawab jangan diam"


Akhirnya Novia berbalik dan menatap ke arah Irwan.


"Wan, kamu tahu kesalahanmu fatal, kamu tidak hanya menyakiti perasaanku tapi kamu juga sudah membuat orang tuaku tersinggung".


"Di tambah lagi, saat-saat yang dibutuhkan kamu justru tidak ada disampingku, kamu jahaatt Wan, jahaatt".


Kali ini Novia tak bisa lagi menahan air matanya, tangisnya pecah perlakuan Irwan sudah keterlaluan, tapi dia tak bisa egois ada bayi mungil buah cinta mereka yang butuh seorang ayah.


"Vi, iya memang aku salah, kamu kalau mau tampar ayo tampar Vi aku pantas mendapatkannya, asal kamu mau memaafkan aku".


Irwan terus memohon maaf dari Novia, dan akhirnya Novia pun luluh karena sesungguhnya dia memang masih mencintai suaminya.


"Iya kamu saya maafkan, tapi janji jangan diulang lagi" jawab Novia.


Irwan langsung mengecum kening Istrinya karena bahagia akhirnya mendapat maaf dari Novia.


"Vi, di mana anak ku" tanya Irwan.


"Ada dikamar bayi, bersebelahan dengan ruangan ini" jawab Novia.


"Boleh aku melihatnya ?".


"Iya, didalam ada perawat yang menjaga".


"Aku kesana dulu ya Vi, kamu tunggu disini". Irwan pun bergegas ke kamar bayi,disana sudah orang tua dan ibu mertuanya yang mengendong bayi mungil.


Irwan terpaku ditempatnya, melihat anaknya dalam gendongan bu Ratih, bayi itu terlihat imut.


Irwan pun menghampiri ibu mertuanya lalu bu Ratih menyerahkan bayi mungil itu kepada Irwan.


"Kamu sudah bisa menggendongnya" kata bu Ratih ragu-ragu menyerahkan bayinya.


"Bisa mah" jawab Irwan penuh semangat.


Irwan pun menggendong bayinya menatap dalam wajah mungil yang putih mulus.

__ADS_1


"Kamu mirip mama ya nak".


__ADS_2