
Part 77
"Maaf, kedatanganku mungkin mengagetkan."
Novia memulai perbincangan sembari memainkan jarinya, rasa was-was mulai melanda ketika nanti menerima informasi dari Fahrul yang bisa membuatnya shock.
Ehemmm ....
Fahrul berdehem menetralkan suasana kemudian dia menanggapi ucapan Novia
"Jujur aku memang sedikit kaget tiba-tiba kamu datang mencariku, apa Irwan tahu?" tanya Fahrul.
Novia menggeleng ....
"Katakan apa keperluanmu," ujar Fahrul.
"Bolehkah aku meminta sesuatu padamu?"
Fahrul memiringkan kepala, semakin bingung dengan maksud wanita dihadapannya.
"Apa?" desak Fahrul.
"Tolong jujur padaku, jangan ada yang disembunyikan karena hanya kamu satu-satunya teman Irwan yang aku kenal," ucap Novia.
Fahrul mulai mengerti arah pembicaraan Novia, sepertinya wanita di depannya sedang mencari tahu sesuatu tentang suaminya.
"Kumohon berjanjilah," pinta Novia sambil menangkupkan kedua tangannya.
"Oke, aku janji," balas Fahrul mengangkat dua jarinya membentuk huruf V.
"Apa kamu tahu kemana Irwan dua hari ini?"
"Dua hari dia menghilang dan baru pulang kemarin sore," lanjut Novia lagi.
"Sekarang giliranku yang meminta padamu, jangan sampai suamimu tahu pertemuan kita karena aku tidak ingin suamimu curiga dan menuduhku ikut campur urusan kalian," ucap Fahrul.
"Iya, aku jamin Irwan tidak akan tahu asalkan kamu mau bicara jujur," balas Novia.
"Dua hari yang lalu sampai kemarin siang, suamimu ada di kantin berkumpul dengan teman-temannya." Fahrul mulai menjelaskan apa yang dia ketahui pada Novia.
"Mereka mabuk dan tidak bisa pulang, alhasil mereka menginap di kamar belakang kantin," ujar Fahrul melanjutkan ceritanya.
Novia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, ternyata seperti ini perilaku suaminya di luar rumah.
__ADS_1
"Irwan salah memilih teman, sebagai sahabat aku prihatin melihat pergaulannya."
"Jadi, selama dua hari itu Irwan tidak bekerja?" tanya Novia.
"Bagaimana mungkin bisa bekerja, bangun saja mereka susah karena mabuknya parah," jawab Fahrul geram.
Novia tertegun, tak bisa lagi berkata-kata saat tahu kehidupan suaminya di luar yang begitu bebas bergaul.
Ketika mereka sedang asyik berbincang, tiba-tiba mobil Irwan muncul dari kejauhan. Novia melompat dari tempat duduknya dan berlari ke balik pohon, Fahrul yang belum menyadari situasi hanya melongo menatap Novia.
Dari balik pohon Novia memberi isyarat pada Fahrul agar meninggalkan tempat itu, Fahrul menoleh lalu bergegas pergi dan kembali ke mobilnya yang terparkir.
Tubuh Novia membeku, jantungnya seakan berhenti berdetak. Perlahan dia menghela napas dan mengusap dadanya.
"Huuufh, Ya Allah hampir saja," gumamnya.
Novia masih bertahan di tempatnya sambil mengintip dari jauh, tampak Irwan turun dari mobil dan menghampiri Fahrul entah apa yang mereka bicarakan terlihat Fahrul menunjuk ke dalam kantin.
Tak lama muncul beberapa mobil yang juga ikut berhenti di depan kantin, tiga orang pria turun dari mobil lalu masuk ke kantin melewati Fahrul.
Menyadari Novia masih bersebunyi di balik pohon, Fahrul menoleh dan memberi isyarat menyuruhnya pergi.
Merasa cukup mendapat informasi, Novia memutuskan untuk pulang karena dia sudah menitipkan pesan pada Fahrul untuk memata-matai gerak-gerik suaminya.
Sambil mengendap-endap, Novia perlahan mendekati motornya yang terparkir di semak belukar dengan susah payah Novia menarik motornya keluar lalu menaiki dan memacu motornya meninggalkan area kampus.
Fahrul menghampiri Irwan yang duduk di antara ketiga temannya, berpura-pura meminta sebatang rokok agar bisa melihat jelas wajah mereka.
"Rokoknya dulu bro, masih kere ini dari pagi belum jalan," ucap Fahrul sambi cengengesan.
Irwan menyodorkan sebungkus rokok pada Fahrul. "ambil saja bro, aku masih ada stok."
"Cukup sebatang saja," ucap Fahrul sambil mengambil satu batang rokok dan menyodorkan kembali pada Irwan.
"Ambil lah Rul, jangan khawatir ada bos Ical yang traktir." tunjuk Irwan pada salah seorang temannya.
"Oke, tengkyu bro aku jalan dulu ya," ucap Fahrul dan berlalu pergi meninggalkan Irwan bersama teman-temannya.
Sementara itu, di perjalanan pulang hati Novia diselimuti rasa emosi sesekali muncul penyesalan dalam dirinya namun, apa daya nasi sudah menjadi bubur dan dia harus menjalaninya.
Novia sudah sampai di depan sekolah, lima menit lagi bel pulang berbunyi dia harus bersembunyi dulu agar teman-temannya tidak melihatnya.
Lima menit kemudian, bel pulang berbunyi anak-anak berhamburan keluar dari kelas dan berlari menuju pintu gerbang.
__ADS_1
Kepala Novia menyembul dari balik tiang, matanya mencari sosok Camillah dan untungnya anak itu berdiri tak jauh dari tempat Novia bersembunyi.
"Mil ..., Millah sini!" panggil Novia dengan suara pelan.
Camillah berbalik dan melihat ke arah suara yang di dengarnya, tahu ibunya memanggil Camillah langsung berlari mendekati ibunya.
"Ayo, cepat naik kita pulang sekarang," ucap Novia sambil menyalakan mesin motornya dan Camillah bergegas naik.
Motor Novia melesat meninggalkan area sekolah dan kembali ke rumah.
Tiba di rumah, Novia langsung masuk ke kamar mengganti pakaiannya kemudian berjalan ke kebun belakang tempat biasa kedua orng tua dan anaknya beristirahat saat siang hari.
"Eh kalian sudah pulang," ucap Bu Ratih saat Novia mendekat ke arah mereka.
"Iya, baru sampai," sahut Novia.
"Camillah mana?" tanya Bu Ratih karena tidak melihat cucunya datang bersama Novia.
"Masih di kamar mah," jawab Novia kemudian dia naik ke atas gazebo dan meraih putranya yang duduk di pangkuan ibunya.
"Sudah makan?" tanya Bu Ratih lagi.
"Belum mah, nanti saja," sahutnya.
"Ya, sudah." Bu Ratih mengira Novia pasti belum lapar, tapi sesaat kemudian dia mengingat kalau Camillah juga tentunya belum maķan.
"Vi, kamu masih kenyang tapi Millah pasti lapar sebaiknya kamu ajak dulu anakmu makan."
"Oh, iya mah, aku melupakan itu hehe," jawabnya terkekeh.
Novia masuk kembali ke dalam rumah sambil menggendong Emir, memanggil Camillah yang masih betah di dalam kamar.
Novia membuka pintu, "Millah, makan dulu nak."
Camillah menoleh dan melepas komik yang dibacanya, kemudian dia beranjak menghampiri ibunya.
"Temani Millah makan mah," pinta Camillah.
Novia mengangguk lalu berjalan menuju dapur, Camillah mengikuti langkah ibunya kemudian menarik kursi dan duduk di meja makan.
Setelah Camillah selesai makan, Novia keluar lagi ke kebun belakang bersama dengan Camillah.
Lama mereka menghabiskan waktu di situ, hingga ketiga anak Novia tertidur. Udara di kebun belakang memang sejuk itulah mereka betah berlama-lama di sana.
__ADS_1
Tak terasa suara adzan Ashar terdengar, mereka masuk ke dalam rumah. Novia memandikan kedua anaknya sedangkan Camillah sudah selesai mandi dan memakai pakaian yang bersih.
Novia dan ketiga anaknya menghabiskan waktu di dalam kamar menunggu adzan maghrib, entah kenapa Novia tidak lagi berharap suaminya pulang cepat seperti biasanya. Tak lagi merasa cemas, apalagi bertanya-tanya kenapa suaminya lambat pulang.