
Part 33
Novia masuk ke kamar. Berbaring di samping anaknya, tapi rasa sakitnya tak kunjung reda sudah dua jam dia menahan sakit sendirian. Tak lama suara pintu di buka dan terdengar langkah kaki Novia bergegas bangun duduk bersandar.
Irwan masuk ke kamar dan terkejut melihat istrinya.
" Kamu sudah bangun atau memang belum tidur ?"
" Perutku sakit mungkin sudah waktunya." Novia tak lagi mempermasalahkan suaminya yang pulang menjelang pagi dia lebih terfokus pada dirinya.
" Kamu yakin apa sudah ada tanda ?" dia mendekati Novia yang masih duduk di tempat tidur.
" Sudah ada bercak darah yang keluar ." kemudian Novia bangkit dan turun dari tempat tidur.
Mendengar jawaban istrinya Irwan langsung panik, tanpa aba-aba berbalik dan keluar dengan langkah seribu menuju rumah orang tuanya.
Novia mengikuti langkah suaminya namun dia berhenti di ruang tamu dan duduk di kursi.
Tok...tok
" Mah bangun, buka pintunya." Irwan mengetuk pintu dan meminta ibunya membuka pintu.
" Kamu ini kenapa ? Masih pagi buta begini sudah heboh " gerutu bu Mini sambil membuka pintu.
" Mah, Novia mau lahiran perutnya sakit ayo kesana sekarang mah." Dia menarik tangan ibunya.
" Tenang Wan jangan panik begitu, nanti mama juga ikut panik."
Mereka sudah ada di depan Novia, bu Mini berdiri namun matanya tertuju pada dua buah tas yang berjejer di lantai.
" Apa yang ada dalam tas itu ? Bu Mini menunjuk dengan sudut matanya pada tas.
" Perlengkapan bayi dan beberapa lembar pakaianku." sahut Novia yang terus mengusap perutnya.
" Kami belum punya uang dan pasti Irwan juga sama belum punya " lalu duduk menghadap ke arah menantunya dengan wajah datar.
Kalimat itu sudah bisa Novia simpulkan apa maksudnya, dan dia terdiam sembari berpikir.
" Aku paham maksud mama, jangan khawatir aku pasti tak akan merepotkan kalian " gumamnya dalam hati.
Novia kemudian menatap suaminya, tatapan yang sulit di artikan.
" Wan tolong panggilkan bidan terdekat."
" Iya tunggu sebentar."
Irwan meninggalkan Novia dan Bu Mini, dia menyalakan mesin motor dan melaju ke rumah seorang bidan.
Tinggallah dua wanita yang saling diam dengan pikiran masing-masing.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Irwan datang bersama seorang bidan membawa peralatan medis.
" Kita cek dulu ya bu sudah pembukaan berapa " ucap bidan tersebut, Novia hanya mengangguk lalu berdiri dan berjalan masuk ke kamar.
Bidan mengikuti langkah Novia masuk ke kamar. Novia mengambil tikar dan menggelarnya di lantai.
" Maaf bu, boleh di sini ? Anakku masih tidur " sambil menunjuk Camillah yang masih pulas di tempat tidur.
" Iya, mari saya periksa " dengan ramah bidan itu menjawab.
" Sepertinya masih lama bu, mungkin sekitar jam tujuh atau jam delapan pagi " sembari membersihkan tangannya.
" Tapi sudah ada bercak darah yang keluar, sepertinya waktunya sudah dekat dan sakitnya juga makin menjadi " Novia meringis menahan sakit.
" Coba saya pastikan lagi bu."
" Hmmm " sahut Novia.
Sementara di ruang tamu Irwan terlihat gelisah. " Wan, kamu itu duduk jangan malah mondar-mandir seperti setrika mama pusing melihatnya."
Irwan hanya menoleh sebentar lalu duduk dan mengambil sebantang rokok, mungkin merokok sedikit membuatnya lebih tenang.
Sedangkan Novia di dalam kamar masih berjuang dengan rasa sakit.
" Yah, bagus bu tarik napas pelan dan hembuskan " dengan tenang bidan itu memberi instruksi. Novia yang sudah pernah menjalani proses persalinan juga lebih tenang, terlebih mendapat pelayanan yang baik dari bidan.
" Ayo bu sedikit lagi."
" Kepalanya sudah kelihatan, ya ampun botak ya " ucap bidan itu sambil terkekeh.
Dengan sekali tarikan napas, suara tangisan bayi pun terdengar pagi itu. Novia terkulai lemas tenaganya habis terkuras.
" Astaga, bayinya sumsang."
" Maksudnya ?" dengan suara lemah Novia bertanya khawatir dengan kondisi bayinya.
" Lahir terbalik bu, pantatnya yang keluar duluan baru kepalanya, tapi syukur semuanya baik-baik, lengkap, normal, dan sehat cantik pula " jawab bidan tersebut senyum sumringah.
" Oh bayinya perempuan, Alhamdulillah " ucap Novia penuh syukur.
Mendengar suara tangisan bayi, Irwan yang merokok dengan wajah tegang segera membuang rokoknya dan bergegas masuk menghampiri istrinya yang masih terbaring lemah, bu Mini tak mau ketinggalan dia pun menyusul Irwan masuk
" Alhamdulillah lahir dengan selamat " sambil membelai rambut istrinya.
" Bayinya laki-laki atau perempuan bu "
" Bayinya perempuan, cantik putih dan bersih " jawab bidan itu menunjukkan bayi dalam gendongannya yang siap dibersihkan.
Sementara bu Mini menyiapkan air hangat untuk Novia mandi.
__ADS_1
Matahari mulai muncul di ufuk timur, Irwan mengantar bidan kembali ke rumahnya setelah selasai membersihkan bayi.
Camillah yang tadinya tidur pulas, terbangun mendengar suara tangisan bayi. Dia mengucak matanya mengumpulkan kesadaran, beberapa detik kemudian dia langsung melompat turun dari tempat tidur.
" Mama, ini dedek bayi kenapa nangis " jari mungilnya menyentuh pipi sang adik.
Novia tersenyum tipis " dia nangis cari kakaknya "
" Nama dedek siapa mah ?"
" Nanti kita cari sama-sama nama yang bagus ya, mama mau istirahat dulu."
" Millah mandi dulu sama papa, kan mau ke sekolah " bujuknya.
" Millah hari ini libur mah mau jaga dedek " sahut Camillah polos dan Novia terkekeh mendengarnya.
" Pulang sekolah kan bisa jaga dedek, masa libir sendiri nanti ibu gurunya marah." sahut Novia lagi.
Wajah Camillah langsung berubah masam dan ingin menangis, Novia tak tega melihatnya dan berpikir biarlah sehari ini anaknya izin dulu.
" Iya, Millah boleh libur hari ini " dan di sambut teriakan gembira dari Camillah.
Selesai mandi, Novia berjalan pelan ke ruang tamu. Inilah kelebihan bersalin normal kondisi ibu lebih cepat pulih.
Sedangkan Irwan membersihkan kamar tempat Novia melahirkan tadi, membereskan semua peralatan yang di pakai kemudian mencuci tikar dan pakaian yang terkena darah bersalin.
Bu Mini muncul dari arah dapur dan menghampiri Irwan.
" Wan kamu temani istrimu, mama mau ke rumah mungkin papa sudah bangun " kemudian melangkah keluar meninggalkan rumah anaknya.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Irwan mendekati Novia lalu duduk tepat disamping istrinya " Vi, bidan tadi belum di bayar jasanya tiga hari dia akan terus memantau perkembanganmu dan si kecil."
" Kamu sudah tanya berapa biayanya ?"
" Sudah, Rp.250,000 satu paket persalinan dan perawatan selama tiga hari " balas Irwan panjang lebar.
" Di dalam tasku ada dompet, ambil ATM dan tarik uang sekalian untuk membeli kebutuhan lainnya."
" Iya, jam sepuluh aku kesana " kemudian Irwan beranjak masuk ke dapur membuat bubur untuk Novia dan menyiapkan sarapan.
Lain halnya dengan Camillah, dia masih betah duduk di samping adiknya yang terlelap.
" Adek bayi, ini boneka kakak nanti kita mainnya sama-sama ya " gumamnya sambil menunjukkan boneka kesayangannya pada bayi yang masih berumur dua jam itu.
Mendengar suara gumaman Camillah, Novia bergegas masuk ke kamar khawatir Camillah menjahili bayi yang masih merah.
" Sayaang, dedek bayinya masih bobo kakak mandi dulu ya sama papa biar wangi."
" Dedek sudah mandi mah ?"
__ADS_1
" Iya, dia sudah mandi pakai parfum jadi kakak juga harus mandi biar wangi kalau dedek bangun."