
Part 80
Irwan pulang ke rumah, hari ini dia belum menemukan hasil pencariannya. Pikirannya kalut mencari cara agar bisa membujuk istrinya.
Tiba di rumah, Irwan masuk ke kamar tapi tidak menemukan istrinya dia menyusuri setiap ruangan dan hasilnya nihil hanya ada ibu mertua dan ayah mertua yang mengasuh ketiga anaknya.
Irwan memberanikan diri bertanya, "Novia mana mah?"
"Keluar, katanya mau ke rumah teman," jawab Bu Ratih.
"Sudah berapa lama?"
"Dua jam yang lalu," sahut Bu Ratih.
"Oh, ya, sudah aku mandi dulu, Millah sudah mandi?" Irwan beralih pada anak sulungnya.
"Sudah pah,"
"Oke, papa mandi dulu ya kamu temani ina main sama adik-adik." Irwan berbalik dan berjalan masuk ke kamar.
Irwan melepas pakaian lalu megenakan handuk yang hanya menutupi sebagian tubuhnya, kemudian dia masuk ke kamar mandi.
"Kemana dia? apa yang kamu cari Vi?" batin Irwan sembari mengguyur tubuhnya dengan air.
Sepuluh menit kemudian, Irwan sudah selesai mandi dan keluar dari kamar mandi lalu mengenakan pakaian bersih dari dalam lemari.
menunggu kedatangan istrinya, Irwan berbaring di ranjang hingga terlelap.
Satu jam berlalu, Irwan terbangun dan melirik jam di atas nakas dan waktu sudah menjelang sore tapi belum ada tanda-tanda Novia akan pulang.
Irwan gelisah lalu beranjak dari ranjang dan melangkah keluar kamar, saat keluar dia berpapasan dengan ibu mertuanya.
"Novia belum pulang mah?" tanya Irwan.
"Belum, entah kemana anak itu tadi mama tanya dia cuma menjawab mau ke rumah teman," jawav Bu Ratih.
"Aku akan mencarinya, mungkin dia ke rumah Farida," ucap Irwan.
"Iya, coba kamu susul kesana anak-anak juga sudah gelisah menunggunya," balas Bu Ratih lagi.
Irwan pamit pada ibu mertuanya kemudian keluar mencari istrinya, Irwan mencoba menebak dan mengingat-ingat beberapa teman Novia yang dia kenal.
"Tidak mungkin Novia ke rumah Diana, pasti dia ke rumah Farida aku langsung kesana saja," gumam Irwan
Irwan memacu mobilnya menuju rumah sahabat Novia itu, tapi setibanya di sana dia malah kecewa karena tidak menemukan istrinya.
Irwan bingung kemana harus mencari Novia, hanya Farida dan Diana yang dia kenal sebab Novia jarang bercerita tentang sahabatnya yang lain.
Irwan berdiam diri di dalam mobil yang dia parkirkan di tepi jalan, sedikitpun tidak terlintas kemana tujuan Novia. Akhirnya Irwan memutuskan ke rumah ibunya.
Bu Mini sedang duduk di teras bersama anak gadisnya Nanda, keningnya berkerut melihat mobil Irwan masuk ke halaman.
"Kenapa lagi kakakmu itu Nanda? pasti ada masalah makanya dia kesini,"
"Nanda juga tidak tahu mah, mungkin bertengkar sama istrinya," sahut Nanda.
__ADS_1
Irwan turun dari mobil, langkahnya gontai menghampiri ibu dan adiknya lalu duduk bersandar pada tembok.
Bu Mini menatap jengah lalu mencibir anak sulungnya.
"Mama muak melihat tingkahmu itu Wan, setiap ada masalah selalu datang kesini," umpat Bu Mini.
Irwan menoleh, wajahnya berubah memerah tak terima ucapan ibunya.
"Mah, kalau aku punya orang tua selain mama aku akan mendatanginya bukan kesini," ucap Irwan
"Mama malas ikut menanggung beban masalahmu, kepala mama pusing. Pasti istrimu itu berulah lagi kan?"
"Kalau mama tidak ingin mendengar keluh kesahku, setidaknya jangan menghujatku."
Irwan bangkit melangkah meninggalkan ibunya, kemudian naik ke dalam mobil dan memacu kencang mobilnya kembali ke rumah.
Tiba di rumah, mobil Irwan masuk ke halaman di garasi tampak motor Novia sudah terparkir.
"Novia sudah pulang rupanya,"
Irwan turun dari mobil dan bergegas masuk, tiba di kamar Irwan langsung menghampiri istrinya.
"Dari mana?"
"Apa pedulimu, terserah aku dari mana juga tidak penting bagìmu," balas Novia ketus.
"Vi, asal kamu tahu aku sudah mencarimu kemana-mana." Nada suara Irwan meninggi
"Siapa yang menyuruhmu mencariku?"
"Hoo, sekarang baru mengakuinya," sindir Novia.
Irwan hanya bisa mengusap kasar wajahnya, tatapannya tajam menusuk ke arah Novia.
"Aku tanya sekali lagi, kamu dari mana?" suara Irwan merendah.
"Dari rumah teman," jawab Novia singkat.
"Teman yang mana, siapa orangnya?"
"Apa pentingnya buatmu?"
"Sangat penting!!" tegas Irwan.
"Aku dari rumah teman SMA ku dulu puaass?!"
Irwan menghela napas, istrinya sekarang berubah. Novia sudah berani melawannya secara terang-terangan.
"kita bicara baik-baik," bujuk Irwan.
"Apa lagi yang harus dibicarakan, semuanya sudah jelas," sahut Novia.
"Jelas bagimu tapi tidak denganku Novia!" suara Irwan kembali meninggi.
"Katakan padaku, siapa yang sudah menghasutmu dan membuatmu jadi begini hah?"
__ADS_1
Irwan mendekat dan menggenggam kuat bahu Novia, seperti kehilangan kendali Irwan mengguncang tubuh istrinya.
"Lepaskaan! kamu menyakitiku Irwan," Novia menghempas tangan suaminya
Irwan melepaskan genggamannya, kembali mendesak istrinya agar mengatakan siapa orang yang telah menghasut Novia.
"Kumohon Novia, siapa yang sudah meracuni pikiranmu?"
Novia masih bungkam, teguh pada pendiriannya sebab dia sudah berjanji akan merahasiakan Fahrul orang yang telah memberinya informasi.
"Aku mau mandi," ucap Novia menyudahi pertengkaran mereka.
Novia masuk ke kamar mandi, lima menit kemudian dia keluar kemudian mengambil pakaian dari dalam lemari dan memakainya.
Irwan mengamati setiap gerakan istrinya, Novia benar-benar sudah berubah dan dia baru menyadari itu.
Selesai berpakaian, Novia keluar kamar menemui orang tua dan anaknya di teras sebisa mungkin menyembunyikan mimik wajah kesal dan emosi agar tidak ketahuan.
"Kamu dari mana Vi? suamimu mencari-cari tapi tidak ketemu," tanya Bu Ratih.
"Aku dari rumah teman mah, ada urusan penting," jawabnya.
Malam hari, pasangan muda itu saling diam tak mau bertegur sapa. Hingga pagi menjelang suasana hati mereka masih kaku dan dingin.
Novia sudah rapi dan bersiap berangkat kerja, baru saja dia hendak melangkah Irwan langsung mencegahnya.
"Mau kemana lagi kamu?" tanya Irwan
"Apa kamu tidak melihat aku memakai seragam kerjaku? jangan-jangan matamu buta," jawab Novia sinis.
"Kamu ingin menemui siapa lagi?"
"Heh, sepertinya kamu butuh cermin Wan," balas Novia.
"Aku tahu, ada seseorang yang ingin kamu temui dan orang itu sudah berbohong dan memfitnahku," cecar Irwan
"Fahrul tidak mungkin berbohong!"
Mata Irwan membelalak, Novia langsung menutup mulutnya saat menyadari ucapannya.
"Astaghfirullah aku lepas kendali, maafkan aku Rul."
Irwan maju mendekati istrinya, meyakinkan kembali apa yang baru saja didengarnya.
"Katakan sekali lagi siapa yang kamu sebut tadi!" desak Irwan.
"Bukan siapa-siapa," Novia mengelak dan menghindar.
"Baik, kalau kamu tidak mau mengatakan aku yang akan menemuinya."
Irwan berbalik mengambil kunci mobil, dengan langkah cepat keluar dari kamar menuju mobilnya.
Novia panik dan berlari menyusul suaminya, sekuat tenaga dia mencegah Irwan namun, tenaga Irwan jauh lebih kuat bahkan Novia terpental karena Irwan mendorongnya.
Irwan memacu mobilnya menuju rumah ibunya, tiba di sana dia langsung mengajak ibunya ikut.
__ADS_1
Novia tak kalah cepat, berlari menaiki motornya dan memacu kencang membela jalanan tujuan utamanya menemui Fahrul karena pasti Irwan juga akan kesana.