Fitnah Berbuah Karma

Fitnah Berbuah Karma
Kembali


__ADS_3

Part 12.


Irwan terus menatap wajah bayinya " kulitmu putih persis mamamu". Bergumam mengagumi kecantikan bidadari mungil dalam gendongannya.


Pak Ahmad dan bu Mini tersenyum melihat tingkah anaknya.


"Maaf pak, sekarang waktunya si kecil ne**n" seorang perawat mengingatkan Irwan.


"Ah iya silahkan sus" kemudian menyerahkan bayinya kepada perawat lalu menghampiri orang tuanya.


"Sekarang apa rencanamu Wan, sudah liat kan bayimu begitu menggemaskan" bu Mini sengaja memancing Irwan, dia ingin tahu apa yang ada di pikiran anaknya.


"Aku mau pulang" jawab Irwan yakin dengan keputusannya.


"Mau pulang karena bayi atau mamanya ?" goda bu Mini tersenyum jahil.


"Ckk, karena keduanya lah mah" sedikit kesal dengan pertanyaan ibunya.


"Baiklah,kami pulang duluan...kamu temani istrimu disini biar mertuamu bisa istirahat" sembari melangkah memasuki ruangan Novia untuk berpamitan Irwan pun mengikuti di belakang.


"Emm, pak bu kami permisi pulang duluan, mungkin bapak dan ibu juga ingin beristirahat ? biar Irwan yang menemani Novia disini" bu Mini berpamitan dqn juga memberi saran kepada orang tua Novia.


"Iya pah mah, biar aku disini yang merawat Novia" ucap Irwan dengan wajah penuh harap.


"Baiklah kalau begitu, kami juga akan pulang dulu besok akan kesini lagi" jawab Pak Wahyu menatap kearah istrinya yang dijawab anggukan bu Ratih.


"Vi, mama sama papa pulang dulu ada suamimu disini menemani, jangan lupa obatnya di minum ya" bisik bu Ratih sambil membelai rambut Novia.


"Iya, tapi mama kesini lagi kan besok ? Novia masih kaku mengurus bayi mah"..


"Hu'um, besok setelah semua kerjaan mama beres ya, ya sudah kami pergi dulu" pamit bu Ratih lalu melangkah keluar.


"Kami juga pamit pulang dulu nak" bu Mini mendekat kearah ranjang Novia.


"Wan temani istrimu jangan ditinggal kemana-mana nanti dia butuh sesuatu kasihan" bu Mini mengalihkan tatapannya pada Irwan seolah itu titah yang tak boleh dibantah dan Irwan hanya mengangguk.


Setelah berpamitan mereka pun berlalu pergi meninggalkan ruangan Novia dan tinggallah sepasang suami istri itu.


Irwan mendekat kearah istrinya, kali ini kemarahan Novia seolah menguap begitu saja mencoba membuang egonya dan memilih memaafkan suaminya.


"Sayang, kamu sudah menyiapkan nama untuk anak kita ? tanya Irwan.


"Hu'um sudah, Eshal Camilla artinya bunga dari surga yang termashyur" pandangan Novia menerawang seolah membayangkan Putri nya kelak menjadi sesosok bunga yang indah dan shalihah.


"Wow, nama yang indah seindah pemiliknya" ucap Irwan seraya tersenyum dan membelai rambut Novia.


"Panggilan Mila ya biar mudah di ingat,kasian nenek dan kakeknya nanti kalau susah penyebutannya"..


"Iya panggilannya Mila" jawab Novia.


"Asimu sudah keluar Vi ?


"Iya sudah, tadi dia minumnya banyak hehe" Novia terkekeh membayangkan bagaimana bayinya begitu lahap sementara dia menahan sakit.


Ada kebahagiaan tersendiri ketika Novia mengingat bagaimana dia menyusui bayinya, menjadi seorang ibu rasanya tak bisa ditukar dengan apapun.


Ketika mereka sedang Asyik mengobrol, tiba-tiba pintu ruangan diketuk tok...tok..


Irwan bergegas membuka pintu, Riska kakak Novia yang datang berkunjung karena mendengar kabar adiknya sudah melahirkan.


"Eh kak Riska, sendirian ? tanya Irwan berbasa basi padahal tahu iparnya datang sendiri.


"Iya, yang lain masih sibuk mungkin besok kesini" jawabnya sambil melangkah kearah ranjang Novia.


"Gimana Vi, persalinannya lancar tanpa kendala ? trus bayi kamu berapa berat dan panjangnya" pertanyaan beruntun dari Riska.

__ADS_1


"Hmmm, Novia sejenak menarik napas,sehat dan lancar kak beratnya 3,5 kg dan panjangnya 48 cm namanya Eshal Camilla kak" jawabnya panjang lebar.


"Syukurlah bayinya sehat dan kamu juga sehat Vi, papa yang kabari kakak tadi katanya kamu sudah lahiran, makanya pulang kerja kakak langsung kesini".


"Mana bayinya ? kakak mau lihat ponakan kakak pandangan Riska menyapu seluruh ruangan.


"Di kamar bayi kak, tadi dari sini diantar perawat mau ne**n trus balik lagi ke sana".


"Kakak kesana dulu ya mau berkenalan sama anggota baru hehe" jawabnya terkekeh sembari berjalan ke luar.


Beberapa saat kemudian Riska masuk lagi kekamar Novia, "astagaa Vi kakak lupa, ini bingkisan malah di tenteng kemana-mana" lalu menyerahkan bingkisan berisi pakaian bayi kepada Novia.


"Makasih kak, besok siang juga rencanaya mau pulang karena persalinan normal dan kondisiku juga sudah membaik" jawab Novia.


Sementara itu Irwan sedari tadi hanya menyimak dan mengamati obrolan kakak beradik itu tanpa menyela sedikitpun. Dia justru tersenyum geli melihat tingkah konyol Riska yang lupa menyerahkan bingkisan dan malah menenteng kemana-mana.


Tanpa terasa hari sudah sore, Riska pun berpamitan pada Novia dan Irwan.


"kakak pulang ya InsyaaAllah kalau sempat besok kakak kesini lagi.


"Iya kak, hati-hati ya" jawab Novia dan Riska pun berjalan meninggalkan ruangan.


Malam hari, Novia terganggu dengan suara tangisan bayi "Wan, itu sepertinya suara Mila mungkin dia lapar" ucapa Novia pada Irwan.


"Kamu kenal suaranya Vi ?..iyalah kan bayiku gimana sih kamu ini" kesal dengan pertanyaan Irwan.


"Sana Wan lihat dulu, mungkin perawatnya tertidur pasti Mila haus.


Irwan bergegas keluar kamar berjalan menuju kamar bayi lalu mengetuk pintunya,seorang perawat keluar sambil menggendong bayi Mila.


Irwan menatap kesal kearah perawat "kenapa dibiarkan bayinya lama menangis sus, protesnya.


"Maaf pak tadi saya ketiduran, sekarang waktunya si kecil ne**n" sembari melangkah ke kamar Novia membawa bayi dan di susul Irwan yang berjalan di belakang.


Masuk kekamar, Novia langsung menyambut bayinya dan meminta perawat menyerahkan bayinya untuk di susui.


"Sakit Vi ?" karena ini pertama kalinya Irwan menyaksikan bayinya menyusu dia terheran kenapa Novia kesakitan.


Novia hanya mengangguk sambil membelai pipi mungil bayinya.


"Sus, malam ini biar bayinya tidur disini ya besok juga kita sudah mau pulang" ucap Novia.


"Iya bu boleh, kalau begitu saya permisi kembali ke ruangan.


Perawat itupun kembali ke kamar bayi mengurus bayi lainnya.


Keesokan harinya, Novia meminta Irwan membereskan barang-barangnya sebelum dokter tiba melakukan pemeriksaan.


Setelah semua barang sudah tersusun rapi, tak lama kemudian dokter memasuki ruangan Novia.


"Pagi bu, bagaimana keadaannya sekarang ?" tanya dokter.


"Pagi juga dok, Alhamdulillah sudah membaik, apa hari ini kami boleh pulang dok ?".


"Boleh, asal kondisi ibu dan bayi sehat silahkan nanti di selesaikan administrasinya.Kemudian jangan lupa obatnya tetap di minum ya.


"Iya Dok, makasih".


Selesai melakukan pemeriksaan,dokterpun meninggalkan ruangan, "Wan, kamu urus dulu administrasinya" ucap Novia.


Irwan pun mengurus administrasi, tak lama kemudian Pak Wahyu dan istrinya datang yang beberapa menit setelahnya Pak Ahmad dan istrinya juga datang.


Lalu mereka duduk sambil mengobrol menunggu informasi dari Irwan.


Sementara itu diruang administrasi, "tolong rincian biaya persalinan dan perawatan istri saya" ucap Irwan pada petugasnya.

__ADS_1


"Tunggu sebentar pak, atas nama siapa pak ?, tanyanya pada Irwan.


"Ny. Novia Andini kamar Adenium 3" jawab Irwan.


Setelah merinci totalnya petugas itupun menyerahkan kertas pada Irwan.


Irwan langsung menerima kertas itu, alangkah terkejutnya dia ketika melihat total rincian biaya yang tertera.." astagaa mahal sekali,aku tak punya uang sebanyak ini " gumamnya dalam hati.


Irwan pun mulai gelisah memikirkan bagaimana caranya mendapatkan uang sebanyak itu.


"Pah, kenapa Irwan lama, coba disusul dulu" bu Mini meminta suaminya menyusul anaknya diruang administrasi.


Pak Ahmad pun bergegas menuju ke tempat Irwan, sesampainya disana dia melihat Irwan bengong memandangi selembar kertas ditangannya.


Dan Pak Ahmad sudah bisa menebak apa yang terjadi, karena dia tahu anaknya tak memiliki uang untuk biaya persalinan istrinya. Lalu pak Ahmad mendekat kearah Irwan dan meminta kertas itu.


"Mahal juga biaya persalinan disini, papa cuma punya setengah dari ini" ucapnya pada Irwan.


"Lalu sisanya dari mana pah ? papa kan tahu keadaanku...jawab Irwan.


"Nanti papa coba bicarakan dengan mertuamu, mana tahu mereka punya" jawab pak Ahmad dan berlalu membawa kertas itu menuju ruangan Novia dan disusul Irwan dibelakang.


Begitu sampai diruangan, bu Mini langsung menghampiri suaminya.


"Gimana pah ada masalah ?" tanya bu Mini cemas.


"Papa duduk dulu" jawabnya lalu menoleh kearah Pak Wahyu.


"Ada masalah pak" tanya Pak wahyu.


Dan pak Ahmad menyerahkan kertas itu kepada pak Wahyu.


"Itu rincian biaya persalinan dan perawatannya pak maaf, saya cuma punya setengah dari itu" kata pak Ahmad.


Pak Wahyu pun terdiam sejenak, "sisanya biar saya tambahkan" jawab pak Wahyu.


Pak Ahmad pun akhirnya bernapas lega lalu memandang istrinya.


"Baiklah, Wan sekarang kamu tebus pembayaran disana sembari menunggu Novia dan bayinya mandi lalu bersiap pulang" titah pak Ahmad sambil menyerahkan sejumlah uang kepada Irwan.


"Iya pah, Irwan kesana dulu" jawabnya


Setelah selesai membayar administrasi Irwan kembali ke ruangan, dan Novia pun sudah siap lalu bu Ratih mengambil bayi Novia lalu menggendongnya.


"Semuanya sudah dicek jangan sampai ada yang tertinggal" ucap bu Ratih.


"Sudah mah semuanya aman" jawab Novia.


Mereka pun keluar ruangan dan berjalan menuju parkiran, Novia di tuntun Irwan di ikuti yang lain.


Setelah 45 menit menempuh perjalanan merekapun tiba di Rumah Pak Wahyu.


Pak Wahyu memarkirkan mobilnya dan mereka pun turun,disusul Pak Ahmad dan istrinya.


"Mari pak bu masuk dulu" bu Ratih mempersilahkan besannya masuk sementara si bayi masih digendongannya.


Novia berjalan perlahan masuk ke kamarnya disusul Irwan membawa barang-barang Novia dan bayinya.


Bu Ratih pun masuk ke kamar dan meletakkan bayi Mila di atas kasur. Karena kaget bayi Mila menggeliat mencari-cari sumber makanannya.


Irwan tersenyum gemas melihatnya,"Vi, dia lapar mau ne**n.


"Iya sebentar mau ganti baju dulu,sabar yaa naakk" Novia mengelus pipi bayinya lalu bergegas mengganti pakaiannya.


"Vi, aku keluar yaa tidak enak sama mama papa" Irwan pun beranjak keluar kamar dan ikut bergabung dengan orang tua mereka.

__ADS_1


Setelah obrolan panjang dan membahas banyak hal, pak Ahmad dan Istrinya pun berpamitan pulang.


__ADS_2