
Part 19
Perjalanan hari ini cukup membuat Novia kelelahan.
Tiba di rumah rasa capeknya menguap begitu saja ketika disambut tawa riang anaknya.
Saat mobil berhenti Camillah langsung berlari kearah mereka, Novia pun bergegas turun.
" Mamaa " Camillah bergelayut manja pada ibunya.
" Uh anak mamaa, tadi belajar apa disekolah" tanya Novia sambil memegang tangan Camillah dan berjalan masuk ke rumah.
" Banyak mama, belajar berdoa, nyanyi sama menulis nama " jawabnya penuh semangat.
" Anak mama sekarang makin pintar ya " Novia memuji anaknya dan hanya dibalas senyum simpul Camillah.
Tiga hari kemudian Novia ke tempat tugas sesuai janjinya, dan hari ini dia bertemu dengan kepala sekolah yang bernama pak Nurdin.
" Selamat pagi pak " sapa Novia.
" Pagi, oh ibu yaa yang datang tiga hari yang lalu " balas pak Nurdin.
" Iya pak, saya kesini ingin melapor bahwa saya ditugaskan disini " sahut Novia.
" Mari masuk, kita bicara didalam " pak Nurdin mengajak Novia masuk ke ruangannya.
" Silahkan duduk " ucap pak Nurdin.
" Iya terima kasih pak " jawab Novia lalu duduk dihadapan pak Nurdin.
" Begini bu, saya jelaskan sedikit ya mengenai keadaan sekolah kita " pak Nurdin mulai menjelaskan dan Novia hanya menyimak.
" Di sini jumlah guru tiga orang termasuk saya,dan jumlah muridnya 19 orang dibagi enam kelas " ucapnya sambil tersenyum.
Novia hanya mengangguk, lalu pak Nurdin melanjutkan lagi.
" Karena jumlah murid hanya sedikit dan mereka harus dijemput ke rumah masing-masing maka saya membuat kebijakan guru datang bergiliran, sebab kasihan jaraknya jauh."
" Guru ada tiga kita bagi enam, jadi satu orang guru datang dua hari dan sekarang bertambah satu maka saya harus datang setiap hari " lanjutnya lagi.
" Iya pak saya mengerti " jawab Novia.
" Apa ibu siap ?" tanya pak Nurdin
" Iya Insyaa Allah pak " jawab Novia Yakin.
" Dan disini muridnya digabung dalam satu ruangan, di samping ruangan kita terbatas siswa juga jarang yang hadir kecuali dijemput."
" Baiklah karena ini hari pertama ibu bisa pulang duluan, dua hari lagi ibu datang karena besok guru yang lain akan datang sesuai jadwal gilirannya."
" Oh iya, kalau begitu saya pamit duluan pak " jawab Novia.
Dan pak Nurdin pun mengangguk setuju...
__ADS_1
Lalu Novia pun keluar ruangan dan berjalan menuju mobil.
Mereka pun kembali pulang ke rumah dan Irwan memanfaatkan waktu yang tersisa untuk melanjutkan pekerjaannya.
Besok harinya ketika akan bangun untuk shalat subuh, kepala Novia terasa berat pandangannya berputar-putar perut rasanya seperti diaduk...
" Eh kenapa ini ya Allah " gumamnya sambil memijat pelipisnya.
Irwan yang mendengar dan melihat istrinya beranjak dan duduk disamping Novia.
" Kamu kenapa " tanya Irwan
" Entahlah, kepalaku rasanya berat, pandanganku berkunang-kunang pusing Wan " jawabnya sambil terus memijat pelipisnya.
Irwan lalu berjalan ke meja rias mengambil minyak kayu putih dan membaluri ke punggung dan perut Novia.
" Mungkin kamu masuk angin atau jangan-jangan telat makan " ucap Irwan.
" Iya mungkin masuk angin " jawab Novia.
" Ya sudah, kamu istirahat dan tidur, Camillah biar aku yang urus " titah Irwan.
" Hu'um " jawab Novia diapun melanjutkan tidurnya.
Irwan membuat makanan bekal Camillah lalu memandikan dan memasangkan baju seragam kemudian mengantar Camillah ke sekolah.
Setelah berpamitan pada Novia diapun berangkat kerja.
Novia mengambil telur dan membuat telur dadar setelah masak Novia pun makan, baru beberapa suapan tiba-tiba perut Novia seperti diaduk makanan yang dia makan barusan di muntahkan semuanya keluar tak bersisa.
Dengan tubuh lemah Novia ke belakang untuk mencuci piringnya, namun sekonyong-konyong dia mendengar suara orang yang sedang berbincang dan menyebut namanya.
Novia menajamkan pendengarannya, dan dia mengenal salah satu suara.
Jarak antara dapur Novia dan pintu masuk ke dapur bu Mini begitu dekat, dan asal suara itu dari sana sudah pasti perbincangan yang di dengar sangat jelas.
" Hmm mantu macam apa itu, sudah jam 11 masih juga tidur, suami pontang panting cari uang malah harus sibuk lagi mengurus anak dan memasak " ucap suara yang dikenali Novia.
" Anak manja mungkin terbiasa sama orang tuanya " jawab seseorang yang Novia tidak kenal.
" Iya, mana banyak tuntutan gayanya seperti orang kaya, mungkin tidak diajari sama orang tuanya "
Jleebbb..
Hati Novia berdesir sakiit mendengar orang tuanya yang tak tahu apa-apa di hina oleh ibu mertunya.
Novia menjatuhkan wajan bekas menggoreng telur, dan seketika percakapan pun terhenti. Bu Mini langsung diam tersadar kalau obrolan mereka di dengar, tapi dia bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi.
" Jahat sekali lisanmu ibu mertuaku " gumamnya
Novia marah, emosi karena orang tuanya di hina bahkan difitnah dianggap tak bisa mendidiknya.
Novia masuk ke dalam kamar dan menangis sejadi-jadinya hingga dia teringat Camillah.
__ADS_1
Novia melihat jam " ya Allah sudah jam 11 siapa yang jemput Camillah ?" dia bertanya dalam hati lalu keluar rumah.
Dilihatnya di teras rumah mertuanya Camillah sedang asyik bermain sendiri masih dengan seragam sekolahnya, dia bergegas menghampiri Camillah menggendongnya lalu membawanya pulang tanpa memberi tahu mertuanya.
" Ayo sayaangg ganti bajunya " titah Novia.
" Iya mah " jawab Camillah.
" Millah makan dulu yaa sama telur dadar " ucapnya lagi dan di angguki Camillah.
Novia pun memggoreng telur lalu menyuapi anaknya.
Sementara itu bu Mini yang tadi asyik mengguncing menantunya kini menyadari cucunya yang sendirian diteras, lalu dia bergegas keluar tapi tidak mendapati Camillah disana.
Lalu bu Mini ke rumah anaknya tapi pintu di tutup, diapun hanya bisa berteriak dari luar "Vi Camillah ada disitu " tanyanya.
Dengan berat hati Novia menjawab " iya " lalu dia diam dan terus menyuapi anaknya.
Dan bu Mini pun kembali ke rumahnya duduk di teras bersama seorang wanita seusia bu Mini, entah apa lagi yang mereka bicarakan.
Selesai menyuapi anaknya, Novia mengajak Camillah untuk tidur siang perasaannya masih tidak enak kepalanya terasa pusing ditambah lagi setelah mendengar ucapan ibu mertunya tadi sakitnya makin menjadi.
Novia melirik Camillah disampingnya yang sudah tertidur pulas.
"Ada apa yaa denganku, kenapa tiba-tiba pusing mual begini ?" dia mencoba mengingat sesuatu..
" Oh astaga sepertinya aku bulan ini sudah telat " gumamnya.
Karena belum yakin dia ingin membeli test pack dan mengajak suaminya nanti sepulang kerja.
Sorenya Irwan pulang lebih cepat, karena mengingat kondisi Novia tadi pagi.
Camillah yang asyik bermain segera menoleh mendengar suara deru mesin mobil,dan diapun berteriak kegirangan.
" Horee papa pulang " Irwan hanya tersenyum melihat tingkah camillah.
Diparkirnya mobil lalu turun dan menghampiri anaknya.
" Mama mana " tanya Irwan pada anaknya.
" Mama sakitt muntah-muntah." Jawabnya polos.
Irwan pun menggendong Camillah dan bergegas masuk ke kamar.
Di dapatinya Novia terbaring lemah karena seharian ini setiap makanan yang masuk pasti akan dimuntahkan kembali.
Dihampirinya Novia lalu menyentuh keningnya untuk memastikan suhu tubuhnya, Novia berbalik kearah suaminya.
Lalu bangunn dan duduk, " Wan, maaf hari ini aku tidak sempat masak " ucapnya merasa bersalah.
Irwan hanya menggeleng lalu tersenyum..
" Tidak apa-apa, kamu kamu kan lagi sakit Camillah bilang tadi muntah-muntah " balasnya dan dijawab anggukan Novia.
__ADS_1