
Part 84
"Bagaimana Vi? kami ingin mendengar keputusanmu," tanya Pak Wahyu
Novia menunduk sambil berkata, "maaf, aku belum bisa memutuskan sekarang beri aku waktu untuk berpikir."
Irwan tertunduk lesu mendengar jawaban istrinya, hanya bisa pasrah dan tidak bisa berbuat apa-apa.
"Novia sudah memberikan jawaban, sebaiknya kita beri waktu untuknya berpikir," ucap Pak Wahyu.
"Pikirkan baik-baik keputusanmu nak, agar tidak menyesal kemudian hari. Kami akan menunggu apapun jawabanmu nanti." Kakek Irwan memberi pesan pada Novia.
"Baiklah, kami pamit dulu minggu depan kami akan datang lagi untuk mendengar apa keputusan Novia." Si kakek berpamitan pulang
"Ah iya, terima kasih sudah datang berkunjung," jawab Pak Wahyu.
Irwan dan kakeknya bangkit lalu menyalami Pak Wahyu dan istrinya, sementara Irwan menghampiri istri dan anaknya.
"Vi, aku pergi dulu, kumohon maafkan aku," ucap Irwan sembari membelai kepala ketiga anaknya.
Novia memalingkan wajahnya, menghindari tatapan Irwan.
Setelah Irwan dan kakeknya pergi, Novia hendak beranjak namun, ayahnya menahannya.
"Novia, jangan pergi dulu kita bicara sebentar," ucap Pak Wahyu sambil berjalan kearah kursi lalu duduk.
Novia mengikuti ayahnya dan duduk di kursi berhadapan dengan kedua orang tuanya, sementara itu anak-anak Novia kembali masuk ke dalam dan bermain di ruang keluarga.
"Vi, papa harap kamu bisa mengambil keputusan dengan baik, jangan memutuskan sesuatu dalam keadaan emosi nanti hasilnya akan buruk."
"Pikirkan nasib ketiga anakmu, kami tidak akan ikut campur hanya sekedar mengarahkan," sambung Pak Wahyu.
"Iya, pah, maafkan Novia sudah membuat kalian sedih," sahut Novia
"Begitulah hidup nak, terkadang apa yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan karena itu kita harus bijak dalam berpikir dan bersikap."
Novia tertegun mendengar nasihat ayahnya, pesan-pesan yang ayahnya ucapkan menusuk tembus ke jantung.
Bu Ratih hanya menyimak pembicaraan anak dan suaminya, baginya ucapan suaminya sudah mewakili isi hatinya.
"Baiklah, Novia mau masuk dulu pah," pamit Novia.
"Iya," sahut Pak Wahyu
Novia masuk ke kamarnya, kemudian dia mengambil jubah mandi dan masuk ke dalam kamar mandi.
Novia mengguyur kepala hingga sekujur tubuhnya dengan air, beban pikiran membuat tubuhnya terasa panas hingga dia berlama-lama di dalam kamar mandi bermain-main air sembari menenangkan pikirannya.
Hampir satu jam Novia di dalam kamar mandi, akhirnya dia keluar kemudian mengambil baju bersih dari lemari lalu memakainya.
__ADS_1
Malam harinya ....
Saat semua penghuni rumah sudah terlelap, Novia masih terjaga matanya tak bisa terpejam. Kedatangan Irwan kembali mengusik pikirannya.
"Apa yang harus aku lakukan Ya Allah, masalah ini sungguh rumit," gumamnya
Novia bangkit dan beranjak turun dari ranjang, berjalan masuk ke kamar mandi lalu berwudhu.
Mengadu dan meminta petunjuk pada Sang Pencipta adalah yang terbaik dilakukan, Novia tidak mungkin menyampaikan semua keluh kesahnya pada kedua orang tuanya.
Novia melakukan shalat tahajjud dan berdoa dengan khusyu, memohon agar diberi jalan keluar untuk masalahnya.
"Ya Allah, ampuni dosa-dosaku selama ini aku tidak tahu lagi harus berbuat apa, beri petunjukMu agar aku tidak mengambil keputusan yang salah."
Air mata Novia mengalir deras dalam doanya, tidak sanggup menahan isak tangisnya hingga sesegukan.
Setelah puas menyampaikan semua isi hatinya, Novia bangkit dan melepas mukenahnya lalu merapikan kembali sajadahnya.
Novia naik ke atas ranjang dan berbaring di sebelah anaknya, menerawang menatap langit-langit kamar hingga akhirnya dia terlelap.
Hingga malam ke tujuh, lagi-lagi Novia tidak bisa tidur bahkan dia belum bisa memutuskan jawabannya.
keesokkan harinya ....
Novia masih mengurung diri di kamarnya, otaknya belum bisa berpikir dengan jernih untuk mengambil keputusan.
Tok ... tok ... tok
"Vi, di luar ada Irwan dan kakeknya."
Novia terhenyak dan tersadar kalau hari ini Irwan berjanji akan datang lagi.
"Iya, sebentar mah," sahut Novia dari dalam.
"Aduh, bagaimana ini? aku belum punya jawaban," gumam Novia sambil berjalan memutar di dalam kamar.
Tak lama pintu diketuk lagi, Bu Ratih kembali memanggil Novia.
"Ayo keluar, mereka sudah lama menunggu Vi," desak Bu Ratih di balik pintu.
Novia berdecak kesal, desakan untuk menemui Irwan membuat pikirannya semakin buntu. Dengan terpaksa Novia keluar kamar dan berjalan menuju ruang tamu.
Tiba di ruang tamu Novia berdiri di samping kursi ayahnya, Irwan mengangkat kepala dan sekilas melirik kearah istrinya.
"Duduk Vi," ucap Pak Wahyu sambil menunjuk kursi kosong di sebelahnya.
Novia pun duduk menuruti perintah ayahnya, saat duduk berhadapan dengan Irwan, Novia belum juga memiliki jawaban atas keputusannya.
Pak Wahyu memulai perbincangan.
__ADS_1
"Baiklah, Novia, suami dan kakek mertuamu sudah datang kembali untuk mendengarkan jawabanmu."
Seketika Novia gugup, wajahnya berubah pias dan terlihat bingung.
"Tenang Vi, tidak ada yang memaksamu semua keputusan ada di tanganmu," ucap Bu Ratih menenangkan putrinya.
Novia hanya mengangguk
"Sekarang bicaralah, kami akan mendengar," ucap Pak Wahyu.
Novia menarik napas sembari memejamkan mata, tiba-tiba saja bayangan ketiga anaknya muncul dan menari-nari di pelupuk matanya.
Mereka yang hadir saat itu ikut tegang, terlebih lagi Irwan seakan sulit menghirup udara untuk bernapas.
"Sudah berulang kali Irwan melakukan kesalahan, aku selalu memberinya maaf dan kesempatan." Novia berhenti sejenak mengumpulkan kekuatan.
"Gawat, sepertinya tipis harapanku bisa kembali," batin Irwan
"Jaminan apa yang bisa aku pegang untuk bisa kembali percaya pada dia?" lanjut Novia sambil menunjuk kearah Irwan.
"Kamu meminta jaminan Vi?" sambar Irwan
Novia mengangguk sebagai jawaban.
"Sebutkan apa permintaanmu nak sebagai jaminan," Kakek Irwan ikut menimpali
"Buat surat perjanjian yang bermaterai, jika Irwan masih mengulangi perbuatannya maka dia harus pergi dan menjauh dari kehidupanku," ucap Novia.
"Baiklah, aku bersedia membuat surat perjanjian itu di saksikan mama, papa, dan papa tua," balas Irwan
Novia lalu beranjak melangkah masuk ke dalam kamarnya, mengambil pulpen, kertas, dan selembar materai dari dalam dompetnya kemudian dia kembali ke ruang tamu.
Sampai di ruang tamu, Novia menyerahkan kertas dan pulpen pada Irwan dan memintanya membuat surat perjanjian.
Tanpa ragu dan penuh semangat Irwan menerima kertas tersebut, dengan senyum tipis dia mulai menulis di atas kertas.
"Yess, kamu memintaku membuat surat perjanjian, artinya kamu menerimaku kembali!" Irwan bersorak dalam hati.
Surat perjanjian telah selesai ditulis, tak lupa orang tua Novia ikut bertanda sebagai saksi dari pihak Novia dan Si Kakek darip pihak Irwan.
Novia meminta Irwan membaca kembali isi surat tersebut, ada beberapa poin penting yang harus diperhatikan termasuk resiko jika Irwan melanggar perjanjiannya.
"Aku akan menyimpan surat ini sebagai bukti dan peganganku, apabila nanti Irwan melanggar janji maka sangsi dalam surat ini akan berlaku padanya," ucap Novia tegas.
"Artinya kamu sekarang menerimaku kembali?" tanya Irwan.
"Iya, tapi bersyarat sesuai isi perjanjian. Maka berhati-hatilah bersikap," jawab Novia dingin dan tegas.
Sang Kakek berbisik ke telinga cucunya, "Wan, ini yang terakhir papa tua membantumu."
__ADS_1
Irwan mengangguk tanda mengerti, perasaan lega menyelimuti hatinya mendengar keputusan Novia.