Fitnah Berbuah Karma

Fitnah Berbuah Karma
Test Pack


__ADS_3

Part 20


Setelah melihat keadaan istrinya, Irwan mengajak Camillah mandi, selesai dengan urusan Camillah dia pun mandi dan mengganti pakaiannya.


" Wan, kamu capek ?" tanya Novia


" Yah lumayan, memangnya kenapa ?" balas Irwan.


" Bisa minta tolong mengantar aku beli test pack" ucapnya lagi.


Irwan mengerutkan dahinya bingung...


" Test Pack itu Vi ?" tanya Irwan karena nama itu masih terdengar asing ditelinganya.


" Hehe alat tes kehamilan sayaangg " Novia terkekeh melihat tingkah suaminya.


Irwan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal " oh " jawabnya.


" Bisa tidak Wan?" tanya Novia lagi.


" Iya bisa, kamu bisa bangun ?" tanyanya sambil melihat kearah Novia.


" Iyalah cuma sedikit pusing " jawab Novia lalu perlahan bangun dari tempat tidur.


Irwan dengan sigap membantu Novia berdiri dan menuntunnya keluar.


" Apa sebaiknya kita langsung ke dokter saja Vi " ucap Irwan yang khawatir dengan kondisi Novia yang lemah.


" Tidak usah Wan, cuma pusing sedikit juga karena belum makan " jawabnya.


" Kamu mau makan apa ? biar sekalian mampir " Irwan mencoba menawari istrinya.


" Mau yang pedas dan berkuah " balas Novia.


" Oke, kita berangkat sekarang " ucap Irwan kemudian menuntun Novia dan diikuti Camillah disampingnya.


Mereka naik ke mobil, sementara dari balik jendela bu Mini mengintip lalu bergumam sendiri..


" Kemana mereka sore begini, bukannya masak untuk suami malah keluyuran."


Tiba di apotek Irwan menghentikan mobil dan menoleh pada Novia " Vi tadi namanya apa ya " tanyanya memasang wajah lugu.


Lagi-lagi Novia terkekeh " Test pack Wan, Test pack " jawabnya.


" Oke tunggu sebentar " lalu Irwan turun dan melangkah menuju apotek.


Tak lama Irwan kembali ke mobil dengan membawa kantong kresek yang berisi beberapa test pack.


" Loh kenapa banyak ?" ucap Novia sambil memilah beberapa test pack.


" Dari pada bingung, tadi disana aku tanya trus disodori beberapa merk ya sudah aku ambil semua " balasnya.


Novia langsung menepuk jidatnya " Wan, beli satu cukup kenapa malah beli banyak " sambil terheran-heran dengan tingkah suaminya.

__ADS_1


" Sudahlah Vi, ayo kita cari makan Millah mau makan apa sayang " Irwan bertanya pada Camillah.


" Millah mau baso pah " jawabnya.


" Oke kita cari makan sekarang " Irwan lalu menyalakan mesin mobil dan melaju membela jalanan.


Setelah makan mereka pun pulang karena hari menjelang maghrib.


Tiba di rumah Novia melihat Ibu mertuanya sedang duduk diteras bersama adik iparnya.


Novia turun dari mobil lalu berjalan kerumahnya tanpa menoleh kearah bu Mini, ucapan mertuanya itu masih terngiang ditelinganya.


Sementara Irwan turun dan menggendong Camillah menyusul Novia.


Karena Adzan maghrib sudah berkumandang Novia bergegas membersihkan diri lalu shalat maghrib,sambil menunggu waktu Isya Novia mengajarkan Camillah mengaji pengenalan huruf hijaiyah.


Setelah selesai shalat isya Novia berbaring di tempat tidur Camillah pun ikut berbaring disampingnya, sedangkan Irwan ke rumah orang tuanya berbincang bersama ibu dan kedua adiknya.


" Dari mana kalian sore tadi " tanya bu Mini.


" Dari apotek mah " jawab Irwan.


" Memangnya siapa yang sakit ?" bu Mini penasaran ingin tahu.


" Novia mah, tadi pagi dia pusing dan muntah-muntah" jawab Irwan.


" Istrimu itu terlalu manja, hanya pusing sedikit harus membeli obat ke apotek padahal obat warung juga bisa " sahutnya lagi sedikit sinis.


Irwan hanya diam tak mau mendebat ibunya, karena dia sangat mengenal sifat ibunya dan dia memilih berpamitan pulang lalu beristirahat.


Paginya Novia bangun, kepalanya masih pusing tapi dia memaksakan bangkit dan masuk ke kamar mandi.


Tak lupa, dia juga mengambil sampel urine nya dan disimpan diwadah lalu dia membersihkan diri dan bersiap shalat subuh.


Selesai shalat Novia mengambil test pack yang dibelinya lalu masuk kembali kekamar mandi.


Diambilnya wadah tempat urine dan membuka segel test pack lalu perlahan memasukkan ke dalam wadah kemudian menunggu beberapa menit.


Dengan perasaan was-was Novia perlahan mengangkat test pack itu untuk melihat hasilnya.


Begitu melihat hasilnya refleks Novia menutup mulutnya dengan kedua tangannya antara haru dan bahagia.


Dengan tergesa-gesa dia keluar dari kamar mandi dan membangunkan suaminya.


" Wan bangun lihat ini " ditepuknya pelan punggung suaminya.


Irwan menggeliat perlahan membuka matanya sekaligus bingung melihat sesuatu yang dipegang Novia.


" Apa ini Vi ?" tanya Irwan yang kesadarannya belum penuh.


" Ini test pack yang kemarin kita beli dan barusan aku pakai lalu ini hasilnya " Novia menunjukkan lagi alat itu.


Irwan masih bingung melihatnya." maksudnya apa sayaang " ucapnya.

__ADS_1


Novia memanyunkan bibirnya lalu menjelaskan pada suaminya.


" Alat ini cara pakainya di masukkan ke dalam wadah yang berisi urine ku lalu biarkan beberapa menit kemudian angkat, kalau garisnya satu artinya negatif sebaliknya kalau garisnya dua hasilnya positif " ucap Novia panjang lebar.


" Nah sekarang kamu lihat ada berapa garisnya " tanya Novia sambil tersenyum.


" Dua " jawab Irwan yang belum paham juga.


" Artinya " sahut Novia lagi.


Irwan hanya melongo dan berhasil membuat Novia kesal.


" Aku hamiill lagii Wan " kali ini Novia lebih emosional.


Mendengar itu baru Irwan tersadar dan langsung memeluk istrinya.


" Oh maafkan aku Vi, sumpah aku belum paham tadi kamu tahu sendiri kan aku belum pernah melihat benda itu sebelumnya "ucapnya lalu mengecup kening istrinya.


Novia tertunduk haru dan membalas pelukan suaminya.


" Camillah akan memiliki adik " ucapnya


Dan Irwan mengangguk lalu melirik kearah Camillah yang masih terlelap.


Novia melepaskan diri dari pelukan suaminya lalu beranjak menuju dapur untuk menyiapkan sarapan dan bekal Camillah ke sekolah.


Walaupun Novia masih merasakan mual tapi dia tak ingin merepotkan suaminya, dia tak mau di sebut menantu manja yang hanya bisa menyusahkan suami seperti ucapan mertuanya.


Novia masuk ke kamar membangunkan Camillah lalu memandikan dan memakaikan seragamnya, tak lupa dia juga menyiapkan pakaian suaminya.


Irwan keluar dari kamar mandi lalu memakai pakaiannya dan menghampiri Novia yang menunggunya untuk sarapan.


" Biar aku saja yang mengantar Millah, kamu istirahat di rumah " ucap Irwan.


Novia hanya mengangguk..


" Nanti aku akan minta tolong mama untuk menjemputnya " lanjutnya lagi.


Novia langsung membalas ucapan Irwan " jangan, biar aku yang menjemputnya."


" Ya sudah, asal jangan sampai membuatmu kelelahan " jawab Irwan.


" Aku berangkat dulu yaa, ayo nak kita berangkat papa yang antar kamu " ucapnya sembari menggandeng tangan Camillah berjalan keluar.


Diluar bu Mini sedang membersihkan pekarangannya, melihat Camillah dan Irwan berjalan ke arah mobil dia pun menyapa.


" Millah berangkat diantar papa, mama mana ?"


" Iya, mama sakit " jawab camillah polos.


Bu Mini menghampiri cucunya " salim dulu sama nenek " ucapnya dan menyodorkan tangannya lalu disambit Camillah.


Irwan membuka pintu mobil lalu menyuruh Camillah naik.

__ADS_1


" Aku berangkat dulu " ucapnya berpamitan pada ibunya lalu naik ke mobil dan menyalakan mesin kemudian perlahan bergerak menjauh.


Bu Mini berjalan ke rumahnya sambil melirik kearah rumah anaknya, entah apa yang ada di hati dan pikirannya saat itu hanya dia dan Tuhan yang tahu.


__ADS_2