Fitnah Berbuah Karma

Fitnah Berbuah Karma
Teman Rasa Saudara


__ADS_3

Part 72


Pagi hari ....


Novia bergegas berangkat kerja," ayo nak, nanti kita terlambat."


Novia menaiki motor dan menyuruh Camillah naik, hari ini ada kunjungan dari dinas Novia harus menyiapkan kelasnya.


"Jangan ngebut Vi," ujar Bu Ratih melihat anaknya terburu-buru.


"Iya, mah," sahut Novia.


Novia dan anaknya sudah di atas motor, menyalakan mesin dan motor perlahan bergerak melaju memecah jalanan menuju sekolah.


Tiba di sekolah, Novia memarkir motornya lalu turun dan begegas menuju kelasnya.


Novia sibuk membersihkan kelas dan merapikan buku-buku, kelas masih sepi murid-murid belum berdatangan sehingga dia lebih leluasa bekerja.


Diana tiba-tiba saja masuk dan berdiri di sampinh meja kerja Novia, tatapan matanya tidak bersahabat seperti menyimpan kemarahan.


"Muridmu ternyata ada yang belum lancar membaca, sebaiknya kamu lebih rajin lagi mengurus mereka," ujarnya sinis dan berlalu meninggalkan Novia.


Novia tercengang mendengar ucapan Diana, semakin hari Diana semakin lancang mencampuri urusannya.


"Diana itu kesurupan ya, pagi-pagi masuk ke kelas orang dan mengomel tak karuan," gerutunya.


Novia melanjutkan pekerjaannya, masih terlalu pagi untuk meladeni Diana yang tidak jelas maksud dan tujuannya.


Bel masuk berbunyi, anak-anak berlarian dan berbaris di depan kelas masing-masing. Novia keluar memberikan arahan pada muridnya dan menyuruh mereka masuk ke kelas.


Bel kembali berbunyi, menandakan waktu istirahat tiba anak-anak berhamburan keluar kelas. Novia memilih beristurahat di dalam kelasnya.


Tok ... Tok ... Tok


Pintu diketuk, Putra berdiri di depan pintu sambil tersenyum.


"Semua guru diminta berkumpul sekarang," ucap Putra.


"Hmm, iya, aku akan kesana," sahut Novia.


Putra masih berdiri di tempatnya, Novia menoleh,"ada apa lagi?" tanya Novia mengerutkan keningnya.


"Menunggu hehe," balas Putra terkekeh.

__ADS_1


"Hmm, kebiasaan. Ayo, kita jalan sekarang." Novia meraih tasnya kemudian berjalan melewati Putra, keduanya beriringan masuk ke ruang guru.


Keduanya masuk ke dalam ruangan, tampak guru yang lain sudah duduk menempati tempat masing-masing, demikian juga dengan Putra dan Novia.


Diana duduk di pojok ruangan, sibuk memainkan ponselnya. Terlihat jelas di wajahnya tidak menyukai kehadiran Novia.


"Baiklah, karena semua guru sudah berkumpul rapat akan saya mulai." Pak Rizal selaku kepala sekolah membuka acara.


"Sebelum saya melanjutkan pembahasan kita, diharapkan kepada semua yang hadir di sini untuk fokus," sindir Pak Rizal ketika melihat Diana malah asyik dengan ponselnya.


Menyadari sindirian yang dilemparkan padanya, Diana melepas ponsel dan mengangkat wajahnya.


"Hmm, tahu rasa kamu makanya jangan suka cari muka sama bos." Putra bergumam dan bisa didengar oleh Novia yang duduk di sebelahnya.


"Apa-apaan kamu Putra? nanti ada yang mendengar." Novia berkata lirih pada Putra.


"Baiklah, kita mulai sekarang." Pak Rizal mengeluarkan sebuah amplop dari saku celananya kemudian membuka dan membaca isinya yang berupa surat.


"Tadi pagi, kita menerima kunjungan dari dinas dan mereka menitipkan surat pemberitahuan ini. Sekolah kita ditunjuk mengikuti lomba tari kreasi," lanjut Pak Rizal sembari membaca keras isi surat tersebut.


"Tujuan kita rapat hari ini, melakukan persiapan untuk lomba tersebut mulai dari latihan, kostum, tema tari, dan juga memilih peserta. Ada sanggahan dari Bapak dan Ibu Guru?"


Novia mengangkat tangan untuk memberi sanggahan, Pak Rizal mempersilahkan Novia.


"Silahkan Bu Novia, ada saran?"


"Saya setuju dengan saran Bu Novia," celetuk Putra.


"Baiklah, masih ada saran dari yang lain?" Pak Rizal meminta saran dari guru lainnya.


Sebagai guru yang senior dan usianya paling tua, Ibu Ratna menyarankan pada Pak Rizal, "dari pada kita menyewa pelatih, lebih baik kita berdayakan guru-guru di sini."


"Siapa menurut ibu bisa melatih anak-anak kita?" tanya Pak Rizal.


"Bu Novia dan Ibu Diana, mereka guru yang kreatif bagaimana dengan yang lainnya apakah kalian sepakat?" Ibu Ratna meminta persetujuan dari teman-temannya yang lain.


Serempak yang lainnya menjawab setuju, Novia akan menolak namun dicegah Putra.


"Putra, anakku masih kecil," bisik Novia.


"Diana juga anaknya masih kecil, jangan menolak!" Putra balas berbisik.


"Ibu Diana, apa ibu bersedia mengemban tugas ini?" tanya Pak Rizal dan di balas anggukan dari Diana.

__ADS_1


Kemudian Pak Rizal menatap Novia, bagaimana dengan Ibu Novia?"


"Mm, anu eh, anak saya masih kecil pak dan belum bisa ditinggalkan terlalu lama," jawab Novia terbata-bata.


"Ini perintah, dan kita akan memanfaatkan jam istirahat untuk latihan," balas Pak Rizal lantang.


Novia hanya bisa pasrah dan tersenyum masam, bukan masalah waktu atau anak yang menjadi alasan utama Novia, tapi ada hal lain yang tidak bisa dia ungkapkan.


"Aduh pak, kenapa harus dia yang menjadi rekanku apa tidak ada yang lain kah?" batin Novia.


"Baiklah, pembahasan mengenai pelatih sudah tuntas besok kalian boleh mulai latihan dan memilih peserta, jangan lupa menentukan tema tari. Kostumnya akan kita bicarakan lagi."


"Sekarang saya tutup rapat hari ini, silahkan kembali ke kelas masing-masing." Pak Rizal menyudahi rapat dan guru-guru kembali ke kelas mereka.


Novia berjalan gontai, Putra mengikutinya dari belakang dan menepuk bahunya.


"Kamu ini kebiasaan!!" umpat Novia karena terkejut.


"Vi, aku ikut ke kelasmu ya," bujuk Putra.


"Mau apa?" balas Novia ketus.


"Mau berghibah hahaha," Putra tergelak dengan ucapannya sendiri.


"Dasar kamu tukang gosip," Novia mendorong Putra hingga terhuyung, begitulah kebiasaan dan keakraban mereka.


Tiba di kelas, Novia menyiapkan muridnya untuk pulang, memberi tugas PR kemudian dilanjutkan demgan berdoa sebelum pulang.


Murid-murid Novia sudah pulang, di kelas hanya ada dirinya dan Putra. Mereka berbincang menunggu waktu pulang.


"Vi, kamu lihat tadi Pak Rizal menatap sinis Diana?"


"Hmm, kenapa memangnya?" bukannya menjawab Novia justru balik bertanya.


"Pak Rizal sepertinya kurang menyukai Diana, setiap kali ada pertemuan pasti Pak Rizal memberi sindiran."


"Ah, itu hanya perasaanmu," Novia menepis dugaan Putra walau sesungguhnya dia juga merasakan hal yang sama.


"Serius Vi, aku bukan anak kecil yang tidak pandai membaca situasi. Sepertinya Pak Rizal tahu sikap Diana selama ini padamu." Putra mengetuk-ketuk meja kerja Novia layaknya orang yang sedang berpikir.


"Alaah, kamu sok-sokan jadi Psikiater." Novia kembali mendorong tubuh sahabatnya itu.


"Jangan menduga-duga, apalagi sampai menuduh jatuhnya fitnah aku yakin Pak Rizal tidak seperti yang kamu pikirkan," ucap Novia bernada serius.

__ADS_1


"Vi, aku sudah lama kenal Pak Rizal, beliau tidak menyukai pertikaian apalagi kalau ada yang suka mencari muka dan menjatuhkan teman." Putra sedikit memberi gambaran tentang kepribadian Pak Rizal.


Novia menyimak setiap kalimat yang diucapkan Putra, harus diakui Putra jauh lebih dulu mengenal Pak Rizal dan tentunya dia tahu betul karakter dan sifat pimpinan mereka itu.


__ADS_2