
Part 61
Irwan turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam melewati kerumunan orang-orang, jerit tangis bu Mini dan adik-adik Irwan terdengar begitu menyayat hati.
Sampai di dalam, Irwan berdiri mematung memandangi mayat ayahnya, bu Mini mendongak ke arah Irwan.
" Wan, papa sudah pergi hiks...hiks."
Irwan diam, tak bisa berkata-kata bibirnya seakan terkunci perlahan dia mendekat dan memeluk tubuh ayahnya yang sudah tak bernyawa tangisnya pecah.
" Papaa, kenapa semalam papa menyuruhku pulang ? Papa tidak mau aku di sini saat pergi ?"
" Mah kenapa papa diam tak mau menjawab pertanyaanku ?" Irwan melepas pelukannya lalu menoleh pada ibunya, tapi bu Mini hanya menggeleng dan sesegukan.
Irwan bangkit dan melangkah masuk ke kamar ayahnya, pandangannya menyapu seluruh ruangan di atas meja masih tersusun rapi obat dan gelas yang biasa ayahnya pakai kemudian dia tertunduk lesu.
" Pah, maafkan aku tidak ada di samping papa saat papa pergi, kalau tahu begini aku tak akan meninggalkan papa semalam sekeras apapun papa memintaku pulang."
Irwan begitu terpukul, menyesali keputusannya yang mau menuruti keinginan ayahnya semalam dia duduk di lantai dan bersandar di sisi ranjang sambil meremas rambutnya.
Sementara itu di rumah pak Wahyu, seseorang datang tergesa-gesa masuk ke halaman. Bu Ratih menatap suaminya yang juga bingung.
" Assalamualaikum."
" Waalaikumussalam."
Orang itu tampak ragu-ragu berbicara dan akhirnya pak Wahyu mempersilahkannya masuk, tapi dia menolak dan tetap berdiri di tempatnya.
" Boleh saya bertemu Irwan ?"
" Bapak ini siapa ?" Bukannya menjawab pak Wahyu malah bertanya balik.
" Saya tetangga pak Ahmad orang tua Irwan."
" Oh, Irwan sudah berangkat kerja sepuluh menit yang lalu. Ada yang ingin bisa kami bantu ?"
" Emm saya mau mengabari kalau pak Ahmad sudah meninggal dunia."
" Innalillahi wa innailahirraji'un." Ucap pak Wahyu
Bu Ratih bangkit dan berjalan menghampiri suaminya, keduanya terkejut mendengar kabar tersebuy sebab baru beberapa hari yang lalu pak Ahmad berkunjung ke rumah mereka.
" Baiklah pak bu, saya pamit mungkin Irwan sudah tiba di sana."
Pak Wahyu mengangguk, dan orang itu berlalu meninggalkan kediaman pak Wahyu.
" Mah, beritahu Novia kalau mertuanya meninggal dunia." Ucap pak Wahyu lirih.
Bu Ratih masuk ke dalam berjalan menuju kamar Novia, dia mengetuk pintu dan sesaat kemudian Novia membuka pintu.
" Ada apa mah ?"
__ADS_1
" Vi, ayah mertuamu meninggal dunia."
" Innalillahi Wa innailahirraji'un." Ucap Novia sembari memegangi dadanya.
" Serius mah, siapa yang mengabari kesini ?" Novia sepertinya belum yakin dengan kabar yang di dengarnya.
" Tetangga pak Ahmad yang datang, tadinya mau menjemput suamimu tapi Irwan sudah berangkat kerja."
" Vi, bagaimana anak-anak ?"
" Camillah sudah memakai seragamnya mah dan siap berangkat ke sekolah, Diba dan Emir masih tidur."
" Camillah libur saja hari ini, sekarang kamu mandi dan bersiap-siap ke rumah mertuamu."
" Iya, aku mandi dulu mah."
Novia menghampiri Camillah yang sudah menenteng tasnya.
" Millah hari ini tidak usah dulu ke sekolah ya."
" Kenapa mah."
" Kita ke rumah kakek."
" Tapi Millah mau sekolah mah." Camillah merengek pada ibunya karena belum tahu apa yang terjadi.
" Papa sedang berduka nak, kakekmu baru saja meninggal dunia dan kita harus kesana."
Anak itu langsung terdiam, tak ada reaksi apa-apa yang tampak di wajahnya mungkin karena hubungan mereka tidak begitu dekat sehingga dia tidak merasakan kehilangan.
Novia bergegas masuk ke kamar mandi, hanya butuh lima menit dia menyelesaikan aktifitasnya di kamar mandi kemudian dia keluar memakai pakaiannya.
Dia berdiri sejenak, memandangi kedua anaknya yang terlelap di atas ranjang.
" Diba belum lama tidur kalau di bangunkan nanti rewel lagi bagaimana ini."
Sembari menunggu anaknya bangun, Novia memilih membereskan pakaian dan barang yang akan di bawa untuk beberapa hari ke depan.
" Alhamdulillah beres, aman, dan tuntas. Ayo Novia semangat semoga kamu betah di sana."
Novia mengangkat dan memindahkan beberapa tas yang akan di bawanya ke ruang tamu, Camillah menghampiri ibunya dan bertanya
" Tasnya banyak, isinya apa mah ?"
" Pakain, kita akan menginap di sana untuk beberapa hari." Sahut Novia.
Setelah menyusun tas dan barangnya Novia keluar menuju teras, tampak kedua orang tuanya sudah siap dengan pakaian yang rapi pak Wahyu memakai baju koko berwarna putih dan bu Ratih memakai gamis berwarna putih senada dengan baju suaminya.
Bu Ratih menoleh saat menyadari Novia muncul di dekatnya.
" Mana anak-anak ?"
__ADS_1
" Belum bangun mah, aku takut membangunkan Diba nanti dia rewel lagi."
" Pelan-pelan membangunkannya Vi, kalau menunggu dia bangun nanti kita terlambat. Apa kata orang nanti kalau kamu datangnya kesiangan."
Novia pun menuruti perkataan ibunya, dia masuk ke kamar dan membangunkan anaknya untungnya saat bangun Adiba tidak rewel sehingga tidak butuh waktu yang lama mengurusnya.
Sedangkan di teras sembari menunggu Novia, bu Ratih dan suaminya berbincang.
" Pah, mama tidak memyangka pak Ahmad pergi secepat ini padahal baru beberapa hari yang lalu dia kesini."
" Begitulah hidup mah, tak ada satupun manusia yang tahu apa yang akan terjadi. Makanya selagi di beri waktu kita harus persiapkan diri dan bekal nanti jika sekali waktu Allah memanggil."
" Waktu pak Ahmad kesini, mama sudah punya firasat pah dan mungkin Diba semalaman menangis juga tanda ya pah."
" Mungkin, anak kecil itu lebih peka apalagi Diba kan cucunya pasti ada hubungan batin mah."
" Iya juga."
Tak lama Novia muncul, dia menggendong Emir sambil menggandeng tangan Diba.
Pak Wahyu mendongak...
" Sudah siap ?"
" Iya pah, mah tolong gendong Emir aku masukkan dulu tas itu ke dalam mobil."
Bu Ratih mengambil Emir dari gendongan Novia kemudian membawanya naik ke dalam mobil di susul Camillah yang juga ikut naik.
Setelah semua tas dan barang Novia ada dalam mobil lalu memastikan kembali semua pintu dan jendela terkunci dia pun naik menyusul pak Wahyu yang siap mengemudikan mobilnya.
Mobil yang mereka tumpangi perlahan bergerak menuju rumah orang tua Irwan.
Setelah menempuh perjalanan selama lima belas menit, mereka pun sampai di rumah duka. Novia turun lebih dulu lalu menyusul kedua orang tuanya.
Irwan yang saat itu duduk di tenda bersama beberapa orang, melihat mobil mertuanya berhenti dia bergegas berjalan menghampiri,
dia segera menyambut istrinya turun dari mobil.
" Anak-anak ikut Vi ?"
" Iya."
" Tas dan barang kami ada di dalam mobil Wan."
" Iya, biar aku yang bawa."
" Mah pah, mari kita ke dalam." Ucap Irwan sambil menjinjing tas dan barang istrinya.
Mereka berjalan beriringan masuk, pak Wahyu dan istrinya menghampiri jenazah pak Ahmad di sampingnya bu Mini tertunduk menahan isak tangisnya.
" Bu Mini, kami turut berduka cita semoga almarhum di ampuni dosa-dosanya dan di lapangkan kuburnya." Ucap bu Ratih.
__ADS_1
Bu Mini mengangkat kepalanya dan tersenyum tipis, tapi matanya yang sembab tak bisa menutupi kesedihannya.
" Aamiin, terima kasih bu sudah berkenan hadir." Balas bu Mini.