Fitnah Berbuah Karma

Fitnah Berbuah Karma
Koma


__ADS_3

Part 57


Sudah berulang kali Irwan mendesak ibunya tapi hasilnya nihil, Novia pun akhirnya pasrah dan mengikhlaskan uang tersebut karena dia tahu akibat masalah itu hubungan mereka menjadi semakin renggang.


Dua bulan kemudian...


Usia kandungan Novia sudah genap sembilan bulan, dia sudah mempersiapkan persalinan baik fisik maupun mentalnya dan juga kebutuhan dia dan bayinya.


Malam ini tepat pukul dua dini hari, Novia merasakan perutnya menegang dan nyeri di pinggulnya. Dia bangun dan turun dari ranjang memeriksa kembali barang dan kebutuhannya untuk persalinan.


Novia menoleh pada suaminya yang masih terlelap, dia belum berniat membangunkan suaminya sampai dia yakin dan sudah ada tanda baru lah dia akan memberitahu suaminya.


Sudah hampir dua jam Novia menahan sakit, dia berjalan keluar menyalakan lampu di ruang keluarga kemudian duduk di sofa. Penghuni rumah yang lain masih terlelap dan berkelana dalam mimpi masing-masing.


" Rasa sakitnya kali ini berbeda, dua kali lipat dari sebelumnya."


Novia meringis sambil mengusap perutnya.


" Sabar ya nak, jangan membuat mama kesakitan kita pasti akan berjumpa." Gumamnya


Dia melirik jam, setengah lima pagi. Biasanya jika dalam situasi seperti ini Novia menyempatkan diri untuk makan, tapi kali ini Novia seperti tak punya kekuatan bahkan untuk berjalan pun rasanya dia tidak sanggup.


Karena sakitnya semakin menjadi, Novia masuk kembali ke dalam kamar dan membangunkan suaminya.


" Wan bangun " sambil menggoyang-goyang tubuh suaminya, tapi belum ada reaksi.


Novia diam, kemudian kembali membangunkan suaminya.


Dengan gerakan refleks Irwan bangun dan duduk, nyawanya belum sepenuhnya terkumpul.


" Wan, perutku sakit sepertinya aku akan melahirkan."


Bukannya menjawab Irwan malah bangkit dengan langkah cepat menuju pintu namun di cegah Novia.


" Heii mau kemana ?"


" Membangunkan mama."


" Astaga Wan, tenang jangan panik mama dan papa juga pasti bangun karena sebentar lagi subuh."


Irwan diam mematung dan mengumpulkan kesadarannya, lalu berjalan menghampiri istrinya.


" Maklum aku panik Vi, aku mau cuci muka dulu."


Irwan masuk ke kamar mandi membersihkan diri, sedangkan Novia terus menahan sakit.


Tak lama suara adzan subuh terdengar, Irwan juga sudah keluar dari kamar mandi.


" Wan, shalat dulu lah."


" Iya."


Setelah shalat, Irwan keluar kamar karena pasti mertuanya sudah selesai shalat. Saar keluar dia berpapasan dengan bu Ratih yang berjalan menuju dapur.


" Mah, Novia sakit perut."


" Kenapa tidak membangunkan mama ?"

__ADS_1


" Novia melarangku mah."


" Ah anak itu selalu saja begitu." Gerutunya dan masuk ke kamar Novia dan Irwan menyusul di belakangnya.


Saat melihat anaknya bu Ratih sedikit khawatir, wajah Novia agak pucat.


" Vi, kamu baik-baik saja kan ? Mama ambilkan makanan ya."


Novia hanya mengangguk.


Bu Ratih bergegas ke dapur, mengambil apa saja yang bisa di makan tak lupa dia juga membawa sebotol madu.


Bu Ratih sudah ada di kamar, dia menyuapi Novia sampai makanan di piring habis lalu memberinya madu.


" Kita ke rumah sakit Vi." Ucap Irwan.


Novia menggeleng " Aku mau lahiran di sini di dampingi mama."


Jantung bu Ratih berdesir, dia menatap dalam-dalam wajah putrinya lalu beralih menatap menantunya yang duduk tepat di samping Novia.


" Ya Allah, jaga dan lindungi anak ku beri dia keselamatan lancarkan persalinannya."


" Vi, mama juga bisa mendampingimu di ruang bersalin kita ke rumah sakit ya." Irwan berusaha membujuk istrinya tapi masih saja mendapat penolakan dari Novia.


" Wan, panggil papa di kamar." Titah bu Ratih, perasaannya jadi tidak enak.


Irwan keluar dan memanggil ayah mertuanya, pak Wahyu belum mengetahui apa yang terjadi. Setelah Irwan beritahu barulah dia ikut masuk ke kamar Novia.


" Ssshhhh aduuuhh." Novia meringis dan memegangi perutnya.


Tanpa menunggu lama Irwan bergegas keluar mengendarai motor untuk menjemput bidan.


" Pah, jangan hanya diam di situ lakukan sesuatu." Kesal melihat suaminya yang masih berdiri.


" Maahh sakiiitt." Bulir bening menetes di pipi Novia membuat bu Ratih semakin khawatir dan langsung mendekat pada anaknya.


Melihat keadaan Novia pak Wahyu segera memindahkan anak-anak Novia ke kamar mereka, dia menggendong satu persatu cucunya yang masih terlelap.


Irwan datang bersama seorang bidan, napasnya masih terengah-engah seperti orang yang berlomba lari.


Bu Ratih mundur memberi ruang pada bidan tersebut untuk melakukan pemeriksaan.


" Silahkan bu."


" Iya, boleh saya periksa sekarang ?"


Novia mengangguk.


" Wan, tolong ambil kasur yang biasa mama pakai kalau nonton itu."


Irwan mengambil kasur yang di maksud ibu mertuanya, membawanya masuk dan meletakkan di depan ranjang.


" Permisi bu, bisakah Novia pindah ke atas kasur ini ?"


" Oh iya boleh, silahkan."


Irwan membopong istrinya ke atas kasur lalu mundur ke belakang duduk berjejer dengan ibu mertuanya.

__ADS_1


" Mah sini duduk di sampingku." Novia meminta ibunya mendekat.


" Mah sakiit, ini lebih sakit dari sebelumnya."


" Iya nak." Bu Ratih memgelus lembut rambut Novia yang terbaring.


Tiba-tiba Novia menegang, bayi dalam perutnya terus mendesak mencari jalan Novia mengejan beberapa kali tapi gagal.


" Wan, duduk di belakang Novia."


Irwan pun duduk dibelakang Novia dan merangkul istinya dari belakang. Novia kembali mengejan sekuat tenaga namun tiba-tiba dia seperti kehabisan napas bu Ratih langsung panik.


" Wan, tiup ubun-ubunnya sekarang." Irwan melakukan perintah bu Ratih dan sedetik kemudian Novia terlihat menarik napasnya.


Tubuh Novia lemas, tenaganya habis menahan sakit sekaligus mengejan sungguh luar biasa perjuangannya kali ini.


" Istirahat dulu bu, jangan di paksa ya." Ucap bidan tersebut.


Tak lama rasa sakit datang lagi, Novia kembali mengejan sambil berpegangan pada bahu suaminya, tarikan napas yang kedua Novia kembali mengejan hingga tubuh bayi keluar tapi masih sebagian.


" Oh astaga lehernya terlilit tali pusar."


Dengan terampil bidan tersebut melepas tali pusar yang melilit leher bayi hingga terlepas, kemudian dia menarik dan tubuh bayi keluar dengan sempurna.


Tubuh Novia langsung terkuali lemas, diam tak bergerak dan matanya terpejam.


Bidan segera membersihkan tubuh bayi dan Novia.


" Apa jenis kelaminnya bu ?" Tanya Irwan penasaran.


" Laki-laki."


Senyum Irwan mengembang, akhirnya dia memiliki seorang putra yang akan menjadi penerusnya kelak. Sempurna sudah rasanya hidup Irwan.


Setelah itu bidan kembali membersihkan tubuh Novia, namun mereka belum menyadari sesuatu.


" Ya Allah." Bidan itu langsung panik


" Bu, darahnya banyak kasurnya sampai basah begini."


Bu Ratih pun baru menyadari saat menatap wajah putrinya yang masih diam dengan mata terpejam.


Sesaat Novia merasakan ketenangan dan kenyamanan, dia seperti berada di suatu tempat yang jauh bahkan dia tidak merasakan sakit.


" Aku di mana ? Tempat ini indah."


Sayup-sayup Novia mendengar suara ibunya memanggil dari kejauhan, perlahan dia membuka matanya tampak ibunya yang sedang menangis di sampingnya.


Irwan yang begitu panik membopong Istrinya naik ke atas ranjang, sementara bidang memasang selang infus saat Novia tak sadarkan diri.


" Vi, kamu sudah sadar ?" Irwan mendekat dan membelai rambut istrinya yang masih diam.


" Syukurlah dia melewati masa kritisnya, sedikit saja kita terlambat menyadari tadi mungkin sekarang kita sudah kehilangan dia." Ucap bidan tersebut.


Pak Wahyu berdiri mematung, entah apa yang ada di pikirannya saat itu. Bu Ratih dan menantunya masih bertahan di samping Novia yang masih lemah.


Pak Wahyu melihat kasur yang berlumuran darah, kemudian dia membawanya ke belakang.

__ADS_1


__ADS_2