
Part 42
Sudah dua hari Irwan tidak pulang ke rumah mertuanya, meski begitu Novia juga belum berniat untuk kembali ke rumahnya mengingat usia Adiba belum genap sebulan.
Pagi ini Novia bersiap-siap berangkat kerja, tentunya juga mengantar Camillah sekolah.
" Mah, titip Adiba ya dia sudah mandi dan minum susu dan sekarang sudah tidur."
" Iya, kamu sudah cek stok susunya ? Jangan sampai kosong bisa bahaya."
" Sudah mah, pulang kerja aku mau mini market membeli susu dan kebutuhan lain. Papa bisa kan jemput Camillah pulang sekolah ?"
" Ya, biar papa yang jemput." Sahut pak Wahyu sembari membaca koran.
" Baiklah aku pamit, ayo nak kita berangkat sekarang."
Novia pun berangkat dengan mengendarai motornya, mengantar Camillah terlebih dahulu.
Saat melewati rumahnya, Novia menoleh dan tidak melihat mobil suaminya tapi dia tetap melanjutkan perjalanan karena takut Camillah terlambat.
Setelah mengantar Camillah dia langsung ke tempat tugasnya, sekali lagi dia menoleh untuk memastikan dan hasilnya masih sama.
" Tumben dia berangkat pagi-pagi, atau mungkin tidak pulang ? Nanti aku coba cari tahu."
Lamunan Novia buyar ketika sudah tiba di tempat tujuannya.
Dia memarkir motornya lalu berjalan masuk ke kelas, entah kenapa ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
Bel istirahat berbunyi, Novia melirik jam di tangannya kemudian membereskan buku yang berhamburan di atas meja kerjanya.
" Perasaanku jadi tidak enak begini, dari pada gelisah sendiri lebih baik aku pulang dan ke mini market susu Adiba stoknya menipis."
Dia keluar kelas berjalan ke ruang guru.
Ketika masuk ke dalam dia berpapasan dengan Putra dan menanyakan keberadaan kepala sekolah.
" Pak Rizal ada ?" berbicara tanpa suara sambil menunjuk ke arah pintu ruangan Kepala sekolah.
" Ada di dalam, masuk saja "
Tok..tok..tok
" Ya masuk." Sahut pak Rizal yang masih fokus dengan setumpuk kertas di depannya.
Novia perlahan masuk dan berdiri di depan meja. Pak Rizal mendongak dan menatap Novia.
" Ada yang ingin di sampaikan bu ?"
" Eh anu, emm saya pamit pulang duluan pak susu anakku habis dan kemarin lupa membelinya." Novia meremas jari-jarinya karena gugup menunggu jawaban.
" Oh iya silahkan, jangan lupa minta tolong guru yang lain untuk mengawasi kelasnya."
__ADS_1
" Iya saya akan meminta pak Putra mengawasi anak-anak sampai pulang pak."
" Saya permisi pak ." Di jawab anggukan pak Rizal dan Novia berbalik melangkah meninggalkan ruangan pak Rizal.
Dia menghampiri Putra yang duduk di sudut ruangan.
" Putra, aku minta tolong kamu awasi siswaku sampai mereka pulang ya aku lagi ada urusan penting."
" Kapan ?"
" Tahun depan ! Ya sekarang lah kan sepuluh menit lagi bel masuk."
" Iyaa, huuft dasar sensi susah di ajak bercanda." balas Putra.
" Sekarang bukan waktunya bercanda, ya sudah aku pergi dulu." Novia melengos pergi, melayani Putra akan membuang banyak waktunya.
Sebelum Novia ke mini market, dia memutuskan singgah dulu di rumahnya sekedar mengecek keadaan rumah setelah berapa minggu dia tinggalkan.
Untungnya dia selalu membawa kunci cadangan jadi bisa dengan mudah masuk, saat membuka pintu rumah tampak rapi hanya ada beberapa piring bekas makanan yang ada diatas meja.
Novia masuk ke dapur lalu mencuci piring kotor tersebut, baru saja hendak masuk ke dalam kamar dia mendengar suara tante Lili memanggil namanya.
" Novia, kamu ada di dalam ?"
Novia bergegas keluar " Iya tante aku di dalam, masuklah."
" Hmm akhirnya kamu datang, tante penasaran ingin bertemu."
" Iya tante mencari kamu dan ingin mengatakan sesuatu."
" Apa itu tante ? Jangan membuatku penasaran."
Novia mendekat " Ayo tante duduk dulu."
Mereka duduk berhadapan lalu Lili menarik napasnya.
" Suamimu semalam tidur dimana ?"
Novia semakin bingung mendengar pertanyaan tante Lili, karena setahunya suaminya tidur di rumah mereka.
" Tidur di sini tante, sudah dua hari dia tidak pulang ke rumah orang tuaku."
" Saran tante, kamu sebaiknya kembali ke sini Vi."
" Sebenarnya ada apa tante ? aku memang ingin pulang ke rumah ini tapi bayiku di titip kemana, siapa yang menjaganya kalau aku kerja ?"
" Iya, memang sebuah dilema berada diposisimu." Lili baru menyadari itu.
" Semalam ada seorang wanita mencari suamimu kesini, namanya Sukma."
" Siapa tante ? Nama wanita itu siapa ??
__ADS_1
" Sukma."
Novia diam, sepertinya dia pernah mendengar nama itu tapi dia lupa. Novia terus mencoba mengingat-ingat siapa orangnya.
Hingga tiba-tiba ingatannya menangkap sesuatu.
" Irwan kan pernah menyebut nama Sukma dan menanyakan artinya lalu memintaku mengganti nama Adiba dengan Sukma, lalu apa hubungannya dengan Irwan siapa dia ?" Dan bodohnya dia yang lugu tanpa curiga sedikitpun pada suaminya.
" Vi, Noviaa !" teriakan Lili menyadarkan Novia dari lamunannya.
" Kamu menemukan sesuatu ? Atau mengenal wanita itu ?"
" Aku tidak mengenalnya tante, hanya saja..." Novia tidak melanjutkan kata-katanya, suaranya seperti tercekat di tenggorokan saat mengingatnya.
" Hanya saja apa Vi ? Jangan di potong-potong ah." Lili terus mendesak Novia.
" Irwan pernah meminta mengganti nama Adiba dengan nama itu."
" Semoga dugaanku salah." Gumam Lili dan di dengar oleh Novia.
" Dugaan apa tante ? Jangan merahasiakan sesuatu dariku."
" Sebaiknya kamu cari tahu sendiri Vi, tante akan kasih kamu alamatnya dan dari info yang tante terima dia sering datang di kantin kampusmu dulu."
" Sekarang tante pulang dulu sebelum mertuamu lihat."
Lili bergegas meninggalkan rumah Novia, karena tak ingin kedatangannya di ketahui suadarinya Mini ibu mertua Novia, tentu akan timbul masalah yang tidak di inginkan.
Tinggallah Novia sendiri duduk termenung...
" Saran tante Lili ada benarnya, tapi bagaimana dengan Adiba dia masih terlalu kecil jika di rawat dan di asuh orang lain ?"
Pikiran Novia terus berperang antara bertahan di rumah orang tuanya tapi Irwan bebas melakukan sesuatu atau kembali ke rumahnya tapi menitipkan Adiba dengan orang lain, dua pilihan yang sangat sulit di putuskan.
Novia memijat pelipisnya, kepalanya pusing memikirkan dua hal yang sama-sama penting dalam hidupnya.
Novia melirik jam tangannya, dia memilih ke mini market berbelanja kebutuhan anaknya dan pulang ke rumah orang tuanya. Masalah Irwan dia kesampingkan dulu.
Keesokkan hari, Novia berpamitan berangkat kerja tapi dia meminta ayahnya yang mengantar Camillah ke sekolah.
Novia berangkat dengan mengendarai motornya, tapi tujuannya bukan ke tempat kerja melainkan ke kampus seperti petunjuk tante Lili.
Dia sengaja mengajak seseorang untuk menemati untuk menjaga segala kemungkinan yang akan terjadi.
Saat tiba di kampus, Novia memantau dari kejauhan beberapa mobil yang parkir di dekat kantin tersebut. Tampak juga sopir-sopir yang berkumpul.
Novia terus mengamati, tapi belum melihat penampakkan suaminya.
" Vi, sampai kapan kita menunggu seperti orang bodoh."
" Sabar, kalau mobilnya sudah terlihat kita kesana."
__ADS_1
Sebenarnya justru Novia yang jauh lebih gelisah, jika menemukan sesuatu yang membuatnya sakit hati.