Fitnah Berbuah Karma

Fitnah Berbuah Karma
Harta Hanya Titipan


__ADS_3

Part 64


Kehidupan bu Mini semakin terpuruk sejak kematian suaminya, hari-hari yang mereka jalani menjadi lebih berat bahkan beberapa harta peninggalan pak Ahmad sudah terjual tanpa sepengetahuan Irwan.


Pagi ini di rumah pak Wahyu kedatangan seorang tamu, tante Lili sengaja berkunjung dan menemui Irwan.


" Assalamualaikum."


" Waalaikumussalam." Sahut bu Ratih yang muncul dari dalam dan menyambut tamunya.


" Eh Lili, ayo masuk."


" Iya terima kasih, Irwan ada ?" tanyanya berbasa-basi padahal dia tahu di depan mobil Irwan masih terparkir.


" Ada di dalam, tunggu sebentar saya panggilkan."


Bu Ratih masuk ke dalam kemudian mengetuk pintu kamar Novia.


Tok ... Tok ... tok


" Wan, ada tantemu di luar."


Irwan bergegas membuka pintu.


" Iya mah."


Setelah memanggil menantunya, bu Ratih berjalan ke dapur membuatkan minuman untuk tamunya.


Irwan masih berdiri di pintu, keningnya mengernyit karena merasa aneh dengan kedatangan tantenya.


" Tumben tante Lili kesini, ada apa ya ? Ah sebaiknya aku tanyakan langsung saja."


Novia yang juga berdiri di belakang suaminya bertanya, karena tidak biasanya tante Lili datang ke rumah orang tuanya pasti ada masalah penting.


" Wan, tumben tante Lili mau datang kesini ada masalah apa ya ?"


" Belum tahu Vi, aku juga penasaran."


" Ya sudah, sana keluar temui tante Lili." Novia mendurung tubuh suaminya ke luar kemudian dia berbalik menghampiri anaknya dan memakaikan Camillah seragam sekolah.


Irwan sudah ada di ruang tamu dia menyapa dan menyalami tante Lili lalu duduk.


" Wan, kamu pasti bertanya-tanya kenapa tante kesini ?"


" Hmmm, iya tante aku jadi penasaran."


Tante Lili tersenyum tipis, sebelum dia memulai perbincangan tante Lili memperbaiki duduknya.


" Tante kesini ingin menanyakan sesuatu padamu."


" Menanyakan apa tante ?" Irwan semakin penasaran.


" Apa kamu tahu, kalau mamamu akan menjual rumah dan mobil ?"

__ADS_1


" Apa tante ?" Irwan meminta tante Lili mengulang ucapan untuk meyakinkan pendengarannya.


" Tante tanya, apa kamu sudah tahu mamamu berencana menjual rumah yang mereka tempati dan juga mobil ?"


" Aku tidak tahu tan, mama belum mengatakan apa-apa padaku padahal kan aku tiap hari kesana."


" Ya makanya tante datang kesini untuk menanyakan padamu, karena yang tante tahu ada beberapa barang dan tanah yang sudah terjual."


Irwan terkejut mendengar ucapan tantenya, rupanya selama ini banyak yang luput dari pengetahuannya.


Wajah Irwan memerah, marah bercampur sedih ibunya benar-benar tidak menganggap kehadirannya hingga masalah penting di sembunyikan darinya.


" Dari mana tante tahu kalau mama sudah menjual tanah dan berencana menjual rumah dan mobil ?"


" Ada yang mengabari tante, kemarin adikmu Romi dari rumah lalu tante tanyakan perihal kabar itu dan Romi mengiyakan.


Irwan memgepalkan tangannya, tindakan ibunya sudah keterlaluan. Pantas saja dulu tantenya mewanti-wanti mereka untuk menjaga harta ayahnya dan ternyata benar sekarang terjadi.


" Wan sabar, jangan gegabah bicarakan baik-baik pada mamamu mungkin dia punya alasan sendiri kenapa menjual harta peninggalan papamu."


" Iya tante, makasih sudah mengabariku selama ini aku tidak pernah tahu apa rencana mama dan adik-adikku setelah papa meninggal."


" Ya sudah, tante pulang dulu ingat oesan tante, dan salam sama istri dan anak-anakmu." Lili pamit pada ponakannya.


" Iya tante hati-hati."


Keduanya bangkit dan berjalan keluar, Irwan mengantar tantenya sampai ke pintu gerbang dan kembali masuk setelah motor tante Lili meninggalkan rumah.


Saat di ruang tamu, bu Ratih muncul membawa nampan berisi dua gelas minuman.


" Baru saja pulang mah."


" Kenapa kamu tidak menahannya dulu, mama kan masih membuatkan minuman."


" Hehe, maaf mah tante Lili terburu-buru."


Wajah bu Ratih kecewa, dia meletakkan nampan tersebut di atas meja."


" Ya sudah, biar papa dan mama yang minum." Ucanya kemudian masuk ke kamar memanggil suaminya.


Irwan masuk ke kamar, tampak Novia sudah rapi bersiap berangkat kerja sedangkan kedua anaknya masih terlelap.


" Tante Lili mana ?"


" Sudah pulang, kamu mau berangkat kerja aku antar atau pergi sendiri ?" Tawar Irwan.


" Pergi sendiri, boncengan sama Camillah."


" Ya sudah hati-hati, aku juga mau berangkat ini oh iya, nanti pulang kerja aku mau bicara sama kamu penting."


" Kenapa tidak sekarang saja ?" Pancing Novia.


" Ada yang harus aku pastikan dulu, kalau memang benar baru aku bicarakan sama kamu." Balas Irwan.

__ADS_1


Ketiganya keluar dari kamar bersamaan, sampai di teras Novia menghampiri ibunya untuk berpamitan.


" Mah, pah, kami berangkat ya Diba dan Emir masih tidur tapi aku sudah menyiapkan kebutuhan mereka di atas meja kamar."


" Iya hati-hati."


Mereka bertiga menyalami pak Wahyu dan bu Ratih, kemudian naik ke kendaraan masing-masing dan meninggalkan kediaman pak Wahyu.


Novia langsung menuju ke tempat kerjanya, sedangkan Irwan mampir dulu di rumah ibunya untuk menanyakan kebenaran berita dari tante Lili.


Sampai di rumah ibunya, Irwan masuk ke kamar karena dia tahu sejak kematian ayahnya ibunya lebih sering mengurung diri di kamar. Dia mengetuk pintu, tanpa menunggu jawaban dia masuk dan menghampiri ibunya.


" Mah, aku ingin bicara dan aku harap mama berterus terang padaku."


Bu Mini menoleh, dia menatap anaknya dengan tatapan nanar sepertinya dia tak suka diganggu.


" Selama ini mama menganggapku apa dalam keluarga kita ?"


" Apa maksud pertanyaanmu ? mama tidak mengerti."


" Aku hanya merasa kehadiranku dalam keluarga sedikitpun tidak dianggap, semua keputusan mama ambil secara sepihak tanpa melibatkan aku."


" Keputusan apa ? bicara yang jelas Wan mama tidak paham maksudmu."


Bu Mini mencoba berkelit, sesungguhnya dia sudah tahu maksud ucapan anaknya dan dia ingin menghindar karena tak punya jawaban.


" Aku perjelas sekarang biar mama paham, jujur aku marah dan sedih ketika tahu mama sudah menjual semua harta papa bahkan berencana menjual rumah ini dan juga mobil."


Wajah bu Mini berubah pias, dia terkejut rupanya Irwan sudah tahu semuanya dan dia tidak tahu harus menjawab apa sekarang.


" Jawab mah, kenapa mama tega bertindak seperti itu tanpa melibatkan aku sebagai anak tertua." Suara Irwan masih rendah dia masih bisa menguasai diri dan tak ingin bertindak kasar terlebih pada ibunya.


" Mama butuh uang dan Romi butuh modal usaha."


" Jawaban klasik." Gerutu Irwan.


" Berapa uang yang mama butuhkan ?" Ucap Irwan kesal.


" Mobil itu sudah ada yang menawarnya Rp.25.000.000.00-, dan mama akan melepasnya."


" Apa mama tidak berpikir, kalau mobil di jual dari mana aku mendapatkan uang dan aku kerja apa lagi setelahnya ?"


" Beri aku waktu untuk mencari solusi, jika mama benar-benar ingin menjual mobil itu dan tidak lagi peduli dengan nasibku kedepannya."


" Dari mana kamu akan mendapatkan uang hah ? Kamu pikir jumlahnya hanya sedikit." Ucap Bu Mini dengan nada sinis seperti meremehkan anaknya.


" Mama tak perlu tahu dari mana aku mendapatkannya, aku hanya minta mama sabar dan menunggu." Balas Irwan.


" Satu lagi mah, jangan pernah menjual rumah ini diam-diam tanpa sepengetahuanku aku akan murka dan marah besar !" Irwan mulai menunjukkan ketegasannya.


" Ya sudah, aku pamit mau kerja."


Bu Mini diam termangu, hidupnya mulai hancur sejak kematian suaminya dia merasa tak ada lagi yang bisa dia pertahankan. Adik-adik Irwan tak bisa diandalkan bahkan sekarang mereka hanya menggantungkan hidup dari hasil keringat Irwan.

__ADS_1


Irwan meninggalkan rumah ibunya, sepanjang perjalanan dia merenung. Satu-satunya orang yang bisa dia ajak berbagi hanyalah istrinya Novia.


__ADS_2