
Part 110
Sebulan sejak kepergian Irwan, Novia berjuang sendiri untuk menghidupi dirinya dan ketiga anaknya. Wanita itu bahkan tidak tahu lagi kabar dimana keberadaan suaminya.
Mobil Novia hanya terparkir di garasi, dia juga tak ingin mencari sopir pengganti sebab dia tidak begitu paham mengenai mesin atau apapun bentuknya yang menyangkut dengan mobil.
Malam harinya, saat Novia terjaga dari tidurnya. Matanya tak bisa terpejam hanya memandang langit-langit kamarnya. Sesekali dia melirik ketiga anaknya yang tertidur pulas.
"Maafkan mama nak, bukan maksud mama menyakiti kalian. Tapi, ada harga yang harus dibayar untuk sebuah kebohongan," gumam Novia lirih
Camillah menggeliat dan membuka matanya, gadis kecil itu mengangkat kepalanya dari bantal lalu menatap ibunya.
"Mah, peluk Millah," ucap Camillah pelan
Sepertinya anak sulung Novia sedang memendam rasa sakit yang sangat dalam. Tapi, dia memilih menyimpannya sendiri.
Tanpa Novia tahu, anak gadisnya itu mendapat perlakuan buruk dari teman-temannya di sekolah juga tetangga sekitar rumah mereka yang selalu bertanya kemana papamu
"Novia pindah ke sebelah Camillah lalu memeluk gadis kecilnya, wanita itu membelai rambut anaknya dengan lembut.
"Tidurlah, mama sudah memelukmu," ucap Novia lirih di telinga Camillah sambil mengeratkan pelukannya
Sesaat kemudian, Novia merasakan tubuh Camillah bergetar dalam pelukannya, anak sulung Novia itu terisak dalam diam tanpa suara. Tangis yang sangat menyesakkan dada.
"Mil, kamu nangis nak?"
Novia mengurai pelukannya lalu bangun dan memutar tubuh Camillah menghadap padanya, agar dia bisa melihat jelas wajah anaknya.
"Mil, bilang sama mama apa yang membuatmu menangis?" tanya Novia
Camillah masih terisak, dia takut mengatakan pada ibunya penyebab dia sampai menangis sedih.
"Mil, cerita sama mama nak. Mama tidak akan marah padamu, hanya ingin tahu," bujuk Novia
Camillah akhirnya mau berkata jujur, dengan isak tertahan dia mulai bicara dengan suara serak mengadukan semua yang dialaminya pada ibunya.
"Mah, teman-teman Millah di sekolah meledek, katanya papa sudah pergi dan tidak akan kembali. Mereka juga bilang kalau papa akan menikah lagi."
Tubuh Novia seketika bergetar mendengar pengaduan anaknya, wanita itu mengepalkan tangannya kuat menahan emosi.
"Tetangga kita juga selalu bertanya pada Camilah kalau lewat. Katanya, Millah kemana papamu? Sudah diusir mamamu ya?"
__ADS_1
Kemarahan Novia semakin menjadi, perbuatan mereka sudah tidak bisa dimaafkan dan Novia bertekad akan memberi mereka pelajaran berharga. Namun, sebisa mungkin dia menjaga sikapnya di depan Camillah.
"Ini tidak bisa dibiarkan, mereka sangat keterlaluan karena sudah membuat anak ku sedih dan terguncang. Awas saja besok, aku akan menemui mereka!" batin Novia geram
Pagi-pagi sekali Novia sudah berangkat ke sekolah bersama ketiga anaknya, mereka hanya berjalan kaki dan untungnya jarak sekolah dan rumah tidak begitu jauh.
Tujuan utama Novia pagi ini adalah, mencari pelaku pembullyan terhadap anaknya.
"Ayo, Millah tunjukkan pada mama mana anak yang telah mengejekmu!"
Hari ini Novia benar-benar murka, dengan langkah dia menghampiri anak yang ditunjuk Camillah.
"Kalian yang telah mengejek anak ku haah!? Bentak Novia
Wanita itu sudah hilang kendali, dia menarik kasar anak tersebut dan hendak menamparnya. Namun, Putra segera berlari dan mencegat tangan Novia.
"Lepaskan!! aku akan menghajar mereka semuaa!" teriak Novia kencang
"Vi, sadar! kendalikan dirimu," ujar Putra yang masih memegang kuat tangan Novia
"Kalian bisa menghinaku semau kalian. Tapi, jangan coba-coba mengusik anak-anak ku!!" tunjuk Novia pada beberapa anak yang sudah gemetar ketakutan
Keributan kecil itu tak bisa terhindar, suara teriakan Novia terdengar sampai ke ruangan Pak Rizal.
"Bu Diana, coba lihat ada keributan apa di luar," ucap Pak Rizal.
Diana bangkit dan melangkah menuju pintu, wanita itu hanya memandang dari kejauhan tanpa berniat untuk melihat langsung kesana.
Diana menoleh lalu berkata,"ada orang gila ngamuk pak."
Pak Rizal menautkan kedua alisnya, masih belum paham maksud perkataan Diana. Kemudian dia memutuskan untuk melihat sendiri.
Betapa terkejutnya Pak Rizal, melihat beberapa orang anak yang menjadi korban amukan Novia. Di sana juga sudah ada Putra yang masih memegang tangan Novia.
"Ada apa ini? Putra bisa jelaskan pada saya apa yang terjadi?" tanya Pak Rizal yang sudah ada di dekat Novia.
Novia tak bergeming, sorot mata tajam dengan wajah yang memerah menatap penuh kemarahan pada anak-anak di depannya.
"Saya juga belum tahu apa yang terjadi,' jawab Putra
"Sebaiknya kita selesaikan di dalam. Ayo, Ibu Novia ikut saya!" ucap Pak Rizal dengan nada tegas.
__ADS_1
"Putra, sekalian ajak anak-anak itu."
Pak Rizal berbalik lalu melangkah pergi kembali ke dalam ruang guru.
"Anak-anak, ikut Bapak kepala sekolah sekarang!" titah Putra.
Putra melemaskan genggaman tangannya, kemudian menatap prihatin pada sahabatnya itu dengan wajah sedih.
"Vi, apa yang terjadi, kenapa kamu bisa semarah ini?" tanya Putra.
Novia diam, kemarahannya mulai mereda lalu menatap sendu wajah ketiga anaknya yang berpelukan karena ketakutan.
"Lihat anak-anakmu, mereka ketakutan Vi. Apa kamu tidak kasihan pada mereka?"
"Jangan tunjukkan murkamu di depan mereka, itu akan membuat anak-anakmu semakin trauma," lanjut Putra.
Bulir bening terjun bebas ke pipi Novia, wanita itu seolah tersadar dari mimpi buruknya.
Sebagai seorang ibu, jiwa Novia sangat terguncang saat tahu anak yang dia lahirkan menerima ejekan dari orang lain.
Perlahan Novia melangkah mendekati ketiga anaknya, kemudian dengan cepat memeluk mereka hingga tangis ibu dan anak itu pun pecah
Putra berdiri mematung, sejenak dia melupakan pesan Pak Rizal untuk mengajak Novia menghadap ke ruang guru. Lelaki itu membiarkan Novia menenangkan dirinya terlebih dahulu.
Setelah yakin Novia sudah mulai tenang, Putra mengajak Novia ke ruang guru sesuai pesan atasannya itu
"Ayo, Vi. Pak Rizal sudah menunggu di ruangannya kita ke sana sekarang."
Novia pun mengangguk, menuruti ajakan sahabatnya sambil menuntun ketiga anaknya yang masih tampak shock.
Tiba di ruangan Pak Rizal, Novia menarik kursi kosong di depannya lalu dia duduk. Di sana sudah ada anak-anak yang mengejek Camillah.
"Bu Novia, tolong jelaskan pada saya kronologi kejadian tadi," ucap Pak Rizal tanpa basa-basi
Novia menghela napas panjang, kemudian wanita itu mulai menjelaskan duduk permasalahan yang terjadi hingga membuatnya murka.
"Mereka mengejek anak saya pak, sebagai ibu. Saya punya kewajiban melindungi anak saya dari apapun, termasuk dari mereka," tunjuk Novia pada anak-anak tersebut.
"Saya rela menerima resiko apapun, asal jangan pernah ada yang mengusik anak saya pak," sambung Novia
Pak Rizal terdiam dan termangu, setiap Ibu akan melakukan hal yang sama jika ada yang menyakiti anaknya termasuk Novia.
__ADS_1
Tak ada yang bisa mengalahkan kasih sayang seorang Ibu, doanya bisa menembus langit, air matanya bisa menjadi tsunami yang akan menelan, dan murkanya akan menggetarkan bumi. Begitulah pengorbanan seorang Ibu yang tak mengenal pamrih
*TAMAT*