Fitnah Berbuah Karma

Fitnah Berbuah Karma
Drop


__ADS_3

Part 44


Novia akhirnya memilih pulang, pertemuannya dengan sosok wanita bernama Sukma menguak rahasia yang di simpan suaminya.


Dalam perjalanan pulang, Novia mencari SPBU terdekat yang tersedia toiletnya tentu untuk mengganti baju. Pakaian Dinas yang di pakai sebelumnya tersimpan dalam tas, sebelum pulang dia harus memgganti bajunya terlebih dahulu.


Mereka sudah ada di sebuah SPBU Novia menghentikan motornya lalu turun.


" Ran, kamu tunggu di sini sebentar aku mau ke toilet mana mungkin aku pulang dengan pakain seperti ini."


" Iya " sahut Rani.


Novia bergegas masuk ke dalam toilet dan mengganti baju.


" Ayo Ran kita pulang, aku antar sekarang."


Novia naik ke motornya lalu bergerak melaju pergi mengantar Rani ke rumahnya.


Tiba di rumah Rani Novia pamit langsung pulang karena waktu sudah hampir sore, orang tuanya pasti gelisah menunggu.


" Ran aku pulang ya, tolong rahasiakan kejadian hari ini jangan sampai ada yang tahu."


" Jangan khawatir aku pasti merahasiakannya, sabar Vi badai pasti berlalu." Setelah itu Rani pun masuk.


" Terima kasih Ran, aku akan selalu mengingat kebaikanmu."


Novia pulang ke rumah dengan perasaan Yang tak menentu, sepanjang perjalanan menuju rumah pikirannya masih di penuhi bayangan Sukma.


Novia tiba di rumah orang tuanya, tampak bu Ratih di teras berjalan mondar-mandir sambil menggendong bayi Adiba yang terus menangis histeris, sementara pak Wahyu dan Camillah juga ikut gelisah tapi tak bisa berbuat apa-apa.


Novia memarkirkan motor dan langsung berlari menghampiri ibunya.


" Ya Allah Vi dari mana saja kamu, sudah hampir dua jam anakmu menangis."


Novia mengambil bayi di gendongan ibunya, seketika bayi itu diam. Novia menciumi wajah anaknya lalu menoleh pada ibunya.


" Maaf mah, tadi ada urusan penting yang harus aku selesaikan."


" Maafkan mama ya telat pulang " sambil terus menciumi bayinya. Ada luka yang tersembunyi di sudut hati Novia saat memeluk dan menciumi anaknya.


" Ya sudah sana masuk, cuci kaki dan tanganmu dulu baru kamu susui dia." ucap bu Ratih.


Novia mengangguk lalu masuk ke dalam kamarnya, dia meletakkan bayinya di atas kasur kemudian melepas pakaiannya dan menyusui bayinya.


Tak lama bayi tersebut pun terlelap, mungkin kelelahan karena terlalu lama menangis.


Saat berbaring di samping anaknya, Novia teringat lagi pertemuannya dengan wanita itu lalu di tatapnya wajah mungil Adiba yang tidur wajah polos tanpa dosa, tiba-tiba saja air matanya meluncur tanpa bisa di cegah.

__ADS_1


" Tega sekali kamu Wan, rupanya itu alasan kenapa kamu meminta nama Diba di ganti agar kamu melihat sosok selingkuhanmu pada anakmu karena namanya sama."


Suara pintu terbuka, Camillah masuk dan mendekati ranjang Novia segera menghapus air matanya dan menoleh ke arah Camillah.


" Ssttts jangan berisik." Tanpa bersuara Novia meletakkan telunjuknya di bibir memberi isyarat pada Camillah, dan anak itu cukup cerdas untuk memahaminya.


Camillah dengan pelan naik ke atas tempat tidur, Novia menepuk ruang kosong di sampingnya mereka bertiga berbaring sampai akhirnya Camillah juga ikut terlelap.


Melihat keduanya anaknya sudah terlelap, Novia turun dari tempat tidur dia ingin mandi membersihkan tubuh sekaligus menyegarkan pikirannya.


Kepalanya terasa berat, beban di pikirannya membuatnya sedikit pusing dia membasahi sekujur tubuhnya untuk mendinginkan kepalanya yang begitu panas.


Selesai mandi Novia memakai pakaian bersih, lalu di karpet tempat biasa Irwan tidur malam hari. Dia memandangi kedua anaknya muncul rasa bersalah dalam hatinya.


" Haruskah aku melepaskannya Ya Allah jika hanya menyakiti, tapi bagaimana dengan anak-anakku ? Mereka masih terlalu kecil untuk memahami peliknya masalah hidup."


Novia mengusap wajahnya, berendam lama di dalam air ternyata tidak mampu membuat suasana hatinya menjadi dingin.


Tok...tok...tok


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Novia, di menoleh ke arah pintu.


" Masuk, pintu tidak di kunci." Ucap Novia.


Pintu terbuka, kepala Bu Ratih muncul di balik pintu pandangannya tertuju ke arah ranjang temapt kedua cucunya tidur lalu beralih memandang Novia.


Oh Novia melupakan makan siangnya, bahkan sekarang dia kehilangan selera makan. Dia baru menyadari setelah ibunya mengingatkan.


" Sudah mah, tadi siang aku di traktir teman " sahutnya berbohong untuk memutus pertanyaan ibunya.


" Ya sudah." Bu Ratih mundur dan menutup kembali pintu kamar Novia.


Setelah bu Ratih pergi dan pintu sudah tertutup, Novia kembali hanyut dalam pikirannya.


Malam hari, Novia belum juga keluar dari kamarnya dia mengurung diri hanya keluar saat mengantar Camillah makan setelah itu kembali lagi ke kamar.


Sementara itu Bu Ratih dan pak Wahyu yang duduk dan menonton di ruang keluarga sembari membahas banyak hal.


Bu Ratih merasa ada yang aneh dengan sikap anaknya sejak dia pulang.


" Pah, Novia tidak seperti biasanya hari ini pulang kerja langsung mengurung diri."


" Biarkan saja mah, mungkin dia capek mengurus dua orang anak sekaligus bekerja itu tidak mudah."


" Tapi kan tidak harus mengabaikan kesehatan, bahkan malam ini dia belum makan pah."


" Ya sudah sana suruh anakmu makan malam." Titah pak Wahyu pada istrinya.

__ADS_1


Bu Ratih bangkit berdiri, melangkah menuju kamar Novia lalu mengetuk pintu.


" Vi, makan dulu nak "


Bu Ratih berdiri di depan pintu, dia melihat Novia yang berbaring di ranjang. Novia menoleh masih dengan posisi berbaring.


" Iya, nanti mah aku belum lapar."


" Bukan masalah lapar dan tidak, tapi kamu sedang menyusui, anakmu butuh asupan gizi sebagai ibu kita jangan egois." Setelah panjang lebar berbicara, bu Ratih meninggalkan kamar Novia.


Bu Ratih sudah ada di dekat pak Wahyu dan mengajak suaminya masuk ke kamar untuk beristirahat.


" Mama sudah menyuruh Novia makan ?"


" Sudah, belum lapar katanya. Mama ngantuk." Ucapnya sembari melangkah masuk ke kamar dan pak Wahyu mengikuti langkah istrinya.


Sementara di dalam kamar Novia, matanya sama sekali belum bisa terpejam. Berkali-kali dia mencoba tapi gagal, dia tak bisa menghapus bayangan wajah Sukma di benaknya.


Hingga pagi menjelang, Novia bahkan tidak tertidur dan juga tidak makan, tubuhnya terasa lemas suhu tubuhnya panas.


Novia menggigil kedinginan tubuhnya bergetar, Camillah yang tidur si sampingnya terbangun dan mengucek matanya kemudian menatap ibunya.


" Mama kenapa, mama sakit ?"


" Iya, mama demam nak." Sahut Novia.


Camillah bergegas bangun dan turun dari tempat tidur, dia berlari keluar mencari nenek dan kakeknya.


" Inaa " teriaknya sambil terus menyusuri rumah, dan akhirnya dia menemukan keberadaan mereka di kebun belakang.


" Ina, mama sakit."


Mendengar suara cucunya, bu Ratih menoleh dan menhampiri cucunya.


" Sakit ?"


" Iya badan mama panas inaa."


" Oh, ayo kita kesana sekarang."


Bu Ratih meletakkan ember penyiram tanaman lalu melirik suaminya.


" Pah, Novia sakit coba kita lihat di kamarnya "


" Iya, mama duluan kesana papa bereskan dulu barang-barang ini."


Bu Ratih dan Camillah berjalan beriringan masuk ke kamar Novia.

__ADS_1


__ADS_2